Lovely Atreya

Lovely Atreya
Ditengah-tengah kebahagiaan


__ADS_3

Atreya terbangun dari tidurnya saat tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin mengeluarkan isi didalamnya. Dia beranjak turun dari tempat tidurnya dan segera berlari ke wastafel kamar mandi.


Hoekk... hoekk!!


Perempuan itu memuntahkan semua isi yang ada dalam perutnya hingga tak tersisa.


Matthew yang mendengar suara Atreya langsung mengerjap bangun, lalu segera menghampiri sang istri yang tengah menunduk diatas wastafel sedang membersihkan mulutnya.


"Kamu kenapa? apa salah makan sampai muntah-muntah begitu?" tanya Matthew khawatir.


"Aku tidak tau" sahutnya lalu kembali memuntahkan isi perutnya. Namun kali ini hanya cairan saja yang keluar dari perutnya.


Matthew memijat lembut tengkuk leher Atreya. "Apa yang kamu rasakan?" tanyanya.


Atreya menarik beberapa lembar tissue dari kotaknya yang berada didekat situ. "Mual, perutku rasanya seperti diaduk-aduk tak karuan" sahutnya seraya mengelap bibirnya yang masih terlihat basah. Setelah merasa tak ingin muntah lagi, ia pun kembali ke kamarnya dan naik ke atas tempat tidur. Namun entah kenapa sekarang malah kepalanya terasa pusing. Atreya memijat pelipisnya sendiri.


"Pusing?" tanya Matthew bisa menebak dengan bahasa tubuh yang ditunjukan istrinya itu.


Atreya hanya mengangguk, tapi ditengah rasa pusingnya yang tidak terlalu itu dia lalu teringat sesuatu. Atreya segera menyaut ponselnya diatas nakas. Menyalakan ponsel tersebut hanya untuk melihat tanggal yang tertera dilayar utama.


"Astaga!!" pekik Atreya.


"Ada apa?" Matthew mengernyit heran.


"Aku sudah dua bulan tidak datang bulan" sahut Atreya panik.


"Heh?"


"Iya, Matt. Kenapa aku baru menyadarinya ya..."


"Memangnya kenapa kalau tidak datang bulan? justru bagus kan, berarti kamu hamil" ujar Matthew datar. "Hah? kamu hamil, sayang?" Matthew baru sadar dengan ucapannya sendiri.


"Hhmm, bisa jadi sih." sahut Atreya seraya mengangkat bahunya sedikit ragu.


"Kalau begitu aku akan telpon Marissa sekarang!!" Matthew meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Marissa siapa?" Atreya mengernyit.


"Marissa itu teman sekolahku dulu. Dia seorang dokter spesialis obgin" ujar Matthew, lalu segera mencari kontak telponnya.


"Tunggu, Matt!! apa tidak terlalu buru-buru?" tanya Atreya ragu. "gak sebaiknya aku coba pakai testpack dulu untuk benar-benar menyakinkannya?"


"Memangnya kamu punya alat itu?" Matthew malah balik bertanya.


Atreya menggeleng.


"Lantas dimana kita mendapatkan alat itu?" Matthew begitu tak sabaran.


"Ya beli di apotik lah, masa ditoko kue." sahut Atreya sedikit kesal karena suaminya itu tiba-tiba menjadi konyol seperti itu.


"Oke, aku akan membelinya sekarang" ujar Matthew lalu segera beranjak mengambil dompet dan kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.


"Ini masih pagi Matt, apa ada apotik yang buka di jam 6 pagi?" teriak Atreya saat Matthew beranjak keluar dari kamarnya.


"Memangnya disini tidak ada apotik yang buka 24 jam..." sahut Matthew yang suaranya semakin menjauh karena terhalang tembok pembatas kamar.


Atreya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan posisi masih duduk diatas tempat tidur. Pikirannya kini melayang bagaimana jika dirinya memang benar-benar hamil lagi. Entah kenapa Atreya masih ragu, perempuan itu masih trauma dengan kehamilan pertamanya yang tidak pernah ia duga dan ia inginkan itu. Atreya berjuang sendiri saat melahirkan dan membesarkan Casey tanpa seorang suami. Tapi ketakutannya kini tak beralasan, kali ini tentu saja dirinya tidak akan sendiri lagi. Sekarang ada Matthew yang akan siap siaga seperti suami-suami pada umumnya jika istrinya sedang keadaan hamil.


Setengah jam kemudian Matthew kembali dengan membawa dua buah testpack ditangannya.


"Kenapa beli dua? satu saja cukup kok." protes Atreya.


"Untuk lebih memastikan saja, kamu pakai dua-duanya ya!!"


"Oh, ya sudah." Atreya segera mengambil testpack itu dari tangan Matthew lalu beranjak ke kamar mandi.


"Tapi kamu bisa menggunakan alat itu dengan baik kan?" pertanyaan Matthew membuat Atreya kembali menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Aku pernah hamil Casey, Matt. Dan aku tau diriku hamil karena mu berkat alat ini" sahut Atreya dan sukses membuat Matthew teringat kembali kesalahannya itu.


"Sorry..." lirih Matthew merasa bersalah.


15 menit kemudian,


Atreya keluar dari kamarnya dengan membawa dua testpack yang sudah menunjukkan hasilnya.


"Bagaimana?" tanya Matthew harap-harap cemas.


Atreya tampak merengut, lalu memperlihatkan hasil testpack itu padanya.


"Apa ini? aku tidak tau cara membacanya, Rea. Garis merah dua itu apa artinya?" Matthew terlihat frustasi menatap alat itu ditangannya.


"Artinya Casey akan punya adik" sahut Atreya lalu melengkungkan senyuman dibibirnya.


"Eh" Matthew langsung menatap wajah Atreya. "Berarti ini tandanya kamu hamil?" tanya lelaki itu ragu.


"Iya, Matt. Kita akan memiliki anak lagi" sahut Atreya dan langsung mendapat pelukan erat dari suaminya tersebut.


*****


"Bagaimana, Sa. Istriku benar-benar hamil kan?" tanya Matthew begitu antusias saat dokter Marissa datang ke rumahnya untuk memeriksa Atreya.


"Iya, Matt. Selamat ya, istrimu hamil, usia kehamilannya sekitar sepuluh minggu, tapi untuk memastikan lagi sebaiknya melakukan USG dirumah sakit, sekalian melihat pertumbuhan si janin." ujar dokter cantik berambut pirang itu.


Matthew terlihat begitu senang, tak henti-hentinya dia menghujani ciuman diwajah Atreya. Untuk pertama kalinya, lelaki itu menunjukkan ekspresi luar biasa saat mengetahui perempuan yang sangat dicintainya kini tengah mengandung janin dari darah dagingnya sendiri.


*


Setelah mengantarkan kepergian Dokter Marissa sampai ke depan pintu, Matthew segera menghubungi Bibi Lily untuk memberitahu kabar bahagia ini. Lily dan William terdengar sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Mereka memutuskan untuk langsung berkunjung ke kediaman Matthew dan Atreya untuk memastikannya.


"Kau harus menjaga istrimu baik-baik, Matt!!" ujar William.


"Iya sayang, istrimu jangan terlalu sering ditinggal ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Sebaiknya selama beberapa bulan kedepan tunda dulu urusan bisnisnya" kata Lily menambahkan.


"Ya, itu lebih baik" sahut William. "Baiklah, kalau begitu Daddy pulang dulu. Kebetulan nanti siang ada janji dengan Tuan Billy untuk membicarakan sesuatu." pamit William.


"Kakek mau pulang? kalau gitu aku ikut!!" sahut Casey yang tiba-tiba saja muncul.


"Eh, cucu Kakek ini...." William langsung memeluk tubuh kecil Casey. "Kau mau ikut ke rumah kakek?" tanyanya seraya mencubit gemas pipi sang cucu.


"Iya, Kek. Aku sudah lama tidak ke rumah kakek. Bolehkan?"


"oh, tentu saja boleh." jawab sang kakek senang.


"Casey, tapi satu jam lagi Miss. Laurent datang, sayang." ujar Atreya mengingatkan anaknya kalau hari ini ada jadwal les privatnya.


"Aku mau libur dulu, Ma. Atau suruh saja Miss. Laurent datang ke rumah kakek saja" pinta Casey. Anak itu kalau sudah maunya begitu ya harus begitu. Tidak ada yang mampu mengubah keputusannya. Akhirnya Atreya dan Matthew pun angkat tangan, lalu menghubungi guru privatnya untuk datang kerumah William.


William dan Lily pun akhirnya berpamitan, turut membawa Casey bersama mereka tentunya.


Kini dirumah itu nampak sepi tanpa Casey, hari ini Matthew memutuskan untuk tidak pergi ke kantor karena ingin menemani Atreya dirumah.


"Aku ingin kamu memainkan piano, Matt" pinta Atreya kemudian.


"Hah? tapi kamu harus istirahat, sayang" ujar Matthew.


"Aku sudah baikan, sudah gak mual lagi kok" sahut Atreya.


"Baiklah, ayo!! aku akan bermain piano untuk istriku yang sedang hamil ini" ujar Matthew lalu menuntun istrinya menuju tempat Pianonya yang disimpan dipojok ruang tengah yang berhadapan langsung dengan taman kecil disamping rumahnya.


Matthew duduk lebih dulu dikursinya. mulai memencet tuts demi tuts piano tak beraturan.


"Ayo cepat mainkan!!" pinta Atreya tak sabar.


Lelaki itu mengernyit heran, ada apa dengan istrinya ini? kenapa Atreya sangat berantusias begini?

__ADS_1


Matthew berhenti sejenak, seperti berfikir musik apa yang akan dia mainkan selanjutnya. Lantas, saat jemarinya kembali menari diatas piano, Atreya langsung menjerit gembira.


“Hei, ini kan lagu saat Mia terpukau saat permainan piano Sebastian, kan?!” ucap Atreya berseru girang.


“Apakah sekarang kamu terpukau seperti Mia Dolan dalam film itu?” tanya Matthew seraya mengedipkan sebelah matanya jahil.


“Memang kamu nonton film La La Land?” nada tak percaya Atreya membuat Matthew tertawa. Jari-jarinya tetap lincah memainkan nada demi nada dari lagu Mia and Sebastian’s theme dalam film musical La La Land.


“Kenapa memangnya? Lelaki sepertiku tidak boleh menonton film seperti itu?” Matthew malah balik bertanya.


“Bukannya begitu, tapi---“ Atreya tidak melanjutkan kalimatnya. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa sulit percaya seorang Matthew Clark Polan menonton film semacam La La Land. Berbeda kalau Matthew menyukai serial Game of Thrones, menurutnya itu masuk akal, mengingat film seri itu memang tidak melulu soal kisah cinta para tokoh-tokohnya, tapi juga disisipi berbagai intrik politik, peperangan, hingga adegan-adegan vulgar yang nyaris ada disetiap episodenya.


Tapi dengan film musical La La Land ? sangat mustahil Matthew menyukai plot cerita yang nyaris 100% drama tersebut. Berkisah tentang Mia Dolan, gadis dari kota kecil yang bermigrasi ke Los Angeles demi mengejar impiannya menjadi aktris Hollywood, yang bertolak belakang dengan Sebastian Wilder, seorang pianis jazz yang ingin memiliki klub jazz sendiri suatu saat nanti. Lelaki mana yang menyukai romansa semacam itu untuk ditontonnya? Apakah alasan Matthew menonton La La Land hanya karena dia ingin melihat acting Emma stone yang memang jelita itu?


Atreya ingat betul, dulu Satria menolak keras saat Atreya mengajaknya menonton film itu di bioskop, sehingga akhirnya Atreya memaksa Kinara untuk menemaninya menonton. Tapi Matthew bahkan bisa memainkan salah satu lagunya dengan baik seperti ini? Wow!! ngomong-ngomong dengan siapa Matthew menontonnya? Apakah dia terpaksa menonton La La Land karena paksaan dari kekasihnya terdahulu? Ah, setia sekali dia hingga rela menonton film musical itu demi menemani gadis pujaan hatinya.


“Kamu jangan stereotyping begitu dong, sayang” ujar Matthew memotong lamunan Atreya. “mentang-mentang film musical, jadi kaum lelaki tidak pantas menontonnya begitu? Damien Chazelle sutradara La La Land kan laki-laki juga.”


Atreya tersenyum malu, mengakui dalam hati kalau tuduhan Matthew padanya tidak bisa dibantah, dia sudah terjatuh pada asumsi umum yang konyol, memangnya kenapa kalau kaum lelaki menyukai film musical?


“Aku menyukai setiap unsure dalam film itu” ujar Atreya mencoba mengalihkan arah pembicaraan.


“Karena endingnya tidak seperti film lainnya yang happily ever after bergitu ya?” tanya Matthew.


Atreya mengangguk, “ternyata mencintai tidak selamanya bisa memiliki itu memang ada, Mia Dolan dan Sebastian Wilder itu tuh contohnya” ujar Atreya.


Matthew tertawa mendengarnya, lalu melirik kearah Atreya. “Gak usah jauh-jauh, kamu dan Satria juga bisa menjadi contohnya.”


Mendengar hal itu reflek Atreya mencubit lengan Mathew begitu kerasnya. “AWW!! Ini sakit lho, sayang” Matthew meringis seraya masih bisa mengulum tawanya.


“Itu tidak lucu, Matt!! Aku gak suka bahas masa lalu tentang aku dan dia, atau kamu dengan semua mantan kekasih mu itu.” jawab Atreya tegas.


Semua mantan kekasihku? memangnya dia tau ada berapa jumlah mereka? batin Matthew mengangkat bahunya seraya mengulum senyum.


“Oke, I am sorry, my lovely wife” ucap Matthew lalu mengecup pipi Atreya yang sudah duduk disampingnya. “tapi kalau kamu berada diposisi Mia Dolan bagaimana?” tanya Matthew iseng.


“Apa?” Atreya terkejut, tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. “Bagaimana ya?” Atreya benar-benar berfikir. Matthew yang sudah berhenti bermain piano menunggu jawaban Atreya.


“Apakah kamu bisa seperti Mia Dolan, mengejar impiannya menjadi aktris dan rela melepaskan lelaki yang dicintainya demi mimpinya itu?” ulang Matthew, ambil tak berhenti mengamati wajah sang istri.


Bibir tipis Atreya kini mengerucut cemberut memikirkan pertanyaan Matthew yang masih bingung dia harus jawab apa. Wajah oval Atreya terlihat sempurna, dengan rambut cokelat lurus sebahu yang dibiarkannya tergerai begitu saja berjatuhan dibahunya.


“Tapi hidupku bukan di film La La Land, Matt” kelit Atreya. Dia tidak bisa membayangkan dirinya harus memilih seperti tokoh Mia Dolan dalam film itu, alangkah sulitnya.


“Haissh, namanya juga berandai-andai” ujar Matthew tertawa.


“Memangnya kamu juga bisa seperti Sebastian? Merelakan kekasihmu mengejar impiannya meskipun itu artinya kamu tidak bisa lagi bersamanya?” cecar Atreya kemudian. Matthew sampai mengernyit bingung, dan Atreya terlihat senang bisa menyerang Matthew balik.


“Curang kamu ya, kan aku yang tanya duluan” ujar Matthew enggan menjawabnya. Keduanya malah tertawa, menertawakan kekonyolan obrolan mereka siang itu.


 


Meski dalam keadaan sekarat pun, aku akan tetap mempertahankan mu, Atreya. Karena aku hanya ingin selalu melihatmu tertawa seperti ini.


Hingga akhirnya salah satu maid dirumah itu memanggil keduanya.


“Tuan, Nyonya, Makan siang sudah siap. Barangkali mau makan sekarang?” ujar maid itu sopan.


“Baiklah, sebentar lagi kami akan makan” sahut Matthew, lalu segera beranjak dari kursi piano dan mengajak Atreya untuk berpindah keruang makan. Namun saat akan melangkah tiba-tiba Matthew mengalami sakit kepala hebat hingga tak dapat menopang keseimbangan tubuhnya, dan sedetik kemudian,


BRUKK!! 


Matthew terjatuh dan langsung tak sadarkan diri.


“MATT!!!” teriak Atreya begitu panik saat melihat suaminya yang sudah terkapar dilantai.


__ADS_1


__ADS_2