Lovely Atreya

Lovely Atreya
bimbang


__ADS_3

Di dalam kamar Satria, sosok wanita yang berdiri tegap menghadap jendela kamar, menyibak tirai tebal yang menghalangi sinar matahari pagi yang berusaha masuk melalui celahnya. Dan kini wanita itu menatap tajam ke arah satria dengan sorot menantang yang teramat berani. Wanita berwajah anggun dan berpakaian sederhana. Wanita yang rambutnya tak lagi hitam namun tak sedikit pun uban-uban itu mengurangi kecantikan dan pesonanya. Wanita yang paling dihormati Satria sepanjang hidupnya. Ibunya, yang bernama Dewi sarasvati.


"Kamu yakin akan meneruskan pernikahanmu dengan gadis-- eh, wanita pilihanmu itu?" ucapnya sinis.


"iya, Bu." jawab Satria begitu yakin.


Dewi tersenyum tenang dan menatap satria seperti menatap putranya sehari-hari. Santai, penuh kasih sayang, namun ada unsur mengancam yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Jika memang itu keputusanmu ibu bisa apa. Percuma saja selama ini ibu melarangnya kan? Ibu memang belum sepenuhnya merestui. Tapi kini ibu tidak akan lagi melarang mu. Terserah kamu, sat."


Satria hanya menarik nafas panjang sambil berusaha menenangkan diri. Dia mengatur alunan nafasnya agar tidak terlalu memburu. Dia harus bisa menguasai kondisi semacam ini. Kondisi dimana dia selalu bimbang, namun kali ini keputusannya sudah benar-benar mantap.


"Terimakasih Bu, aku sangat mencintai Atreya. Dan ini sudah jadi keputusan ku" tutur Satria.


Dewi hanya mampu mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Satria pun lalu mendekati Dewi, mencium punggung tangannya dan memeluknya sekilas.


"Atreya itu perempuan yang baik, Bu. Aku yakin suatu saat ibu akan menyukainya" Satria selalu berusaha meyakinkan Dewi tentang kebaikan dan ketulusan calon istrinya tersebut kehadapan ibunya.


Namun entah mengapa Dewi tetap tidak menyukai Atreya setelah mengetahui fakta bahwa calon menantunya itu hamil karena kecelakaan. Hamil dengan orang lelaki lain padahal sudah bertunangan dengan putranya. Dan bodohnya lagi, Satria masih tetap setia mempertahankan hati dan perasaannya untuk wanita itu.


"Semoga saja. Ibu tidak yakin, Sat" sahut ibunya terdengar ketus.


Satria terdiam. Ia tidak mau memperpanjang obrolan yang sepertinya tidak ada titik temu itu. Biarlah mengalir apa adanya. tanpa ada sesuatu yang harus dipaksakan, yang terpenting kini ibunya sudah memberi lampu hijau untuk dirinya melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan gadis pujaan pilihannya.


"Aku berangkat ke kantor ya, Bu. " Dan sedetik berikutnya, Satria melangkah pergi keluar dari kamarnya itu. Meninggalkan sang ibu yang masih terpaku sendiri.


Tanpa menjawab, Wanita itu hanya menggeleng. Setengah tak percaya, setengah memaklumi sikap putra semata wayangnya. Namun yang jelas, sorot matanya menggambarkan bahwa dia tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi.


*****

__ADS_1


Setitik air mata jatuh dari sudut mata atreya, ketika dengan lemah menyentuh rambut Casey yang tengah tertidur lelap disampingnya. Dada atreya berguncang seiring dengan isakan lembut yang terdengar. Dia tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahwa dirinya akan hamil dan mempunyai anak dengan cara seperti ini. Atreya selalu memimpikan hal-hal yang wajar. Menikah dengan Satria dan memiliki anak darinya, serta membesarkan Casey bersama-sama. meski bukan anak kandungnya, tapi Atreya yakin Satria begitu menyayangi Casey. Itu saja yang selalu ada dalam pikirannya. Tidak ada setitik pun dia berpikir untuk menikah dengan lelaki brengsek itu dan bukan Satria. Dan dengan cara kejam seperti ini pula. Mengancam akan mengambil hak asuh casey bila atreya tidak mau menikah dengannya.


" cih !! menjijikkan sekali."


desih Atreya bila mengingat lelaki yang tanpa sadar pernah menjadi one night stand nya Atreya waktu itu.


" Rea?"


Sebuah suara terdengar dari arah pintu kamarnya yang memang sedikit terbuka. Atreya menoleh dan melihat kinara berdiri disana.


"Kin, kapan kamu datang?" Atreya sedikit terkejut dengan kedatangan kakak iparnya. Terlalu lama dia dikamar menemani Casey yang masih terlelap, hingga tak tau kedatangan Kinara pagi itu.


"Boleh aku masuk?" Kinara mendekat dan tak butuh jawaban dari yang empunya kamar. Ia pun duduk ditepian tempat tidur dan berhadapan langsung dengan sang adik ipar.


" Rea, " Kinara menyentuh pundak Atreya yang masih duduk diatas tempat tidur. Lalu tangannya menyentuh lembut tubuh casey yang tertidur disamping Atreya, Kinara tersenyum sendu begitu teduh. Seolah dia tersenyum pada anak kandungnya sendiri.


"Kamu yang sabar ya, Aku sudah berusaha bicara dengan Aaron. Tapi--" Kinara tidak berani melanjutkan bicaranya.


Atreya sudah bisa membaca kelanjutan kata-katanya yang terputus itu.


Reflek atreya menundukan mukanya. Ia sudah paham apa maksud kinara. Menerima untuk menikah dengan Matthew? dan Membatalkan menikah dengan satria? Tidak. Atreya tidak ingin itu terjadi.


Atreya menerawang hanyut dalam awan-awan pikirannya sendiri. Suara Aaron yang terakhir masih menggema dikepalanya. Seolah-olah suara itu berasal dari setiap pori-pori dinding kamarnya dan terus saja berucap untuk sekedar mengingatkan dirinya.


"Yang harus kamu lakukan untuk tetap bersama Casey adalah dengan menikah dengan Matthew. "


Atreya menggigit bibirnya bawahnya kencang-kencang. Itukah yang lelaki brengsek itu inginkan? Menikahi Atreya? memiliki dirinya dan juga Casey? menang banyak dong lelaki itu. Tidak, Atreya tidak mau menikah dengan Matthew yang sama sekali tidak dia cintai. Meskipun lelaki itu ayah kandung dari anaknya.

__ADS_1


Tapi yang menyedihkan lagi adalah, Dia harus mengakhiri hubungannya dengan Satria. Lelaki yang bertahun-tahun bersama dengannya, lelaki yang suka rela membantu dan membesarkan Casey meski bukan darah dagingnya. Bagi Atreya saat ini belum ada jalan lain yang lebih baik.


Dan tampaknya tidak akan pernah ada jalan yang lebih baik.


"Kamu tidak ke kantor?" pertanyaan Kinara membuyarkan lamunannya. Membawa kembali ke kenyataan pahit yang sudah tercipta.


"Aku akan bersiap-siap" jawab Atreya lalu beranjak turun dari tempat tidur.


"Bersiaplah, Rea. Aku akan disini menemani Casey." ucap Kinara.


"Apa Aldrich dan Aleena sudah berangkat ke sekolah?" tanya Atreya seraya menyambar bathrobe yang tergantung dekat pintu kamar mandi.


"Sudah, tadi diantar Pak Salim."


"oohh."


Atreya lalu menutup pintu kamar mandinya dari dalam. Mengisi air kedalam bathtub, lalu melucuti pakaiannya sendiri. Hingga tubuh moleknya kini terlihat dengan jelas tanpa sehelai benang pun. Atreya masuk ke dalam bathtub yang mulai terisi penuh, aroma lavender menyeruak dengan bebas diruangan itu. Atreya memang menyukai sabun mandi beraroma lavender sejak dulu.


Pikirannya terus mengingat tentang pilihan yang membuatnya bimbang.


Ini gila. Ya aku memang pernah menghabiskan malam panjang dengannya. But that's it!! Itu juga hanya satu kali. Bahkan kami tidak mengenal satu sama lain sebelumnya. Dan pada pagi harinya aku memutuskan untuk pergi tanpa memberi kesempatan lelaki itu berbicara sepatah kata pun. Kami benar-benar tidak mengetahui satu sama lain. So tidak mungkin aku menikah dengannya !! aku hanya sangat membencinya.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa like and votenya ya...


makasiihh 🙏🤗


__ADS_2