
Satria begitu terkesiap saat Matthew menyerahkan surat Alih tugas produktif padanya.
"Kamu karyawan saya yang sangat kompeten, Sat. Jadi kami sepakat memutasikan kamu ke kantor pusat. Di sana kamu akan bertemu dengan orang-orang yang selevel dan jenius seperti kamu. Ini kesempatan mu untuk mengembangkan potensi diri."
Satria mengernyit. Antara percaya dan tidak yang kini ada dibenaknya. Dia akan dipindahkan ke kantor pusat? siapa yang tidak menginginkan Bekerja di perusahaan besar informatika yang berada di Berlin tersebut. Rasanya seperti mimpi kalau Satria akan dimutasikan ke sana.
"Inli merupakan keputusan pimpinan perusahaan pusat dalam rangka meningkatkan produktivitas karyawan, dengan menempatkan kamu ke jabatan atau pekerjan yang lebih sesuai dengan kompetensi yang kamu miliki" tutur Matthew lagi.
"Bapak tidak salah memindahkan saya disana? saya bukan siapa-siapa, dan saya tidak sejenius orang-orang disana."
Satria merasa tidak percaya diri bila ditempatkan dikantor pusat Berlin, yang notabene orang-orang jenius dalam pemrograman. memproduksi hardware, middleware, software, dan merupakan produsen komputer Inggris terkemuka. NEOTECH Corporation berfokus pada aplikasi komputer dan solusi software yang dipasarkan untuk bisnis.
"Aku tidak akan mempermalukan diri sendiri dengan mengirimkan orang-orang bodoh ke sana. Aku memilihmu karena memang kamu pantas dan memiliki kriteria diatas rata-rata" ujar Matthew
Apa? Satria membelalakkan kedua matanya. Sesaat dia berfikir, ini peluang sangat bagus untuknya. Salah satu profesi yang mengandalkan hardskill yang saat ini cukup potensial adalah profesi sebagai programmer seperti dirinya. Bagaimana tidak, selain karena sering kali profesi programmer ini biasanya memiliki gaji yang relatif tinggi, juga kebutuhan akan profesi ini di industri tergolong tinggi. Sehingga hampir bisa dikatakan bila kita memiliki skill yang cukup baik dalam profesi ini, hampir mustahil untuk menganggur atau tidak memiliki pekerjaan.
"Bagaimana? kalau oke, Minggu depan kamu sudah harus berangkat. Segala keperluanmu biar kantor yang mengurusnya."
"Hah? Minggu depan, Pak?" Satria mengangkat wajahnya. semua diluar dugaan.
Entah mimpi apa dia semalam hingga mendapatkan kejutan dipagi hari saat seseorang memanggilnya untuk segera menghadap bos Matthew.
"Ya, Minggu depan harus berangkat atau tidak sama sekali." tegas Matthew menyunggingkan senyuman miringnya.
Rencananya mungkin akan berhasil. Matthew ingin menyingkirkan Satria agar bisa menikahi Atreya. Memberi kompensasi jenjang karir untuk Satria mungkin akan membuat dirinya tidak akan begitu merasa bersalah.
Satria mendapati dirinya gamang. Dia tidak ingin rencana pernikahannya menjadi hal yang semudah itu ditarik ulur. Pernikahan bagi satria adalah suatu yang suci. Namun terlepas dari keinginannya untuk mengembangkan potensi diri membuatnya jadi dilema. Lalu bagaimana? Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Namun dia pun tidak mau rencana Pernikahannya dengan atreya kembali batal.
Kita lihat saja, pikir satria. Barangkali semesta memiliki kejutan lagi untuknya.
*****
Satria sengaja pulang lebih awal untuk menjemput Atreya dikantornya. Motor sport berwarna merah sudah nangkring diarea parkiran menunggu Atreya keluar dari gedung berlantai sepuluh itu.
Tak lama kemudian seorang wanita bersetelan kemeja polos berwarna krem, dan rok span pendek selutut datang menghampiri. Atreya sangat mengenali motor sport keluaran Eropa berwarna merah, helmet full face corak merah dan jaket kulit hitam yang sering dipakai kekasihnya itu.
"Sat, kok gak telpon dulu kalau mau menjemput? untung saja tadi gak ikut mobilnya kak Aar."
Satria menoleh, lalu menaikkan kaca helmetnya, menampakan kedua mata dan setengah hidungnya.
"Ayo naik !!" perintah Satria.
"Tadi pagi Casey dibawa Kinara kerumahnya. jadi kita jemput Casey dulu ya."
__ADS_1
"Iya, tapi kita mampir ke coffee shop dulu. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Atreya mengernyit. "Ada apa?"
Satria tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat agar atreya segera naik keatas motornya.
^^^^^
Pada sebuah meja disalah satu sudut strategis sebuah coffee shop milik Richo, mereka tengah menikmati red Velvet latte. Red Velvet Latte adalah salah satu jenis minuman favorit di coffee shop milik saudara sepupu Satria tersebut. Rasa kopi yang ringan di campur dengan red Velvet powder yang manis bikin minuman satu ini punya rasa yang pas banget dengan rasa yang creamy.
"Sepertinya akan jauh lebih menarik jika disini diadakan pertunjukan live music" kata Atreya memberikan saran.
Sesaat Satria mengedarkan pandangannya. Memang benar, coffee shop ini sudah diramaikan para pengunjung. Satria memperhatikan lalu lalang orang-orang yang datang dan menikmati sajian dikedai kopi milik Richo. Satu persatu diamatinya, begitu juga dengan pekerjanya. mulai dari kasir, waiters, hingga barista.
"Bagus juga ide mu itu, Rea. Nanti akan aku bicarakan dengan Richo. Kalau untuk kemajuan coffee shop nya ini, dia pasti menyetujuinya." ucap Satria percaya diri.
Atreya hanya menanggapi dengan senyuman, lalu ia kembali menyeruput minumannya.
"Re, tadi pagi aku dipanggil pak. Matthew ke ruangannya."
"hah?" Atreya begitu terkesiap saat Satria menyebut-nyebut nama lelaki itu.
"Dia memberikan ku ini."
Atreya langsung meraih lalu membukanya. Surat alih tugas produktif? Atreya mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka Matthew melakukan ini untuk memisahkan dirinya dan Satria.
"Kamu menerima tawaran ini?" tanya atreya seraya memasukkan kembali surat itu kedalam amplopnya.
"Belum" Satria lalu meraih tangan Atreya. Menautkan jemarinya ke jemari wanita yang dihadapannya itu.
"Tapi ini kesempatan ku untuk meraih kesuksesan, Rea. Aku bisa mengembangkan potensi ku disana."
ucapnya lagi seraya menatap lembut Atreya.
"So, kamu berniat menerima tawarannya? bagaimana dengan rencana kita? apa kamu mau membatalkan pernikahannya lagi?" cerca Atreya.
"Bukan membatalkannya, sayang. Tapi kita tunda beberapa bulan saja, tidak akan sampai setahun. setelah posisiku aman, barulah aku akan meminta ijin untuk pulang dan menikahi mu. Setelah itu aku akan membawamu dan Casey ke Berlin. Kita akan memulai kehidupan baru. Aku akan menabung untuk membeli rumah untuk kita disana. Kamu mau kan?"
Satria berusaha meyakinkan Atreya. Bekerja diluar negeri dengan posisi jabatan yang menjanjikan adalah salah satu impian Satria. Dia ingin memposisikan dirinya setara dengan wanita yang teramat dicintainya itu. Dia tidak ingin lagi dipandang rendah oleh orang lain termasuk Aaron, calon kakak iparnya. Meski mungkin itu hanya ada dibenaknya sendiri.
Atreya terdiam, ia merasa kecewa dengan sikap Satria yang lebih mementingkan karirnya daripada janjinya. Meski dirinya juga saat ini sedang bimbang dengan masalahnya sendiri. Haruskah Atreya berbicara jujur saja pada Satria bahwa ayah kandung Casey kini tengah mengancam dan berusaha memisahkan dirinya dan Satria? memberikan dua pilihan, menyerahkan hak asuh Casey, atau menyerahkan dirinya untuk menjadi pendamping hidup lelaki brengsek itu.
Tidak. Atreya belum siap kehilangan Satria. Mungkin dengan mengundurkan pernikahannya bisa membuat Atreya berfikir lebih leluasa lagi. Mencari jalan keluar tanpa harus kehilangan Casey atau meninggalkan Satria.
__ADS_1
"Kapan kamu berangkat ke Berlin?" tanya Atreya akhirnya.
"Kamu setuju, Re?"
Atreya hanya mengangguk pelan, menatap wajah Satria yang tiba-tiba merekah. Atreya bisa melihat kebahagiaan yang tersirat diwajah lonjongnya. Lelaki itu begitu menginginkan tawaran pekerjaannya tersebut. Atreya sangat beruntung memiliki kekasih yang baik, setia dan tidak macam-macam. Satria lelaki yang tidak pernah berbuat neko-neko kecuali balapan liar yang sudah lima tahun ini dia berhenti melakukannya. Atreya masih ingat dulu Satria mulai berhenti melakukan itu sejak Casey lahir. Atreya pernah mengancam jangan berani menemui Casey bila dirinya belum bisa meninggalkan hobi konyolnya itu.
"Kalau kamu setuju, Minggu depan aku berangkat."
ucap Satria mengulas senyum nya.
"Cepat sekali. Aku akan sangat merindukanmu, Sat." Atreya menatap dalam kekasih dihadapannya.
"Bagaimana kalau malam Minggu besok kita menginap di hotel? Kita akan ajak Casey dan menghabiskan waktu bersama." ajak Satria antusias.
"Kencan maksudmu?" Atreya membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Kencan itu kalau berdua. Ini kan bertiga" sahut Satria terkekeh seraya mencubit pipi Atreya gemas.
"tapi sejujurnya aku ingin sekali berkencan denganmu. Tapi kalau belum siap, aku bisa mengerti." aku Satria akhirnya.
Wajah Atreya menjadi merah merona, ia tidak menduga Satria akan mengajaknya berkencan untuk pertama kalinya selama beberapa tahun mereka bersama.
Satria kembali meraih tangan Atreya. Ia menjelaskan bagaimana dirinya begitu sangat mencintai Atreya. Menerima Atreya apa adanya, karena menurutnya cinta itu datangnya dari hati, bukan dari fisik yang sempurna.
Satria mencintai Atreya sejak perempuan blesteran itu masih belum bisa berjalan dengan tegak seperti sekarang. Satria lah yang selalu memberi semangat dan mendukungnya sejak mereka masih kuliah dulu, hingga Atreya akhirnya bisa berjalan normal dan membuang tongkat kruk yang selalu melekat dengan dirinya waktu itu.
"Iya, aku mau" ucap Atreya dan sukses membuat Satria terbelalak dengan mulut ternganga karena tak percaya.
"Kenapa kaget begitu? kamu gak mau?"
"Hah? a-- aku mau kok. Aku mau, Rea." Satria masih tidak menyangka dengan ucapan kekasihnya barusan.
Sepertinya hari ini hari keberuntungan untuk Satria. Banyak sekali kejutan yang membuatnya seperti melayang diawan.
Dan kini Atreya menerima ajakannya untuk berkencan. Selama ini Satria selalu bisa menahan hasratnya, Namun kali ini mereka sudah memutuskan untuk saling memberikan. Disamping itu Satria ingin menunjukkan bahwa tidak pernah dan tidak akan pernah ada orang lain dalam hidupnya selain Atreya. dan lelaki itu juga ingin mencetak kenangan baru yang indah diantara lembar-lembar kisah mereka, sebelum ia harus menahan rindunya dalam-dalam karena dirinya akan pergi jauh untuk sementara waktu.
.
.
.
.
__ADS_1
.