Lovely Atreya

Lovely Atreya
permohonan maaf


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Casey tengah asik bermain selang air dihalaman rumah bersama bibi Ratna yang tengah menyabuti rumput liar diantara rumput Jepang ditaman depan rumah. Sementara Atreya asik duduk dikursi teras mengawasi Casey, sambil membaca buku novel berbahasa Inggris kiriman nenek Larry dari Dublin Minggu lalu. Ia memang sering kali meminta buku novel kepada adik dari mendiang kakek James itu. meski Sekarang sudah banyak novel-novel bagus dari aplikasi, namun Atreya lebih menyukai membaca novel yang berbentuk buku tebal dengan beratus-ratus lembar halaman itu.


"Kok mama gak kerja?" celoteh Casey sambil tangannya sibuk mengguyur mobil mainannya menggunakan selang.


"Ini kan Sabtu, sayang." sahut Atreya melirik sebentar pada Casey lalu melanjutkan membaca bukunya.


"Om Satria libur gak?" tanyanya lagi.


Kali ini sepertinya Casey mulai bosan, ia membawa mainannya ke dalam rumah setelah terlebih dahulu ia bersihkan dengan air selang tadi.


"Memang kenapa kamu tanya Om Satria? minta diajakin ke kedai es krim lagi?" Atreya menyipitkan kedua matanya curiga, lalu menutup buku novel tebal ditangannya dan menaruhnya diatas meja.


"Nggak kok" sahut Casey memutar kedua bola matanya.


Atreya terkekeh lalu menyubit kedua pipi anaknya dengan gemas.


"Kamu ini ya... Ayo ngaku kamu mau ngapain tanya-tanya Om Sat?" Atreya menggoda Casey sambil menggelitik pinggang sang bocah.


"Ma...Mama... Aku geli, Ma..." Casey menggelinjang kegelian. Ingin berontak tapi tak kuasa karena sang mama mengapit tubuh Casey.


"Eheemm. Hai Casey, selamat pagi Atreya!" suara baritone itu membuat Atreya menghentikan aksinya untuk menggelitiki Casey.


Keduanya langsung terkesiap dengan tamu yang tiba-tiba datang begitu saja tanpa ada tanda-tanda kedatangannya diketahui. Misalnya ada mobil atau motor yang berhenti didepan rumah, atau suara pagar yang terbuka. Benar-benar rapi, seperti orang yang hendak maling saja mengendap-endap masuk tanpa menimbulkan suara.


"Kamu?" perempuan nampak sangat kaget. Atreya reflek menggiring dan menyembunyikan Casey ke belakang tubuhnya.


Sejak pertemuan terakhir dihotel itu, Atreya masih syok dan belum siap untuk pertemuan kedua kalinya.


"Om ini tetangga kita lho, Ma." ujar Casey menyambut hangat tamunya tersebut. "Om kesini jalan kaki?" tanya Casey kemudian.


"Iya dong, rumahku kan dekat" sahut laki-laki yang merupakan ayah kandung dari bocah tersebut.


"Pasti sekalian olah raga ya?" Casey berkata polos.


"Betul itu, sayang." sahut Matthew seraya mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


Atreya mendelik. Ia sama sekali tak menanggapi percakapan mereka, bahkan Atreya mulai jengah mendengar kata sayang yang dilontarkan Matthew kepada putra semata wayangnya.


"Bi Ratna!! tolong sini dulu, Bi!!" Atreya lalu memanggil bi Ratna yang masih asik mengurusi tanaman.


"Iya sebentar, Bu."


sahut bi Ratna. Perempuan paruh baya itu beranjak meninggalkan kegiatannya, lalu bergegas mencuci tangannya terlebih dulu sebelum menghampiri majikannya tersebut.


"Tolong ajak Casey main didalam dulu ya, Bi !! saya perlu bicara serius dengan tamu ini." ucap Atreya seraya melirik tajam pada Matthew.


Bi Ratna pun sekilas langsung memandangi tamu majikannya tersebut.


Lho ini kan orang yang waktu itu. Duplikatnya dek Casey. Apa mungkin mereka itu punya hubungan darah ya?


"Kenapa, Bi? Bibi merasa pernah bertemu dengan saya ya?" sapa Matthew seolah dia bisa membaca pikiran perempuan yang sudah mengurus Casey dari bayi itu.


"Eh, nggak tuan, maaf" Bi Ratna jadi salah tingkah sendiri. "ayo dek, kita menggambar lagi didalam yuk!!" ajak bi Ratna kemudian, seraya menuntun tangan Casey untuk masuk kedalam rumah.


"Memang bibi bisa menggambar? terakhir aku minta dibikinin tirex, yang ada bentuknya jadi aneh" ujar Casey.


"Iya maaf, Dek. Bibi kemarin kan gak tau tirex itu apa. Sekarang bibi udah tau kok, yang giginya tajem itu kan?"


Obrolan bocah dan pengasuhnya itu masih terdengar dengan jelas ditelinga Atreya dan Matthew hingga tak sengaja keduanya terkekeh. Dan berhenti saat suara Casey serta Bi Ratna mulai samar karena semakin menjauh. Sepertinya Bi Ratna sudah membawa Casey ke kamarnya untuk bermain disana.


"Waktuku gak banyak. Apa maksud dan tujuan anda datang ke sini?" tanya Atreya sangat ketus.


"Kamu dan Casey" sahut lelaki itu ramah.


"Apa??" Atreya menyipitkan matanya.


"Oke, biar gak kaku sebaiknya kita berkenalan dulu. Sebelumnya kita tidak saling kenal kan? namaku Matthew Clark Polan." Matthew mengulurkan tangannya, berharap Atreya menyambut jabat tangan darinya. Namun tidak demikian, Atreya malah menepisnya kasar.


" I have to apologize for my mistakes a few years ago." tutur Matthew merendahkan suaranya. Atreya masih tak bergeming. Diam seraya melipat tangan diperut atasnya, dengan tatapan memandang ke sembarang arah.


"Atreya..." Matthew memegang pundak perempuan yang pernah dekat beberapa jam dengannya.


"Hey, jangan berani kurang ajar ya !!" geram Atreya menepis tangan Matthew dengan kasar dari bahunya.

__ADS_1


"Oke, aku minta maaf. Tapi kamu sekarang gak bisa ngehindar lagi. Ada Casey diantara kita, aku juga berhak atas dirinya." ucap Matthew dan sukses membuat perempuan dihadapannya itu membulatkan kedua bola matanya begitu sempurna.


"What ?? jangan gila kamu ya, apa hubungannya dengan Casey? dia anakku. Tidak ada hubungan apa-apa dengan mu."


" jelas ada lah. Casey juga anakku, Atreya. aku sudah tau semuanya."


Dek !!


Jantung Atreya sesaat seperti berhenti berdetak. Tubuhnya mendadak lemas hingga akhirnya menjatuhkan tubuhnya keatas kursi berbahan kayu jati diteras rumah. Kepalanya berfikir keras dan bertanya, darimana laki-laki ini tau kalau Casey adalah anaknya? selama ini Atreya cukup apik menyembunyikan identitas lelaki yang menyumbang darah untuk Casey. Bahkan Satria dan sang kakak pun tidak pernah mengetahuinya.


"Hey, jangan asal bicara ya !! Casey bukan anakmu, anda bisa saya tuntut." Atreya kembali berdiri dengan sekuat tenaga, seraya menaikkan telunjuknya tepat didepan wajah laki-laki itu dan tetap menyangkalnya.


Mendengar itu membuat Matthew sedikit geram dengan sikap Atreya yang terus berusaha menyembunyikan kebenaran.


"Memangnya ada lagi orang yang menjebak mu hingga mabuk, lalu tidur dengan laki-laki asing selain aku?"


Plakk !!


Satu kali tamparan keras mendarat begitu saja dipipi kiri Matthew.


"Brengsek !!" tukas Atreya Emosi.


Wajah putih Matthew yang terlihat pucat itu sudah terlihat memerah. Laki-laki itu mengelus rahangnya yang terasa panas akibat tamparan perempuan yang sudah melahirkan anaknya itu.


"Aku minta maaf kalau kata-kata ku menyinggung perasaan mu. Aku kesini untuk tujuan baik, aku ingin bertanggung jawab atas apa yang pernah aku lakukan dulu. Aku ingin menikahi mu, Atreya. Kita besarkan Casey bersama-sama." ucap Matthew terdengar tulus.


Plakk!!


Sekali lagi Atreya menampar pipi Matthew. Jiwa Atreya begitu terguncang, lalu ia menonjok dada Matthew dengan kepalan tangan mungilnya berkali-kali, tapi sama sekali tidak membuat laki-laki itu merasa kesakitan atau bahkan melawan. Seolah Matthew membiarkan Atreya melampiaskan kekesalannya yang dipendam bertahun-tahun terhadap dirinya. Pukulan Atreya kini mulai melemah, karena sebagian tenaganya sudah berbaur dengan Isak tangisnya yang menderu. tubuh Atreya pun merosot lunglai, lalu dengan cepat Matthew meraih tubuh perempuan itu dan membawanya kedalam rengkuhannya. Atreya menangis sejadi-jadinya didalam rengkuhan dada bidang milik Matthew. Tubuh Atreya begitu lemah untuk meronta, ia membutuhkan sandaran untuk menenangkan emosi jiwanya yang tak terkendali.


"Apa-apaan ini ?" tiba-tiba seseorang datang seraya menatap tajam pada keduanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2