Lovely Atreya

Lovely Atreya
Penyekapan (berusaha kabur)


__ADS_3

Milly menjelaskan kepada Matthew bahwa Atreya akan pergi ke toko buku langganannya yang hanya berjarak dua kilometer dari rumah, dan Matthew tau toko buku itu karena pernah sekali diajak istrinya ke tempat favoritnya tersebut.


Keesokan harinya, Matthew dan Satria kembali ke toko buku tersebut setelah semalam mereka mencoba ke tempat itu namun sudah tutup dan tidak ada siapapun disana.


Matthew mencoba menjelaskan kepada pemilik toko buku tentang kronologis hilangnya Atreya yang menurut pengakuan Milly pergi ke tempat ini untuk membeli buku sekolah Casey.


"Baiklah, Tuan. Mari ikut saya ke ruang kontrol monitor, kita akan lihat apakah istri anda kemarin benar-benar berkunjung ke toko ini atau tidak" ujar Pria bertubuh tambun itu melangkah masuk ke sebuah ruangan pusat kontrol monitor, di ikuti Matthew dan Satria yang sangat berantusias dan penasaran.


Seorang pegawai disana menunjukan hasil cctv pengunjung hari kemarin kepada mereka. Disana Matthew dan Satria melihat dengan jelas Atreya benar-benar datang ke toko buku ini. Didalam monitor itu Atreya tengah bertransaksi didepan dengan kasir. Setelah itu terlihat dia langsung keluar dan sosoknya hilang karena kamera cctv tak mampu lagi merekam gerakan Atreya diluar jangkauannya.


"Coba lihat dikamera luar!!" perintah Matthew pada operator pusat kontrol tersebut. Lalu pemuda itu dengan lihainya menggeser mouse dan mengarahkan cursor ke file yang menunjukan hasil rekaman lainnya dari kamera cctv.


Nampak disana terlihat Atreya berjalan ke arah jalan, sepertinya perempuan itu hendak mencegat sebuah taksi. Tunggu! siapa mereka??


Matthew dan Satria terbelalak saat melihat Atreya dibekap lalu digiring masuk ke dalam sebuah mobil Van hitam yang tiba-tiba saja berhenti dihadapannya.


"fix, ini penculikan, Matt" ujar Satria setelah mengamati setiap rekaman cctv tersebut.


Matthew mengepalkan kedua tangannya geram, mengeratkan rahangnya yang tegas menahan emosi yang sudah memuncak.


"Siapa mereka? kenapa mereka membawa Atreya?" tanya Matthew geram, Wajahnya nampak merah padam hingga membuat lelaki itu mulai merasakan sesak di dadanya. Tangannya yang sudah mengepal akhirnya ia lampiaskan pada tembok dinding.


BUGGH!!


"Aaarrgghh!!" Matthew mengeram frustasi.


"Tenang, Matt! kita akan cari tau kemana mereka membawanya pergi" ujar Satria berusaha menenangkan Matthew yang terlihat sudah emosi itu.


"Apa kau bilang? tenang? kau pikir aku bisa tenang menyaksikan Istriku dibawa orang asing seperti itu, hah?" Matthew malah menarik kerah baju Satria seakan menantangnya, ia tak terima dengan saran Satria yang memintanya untuk tenang.


Satria jadi ikut tersulut emosi, ia langsung menepis tangan Matthew yang masih meremas kerah bajunya itu, "Atreya jadi menderita begini gara-gara kau, Matt!! asal kau tau saja, aku juga sangat khawatir dengannya, tapi kita harus tenang menghadapi masalah ini. aku tidak mau gegabah karena ini menyangkut keselamatan Rea. Kau tau itu?" ujar Satria lalu mendorong tubuh Matthew sedikit menjauh darinya.


"Kau lupa bahwa aku suaminya? disini aku yang lebih mengkhawatirkannya daripada kau."


"CK! Suami macam apa yang tidak bi---"


"Hey, tolong tuan-tuan jangan ribut disini!!" potong sang pemilik toko buku itu jengah, "kalian bisa menyerahkan kasus ini sama polisi. Saya akan membantu mengkopikan hasil cctv ini sebagai buktinya" ucapnya lagi berusaha melerai kedua lelaki itu.


"Lihat, aku bisa membaca plat nomor kendaraannya!" pekik pemuda yang masih sibuk memperbesar gambar yang nampak didalam monitor tersebut.


Matthew dan Satria segera menyudahi pertikaiannya dan kembali mendekati layar monitor lagi.

__ADS_1


"Cepat catat nomornya!! aku akan segera melacak identitas mobil keparatt itu" ujar Matthew masih geram.


***


Sementara di tempat lain, sinar matahari pagi menyeruak ringan, menembus tirainya yang melindungi jendela kecil disebuah ruangan yang menyerupai kamar.


Atreya beringsut dari posisinya ditempat tidur yang berukuran standar, namun membuatnya nyaman semalaman.


"Wait!! Aku dimana ini?" batin Atreya seraya berpikir. dia langsung terduduk diatas tempat tidur itu dengan pandangan menyapu setiap sudut diruangan yang sangat asing tersebut.


"Oh, Shit!! apa aku masih berada dalam sekapan orang-orang asing itu?" gumam Atreya berusaha menggali ingatannya yang seolah samar.


Ya, ingatan perempuan itu kini sudah lengkap dan tersusun rapi. Mulai ia pamit dari rumah untuk pergi ke toko buku, lalu membayarnya dikasir, dan saat akan mencari taksi tiba-tiba ada dua pria asing yang membawanya masuk ke dalam mobil, dirinya terus berteriak minta tolong, Dan---- ingatannya terhenti disana. Yang terakhir ia ingat adalah pria asing itu membekam mulut serta indera penciumannya dengan kain yang sedikit basah.


Atreya segera turun dari tempat tidur dan langsung meraih handle pintu untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Namun ia hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya saat pintu itu tak mampu terbuka, lalu pandangannya teralihkan pada jendela kecil yang masih tertutup gorden. Ia pun segera menyibak tirai itu lebar-lebar, tapi Atreya lagi-lagi harus mengesah frustasi saat melihat teralis besi menghiasi jendela kaca tersebut dengan kuatnya.


Atreya panik, ia berteriak histeris seraya memukul-mukul daun pintu itu kembali.


"Buka! buka pintunya! siapapun yang diluar sana, tolong buka!" teriaknya sambil menangis. Cukup lama Atreya berteriak meminta tolong namun tak ada satupun yang mau membukakan pintu yang memang terkunci dari luar itu.


"Tolong, buka..." suaranya semakin melemah, tenggorokannya semakin kering akibat teriakannya yang sia-sia. Atreya pun beringsut menjatuhkan dirinya ke lantai. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi berteriak karena dirasa kerongkongannya butuh air untuk minum. Atreya menyandarkan punggungnya dibalik pintu yang masih tertutup itu, menelungkupkan wajah seraya memeluk kedua lututnya.


"Rencana apa lagi yang semesta ciptakan untukku? aku hanya ingin hidup bahagia bersama suami dan anak-anakku" Atreya berucap lirih.


"Hello, siapa didalam?"


Terdengar suara anak kecil meresponnya dari luar.


"Ehem" Atreya berdehem menjernihkan tenggorokannya, seiring dengan kepalanya yang diangkat secara perlahan.


"Hello!! apa dikamar ini ada orang?"


Samar-samar Atreya kembali mendengar suara anak kecil dari balik pintu yang menjadi sandaran punggungnya kini.


Ya, dibalik pintu ini ada seseorang, pikir Atreya. Ia pun langsung berdiri dan menggedor kembali pintunya.


"Tolong buka pintunya!! aku mohon bukalah!" Atreya berusaha berteriak lagi agar suaranya terdengar sampai keluar.


"Kamu siapa? kenapa bisa berada di paviliun rumahku?"


"Siapa pun disana tolong buka dulu pintunya" Atreya kembali memohon.

__ADS_1


"Baiklah..."


Mendengar hal itu ada secercah harapan bagi Atreya untuk segera pergi dari tempat asing ini.


CKLEEK!!


Kini pintu pun terbuka, Atreya begitu terkejut saat melihat sosok tubuh mungil dihadapannya.


"Bibi cantik ini siapa? kenapa ada dipaviliun? apa bibi pelayan baru dirumahku? tapi pelayan dirumahku sudah banyak" cerca gadis kecil itu memberondong pertanyaannya.


Atreya sejenak mengulas senyum, memperhatikan bocah kecil lucu yang mungkin usianya tak beda jauh dengan Casey. dia nampak cantik dan menggemaskan mengenakan rok tutu ala penari balet dengan rambut curly pirangnya yang dibiarkan terurai sebahu, hanya dihiasi jepit rambut kupu-kupu disisi kanannya.


"Bibi sakit? kenapa wajahnya terlihat lemas?" tanya si gadis cilik itu lagi.


Atreya membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan si anak tersebut, "Aku baik-baik saja. Siapa nama mu, cantik?" tanya Atreya menatapnya serius.


"Dhyanda Genovefa" ujarnya tersenyum begitu menggemaskan.


"Wow, berarti kamu seorang ratu dirumah ini?" ucap Atreya masih bisa tertawa kecil saat mendengar nama dari anak perempuan dihadapannya, nama yang indah, seindah artinya yakni ratu yang cantik. "Boleh aku minta bantuan mu?" Atreya tak mau membuang kesempatan untuk segera kabur dari tempat ini.


"Bantuan? bibi cantik mau apa?" bocah itu malah balik bertanya.


"Tolong kamu tunjukkan jalan untuk keluar dari rumah ini, Emmh-- maksudku, bibi mau pulang tapi bibi gak tau jalan keluarnya."


Anak perempuan kecil itu mengerutkan keningnya halus, "bibi bisa masuk ke paviliun ini tapi tidak tau jalan keluar? kenapa bisa begitu?"


Atreya mengerang frustasi, ternyata anak ini sama kritisnya dengan Casey. Apa mungkin Atreya harus mengatakan yang sebenarnya kalau dia disekap seseorang dikamar itu?


"Geny!! kamu dimana, sayang?"


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berjalan mendekat. Tubuh Atreya kembali gemetaran, jantungnya mendadak berdegup kencang, ia takut suara baritone itu milik salah satu pria asing yang kemarin membawa dan menyekapnya.


"Aku disini, Dad!!"


Bahaya, anak itu malah menyahutinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2