Lovely Atreya

Lovely Atreya
Titik terang keberadaan Atreya


__ADS_3

CKLEEK!!


Pintu itu pun terbuka, Atreya tau siapa yang datang. Itu pasti pelayan yang biasa mengantarkan makanan untuknya.


"silahkan dimakan, Nona!" ucap pelayan itu ramah.


Atreya terkesiap mendengarnya, tumben pelayan itu ramah, biasanya kemarin-kemarin dia hanya meletakkan nampan berisi makanan itu seenaknya. kadang diatas meja, kadang diatas tempat tidur dan pernah sekali menaruhnya dilantai, persis seperti memberikan makanan untuk seekor anjing atau binatang peliharaan lainnya.


"Saya permisi" ucapnya lagi hendak kembali menuju pintu keluar.


"Wait!!" Atreya mencegahnya, ia baru melihat pelayan itu, sebelumnya bukan dia yang selalu mengantar makanan untuknya. Seorang perempuan yang usianya mungkin seumuran dengan Atreya, berambut hitam yang diikat kebelakang, berkulit sawo matang, dan postur tubuh seperti gadis Asia pada umumnya.


"Apa kau pelayan dirumah ini juga?" tanya Atreya seraya memperhatikan perempuan itu dengan seksama.


"Iya, Nona. Tapi saya fokus melayani kebutuhan nona kecil saja. Kebetulan pelayan yang biasa mengantar kesini sedang berhalangan, maka saya yang menggantikannya" ujarnya seraya menundukan kepalanya tanpa berani menatap Atreya.


"Nona kecil? anaknya Andrew O'Brien?"


"Betul, Nona" sahut perempuan itu masih menunduk.


"Apa kau keturunan Asia? maaf, aku bisa melihat dari ciri-ciri anda"


"Sa... saya dari Indonesia" ucapnya ragu.


"What? jadi kamu dari Indonesia?" Atreya terkejut mendengar pengakuan perempuan dihadapannya. Atreya pun mulai berbicara bahasa Indonesia kepadanya. Dia juga bercerita tentang dirinya yang memiliki darah Indonesia dari sang nenek.


Pelayan itu bernama Arumi, dia sudah tiga tahun menjadi TKW dan bekerja sebagai pengasuh untuk anak Andrew.


"Kau mau membantuku, Arumi? aku mohon!" pinta Atreya setelah menceritakan semua tentang keberadaannya beberapa hari ini disini.


"Tapi, Nona---"


"aku mohon Arumi, aku punya anak yang masih berusia empat bulan, dia masih perlu ASI dariku" ujar Atreya seraya mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.


"Baiklah, Nona. Aku akan mencobanya nanti malam setelah semuanya sudah tertidur"


"Ah, terimakasih, Arumi. terima kasih banyak" ucap Atreya sampai menitikkan air matanya karena terharu. Akhirnya dia punya kesempatan untuk terbebas dari tempat ini.


"Saya tidak yakin ini akan berhasil, Nona. Tapi saya akan mencobanya. Katakan berapa nomor ponsel suami anda?"


"Aku tidak hapal nomor ponselnya, Arumi. Tapi kau bisa menghubungi nomor telpon rumah. Nomernya 03011xxx"


"Baik, Nona. Saya sudah mengingatnya, semoga tidak lupa."


"Sekali lagi terima kasih, Arumi. Aku tidak akan melupakan kebaikan mu seumur hidupku" ujar Atreya lalu memeluk Perempuan itu dengan eratnya.

__ADS_1


"Saya bahkan belum melakukan apa-apa, Nona. Doakan saya saja supaya rencana ini lancar" ucap perempuan itu lalu melepas pelukan Atreya.


Atreya pun mengangguk, dan tak lama kemudian perempuan bernama Arumi itu pun segera keluar dari ruangan itu karena sudah cukup lama bersama Atreya dan dikhawatirkan mereka akan curiga.


***


Tengah malam, Arumi mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju ke ruang keluarga, dimana ada telpon rumah yang terpasang diatas nakas dipojokan sana. Seandainya ini hari libur, mungkin Arumi bisa menggunakan ponselnya sendiri untuk menghubungi suami Atreya dikamarnya tanpa harus mengendap-endap seperti begini, karena peraturan dirumah ini semua ponsel pelayan di sita majikannya dan baru bisa diambil ketika hari Minggu saja.


Lampu diruang tengah nampak temaram, tanda disana sudah tidak ada aktivitas apapun. Dan sudah dipastikan semua penghuni di rumah besar ini sudah berada dikamarnya masing-masing dan tertidur.


Kaki Arumi gemetar, disertai suhu tubuh yang mendadak dingin ia pun berjalan dengan langkah senyap serta kedua mata penuh siaga.


Aman, perempuan itu pun menghembuskan nafasnya lega saat tangannya sudah menggenggam gagang telpon. dia pun mulai mendial nomor yang sudah tersimpan di memori otaknya.


"Hallo..." sahut seseorang diseberang sana.


"Hallo, benar ini dengan kediaman Tuan Matthew?"


"Siapa? disini tidak ada nama itu. Kau mencari siapa tengah malam begini? mengganggu orang tidur saja"


TUTT! Arumi segera memutus sambungan telponnya.


Siall!! kenapa bisa salah sambung sih? apa Nona yang tadi salah memberikan nomor, atau aku yang salah pencet?


Semoga kali ini benar, Arumi menarik nafasnya sejenak sambil menunggu respon dari panggilannya tersebut.


"Ya, Hallo..." suara diseberang sana terdengar parau.


"Benar ini dengan kediaman Tuan Matthew?" tanya Arumi tanpa membalas ucapan hallo terlebih dahulu karena sudah tidak sabaran.


"Iya, ini dengan siapa?"


Bola mata Arumi terbelalak, Akhirnya... ternyata nomornya memang benar tertukar.


"Apa ini Tuan Matthew?"


"Bukan"


"Lalu ini siapa?"


"Aku Marshall, iparnya"


"Oke, siapa pun kamu tolong katakan pada Tuan Matthew kalau Nona Atreya ada disini, dia ada dirum----"


TUTT...TUTT...TUTT...

__ADS_1


PLAKK!! tiba-tiba seseorang menampar pipi Arumi dengan kerasnya.


"Lancang sekali kamu mencampuri urusan majikan mu!!"


Arumi sontak memegang pipinya yang kesakitan akibat tamparan dari wanita tua yang kini sudah berdiri dihadapannya itu. Namun rasa perih akibat tamparan Claire tak seberapa dibandingkan rasa takut yang kini ada dalam dirinya. Tubuh Arumi bergetar hebat, dia sungguh ketakutan, bukan takut dipecat atau tidak digaji, tapi yang ia takuti adalah keselamatan jiwanya.


Sosok wanita tua yang kini berdiri dihadapannya itu terlihat sungguh menakutkan, dibalik wajah teduhnya ternyata menyimpan taring yang siap menerkam siapa saja yang berusaha mengusiknya.


***


Sementara ditempat lain,


TUTT...TUTT...TUTT... sambungan telponnya tiba-tiba terputus.


"Hallo... hey, HALLO!!" teriak Marshall seolah tak terima dengan terputusnya sambungan telpon tadi. Ia reflek menyimpan gagang telepon itu dengan kasar ketempat semestinya.


"Aaron!! Matthew!!" Teriaknya memanggil nama-nama tersebut. Kebetulan mereka memang masih terjaga.


"Kenapa berteriak begitu? kau ini seperti tidak punya adab saja, bagaimana kalau kalau seisi rumah terbangun?!" tegur Aaron seraya melotot ke arah sang adik.


"Kau tau tadi yang nelpon siapa?" Marshall malah bertanya.


"Mana aku tau, kan barusan kau sendiri yang menjawab panggilan telponnya. Dasar bodoh!" umpat Aaron mulai jengah dengan sikap Marshall.


Matthew yang berada ditempat sama itu pun hanya tersenyum gamang melihat tingkah ipar-iparnya tersebut.


Marshall terlihat menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya yang akan membuat Aaron dan Matthew mungkin akan terkejut, namun ada sedikit titik terang bagi mereka untuk melacak keberadaan Atreya.


"Tadi seseorang ingin mengabari keberadaan Atreya, tapi tiba-tiba saja telponnya terputus begitu saja."


"APA??"


Reflek Aaron dan Matthew kompak mengatakan hal yang sama sebagai bentuk keterkejutannya.


Setelah Marshall menirukan omongan si telpon misterius itu, Aaron dan Matthew pun langsung tak tinggal diam. Mereka akan melacak nomor telpon yang masuk dengan bantuan orang-orang suruhan Aaron. Mereka tak mau melibatkan polisi, biarlah berjalan masing-masing. Kita lihat saja nanti siapa yang berhasil lebih dulu menemukan Atreya.


.


.


.


Jangan lupa dukung terus akunya ya, cukup like, komen, dan Vote sebanyak-banyaknya.


terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2