
Enam bulan pun berlalu. Matthew sudah kembali bekerja dikantornya meski bukan lagi sebagai CEO. karena kini CEO dipegang oleh sang kakak, Kyle. Sekarang Matthew menduduki jabatan dibawah CEO yakni sebagai COO, Chief Operating Officer. Wakil direktur yang satu ini biasanya berperan dalam memimpin divisi operasional internal perusahaan.
William yang seorang Owner juga memberikan kedudukan yang sama kepada keponakannya, Bella. Dia tak lagi menjadi sekertaris, kini gadis itu menduduki jabatan sebagai CFO, Chief Financial Officer. Tentunya kita tau peran CFO dalam suatu perusahaan sangat terkait dengan masalah keuangan dan finance.
Bagaimana dengan Satria? lelaki itu sungguh beruntung. Berkat kedekatannya dengan keluarga Polan, dan kebesaran hatinya yang sangat baik selama ini, William menaikkan jabatan Satria sebagai CTO, Chief Technology Officer. Tugasnya yakni bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan teknologi dan informasi yang ada di dalam perusahaan NEOTECH.
Apalagi NEOTECH memang perusahaan StartUp Business yang berkecimpung dalam bidang internet dan aplikasi. Karena model bisnisnya banyak terkait dengan teknologi, maka peran CTO dalam perusahaan tersebut menjadi sangat penting.
Kini mereka setiap harinya selalu sibuk, hanya Atreya yang kadang merasa bosan dengan kegiatannya sehari-hari. Ya, Atreya lebih tepatnya hanya sebagai ibu rumahtangga yang lebih banyak menganggur. Pekerjaan dirumahnya itu sebagian besar diambil alih para Maid, dia hanya mengurus kedua anaknya saja, itu pun masih dibantu oleh seorang babysitter yang mengurus segala keperluan Baby Quinne dikala dirinya sedang repot mengurus Casey.
"Milly, aku titip Baby Quinne sebentar ya" ujar Atreya kepada Milly, Babysitter yang baru tiga bulan bekerja dirumahnya untuk membantu Atreya mengurus Baby Quinne.
"Nyonya Atreya mau pergi?"
"Iya, ada keperluan sekolah Casey yang harus dibeli ditoko buku" sahut Atreya sambil menarik slayer dari gantungan lemari lalu dililitkan dileher. Cuaca diluar memang sedang dingin, tebalnya salju bisa membuat siapa saja mengalami hipotermia bila tidak memakai pakaian yang berlapis-lapis.
"Tapi Nyonya, diluar sangat dingin. Apa tidak menunggu Jhon saja sepulang Dek Casey sekolah?" ucap Milly merasa khawatir dengan majikannya itu.
Sopir Ken kebetulan sedang cuti beberapa hari karena ada kepentingan keluarga, jadi sementara hanya Jhon satu-satunya sopir sekaligus bodyguard dikeluarga ini. sedangkan saat ini Jhon tengah menjemput Casey disekolahnya.
"Tak apa, Milly. Aku bisa naik taksi, lagipula hanya sebentar saja kok. Kalau harus menunggu Jhon datang, takutnya malah Baby Quinne keburu bangun" ujar Atreya, lalu segera beranjak membuka pintu kamarnya hendak keluar.
"Tunggu, Nyonya!!"
Atreya sejenak membalikkan tubuhnya kembali ke arah Milly, "kamu mau titip sesuatu? katakan, nanti aku belikan sekalian keluar."
"Mmm...tidak ada, Nyonya" ujar Milly tidak jadi.
Atreya hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian taksi yang dipesannya secara online pun datang, Atreya pun meluncur menuju toko buku yang tak seberapa jauh dari rumahnya tersebut.
***
__ADS_1
Atreya sudah menemukan apa yang dicarinya, beberapa buku bacaan untuk Casey dan dua buku novel yang sedang diburu perempuan itu untuk mengisi waktunya.
"Berapa semuanya, Nona?" tanya Atreya saat sudah didepan kasir.
"43 DEM, Nyonya"
Atreya segera mengeluarkan debit card nya kepada si kasir tersebut, dengan senang hati gadis berambut blonde itu menggesek kartu milik Atreya ke mesinnya.
Setelah keluar dari toko buku Atreya segera mencari taksi, kebetulan di daerah sekitar ini sering ada taksi yang lalu lalang. Namun saat hendak memberhentikan taksi tiba-tiba ada dua pria berbadan kekar menarik tangan Atreya, memaksanya untuk masuk kedalam mobil Van berwarna hitam pekat. Atreya berontak keras, berusaha melepaskan dirinya dari kedua pria berpakaian serba hitam itu. Atreya tak mengenal mereka yang netranya berbalut kaca mata gelap dan penutup wajah.
"Siapa kalian? kenapa membawa ku?!" teriak Atreya panik. Namun kedua pria tetap bergeming, malah mengikat kedua lengan Atreya kebelakang hingga perempuan itu kini tak bisa berkutik lagi.
"Tuan, tolong lepaskan saya!! mungkin anda salah orang, saya tidak punya masalah dengan siapa pun" ujar Atreya menurunkan nada bicaranya, berharap kedua pria asing itu luluh dan mau melepaskan dirinya.
"Tuan..." kini Atreya berkata lirih. Sungguh ia kini sangat ketakutan. Air matanya sampai menetes seraya terus memohon kepada kedua pria asing itu.
"Jika anda menginginkan uang, katakan lah! berapa yang kalian inginkan, aku akan memberikannya. Tapi tolong lepaskan saya, Tuan!!" ujar Atreya lagi.
Kedua pria itu malah tertawa terbahak-bahak, tak menanggapi ucapan Atreya malah melajukan mobilnya dari tempat tersebut.
"Shut up!!" bentak salah satu pria itu seraya menekan bahu Atreya. Dia membuka kaca mata hitamnya, Atreya bisa melihat sorot tajam yang mengarah kepadanya.
"Ku mohon, tolong lepaskan saya!!" Atreya tetap berusaha berbicara dengan pria asing itu meski dengan bibir yang gemetaran karena takut.
"Diam dan jangan macam-macam!! atau aku akan melempar mu ke jalanan!!" Ancam pria yang terlihat menyeramkan dan sadis itu.
***
Jam menunjukan pukul delapan malam, Matthew nampak gusar menanti Atreya yang tak kunjung kembali ke rumah. Berkali-kali ia menelpon ponsel Atreya namun tidak aktif.
"Kemana kamu, Sayang?" gumam Matthew mondar mandir diruang tamu. Sesekali pandangannya melihat ke arah jendela yang lebar, berharap ada taksi yang mengantar istrinya pulang.
__ADS_1
Langit semakin gelap, karena di Jerman memang waktu siangnya lebih pendek daripada di Indonesia. Matahari sudah tenggelam sebelum pukul 4 sore, jadi jam 8 itu seperti tengah malam, ditambah salju diluar yang dinginnya luar biasa, membuat hati lelaki ini semakin cemas dan khawatir. Matthew nampak frustasi, ia pun beringsut, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa seraya menelungkup kan wajah cemas itu dengan kedua tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Matt? kemana Rea?" tiba-tiba Satria datang tanpa sepengetahuan Matthew. Memang Matthew sebelumnya menghubungi Bella tentang Atreya yang belum kembali ke rumah sejak tadi siang, dan mungkin Bella langsung mengabari Satria, hingga membuat pemuda itu bersusah payah menerjang tebalnya salju menemui Matthew demi mencari tau tentang keberadaan Atreya.
"Sat? kapan kamu datang?" Matthew terlihat kaget, ia terperagap lalu kembali berdiri menghampiri Satria yang baru masuk.
"Tidak penting kapan aku datang. Katakan dimana Rea?" tanya Satria lagi terdengar sedikit membentak Matthew.
"Milly bilang tadi siang Atreya pamit ke toko buku untuk membeli keperluan sekolah Casey, Dia pergi menggunakan taksi karena Ken sedang cuti sudah dua hari ini. Tapi sampai sekarang dia belum kembali juga, Sat" ujar Matthew.
"Apa? kau sudah menelpon nya?" Satria terbelalak seakan tidak mempercayainya.
Matthew menggeleng lemah, "ponselnya tidak aktif"
Satria mengesah frustasi, menjambak rambutnya sendiri ke belakang. "Rea, kamu dimana sih?" lirihnya.
Matthew melihat sendiri sikap Satria yang begitu mengkhawatirkan Atreya, namun sekarang yang penting adalah bagaimana caranya mencari Atreya ditengah cuaca yang sangat dingin seperti ini.
"Bagaimana kalau kita susul ke toko buku itu, Matt?" saran Satria cepat.
"Toko buku sudah tutup dari jam 6 tadi. Dan tidak mungkin Atreya masih berada disana, kan?"
"Dasar bodoh!! kita bisa minta rekaman cctv di toko buku itu, Matt. Kita bisa tau apakah Rea tadi siang betul-betul pergi ke toko itu atau tidak" ujar Satria tidak sabar.
"Betul juga kamu, Sat. Kenapa dari tadi aku tidak kepikiran sampai kesitu?" Matthew menyesali dirinya yang tidak gesit. Dia terlalu mengkhawatirkan Atreya tanpa berfikir bagaimana cara mencari apalagi menemukan istrinya itu.
.
.
.
__ADS_1
Dibawa kemana kira-kira Atreya??
Jangan lupa like and komennya ya.....