
BRAAKK!!
Kini tubuh Atreya kembali terhentak ke depan, lebih kencang. Diiringi dengan teriakan Atreya yang otomatis meluncur dari bibirnya lantaran dia begitu kaget. Didengarnya juga suara Ken yang menunjukan rasa terkejut, ketika sebuah mobil dibelakang mereka baru saja menghantam mobil mereka dengan lumayan kencang.
“Kita di Tabrak, Nyonya” Ken memberikan informasi yang tidak terlalu diperlukan. Sebetulnya, karena Atreya sudah jelas tahu bahwa mereka baru saja ditabrak oleh pengemudi mobil lain. “saya akan mengeceknya sebentar, Nyonya.” Ken terdengar sedikit cemas, suaranya bergetar kecil.
Atreya ikutan cemas. Tangannya kini meremas, dia memutar tubuhnya untuk melihat kejadian dibelakang mobilnya. Atreya melihat Ken dengan wajah serius. Sepertinya lelaki itu mulai ketakutan. Jangan-jangan kerusakannya parah. Dia tidak boleh diam saja. Atreya harus tahu, seberapa besar kerusakan mobil ini.
Maka dalam hitungan detik, Atreya sudah turun dari mobil dan memeriksanya bersama Ken. “Bagaimana, Ken?” tanyanya panik.
“Lumayan ringsek, Nyonya”
“Ya Tuhan” Atreya bergumam lesu sambil menatap bemper belakang yang penyok terdorong ke dalam. Bahkan lampu belakangnya semuanya pecah.
Ya, dia tahu mobil ini besutan Eropa yang terkenal kuat dan kekar, Namun masalahnya, mobil yang menabraknya pun sama-sama rilisan Eropa dan kondisinya juga sama kuat.
“Mana dia?” Atreya bergerak cepat mencari sosok si penabrak. “Dia belum turun? Dan kenapa dia tid---“
“Maafkan saya, Nona.” Sebuah suara menghentikan pikiran buruk Atreya dan lantas membuatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Di belakang Atreya dan Ken, kini hadir seorang lelaki yang kira-kira seusia dengan Matthew.
“Maafkan, disini saya salah karena tidak fokus menyetir, hingga tidak sadar didepan ada kendaraan yang sedang mengerem mendadak” Lelaki itu bicara lagi. Matanya dan Atreya sempat bertemu. Dan Atreya bisa merasakan untuk beberapa detik, lelaki itu memandangnya intens. Tatapan matanya begitu dalam dan menyiratkan tanda tanya besar bagi Atreya.
Secara tidak sengaja akhirnya Atreya memperhatikan, lelaki itu memiliki mata hazel yang indah, tertempa sinar matahari yang masih menaungi mereka saat ini ditengah jalan. Dan mata hazel itu dihiasi sepasang alis yang kokoh dan tebal, berpadu dengan hidung yang cukup tinggi, serta dagu yang terbelah sempurna hingga pas untuk membuat lelaki itu disebut tampan.
“Disini kita sama-sama salah, kok.” Ujar Atreya membalas pelan dan santun.
“Saya akan ganti rugi” kata lelaki itu.
“Terima kasih” Atreya tersenyum, “nanti akan saya infokan mobil ini ditangani dibengkel mana. Saya harus bertanya dulu pada suami saya.”
“Oh, tidak perlu!!” lelaki itu menggeleng cepat. “saya akan langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening anda. Karena saya harus buru-buru keluar negeri sekarang.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa memutuskannya sendiri, saya harus berkonsultasi terlebih dulu dengan suami.” Sahut Atreya bijak.
“Oke, kalau begitu ini kartu nama saya. Nama saya, Andrew. Saya janji akan bertanggung jawab. Tolong segera infokan saja nominalnya, dan akan langsung saya transfer seluruh biaya perbaikannya” ucapnya sambil mengulurkan selembar kartu nama pada Atreya.
Atreya menerimanya. “Oh, ya tentu saja, Tuan” perempuan itu lalu menyahut gamang.
“Percayalah, saya tidak akan lari dari tanggung jawab” Lelaki itu melanjutkan perkataannya lagi. “sepertinya kita harus segera pergi dari sini, sebelum semakin macet. Lihatlah!! Banyak mobil menunggu untuk lewat jalan ini” dia menunjuk antrian mobil yang kini mulai tak sabaran melihat ke arah mereka.
__ADS_1
“Oke kalau begitu saya permisi.” Pamit Atreya.
“Maaf, Nona. Anda harus melanjutkan perjalanan dengan kondisi mobil yang seperti ini” ujar lelaki itu terlihat begitu menyesal.
“It’s Oke” Atreya dan Ken pun segera masuk ke mobil. Lalu Ken kembali menjalankan mobil, melanjutkan misi mereka yang sempat tertunda.
Untuk sesaat Atreya merasa dia hampir saja melupakan tujuannya. Ya tentu, dia harus menemui sang suami untuk memberikan dokumennya. Dan tentu saja, dia juga harus menceritakan peristiwa ini. Bagaimana mereka diterpa kemacetan yang tak biasanya, bagaimana mereka terpaksa lewat jalan pintas yang sempit agar bisa tiba lebih cepat, namun nahas dijalan justru terjadi peristiwa tabrakan yang mengakibatkan salah satu mobil kesayangan Matthew jadi penyok dibagian belakangnya.
Dia begitu penasaran mengenai apa yang akan terjadi nantinya berkaitan dengan perkara ini. Bagaimana reaksi Matthew? Meskipun sebagian dari Atreya masih merasa heran, kenapa dalam perjalanannya dia bisa mengalami peristiwa seaneh ini. Ada maksud apa lagi yang disembunyikan semesta kepadanya? Kenapa dia harus bertemu dengan lelaki yang tadi sempat memandangnya dengan intens itu? seolah dia mengenaliku.
“Siapa tadi namanya?” Atreya sadar dia tidak ingat nama lelaki itu. Maka dia menatap lagi ke kartu nama yang masih berada didalam genggamannya. Dia menatap dan membaca lagi tulisan berwarna hitam diatas kertas kecil berwarna putih itu.
Andrew Ackerley O'Brien
*****
Akhirnya Atreya tiba juga di gedung Neotech tiga puluh menit kemudian, sangat mengesalkan karena jaraknya dari rumah mereka sebetulnya tidak seberapa jauh. Apalagi ditambah dengan musibah yang menyertai Atreya mengantarkan dokumen ke kantor yang menyebabnya bemper mobilnya penyok.
Tapi ya sudahlah, yang penting misinya sebentar lagi bisa dituntaskan. Atreya sungguh berharap dokumen yang berada ditasnya ini bisa membuat rencana bisnis Matthew benar-benar berhasil dengan baik.
“Nyonya,” suara Ken yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya terdengar sedikit bergetar.
“Iya, Ken?”
“Tolong jangan pecat saya ya, Nyonya.” Suara ken benar-benar memelas.
Ken pun hanya mengangguk. Pasrah membiarkan Atreya bergegas masuk ke dalam gedung. Saat masuk ke kotak lift, Atreya masih bisa melihat Ken yang sedang memeriksa bagian belakang mobil ditemani salah satu security kantor.
TING!!
Atreya sudah sampai dilantai lima, tempat dimana ruangan kerja suaminya itu berada. Dia pun segera menuju resepsionis yang sigap berdiri menyambutnya, menjelaskan maksud kedatangannya, lantas menunggu tak berapa lama dikursi lobi karena di lift tadi atreya memang sudah menelpon Matthew dan mengabarkan padanya bahwa dirinya sudah tiba di tempat.
“Maaf, aku merepotkan mu, Rea. Terima kasih ya!!” ujar Matthew riang saat istrinya menyerahkan map merah berisi dokumen pentingnya itu. Lelaki itu memeluk Atreya erat, bahkan tanpa bisa Atreya duga, Matthew mengecup bibirnya lama, tak perduli meski ada beberapa pegawainya yang berlalu lalang atau kamera CCTV yang bisa melihat mereka.
“Matt!!” erang Atreya, dia kaget Matthew berani menciumnya diruang public begini.
Lelaki itu malah tertawa, membuat Atreya harus mencubit lengannya pelan.
“Ayo!! Kalau begitu kita lanjutkan diruangan ku saja” Matthew terkekeh menggodanya, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Atreya dan menggiringnya ke ruangan kerjanya.
“Memangnya klien penting mu itu belum datang ya?” tanya Atreya penasaran. Dia khawatir dirinya terlambat datang dan membuat klien Matthew membatalkan untuk bekerja sama dengannya.
“Dia juga baru saja datang, kok. Ayo!! Sekalian aku kenalkan padamu. Calon klien yang baru itu sebetulnya sahabat kecilku yang sempat menghilang, dan baru bertemu lagi dikerja sama bisnis ini.”
__ADS_1
“Oya?” Atreya langsung berantusias untuk segera berkenalan dengan sahabat kecil suaminya itu.
*
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Istriku baru datang mengantarkan dokumennya" ujar Matthew merasa tidak enak karena untuk beberapa menit meninggalkan kawan kecilnya itu diruang kerjanya.
"No Problem, Matt" sahut lelaki itu masih sibuk dengan ponselnya tanpa mengindahkan pandangannya.
"Oya, kenalkan ini istriku, Atreya O'Neill. Dia memiliki darah Irlandia juga seperti dirimu."
"Hah?" Lelaki itu langsung mendongak ke atas kearah Matthew dan Atreya yang berdiri.
Sesaat mereka beradu beradu pandang, keduanya saling mengernyit seraya menyunggingkan bibirnya membentuk lengkungan senyum.
"Anda?"
"Nona--?"
Mereka bersamaan saling menyambut. Atreya tidak mengira ternyata sahabat kecil Matthew itu adalah si penabrak mobilnya tadi.
"Apa kalian saling mengenal?" Matthew mengernyit, menatap Atreya dan Lelaki itu bergantian.
"hhmmm-- sorry, Matt. Tadi dijalan aku menabrak mobilnya" ucapnya ragu lalu melirik ke arah Atreya.
"What?? kamu tidak apa-apa, sayang?" Matthew langsung memindai kondisi tubuh istrinya dari atas kepala hingga ujung sepatunya.
"Aku tidak apa-apa, Matt. Hanya mobil mu saja yang penyok dibagian bemper belakang." Sahut Atreya dan membuat Matthew akhirnya bisa bernafas lega.
"Itu gak masalah, yang penting kamu baik-baik saja, Rea" Matthew tak canggung mengecup lalu memberi lummatan kecil pada bibir Atreya didepan tamunya tersebut.
"ehemm!!" beberapa detik kemudian lelaki itu berdehem, memberi isyarat bahwa dirinya tengah ikut menyaksikan adegan ciuman sepasang suami-istri tersebut.
Atreya menyadarinya, lalu menyudahi rangkuman bibirnya dengan bibir Matthew dengan sedikit bergerak mundur.
"Oh, Maaf" lirih Atreya jadi dirinya yang tidak enak hati, padahal jelas-jelas Matthew yang nyosor duluan.
"Sepertinya kalian butuh waktu berdua. Apa sebaiknya aku keluar dulu?" ujarnya.
"Ah, sorry. Aku keblabasan, lupa kalau ada dirimu, Tuan O'Brien" sahut Matthew tanpa rasa bersalahnya.
Sialan, rutuk lelaki itu dalam hati.
"Sayang, kenalkan ini Andrew O'Brien. Dulu kecil kami bersahabat, tapi suatu waktu dia dan keluarganya pindah ke London. Kami benar-benar lost contact." ujar Matthew mengenalkan sosok lelaki yang bernama Andrew O'Brien itu pada Atreya.
"Dan berkat Cathy, kita dipertemukan kembali" kata Andrew menambahkan. "aku tidak menyangka kau bisa berteman dengan sepupuku itu." Lelaki itu terkekeh.
Dan Matthew pun ikut tertawa kala menyadari berkat Cathy lah akhirnya mereka kembali dipertemukan. Andrew meminta Cathy untuk mencarikan investor diperusahaannya yang baru saja dibuka di Berlin. Lalu Cathy menawarkan Matthew untuk bekerja sama, setelah dipelajari dan dipertimbangkan dengan matang-matang akhirnya Matthew pun setuju untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan itu. Mengingat perusahaan itu bagian dari perusahaan GA Company yang terkenal di Inggris itu. Dan pastinya akan sangat menguntungkan juga buat NEOTECH. Tak disangka ternyata pemilik perusahaan itu adalah teman kecilnya yang telah hilang.
"Well, aku akan mengganti mobilmu yang rusak itu dengan baru. Sekali lagi aku minta maaf" ucap Andrew bersungguh-sungguh.
"No!! itu tidak perlu, kawan" segera Matthew menolaknya. "Sudahlah, jangan bahas hal yang tidak penting seperti itu. Lebih baik kita bicarakan tentang kerjasama kita" ujarnya kemudian.
Akhirnya mereka kembali membahas tentang kerjasama dan bisnis yang akan dikembangkan oleh perusahaan baru milik Andrew di Berlin dengan bantuan perusahaan Matthew. Mereka sangat yakin dibawah NEOTECH, perusahaan milik Andrew akan cepat berkembang di negeri ini.
Dalam obrolan dengan Matthew, sesekali Andrew mencuri-curi pandang dengan Atreya yang duduk disamping suaminya. Wajah perempuan itu sangat mirip dengan Laura, mantan istrinya yang meninggal satu tahun lalu karena kecelakaan lalu lintas.
Kenapa begitu mirip? setau ku, Laura tidak punya saudara kembar. Aku sangat merindukanmu, Laura.
Sementara itu, Atreya menyadari dengan tingkah Andrew yang diam-diam menatapnya begitu intens. Ia jadi risih dan tidak nyaman diposisinya.
"Matt, Kalau tidak ada lagi yang diperlukan aku akan pulang ya, kasihan Casey dirumah pasti menungguku" ucap Atreya beranjak dari duduknya.
"Tunggulah sebentar lagi, sayang. Kita akan pulang sama-sama ya!" cegah Matthew.
"Hhmmm-- baiklah, aku akan menunggu di kafe bawah saja kalau begitu. Rasanya aku ingin ngopi dan makan pastry disana."
Entahlah, tiba-tiba saja Atreya membayangkan pastry Croissant dengan toping selai kacang dan cokelat. Teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang pas sangat cocok dinikmati sambil minum kopi saat ini.
Matthew pun mengiyakan keinginan Atreya untuk menunggunya di cafe yang masih berada di gedung yang sama di lantai bawah tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Udah Senin lagi ya, Gaess...
jangan lupa like, komen, dan poinnya untuk Minggu ini 😉🙏