Lovely Atreya

Lovely Atreya
Detak jantung si kecil


__ADS_3

Hari ini Matthew sudah bisa dikunjungi, dengan pengawasan yang ketat karena keadaan ruangan tempat Matthew dirawat harus tetap steril. Atreya sudah bisa menerima kenyataan, kondisinya pun sudah lebih baik, ia tidak serapuh kemarin. Saat ini perempuan itu hanya ingin bertemu dengan Matthew dan mendukung untuk kesembuhannya.


Matthew mengulas senyum menyambut kedatangan Atreya yang baru saja datang ke kamar khususnya. “Hai, cantik!!” Sapanya menggoda.


“Matt...” Atreya mendekat, lalu menarik kursi lebih dekat dengan ranjang Matthew. Menjatuhkan tubuhnya untuk duduk disitu, berdampingan dengan Matthew yang sudah setengah duduk diatas kasur pasien dengan jarum infus yang menancap dilengan kirinya. “bagaimana keadaan mu sekarang?” tanya Atreya kemudian.


“Aku baik-baik saja, Rea. Bahkan jauh lebih sehat. Seharusnya aku bisa berobat jalan saja, tidak perlu buang-buang waktu disini” oceh Matthew seraya menghembuskan napasnya, “Steve itu memang terlalu berlebihan” ucapnya lagi.


Wajah pucat Matthew tidak bisa dibohongi, bahkan siapa saja yang melihatnya pasti akan sanksi dengan ucapan Matthew yang menyatakan dirinya baik-baik saja. Tapi Atreya tidak mau mematahkan semangat suaminya itu, dan dia pun berjanji pada dirinya sendiri sebelum datang menemui Matthew, untuk tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih atau perasaan iba dihadapannya, karena Matthew tidak akan menyukainya.


“Ya, aku percaya kamu baik-baik saja. Tapi aku gak mau ya, melihatmu tiba-tiba pingsan lagi dirumah. Bikin aku panik tau gak?” ujar Atreya tertawa kecil, berusaha menahan rasa sedihnya sendiri. “jadi mending kamu disini, dibawah pengawasan dokter Steve itu lebih baik. Dan aku akan selalu disini menemanimu.”


“Tidak, Rea!! Kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu dan anak kita. Lebih baik kita pulang, kasihan juga dengan Casey” ujar Matthew.


“Tenanglah, Casey dititipkan dirumah Daddy William. Dia betah sekali kalau tinggal disana, mungkin karena disana banyak orang makanya dia tidak pernah kesepian” jawab Atreya.


“Sebentar lagi Casey tidak akan kesepian lagi, dia akan punya adik yang cantik, lucu dan menggemaskan seperti mamanya” Matthew terkekeh. Ia begitu yakin kalau janin yang tengah dikandung istrinya itu berjenis kelamin perempuan.


Atreya mengernyit, “kalau anak ini laki-laki lagi bagaimana?” tanya Atreya seraya mengusap lembut perutnya yang masih terlihat masih rata.


“Ya tidak apa-apa, tinggal bikin lagi kan?” Matthew mengusap lembut pipi Atreya. Perempuan itu hanya tersenyum gamang menanggapi ocehan suaminya sendiri. “Oya, aku ingin mendengar detak jantung bayi kita. Marissa bilang, usia kandungan sepuluh minggu sudah bisa didengarnya. Bagaimana kalau kita temui dia?" ajak Matthew yang sangat berantusias.


"Tapi Matt--"


Bukan Matthew namanya kalau tidak bisa diperintah atau dikuasai. Lelaki itu bersikukuh ingin melihat dan mendengar detak jantung sang janin hari itu juga. Akhirnya dengan persetujuan Steve, Matthew bisa keluar dari ruangannya menuju ruang USG tempat dokter Marissa praktek. Kebetulan masih berada di gedung rumah sakit yang sama hanya beda beberapa lantai saja.


*****


“Rea” Matthew menyentuh tangan Atreya pelan. “Kamu baik-baik saja?” lelaki itu itu bisa melihat Atreya sedang tidak focus, sehingga tidak menyadari perintah Dokter Marissa untuk segera naik ke ranjang periksa karena perempuan itu tetap saja duduk tertunduk dengan pandangan kosong yang menyiratkan rasa cemas.

__ADS_1


“Oh. I…iya, kenapa?” tanya Atreya entah kenapa menjadi gugup. Sekarang ya, Dok?”


Dokter Marissa hanya mengangguk sambil tersenyum, dan entah mengatakan apa pada Matthew karena Atreya beranjak keruang periksa yang ada dibalik tirai seperti perintah Dokter Marissa.


"Hallo Nyonya Atreya, sekarang ditimbang badan dulu ya..." Sapa suster yang baru saja masuk dan membantunya. Lalu meminta Atreya untuk naik ke atas timbangan digital didepannya. “Rileks saja, ini kehamilan ke dua kan, Nyonya Atreya?”tanyanya ramah. Mungkin suster itu mengetahui ini kehamilan kedua dari bagian pendaftaran didepan.


Lantas Atreya berbaring di tempat tidur dengan sebuah alat bermonitor disampingnya. Suster itu menarik selimut menutupi bagian bawah tubuh Atreya, baru kemudian menarik dress selututnya hingga ke dada, membuat perutnya terekspos sempurna. Entah kenapa Atreya menjadi canggung, padahal dulu ia pernah diposisi seperti ini. Mungkin dipikirnya karena momen itu sudah lama, dan keadaannya juga berbeda. Kini dia merasa berada diantara kebahagiaan yang tak terkira, dan kesedihan yang memaksanya untuk tetap tegar menjalaninya.


Untungnya suster itu seperti mengerti ketidaknyamanan Atreya, dia berdiri diujung tempat tidur, memperbaiki selimut yang menutupi kaki Atreya. Menyentuh ujung jari kakinya pelan untuk menguatkannya. Sorot matanya mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Suster itu tau kalau Matthew pasien leukemia di rumah sakit yang sama, dan bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Atreya saat ini, antara senang dan sedih berbaur jadi satu.


“Bagaimana, Sus? Berat badan Nyonya Atreya, oke?” tanya Dokter Marissa sesaat setelah dia duduk disamping ranjang Atreya.


“Bagus, Dok” jawab suster itu sigap, “berat badan Nyonya Atreya masih dalam range normal.


Dokter Marissa mengangguk-angguk senang.


“Nyonya harus ingat ya, sekarang ini nyonya makan untuk dua orang. Tidak hanya untuk sendiri, makanan apa pun yang dimakan, juga akan menjadi makanan si janin.” Papar Dokter Marissa ramah.


“Aku akan pastikan asupan gizi istriku lengkap, Sa. Makanan sehatnya akan betul-betul dijaga.” Matthew menatap Atreya penuh perhatian saat mengatakan kalimat itu, tatapan yang membuat kedua mata Atreya mulai mengembun karena terharu.


Bagaimana kamu bisa memperhatikan itu semua bila kondisi kesehatanmu seperti itu, Matt. Aku hanya ingin kamu sembuh, sayang. Kita akan berjuang sama-sama, kamu harus sembuh.


“Harus itu, Matt” ujar Dokter Marissa tersenyum, lalu sejenak menatap Matthew. “kamu juga harus semangat untuk sembuh ya, agar bisa terus memperhatikan dan menjaga istrimu!!”


“Pasti” sahut Matthew cepat.


Dokter Marissa mengeluarkan stetoskop dari jas dokternya dan memeriksa Atreya. “Bagus” ucapnya seolah pada dirinya sendiri. “Nyonya Atreya usahakan tidak boleh stress ya.”


“Oh? Oke, Sa, gak boleh stress” Matthew merespon cepat, mengulang kembali kalimat Dokter Marissa seperti mendaras mantra, membuat Atreya mengatupkan mulutnya, tak perlu lagi merespon perkataan Marissa. Atreya bisa melihat Matthew kini berdiri gugup, kedua tangannya bersembunyi di saku celana. Baru kali ini Atreya melihat suaminya bersikap tegang seperti ini. Mungkin bagi Matthew ini yang pertama kalinya dia mengantar sang istri untuk memeriksa kehamilannya, meski bagi Atreya ini merupakan kehamilan anak ke duanya.

__ADS_1


“Sekarang mari kita lihat si junior Matthew, ya...” ujar Marissa lalu tertawa kecil.


Tanpa diperintah, sang suster mengoleskan gel yang terasa dingin diperut Atreya. Lalu Marissa meletakkan sebuah alat ‘transducer’ diperut Atreya. Monitor otomatis menampilkan hasil pindaian, sebentuk gambar aneh yang tak bisa dimengerti orang awam terlihat dilayar. Matthew beringsut maju mendekati layar monitor.


“Kehamilan istrimu baru berusia sepuluh minggu” jelas Marissa seraya memindah-mindahkan alat itu diperut Atreya, “meskipun diminggu kelima otak dan jantung bayi sudah mulai terbentuk, tapi terkadang detaknya belum bisa terdengar jelas.”


Atreya sedikit kesulitan menatap layar karena si monitor memang berada sejajar dengan kepalanya, walaupun posisi berbaringnya sudah setengah duduk dengan tempat tidur yang dinaikkan. Suster itu sigap mendorong alat USG ke sudut yang bisa dilihat Atreya dengan nyaman. Atreya pun tersenyum, “terima kasih, Sus.”


Seiring alat diatas perut Atreya yang dipindah-pindah dokter Marissa, gambar dilayar ikut berubah-ubah. Meskipun Matthew tidak bisa mengerti hasil pindai yang sedang dilihatnya dilayar, dia merasa sedang menyaksikan sebuah keajaiban. Benar, Matthew melihat sebuah kehidupan sedang berdenyut didalam perut sang istri.


Tanpa perintah dari Dokter Marissa, Suster yang ternyata bernama Sharron itu memutar sebuah tombol pada alat USG, volumenya diperbesar, dan suara surga itu bisa didengar oleh semua orang diruangan itu.


Matthew tercekat, wajahnya tak bisa menyembunyikan ketakjubannya. Begitu juga dengan Atreya, meski ini pengalaman keduanya, namun suara detak jantung janin yang sedang dikandungnya benar-benar terdengar oleh telinganya.


Matthew terlihat menitikkan air matanya,


Pada saatnya nanti,  kamu akan menyadari betapa aku tidak bisa bersabar menanti kehadiranmu, Nak. Aku ingin segera memelukmu dengan penuh kehangatan. Doakan Daddy panjang umur ya, sayang.


“Memang masih belum terlalu kuat suara detak jantungnya" ucap Dokter Marissa membuyarkan pikiran Matthew, namun tak ada seorang pun yang merespon kalimatnya, “tapi ini suara detak jantung janin yang sehat” lanjutnya lagi, terdengar puas.


“Memangnya begitu, Sa?” akhirnya Matthew angkat bicara. Namun terdengar ragu, cemas, lebih tepatnya. Dokter Marissa pun bahkan baru tau seorang Matthew Clark Polan bisa mencemaskan sesuatu seperti ini. Karena yang dokter itu kenal selama ini, Matthew tergolong laki-laki yang santai, tak banyak bicara tapi mampu memikat setiap perempuan yang dekat dengannya.


“Betul, Matt. Memang seperti itulah detak jantung janin” ujar Dokter Marissa tertawa, “saat control berikutnya, detak jantungnya pasti jauh lebih kuat” perempuan berpakaian serba putih itu lalu berdiri, menekan sebuah tombol dan print out hasil USG muncul dari sebuah printer kecil, “kita lihat saja nanti, ya.”


Atreya tak menyadari setetes air mata bahagia terjatuh ke pipinya jika saja suster Sharron tidak mengelapnya perlahan dengan tissue. Apapun yang kini tengah dialaminya, sejenak terlupakan oleh keajaiban Tuhan yang kembali menitipkan malaikat kecil yang kini masih berada dirahimnya itu. Apalagi dikehamilannya yang sekarang, Atreya tidak sendirian, ada Matthew yang menemaninya.


Oh, inikah perasaan seorang istri yang tengah mengandung, dan didampingi oleh suami yang setia? Aku harap Matthew bisa selalu menemaniku hingga saatnya melahirkan nanti. Aku hanya ing---


Pikiran di kepala Atreya langsung terhenti saat tangan Matthew menggenggam, dan meremas lembut tangan Atreya. “Ayo! Aku bantu turun, ya” ucap Matthew lalu membantu Atreya turun dari ranjang periksanya karena USG telah selesai.

__ADS_1



__ADS_2