
Didalam kotak lift rumah sakit menuju tempat makan, Atreya kembali membayangkan kudapan yang akhir-akhir ini selalu membuatnya gelisah karena ingin memakannya.
Shit!! Kenapa tiba-tiba muncul lagi sih?? umpatnya menahan keinginan hati atau rasa penasaran lidahnya untuk mencicipi kudapan kue pancong. Entahlah, kenapa kali ini ngidamnya tidak bisa diajak kompromi atau dinegosiasikan ya? hahaha... perempuan itu hanya bisa tertawa sendiri didalam hatinya. Mungkin kalau posisinya dia di Indonesia itu tidak masalah. Tapi ini sedang di Berlin, kenapa bayi dalam perutnya ini minta yang aneh-aneh sih?
Memang sih, mungkin sebagian orang mengatakan bahwa ngidam itu sebetulnya hanya sugesti saja. Tapi Atreya percaya dengan ungkapan Dokter Damar, dokter yang menangani kehamilannya yang pertama saat mengandung Casey dulu.
Beliau mengatakan, “ngidam karena hamil berhubungan dengan perubahan Peptida Opioid Endogen (POE). Biasanya saat ngidam kadar POE salam tubuh ibu hamil meningkat. POE ini berhubungan kuat dengan asupan makanan. Tidak Cuma POE yang meningkat, beta endorphin dan meta ankafelin pun meningkat. Hal ini memicu ibu hamil cenderung menginginkan makanan yang bisa memuaskannya.”
Nah, teori ini lah yang merupakan paparan ilmiah yang menjelaskan terjadinya ngidam. Dan sebenarnya pasti masih ada alasan ilmiah lain yang bisa bikin perempuan hamil itu bisa merasakan ngidam.
TING!!
Rupanya lift berhenti dilantai tiga dan langsung membuyarkan semua yang ada dipikiran Atreya. Saat pintu lift terbuka, seseorang masuk dan membuat Atreya terkejut saat melihat kembali orang tersebut baru memasuki kotak lift yang didalamnya hanya ada Atreya seorang.
“Anda masih disini?” tanya Atreya reflek langsung bertanya. Tapi sebetulnya itu bukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Itu hanya ungkapan bentuk keterkejutannya saja. Karena ternyata lelaki bernama Andrew O’Brein itu masih berada di rumah sakit ini setelah setengah jam lalu berpamitan pulang kepada Matthew.
“Oh, Hi…. Kita bertemu lagi disini.” Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Atreya barusan. Lelaki itu lalu memijit tombol tutup pada lift. Kini di kotak lift itu hanya ada mereka berdua menuju lantai dasar rumah sakit yang tinggal dua tingkat lagi.
“Anda mau kemana, Nona Atreya?”
Atreya bergeming, entah mengapa rasanya dia malas menjawab pertanyaannya. Jujur saja Atreya masih jengah dengan perkataan Andrew tempo hari itu. Apa coba maksudnya berkata seperti begitu? Sungguh tidak etis dan tidak manusiawi, menurut Atreya.
TING!!
Akhirnya lift sampai juga dilantai dasar. Atreya spontan keluar dari kotak lift lebih dulu, langsung menuju tempat makan yang berada disebelah pojok dekat ruang admisi. Dia pun bergegas menuju tempat makan itu, dan saat dia tengah memilih menu, ternyata lelaki bernama Andrew sudah ikut berada diantrian tepat dibelakang tubuh Atreya. Sontak dia pun membalikkan setengah tubuhnya ke belakang.
“Anda mengikuti saya?” pertanyaan bodoh itu tiba-tiba terlontar dari bibir Atreya. Semua orang bebas datang dan makan ditempat ini, tapi entah kenapa dia merasa lelaki itu tengah menguntitnya.
Andrew tersenyum, “saya sudah melewatkan jam makan siang hari ini, jadi tolong anda jangan merusak mood saya, Nona Atreya” ujarnya penuh penekanan.
__ADS_1
Haissh!! Yang ada situ yang membuat selera ku berantakan, Tuan O’Brein, rutuk Atreya dalam hati, lalu kembali membalikkan tubuhnya untuk memesan secangkir kopi dan mille feuille pastry.
Setelah selesai memesan makanan, Atreya pun lalu memindai beberapa kursi yang sebagian sudah full terisi oleh beberapa orang berpakaian medis, juga pengunjung lain yang kemungkinan keluarga pasien dirumah sakit ini yang tengah menikmati makan siangnya yang terlewatkan atau sekedar ngopi-ngopi biasa.
Syukurlah ada meja dan kursi yang masih kosong tepatnya dipojok dekat jendela sana, Atreya pun bergegas kesana karena takut kursinya disamber orang. Kini dia pun tengah mengesap kopinya yang sangat nikmat tersebut sambil pandangan mengarah ke arah jendela, menatap ke jalanan dimana penuh lalu-lalang kendaraan yang keluar masuk area rumah sakit.
“Boleh saya duduk disini? Tidak ada meja atau pun kursi yang kosong lagi selain disini.”
Tiba-tiba Andrew langsung menyimpan makanan serta minuman miliknya dimeja yang sama dengan kopi dan pastry milik Atreya. Sontak perempuan itu mendongak, menatap ke arah lelaki jangkung yang masih berdiri dihadapannya.
Sesaat Atreya mengedarkan pandangannya, memindai kembali meja-meja yang memang terlihat penuh itu. Padahal ini masih terlalu sore untuk jam makan malam. Tapi kenapa nampak penuh sekali tempat makan disini?
“Oh, silahkan!!” ujar Atreya pada akhirnya. Ia terpaksa memperbolehkan lelaki itu untuk duduk satu meja dengannya karena memang tidak ada lagi meja yang kosong.
Atreya menikmati mille feuille pastry miliknya tanpa mempedulikan Andrew yang duduk berada dihadapan. Sesekali Atreya memainkan ponsel pintarnya agar tidak mati gaya dihadapan lelaki menyebalkan itu.
"Aww!!" tiba-tiba Atreya memekik kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Hey, Ada apa?" Andrew terkejut langsung menghentikan kegiatan makan burgernya.
Atreya memberi isyarat menjulurkan telapak tangan ke arah lelaki itu, tanda dirinya baik-baik saja dan tidak butuh bantuannya.
Tapi ternyata rasa sakitnya kian menjadi, entah kenapa tiba-tiba dibagian perut bawahnya terasa sakit luar biasa. Atreya meringis hingga tak bisa menahan rasa sakit tersebut.
Ya Tuhan, ada apa ini? kenapa sakit begini? dulu waktu hamil Casey tidak sesakit ini, Atreya bergumam dalam hati seraya mencengkeram tangannya sendiri menahan rasa sakit diperutnya.
"Are you, Oke?" tanya Andrew sekali lagi. Ia melihat dengan jelas bahwa perempuan dihadapannya itu tengah meringis, dan dia masih bertanya baik-baik saja? ah.
Wajah Atreya nampak pucat, ia bahkan tak mampu untuk menjawab pertanyaan dari Andrew.
__ADS_1
"Nona Atreya" sentak Andrew dengan ragu memegang pundak Atreya yang masih terdiam.
"To...tolong bawa aku ke dokter Ma...ris...sa!!" ucap Atreya akhirnya berucap.
Tanpa menjawab pun, Andrew langsung merengkuh tubuh Atreya yang lemah itu. Beberapa tim medis yang tengah asik makan pun begitu terkesiap dan memandanginya. Lalu salah satu dari mereka pun langsung mendekat.
"Tuan, kenapa dengan istri anda?" tanya seseorang yang berpakaian perawat itu.
"Hah?" Andre begitu terkesiap dengan pertanyaan barusan. Istri?
"Apa memang istri anda sedang tidak sehat? sebaik cepat bawa ke IGD, Tuan!" ujarnya lagi.
"Dimana ruang praktek dokter Marissa?" tanya Andrew tanpa menanggapi pertanyaan perawat itu.
"Oh, istri anda sedang hamil? Ruangan dokter Marissa ada dilantai dua"
Tanpa basa-basi lagi Andrew segera membawa Atreya dari sana. Merengkuh tubuh Atreya lalu membawanya menuju ruangan Dokter Marissa sesuai permintaan Atreya barusan. Mau tidak mau, Atreya tak mampu berontak jika dirinya kini berada dalam rengkuhan lelaki lain yang bukan suaminya. Rasa sakit diperutnya lebih mendominasi daripada menghabiskan energi untuk berdebat.
***
Ruangan Dokter Marissa.
"Bagaimana, masih nyeri?" tanya Dokter Marissa setelah selesai memeriksa dan memberinya suntikan anti nyeri kepada Atreya. "untung saja anda cepat dibawa kemari. Jika tidak, mungkin hal seperti tadi bisa saja membahayakan bayi anda."
"Maksudnya, Dok?" Atreya terkejut, ia minta penjelasan dari Dokter Marissa tentang apa yang terjadi di kehamilan keduanya ini. Karena dikehamilan sebelumnya Atreya tidak pernah mengalami yang seperti itu.
"Sudahlah, yang penting sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Hanya saran saya, jika ingin bayi anda baik-baik saja, sebaiknya Anda beristirahat dirumah. Jangan setiap hari tidur dirumah sakit, karena itu gak baik untuk kehamilan anda, Nyonya Matthew." ujar Dokter Marissa memberitahu. Dia sangat tau bahwa selama ini Atreya sering menunggu Matthew di rumah sakit. Bahkan sudah pernah mengingatkannya namun Atreya mengabaikan anjuran Dokter Marissa tersebut.
"Kondisi anda yang sedang hamil merupakan kondisi dimana anda perlu sekali dalam menjaga kesehatan, terutama dari faktor infeksi-infeksi tertentu. Sebab pada kondisi ini bila mengalami suatu kondisi infeksi tertentu, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan janin kedepannya. Dimana pada kondisi infeksi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan janin, bahkan hingga terjadinya cacat pada janin yang sedang dikandung" ucap Dokter Marissa panjang lebar, dan sukses membuat Atreya tertegun. Ia tidak mau anaknya terlahir seperti itu, apalagi jika sampai seperti dirinya waktu kecil, cukup dia sendiri yang merasakan bagaimana rasanya menjadi orang cacat.
"Tapi, Dok--" Atreya tidak melanjutkan kalimatnya. Memang benar apa yang dikatakan dokter Marissa barusan. Tidak ada alasan untuk membantah lagi. Tapi bagaimana dengan Matthew? jujur saja Atreya tidak mau jauh-jauh dari suaminya itu, meski dalam kondisi seperti ini.
Bahkan Daddy William, Bibi Lily, dan Satria pun sudah menyarankan Atreya untuk tinggal dirumah saja dengan alasan kehamilannya. Namun Atreya memang bandel dan tak mau mendengarkannya apa kata mereka.
Tapi apa itu salah? Perempuan itu sangat mencintai Matthew, dia tidak mau terjadi apa-apa pada suaminya itu.
Ya, semua itu tidak salah jika Atreya tidak sedang berbadan dua. Seharusnya dia juga memikirkan hal itu sebelumnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Dukung terus Author ya 😉