
Mobil sport mewah berwarna putih memasuki sebuah rumah besar dengan pagar tinggi dan dua satpam di pos penjagaannya.
Seorang pria berjas dibalik kemudi mobil itu menurunkan kaca pintu tepat dihadapan penjaga rumahnya tersebut.
"Mobil siapa?" tanyanya pada salah satu satpam penjaga dengan tatapan dingin memandang sebuah mobil silver yang sudah terparkir dihalaman rumahnya.
"Itu mobil nona A... Alice. Katanya calon istri tuan." jawab Satpam itu terbata-bata mengingat nama tamu dari tuannya tersebut.
Tanpa menjawab apapun. Lelaki itu menutup kembali kaca mobil lalu melajukan kembali kendaraannya tersebut masuk ke pekarangan rumah.
" Matt!! Miss you so much, honey."
Seorang wanita berambut pirang langsung memeluk tubuhnya penuh kegirangan. Lelaki itu pun membalas pelukan wanitanya disertai kecupan sekilas di bibir.
"Kapan kamu datang dari Berlin? kenapa tidak menghubungi ku sebelumnya?" tanyanya seraya menggandeng wanita bernama Alice itu menuju ke ruang tengah. Lalu menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa.
"Karena aku ingin memberikan kejutan untuk mu. Makanya aku gak bilang akan menemui mu." sahut Alice terdengar manja. Lalu menjatuhkan badannya dipangkuan kekasihnya, melingkarkan kedua lengannya dileher pria yang bernama lengkap Matthew Clark Polan.
Baru satu bulan Matthew memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan memegang sendiri salah satu perusahaan IT dikota ini. Entah kenapa hatinya bergerak dan menuntun dirinya untuk memilih kantor cabang di negeri yang sama sekali belum pernah ia pijaki.
"Apa kau merindukanku, Matt?" desih wanita manja yang tengah berada diatas paha pria itu.
Matthew hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Tanpa aba-aba mereka saling merangkum bibir. Saling ******* basah sebagai pelepas rasa rindu yang sudah sebulan lebih tidak saling bertemu.
"Aku mau mandi. Nanti kita lanjutkan lagi." Matthew melepaskan pagutan nya dan segera beranjak ke kamar hendak membersihkan badannya yang sudah lengket itu.
"Aku akan menunggu di kamarmu saja, Matt." wanita itu bergerak cepat merangkul lengan Matthew seolah tak rela bila berjauhan.
"Terserah, anggap saja ini rumahmu." sahut Matthew membiarkan tangan kekasihnya melingkar di lengannya. Mereka pun berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju kamar Matthew yang berada dilantai dua.
*****
Matthew keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya. Ia tercekat saat melihat suasana kamarnya yang sedikit berubah.
Selama Matthew tengah membersihkan diri, Alice menghias kamar Matthew agar menjadi seromantis mungkin. Ia pun mengganti bajunya dengan gaun tidur berwarna merah yang transparan dan begitu menggoda.
"Apa ini?" Matthew mengernyit bingung melihat kamarnya menjadi minim pencahayaan. Lalu pandangannya beralih ke wanita yang duduk ditepi ranjang dengan pakaian menggiurkan.
"What the hell!!" pria itu mendekati Alice dengan tatapan haus dan menuntut.
"Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu." Jemari Alice meraba dada bidang Matthew yang masih telanjang. Dan Lelaki itu mendesah tak tahan melihat sikap wanitanya yang mencoba menggoda. Matthew pun menarik pinggang Alice lalu ******* bibir tipisnya dengan rakus.
Lalu tangannya perlahan bergerak menyelusup ke dalam baju tipisnya, meraih apa yang menjadi incaran setiap bercinta dengannya. Namun tiba-tiba sosok bocah berambut lurus dan berponi itu muncul begitu saja dalam pikirannya. Mengobrak-abrik mood boosternya yang sudah berada di ubun-ubun.
__ADS_1
"Shitt!!" Matthew menghentikan aksi vulgarnya lalu mendorong Alice sedikit menjauh dari tubuhnya.
"Heyy, kenapa Matt??" tanya Alice protes.
"Aku ingin sendiri. Tolong keluar lah !!"
pinta Matthew.
"Why?? ada apa ini?" Alice tak terima dengan sikap Matthew yang tiba-tiba berubah dan mengusirnya.
"Aku lelah, Alice. Tolong tinggalkan aku sendiri! Bi Nana akan menunjukan kamar tamu yang kosong untukmu."
"Tapi Matt--"
"Keluar Alice!!!" Matthew membentak Alice hingga membuatnya ketakutan dan langsung memilih pergi sebelum Matthew benar-benar illfeel padanya. Alice sangat tau watak pria yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya tersebut.
Sikap Matthew memang sulit ditebak. Kadang dia peduli dan hangat, tapi kadang juga dia acuh dan sebeku es batu.
*****
Keesokan harinya.
CKIIITT!!
"Aaaaagghh...."
"Hey, kenapa kau mau main dijalanan sih ? kemana orangtuamu ?" Matthew terlihat kesal. Mendekati anak itu lalu membalikkan tubuh kecilnya hingga kini saling berhadapan.
"Kau?" alangkah terkejutnya ternyata anak itu adalah bocah yang beberapa hari lalu menabraknya ditoko kue. Bocah yang kini selalu berputar-putar dikepalanya tanpa alasan yang jelas.
Ada banyak kemungkinan di dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi memaksa otak untuk menyimpulkan. Satu pertemuan barangkali hanya kebetulan, dan pantas diabaikan karena tidak berpengaruh. Namun rasanya unik jika hal yang ia anggap kebetulan, kini datang menjadi kali kedua. Ini sudah pasti memiliki makna.
"Om penculik anak ya? aku bisa laporkan ke polisi lho, Om." pertanyaan sang bocah membuyarkan pikiran Matthew.
Lelaki itu mengernyit dikatai sebagai penculik oleh bocah kecil itu. Dia merasa anak dari salah satu pegawainya ini tidak pernah diajarkan sopan santun.
"Dimana orangtuamu? kenapa bermain sendiri dijalanan?" Matthew menyentuh bahu mungilnya seraya menatap intens. Dia merasa pernah melihat wajah bocah itu sebelumnya. Jauh sebelum pertemuannya ditoko kue itu.
"Itu rumahku Om." bocah itu menaikan jari telunjuknya mengarah ke arah rumah besar bercat serba putih dihadapannya kini. Pandangan mata Matthew pun mengikuti arah telunjuk sang bocah.
"Dan Om tidak bisa menculikku karena di komplek ini dipasangi cctv dimana-mana." tegas sang bocah itu kembali.
Membuat Matthew terbelalak lalu terkekeh mendengar ucapan bocah yang ternyata satu darah dengannya.
__ADS_1
"Rumah Om juga di ujung jalan sebelah sana." giliran Matthew menaikkan telunjuknya ke arah rumahnya yang ternyata satu komplek dengan rumah sang bocah.
"Kita tetanggaan, mana mungkin aku menculik tetangganya sendiri." ucap Matthew terkekeh. bocah itu pun masih melongo tak jelas.
"Siapa namamu?"
"Casey." sahutnya polos.
"Kenapa kamu main diluar?" tanya Matthew menyipitkan matanya.
"Om tidak tau aku sedang mengambil bola?" sahut Casey seraya memperlihatkan bola ditangannya.
"Tapi kau bisa minta tolong orang dewasa untuk mengambilnya. Jangan mengambil sendiri itu bahaya. untung saja aku tadi gak ngebut. Coba kalau ngebut, kau bisa terluka."
Tanpa disadari Matthew begitu mengkhawatirkan anak kecil dihadapannya. Padahal sebelumnya ia tidak bisa bersikap ramah ataupun manis terhadap anak kecil.
"Dimana ayah dan ibu mu? apa mereka tau kamu keluar untuk mengambil bola ini?"
Anak itu menggeleng.
"Mama udah berangkat kerja, Om." sahut Casey yang polos.
"Dan ayah mu?" tanya Matthew kemudian.
Bocah itu terdiam. Mungkin dia bingung harus menjawab apa. Selama ini Casey hanya dekat dengan sang mama dan Om Satria.
"Dasar bodoh. Sudah jelas jam segini ayahnya, si Satria itu sudah berada dikantor." umpat Matthew dalam hati.
"Dek Casey!! kok bisa diluar sih? Bibi cari kemana-mana kamu dek."
Tiba-tiba Bi Ratna datang tergesa-gesa mendekati Casey lalu langsung menggendong bocah tersebut.
"Anda pengasuhnya?" tanya Matthew dan wanita paruh baya itu pun mengangguk.
"Lain kali tolong diawasi ya!! anak ini keluar untuk mengambil bolanya. Kalau ada kendaraan yang melintas bagaimana? atau ada penculik yang membawanya apa anda akan tanggungjawab?" Matthew terlihat emosi. Bi Ratna mengernyit bingung melihat tingkah orang asing dihadapannya yang terlalu over.
"Saya minta maaf. Tadi saya sedang menjemur pakaian dibelakang jadi Casey kurang pengawasan." ucap Bi Ratna. Sesaat ia mengerjap bingung, ia melihat kemiripan antara anak majikannya ini dengan lelaki asing yang kini dihadapannya tersebut.
"Bagai pinang dibelah dua." gumamnya dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
.