Lovely Atreya

Lovely Atreya
Campur tangan Aaron


__ADS_3

Sudah tiga hari Atreya tidak pulang ke rumah. Pihak kepolisian sudah berhasil menemukan mobil van berwarna hitam pekat dengan plat nomor yang sesuai terekam dikamera cctv toko buku tersebut. Namun sayangnya, kendaraan itu ditemukan udah terbakar disebuah hutan, sepertinya sang pelaku sengaja membakar mobil tersebut untuk menghilangkan barang bukti agar tidak terlacak oleh siapa pun termasuk pihak yang berwajib.


 


Kabar penculikan Atreya sudah terdengar ke telinga sang kakak, Aaron. Lelaki itu langsung terbang ke Berlin dari Jakarta bersama Marshall. Dia tak terima sang adik bisa menghilang begitu saja tanpa jejak. Ia teringat kejadian serupa beberapa tahun silam. Saat istrinya, Kinara juga mengalami penculikan seperti Atreya saat berada di Dublin (kisahnya di novel A Wound In Your Love).


 


“Kita tidak bisa diam saja seperti ini, Matt. Aku akan menyewa orang untuk menangani kasus ini. Rea harus segera ditemukan” ujar Aaron terlihat marah dan tidak sabar.


 


“Tapi Aku juga sudah melaporkan ini pada pihak berwajib, Aar. kita tunggu dan mereka akan langsung mengabari kita secepatnya” tukas Matthew, dan sukses membuat kakak dari istrinya itu jengah dan emosi.


Aaron menarik kerah baju Matthew dengan kasar seraya menatap tajam seolah ingin menerkamnya  “kau memang tidak berguna, Matt!” Aaron lalu mendorong kasar Matthew hingga tubuhnya terlempar kebelakang tapi tidak membuatnya terjatuh. “Apa yang kau dapat dari mereka? Hanya menemukan barang bukti yang sudah terbakar itu, benar kan? Selanjutnya bagaimana? Sampai kapan kita menunggu tanpa melakukan sesuatu? dasar bodoh!!”ujar Aaron tak bisa mengontrol emosinya.


 


Matthew hanya terdiam, ia pun menyadari akan kesalahannya sendiri yang menyerahkan semuanya kepada polisi. Seharusnya sebagai suaminya, dia juga harus berusaha mencari Atreya semaksimal mungkin dengan caranya sendiri. Tapi tidak Matthew lakukan, setelah mendapatkan rekaman cctv itu dia malah menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian. Meski begitu Matthew setiap saat mencari tau tentang perkembangan polisi dalam mencari Atreya.


 


Kepalanya kini menjadi pusing dan tak mampu menopang tubuhnya lebih lama lagi, mungkin akhir-akhir ini pikirannya terkuras ditambah kurang tidur karena memikirkan Atreya.  Akhirnya Matthew memutuskan untuk pergi ke kamarnya, meninggalkan Aaron dan juga Marshall diruang tamu. Matthew merasa frustasi dengan kehilangan sang istri. ditambah Aaron yang barusan menyalahkannya dan mengatakan bahwa dirinya tidak berguna untuk Atreya. Ya, kini Matthew menyadari hal itu, dia hanya membawa kesialan aja untuk Atreya.


 


“Lihatlah! Dia malah pergi ke kamar sebelum aku selesai bicara” ucap Aaron kepada Marshall. Dan Marshall hanya mengangkat bahu menanggapinya.


 


“Maaf bila aku menyela sebentar” ucap Satria yang baru saja datang. Sebenarnya dia sudah cukup lama berdiri didepan pintu masuk dan mendengarkan percakapan Aaron dan Matthew sedari tadi.  “Aku dan Matthew sudah semaksimal mungkin mencari Rea. Kami telusuri setiap jalan dan tempat yang kemungkinan ia lewati. Sampai saat ini pun aku masih berusaha mencarinya, bertanya kepada setiap orang diluar sana barang kali ada yang melihat Rea lewat fotonya yang aku tunjukan” jelas Satria yang terang-terangan membela Matthew.


 


“CK! kenapa kau yang repot? Ada Matthew kan, suaminya?” ujar Aaron mendelik sinis kepada Satria.


 

__ADS_1


Satria tersenyum tipis menatap Aaron, “Ada yang kau tidak ketahui tentang Matthew, dia baru saja ditahap penyembuhan dari penyakit leukimia yang deritanya, kau tau? waktu itu hampir saja Atreya kehilangan Matthew untuk selamanya. Jadi tolong, Kak Aaron jangan asal menyalahkan Matthew begitu saja. Mereka baru saja mengalami hal-hal tersulit dalam kehidupan rumah tangganya. Sekarang Atreya diculik seseorang, ku harap kita bisa sama-sama fokus tanpa saling menyalahkan.” ucap Satria yang sejak dulu sebenarnya masih menyimpan rasa kesal kepada Aaron yang tak pernah bersikap ramah padanya.


Aaron sebenarnya orang yang baik, sikapnya pada Satria selama ini semata-mata karena cemburunya yang terlalu berlebihan. Lelaki itu masih belum menerima masa lalu Satria yang pernah menjalin hubungan dengan Kinara sebelum bertemu dengan Atreya.


 


“Apa? Leukemia?” bola mata Aaron membulat, begitu juga dengan Marshall yang sedari tadi diam saja disamping Aaron pun terbelalak.


 


“Ya, beberapa bulan yang lalu Matthew baru saja menjalani transplantasi sel induk, karena sebelumnya dia sempat collapse dan nyaris lewat. Saat itu Atreya tengah hamil anak ke duanya.” Satria menceritakan semuanya kepada kedua saudara dari Atreya tersebut.


 


Aaron bergitu terkesiap mendengar cerita dari Satria, selama ini yang ia tau Atreya sudah memiliki anak lagi dari Matthew, tapi masalah tentang penyakitnya Matthew, ia sama sekali tidak tau apa-apa. Atreya ataupun Matthew tidak pernah cerita tentang itu kala berhubungan via telpon atau chat. Aaron jadi merasa bersalah karena tadi sudah menyalahkannya disaat Matthew tengah masa pemulihan yang cukup panjang itu.


“Jadi apa yang harus kita lakukan, Aaron?” tanya Marshal kemudian.


 


“Aku akan menghubungi Leon, anak buahnya tersebar disetiap penjuru dunia. Kita butuh orang-orang bayaran yang professional untuk menemukan Atreya secepat mungkin” ujar Aaron lalu mengambil ponselnya dari balik jas yang membaluti tubuhnya. Dia pun segera melakukan panggilan telponnya dan beranjak menjauh dari posisi Satria dan Marshall untuk membicarakan hal serius dengan Leon, orang kepercayaannya sejak dulu, saat Leon masih bekerja bersama Kevan, sang Daddy. Dia anggota dari mafia yang ada di Irlandia, dan Leon orang yang sangat setia kepada keluarga O’Neill meski kini usianya sudah tidak muda lagi.


 


 


“Seorang Mafioso” sahut Marshall.


 


“What?? Dia akan melibatkan mafia?” bola mata Satria terbelalak.


 


“Ya tentu saja, dulu saat Kinara di culik juga anak buah Leon lah yang berhasil menemukannya”


 

__ADS_1


“Oh, Kinara yang diculik sama Mami kalian itu kan?” sindir Satria, dan sukses membuat Marshall mencebik.


 


“Dia bukan Mami kami lagi, dia jelmaan iblis dan sialnya aku dan Aaron terlahir dari rahim wanita itu” ujar Marshall saat mengingat kembali sosok Claire, ibu kandungnya yang memiliki sifat jahat dan sangat licik tersebut.


 


“Sudahlah, jangan menghujatnya lagi. Walau bagaimanapun dia tetap ibu kalian” ucap Satria lalu menepuk bahu Marshall.


 


Tak lama kemudian Aaron kembali lagi menghampiri Satria dan Marshall, sepertinya urusan telponnya dengan Mafioso itu sudah kelar.


 


“Bagaimana, Aar? Apa Leon mau membantu?” cerca Marshall tak sabar.


 


“Tentu saja, anak buahnya yang ada di Jerman akan segera bergerak. Kau temani aku untuk menemui mereka, Sat. kau masih memiliki rekaman cctv itu kan?” tanyanya pada Satria.


 


“Rekamannya ada di ponselku, aku yang akan ikut bersama mu.” Tiba-tiba Matthew menjawab pertanyaan Aaron tersebut. Ia baru saja keluar dari kamarnya sambil menggendong Baby Quinne dan mendengar perbincangan terakhir mereka.


 


Aaron, Satria dan Marshall pun bergitu terkesiap, mereka kompak mengalihkan pandangannya ke arah Matthew. Lalu Aaron berjalan mendekati Matthew, berniat ingin melihat bayi mungil itu lebih dekat. Sekilas Aaron mengecup kening baby Quinne untuk pertama kalinya. “kamu cantik seperti mama mu, Quinne” ucapnya lirih seraya menatap lembut bayi yang kini tengah tertidur lelap digendongan sang daddy.


 


“Aar, Sorry, aku gak becus menjaga adikmu” ucap Matthew pada Aaron.


 


“Sudahlah, seharusnya aku yang mengerti keadaan mu, Matt” Aaron menepuk bahu Matthew. “kita akan segera menemukan Atreya, percayalah.”

__ADS_1


Matthew hanya tersenyum samar, lalu kembali menundukan wajahnya untuk menatap Baby Quinne yang nampak nyaman dalam tidur lelapnya.


__ADS_2