Lovely Atreya

Lovely Atreya
pada akhirnya


__ADS_3

Matthew berjalan terburu-buru menuju pintu keluar lift. Hari ini agenda lelaki itu benar-benar padat. Bahkan saat jam telah menunjukkan berakhirnya waktu istirahat seperti sekarang, Matthew masih harus disibukkan dengan rentetan pekerjaan yang seperti tak ada habisnya. Ditambah lagi besok sore dia dan anak istrinya akan bertolak ke Berlin selama dua pekan. Jadi mau tidak mau dia harus menyelesaikan urusannya terlebih dulu.


Ditengah kesibukkannya dilayar ponsel, Matthew dikejutkan dengan tubuh ringkih yang tiba-tiba menghantam bahunya. Lelaki itu tahu, disituasi seperti ini kesalahan memang terletak pada dirinya.


"Aduuhh..." seseorang meringis.


"Alice?"


"Matt?"


Ucap mereka secara bersamaan.


"Ngapain kamu disini?" Matthew mengernyit. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan kekasihnya yang sudah beberapa bulan tak saling bertemu.


"Matt, aku kangeenn..." tiba-tiba perempuan bernama Alice itu memeluk Matthew.


"Lepas Alice!!" Matthew berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Alice. Pandangan matanya beredar memperhatikan ke sekeliling. Untungnya ini masih jam istirahat, jadi sebagian karyawannya masih berada diluar.


"Kenapa Matt? kau tidak kangen padaku? aku sengaja datang ke kantormu karena aku gak tahan kangen kamu, sayang" ucap Alice seraya menggelayut ke lengan Matthew.


"Jaga sikapmu, Alice!! ini sedang dikantor" Matthew melepas tangan perempuan itu dari lengannya. "kita bicara diruangan ku saja" Matthew mengajak Alice ke ruangannya agar tidak ada yang melihat mereka berdua.


Diruangan kerja Matthew.


"Alice, kemana saja kamu selama ini? terakhir kamu pamit ke pantai dua bulan yang lalu. Ku pikir kamu sudah kembali ke Berlin" ucap Matthew. Walau bagaimanapun dia masih perduli. Matthew sudah dekat dengan Alice selama dua tahun, begitu juga dengan keluarganya.


"Habis dari pantai waktu itu aku langsung ke Bali. Kau tau Matt? disana aku bertemu dengan seseorang yang selalu membuatku bergairah. Tidak seperti dirimu yang tergantung moody." ujar Alice meledek.


Bola mata Matthew terbelalak. "Apa maksudmu?" Matthew menautkan alis tebalnya. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Alice yang seolah meremehkan kejantanannya.


"Aku sudah tau kalau kamu telah menikah dengan perempuan yang selama ini ada dipikiran mu selama ini. Atreya, iya kan?" ucap Alice dengan nada suaranya yang mulai berat.


Matthew terdiam. Ia menyadari suatu saat Alice akan mengetahuinya. Sebelum dia hendak menikahi Atreya, lelaki itu menghubungi keluarga Alice terlebih dulu untuk memutuskan hubungan dengan putrinya tersebut. Matthew tidak mau hubungan persahabatan antara ayahnya dengan ayah Alice hancur begitu saja karena dirinya. Dan untungnya keluarga Alice mau memahaminya dan tidak menuntut, karena mereka juga tau dengan kehidupan putrinya yang sudah terjerumus pergaulan bebas.


"Alice, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengecewakan mu. Aku hanya ingin bersama dengan perempuan yang aku cintai dan juga anakku."


"Anakmu?" Alice mengernyit bingung.


"Iya Alice. Aku baru mengetahui kalau aku memiliki anak darinya" jelas Matthew.

__ADS_1


"Hah?" Alice terlihat masih tak percaya.


"Ceritanya panjang. Namun intinya, dulu aku dan dia pernah berhubungan hingga dia hamil dan melahirkan seorang putra yang tidak aku ketahui."


"Wow!" Alice begitu terkesiap. "Ternyata kau pernah menghamili seorang gadis?" kini Alice terkekeh.


"Ya, begitulah, Alice" sahut Matthew. "Aku harap kau tidak kecewa dengan keputusanku."


Alice tersenyum, lalu kembali merangkul tubuh Matthew dengan sangat erat. "Aku tidak apa-apa, Matt. Sebelum kamu memutuskan untuk menikahi wanita itupun aku sudah mendapatkan penggantimu. Dia jauh lebih bisa memuaskan ku daripada kau. Jadi kita impas" sahut Alice masih belum mau melepaskan pelukannya. "Biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Anggap saja pelukan perpisahan hubungan kita."


Matthew pun akhirnya bisa bernafas lega karena Alice tidak marah dan mau menerima keputusan Matthew untuk mengakhiri hubungannya.


*****


Malam itu selepas makan malam bersama, Casey mengajak Matthew bermain Lego baru miliknya yang dibelikan Atreya sepulang kerja tadi sore. Sedangkan Atreya memilih ke kamarnya karena ada pekerjaan kantornya yang harus diselesaikan sebelum besok dirinya cuti dua pekan untuk perjalanannya ke Berlin.


"Come on, Dad. Bantu aku merangkainya!!" Casey menariknya tangan Matthew menuju ruang tengah. Lelaki itu pun mau saja memenuhi keinginan putranya tersebut.


Sesaat Matthew memperhatikan kertas petunjuk cara merangkainya. "Kamu lihat petunjuknya dulu, setelah itu kamu cocokan dengan bagian-bagian ini sesuai petunjuknya yang ada disini" ucap Matthew memberi saran.


"I know, Dad." sahut sang bocah itu santuy.


"So, untuk apa Daddy disini? kamu bisa melakukannya sendiri kan?" Matthew mengernyit menatap anaknya.


"Oh, jadi aku cuma dijadikan asisten mu begitu?" Matthew mendelik pada Casey, dan sang bocah malah terkekeh geli. "Pinter kamu ya..." Matthew mengacak-ngacak rambut anaknya yang begitu menggemaskan itu.


Sudah satu jam mereka merangkai Lego akhirnya kini sudah terbentuk sebuah hotel bertingkat yang sempurna.


"Yeaay...finish." Casey berbangga hati karena dapat menyelesaikan Lego nya dalam waktu satu jam saja. Tentunya dengan campur tangan sang Daddy yang membantunya.


"Ini sudah malam. Sekarang waktunya kamu tidur, Cas." Matthew langsung menggendong Casey ke kamarnya. dia menemani bocah itu sampai tertidur. Setelah memastikan Casey sudah terlelap dalam mimpinya, barulah Matthew kembali ke kamar.


"Apa Casey sudah tidur?" tanya Atreya seraya menutup laptop dan mengakhiri pekerjaan kantornya, lalu menyimpan benda persegi itu diatas meja.


"Sudah" jawab Matthew lalu mendekati Atreya dan menjatuhkan dirinya duduk disamping sang istri.


Kini keduanya saling berhadapan. Tiba-tiba Matthew mengangkat dagu lancip sang istri. Lelaki itu ternyata menagih janjinya pada Atreya, tanpa aba-aba dia menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri. Keduanya saling merangkum, setelah beberapa lama, akhirnya Matthew melepaskan pagutannya. Menyatukan keningnya dengan kening Atreya, sambil menuntun tubuh istrinya hingga ke ujung ranjang kemudian merebahkannya pelan.


Nafas keduanya menderu. Matthew manopang tubuh Atreya dengan kedua lutut dan satu tangan karena tangan satunya lagi menangkup sisi wajah Atreya yang kini tengah merona.

__ADS_1


Ibu jarinya mengelus lembut pipi Atreya lalu menyentuh bibir Atreya yang kini sedikit terbuka.


Nafas Atreya tersendat, perempuan itu mengerjap menunggu apa yang akan dilakukan Matthew selanjutnya.


Atreya bisa melihat Matthew menatapnya hangat, juga mendamba dan sangat menginginkan, keduanya tau malam ini akan berakhir seperti apa.


Walaupun mereka telah sah menjadi suami istri, sejak kejadian malam pertama dihotel itu Matthew berusaha hati-hati memperlakukan Atreya. Ia tidak ingin Atreya merasa tidak nyaman dan berkewajiban melakukan keinginan lelaki itu.


Biarkan istrinya itu menerima Matthew ingin Atreya marasa dihargai, maka dari itu dia memperlakukan istrinya sebagai wanita terhormat.


Lelaki itu tidak akan memaksa bila Atreya belum mengijinkan. Ia akan menunggu hingga saatnya Atreya menyerahkan dirinya sebagai seorang istri seutuhnya.


*


Hingga akhirnya Atreya menjerit kecil kemudian mengeraskan suara irama cumbu yang telah melekat sedalam-dalamnya. Menekan disertai kecupan dahaga dan Atreya pun mengiyakan semua percintaan ini.


Menyetujui permintaannya bahkan perlakuan Matthew yang memanjakan istrinya itu diatas ranjang.


Nafas keduanya tersengal, Matthew menghadiahkan kecupan dikening sang istri, kemudian tubuhnya yang basah oleh keringat itu pun bergulir kesamping. Tidak lupa menarik selimut untuk menutup tubuh polos mereka dan membawa Atreya masuk kedalam pelukannya.


Malam ini adalah malam yang panjang bagi Atreya, untuk pertama kalinya dia melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya.


Atreya sudah tidak peduli dengan masalalu yang membuatnya jadi mengenal Matthew. Ini bukan karena kebetulan, karena hidup tidak sebercanda itu. Tuhan telah mengaturnya, mempertemukannya kembali secara tidak sengaja dan akhirnya semesta lah yang memberinya jalan.


*****


Matahari sudah hampir diatas kepala. Atreya terbangun dengan posisi Matthew masih memeluknya. Ia merasakan tubuhnya sangat lelah dan lemas.


Tidak cukup sekali Matthew menggodanya, hasratnya ternyata cukup besar hingga pagi menjelang dan selama itu Atreya tidak bisa memejamkan mata, bahkan kini suaranya serak karena lenguhan dan desahan yang ia ciptakan sepanjang malam.


Atreya perlahan menepuk bahu Matthew untuk membangunkannya.


"Bangun sayang, ini sudah siang. Bukannya kita harus bersiap ke Berlin sore ini?"


"Hhmm, sebentar lagi Rea. Aku masih ingin memelukmu seperti ini" sahut Matthew seraya mengecup pipi sang istri berkali-kali.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2