Lovely Atreya

Lovely Atreya
pertemuan tak terduga


__ADS_3

Atreya akan menghadiri seminar dengan para pembisnis lainnya di sebuah gedung pertemuan. Ia sudah diwanti-wanti oleh sang kakak untuk datang lebih awal, mengingat Aaron ada kepentingan dulu yang membuatnya akan datang terlambat.


"oh, shit!! Aku telat" pekik Atreya saat melihat jam yang melingkar ditangannya. Menurut dijadwal susunan acara di undangan tersebut, seminar itu sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Namun Atreya baru saja sampai diparkiran gedung tersebut, dan ia hanya bisa berharap acaranya ngaret seperti biasanya.


Atreya sedikit berlari memasuki gedung itu. Awalnya ia menghindari petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai, namun tak disengaja malah membuat cairan dalam ember itu menjadi tumpah.


"Eh maaf, maaf ya pak" ucapnya jadi merasa bersalah.


"iya gak apa-apa, Bu" balas petugas kebersihan gedung tersebut.


Atreya kembali melangkah, namun karena tergesa-gesa membuat cairan yang telah tumpah dilantai itu tidak terlihat olehnya.


"AAACCHH..." Atreya yang tiba-tiba menjadi ceroboh malah menginjaknya. Tak ayal ia terjengkang ke belakang dengan posisi yang bisa mematahkan tulang punggungnya.


"Hey!!"


Pekikan itu menyadarkan Atreya. Saat kaki kirinya tak mampu menopang tubuh karena kaki kanannya tergelincir, ia merasakan punggungnya menabrak permukaan yang kokoh. Atreya pun segera menegakkan posisi tubuhnya, seraya merapihkan pakaiannya yang nampak berantakan. Lalu membalikkan badannya untuk berterimakasih pada seseorang yang telah menangkap tubuhnya hingga tidak terjatuh dan akan membuatnya malu.


Atreya membuka kelopak matanya dan langsung tercekat pilu. Mata itu milik Casey, mata yang dia saksikan setiap hari. Mata coklat yang selalu ia jadikan pusat dunia. Atreya mengerjapkan matanya dan kali ini tersentak, berjalan mundur dengan wajah pias. Bahaya ini, dia harus segera pergi.


"At.. Reya?" sosok tubuh tinggi itu mulai mengeja namanya sedikit ragu.


"Shit!! ternyata dia masih mengenaliku" batin Atreya tercekat. Wajahnya kembali menengadah dan melakukan pemindaian. Pria ini amat familiar. Struktur wajah yang ia kenali benar-benar mirip dengan anak yang telah dilahirkannya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengannya disini. pertemuan yang tak terduga. Pertemuan yang tidak pernah atreya inginkan lagi. Cukup tadi malam saja ia melihatnya dan berharap tak akan pernah bertatap muka seperti ini. Namun ternyata takdir berkata lain.


Atreya tidak akan pernah melepas Casey sampai kapan pun. Dan satu-satunya cara agar keinginannya itu terkabul, ia harus segera melarikan diri sekarang. Dia tidak ingin pria itu mengetahui keberadaan anak kandungnya.


"kamu Atreya kan?" tanya polos Matthew seraya pandangan mata masih menatapnya penuh makna.


"Bukan, maaf sepertinya anda salah orang. Permisi." Jawab Atreya menurunkan pandangannya, lalu segera berlalu meninggalkan pria yang masih memandanginya dengan tatapan takjub dan tak percaya.


Atreya malah kembali ke luar gedung. Ia langsung memutuskan untuk tidak menghadiri seminar itu.


"Tunggu ! aku yakin kamu Atreya. Kau tidak ingat padaku?" teriak Matthew pada wanita yang sudah jauh melangkah berusaha menghindarinya itu.


Atreya masih mendengarnya, namun ia tidak mau menengokkan kembali tubuhnya apalagi menggubrisnya sama sekali.


"Hey tunggu Atreya !!" Matthew berlari mengejarnya.


Atreya menyadari seseorang tengah mengejarnya. Ia memutuskan untuk bersembunyi dibalik pillar gedung yang memiliki diameter tiga kali lipat dari tubuh mungilnya tersebut.


"Siall!! cepat sekali wanita itu pergi" umpat Matthew menyugar rambutnya frustasi. Pandangannya menyapu seluruh penjuru taman gedung tersebut, namun ia tak lagi menemukan wanita yang selama ini dicarinya. Akhirnya Matthew memutuskan untuk kembali masuk kedalam gedung dengan raut wajah penuh kecewa. Matthew meyakinkan dirinya bahwa kali ini bukan halusinasinya. Perempuan yang barusan itu betul-betul nyata. Dia adalah Atreya. Ya, dia Atreya, yang selama ini selalu ada dalam pikirannya meski sedang bersama perempuan lain.


Situasi kini sudah aman. Atreya keluar dari persembunyiannya, lalu dengan tergesa-gesa menuju tempat mobilnya terparkir diujung sana. Ia tidak peduli lagi dengan acara itu, meski konsekuensinya ia akan mendapatkan teguran keras dari sang kakak karena tidak jadi menghadiri seminar tersebut.

__ADS_1


*****


sore itu Satria berkunjung ke rumah Atreya atas permintaan Casey, yang selalu merengek ingin bertemu dengannya. maklum saja, beberapa hari ini Satria memang belum mengunjungi Casey lagi sejak Atreya sibuk bolak-balik ke luar kota karena urusan pekerjaan. Lagipula Casey juga dititipkan dirumah Aaron, yang membuatnya semakin segan untuk mengunjungi bocah itu.


"Casey!!" bocah itu langsung mendongak saat suara seseorang yang sangat dikenali memanggil namanya.


"Om Sat..." Casey langsung berdiri dan memeluknya.


" aku kangen makan es krim bareng Om" ucapnya lagi polos.


"jadi kamu ingin bertemu dengan ku karena kangen makan es krim? bukan kangen sama akunya gitu?" ucap Satria berbicara seperti berbicara pada teman sebayanya. Satria memang sering begitu, kadang suka menganggap bocah lima setengah tahun itu seperti teman mainnya saja.


Casey malah cengengesan dengan wajah polosnya. kedua matanya melirik pada kantung kresek berwarna putih yang dijinjing Satria.


"itu apa, Om?" tanyanya penasaran.


Satria mengangkat kantung kresek itu lebih tinggi dari hadapannya. "es kriimm" sahut lelaki itu lalu mengulurkan kantung kresek tersebut ke arah sang bocah.


"Kok es krimnya dibawa pulang sih? aku kan ingin makan disana" protes Casey mengerucutkan bibirnya gemas.


"ini udah terlalu sore, kedai es krimnya mau tutup. kapan-kapan lagi aja ya" jawab Satria.


"tidak, Om. kedai es krim itu tutupnya malem kok."


"Casey! Om Sat itu masih lelah, sayang. Dia baru pulang kerja, masa mau kamu ajak lagi ke kedai es krim? kasian kan Om Sat harus bolak balik nganterin kamu" ucap Atreya yang tiba-tiba datang dari arah kamarnya.


Beruntung lah Satria tak perlu lagi merangkai kata untuk dijelaskan pada Casey.


"makanya Om tinggal disini saja sama aku dan Mama. jadi Om gak perlu bolak-balik lagi. Nanti Om bisa bobo sama Mama seperti Om Aaron dan Tante Kinar" celoteh Casey yang sukses membuat Atreya dan Satria saling berpandangan dengan ekspresi datar.


Secara tidak langsung Casey sebenarnya menginginkan keluarga yang utuh, namun anak seusianya belum bisa menerima alasan apapun yang membuat pasangan itu belum juga mengikrarkan hubungannya.


"Oh iya, kamu mau ikut Om ke pantai gak?" Satria mengalihkan pembicaraan.


"mau Om. ayo ke pantai !!" Casey terlihat sangat senang mendengar ajakan sang Om. Bocah itu memang paling senang kalau diajak bermain pasir di pantai.


"Minggu depan kita akan ke pantai."


"Yeayy..." bocah itu berseru bahagia.


"Ke pantai, Sat? dalam rangka apa nih?" tanya Atreya mengerutkan keningnya.


"Bos baru dikantorku mengadakan acara familly gathering. Setiap pegawai hanya boleh membawa dua orang keluarganya. Kamu mau kan?"

__ADS_1


"Mau, Ma... aku mau ikut" sahut Casey heboh dan Atreya pun tanpa pikir panjang langsung mengiyakannya.


"Yeaay... aku mau ke pantai..." Casey berjingkrak-jingkrak mengekpresikan kebahagiaannya.


"Ayo dimakan es krimnya!! nanti keburu meleleh lho" Satria menyodorkan kantung kresek berisi es krim yang sudah dari tadi dibiarkannya. Casey pun dengan cepat meraihnya, lalu membuka kantung kresek itu dan mengeluarkan satu kotak berukuran sedang berisi es krim dengan tiga varian rasa. cokelat, vanilla dan stroberi.


"Kamu ke dapur, minta tolong bi Ratna bawain mangkuk ya! jangan makan banyak-banyak nanti perutnya sakit. Sisakan untuk besok lagi, oke !!" ujar Atreya kepada anaknya.


"Oke, Ma" sahut sang bocah mengerti maksud Atreya. dia pun tersenyum seraya mengangkat ibu jari tangannya sebelum beranjak ke dapur sesuai yang diperintahkan sang mama.


Atreya dan Satria pun hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anakmu luar biasa ya, bisa mengobrak-abrik suasana hati orang dewasa menjadi baper seperti tadi" ucap Satria tertawa mengingat perkataan Casey tadi yang meminta Satria untuk tinggal serumah dengannya. dan Atreya hanya tersenyum pilu.


"Rea, mungkin benar apa yang tadi Casey bilang. Kita harus segera menikah. Aku tidak peduli lagi ibuku merestui atau tidak. Aku ingin Casey memiliki keluarga yang utuh, dan aku sudah menyayangi Casey seperti anakku sendiri."


Atreya terbelalak mendengar ungkapan pria dihadapannya. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, karena sejak dari dulu ia memang menginginkannya. Tapi menikah tanpa restu juga pasti menyedihkan. Karena menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati, tapi dua keluarga sekaligus. namun entah mengapa semenjak Ayah biologisnya Casey datang, Atreya merasa takut dan tidak tenang. Ia takut suatu saat pria itu mengetahui keberadaan Casey dan membawanya pergi.


"hey, kok jadi melamun? kamu masih mau menikah dengan ku kan?" Satria membuyarkan pikiran Atreya.


"hhmmm... Iya."


"Iya apa?"


"menikah."


"menikah dengan siapa?" Satria memicingkan matanya niat menggoda.


"Lha tadi yang ngajak siapa?" Atreya malah balik bertanya.


"Aku?"


"Nah itu udah tau jawabannya" balas Atreya dengan pipi yang mulai merona.


Satria lalu mendekati Atreya, meraih kedua punggung tangan wanita yang ia cintai untuk diciumi nya beberapa kali. Hati kecilnya berjanji, ia tidak akan mengecewakan Atreya lagi dengan membatalkan pernikahannya seperti dulu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2