
"Apa kamu baik-baik saja, Matt? perlu ke dokter?" tanya Satria terlihat cemas.
Matthew yang baru saja keluar dari toilet itu pun malah terdiam. Ia kembali duduk di kursinya dan kembali menatap laptop yang masih menyala diatas meja kerjanya.
"Aku akan minta Bella mengatur jadwal dengan Dokter keluarga mu." ujar Satria hendak beranjak kearah pintu keluar.
"Tidak perlu, Sat!! aku hanya kelelahan saja." sergah Matthew akhirnya bicara.
"Kau yakin?", Satria menyipitkan kedua matanya ragu.
"Ya, aku tidak apa-apa. mungkin semalam aku kelelahan." sahut Matthew terkekeh.
"Apa yang kau lakukan dimalam hari? berolah raga?" Satria mengernyit.
"hahaha...makanya cepatlah menikah, Sat. Kau akan mengerti sendiri nanti." ujar Matthew kembali tertawa jahil.
Satria mendengus kecil. "sialan!!" batinnya. dia sudah paham dengan maksud Matthew. mungkin lelaki itu berusaha memanas-manasi Satria dengan berkata seperti itu. Boss nya itu memang suka sekali memperlihatkan bahkan mengumbar kemesraannya bersama sang istri. mungkin Matthew hanya ingin segera menyadarkan Satria pada sebuah kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi dimata Atreya. sudah waktunya lelaki itu move on. dan membuka hatinya untuk perempuan lain. karena Matthew sudah berhasil membuat hati Atreya benar-benar hanya miliknya.
"Aku akan membuat kopi, mau sekalian?" ucap Satria mengalihkan pembicaraan Matthew.
"Ya, gulanya sedikit saja."
"Oke"
Satria beranjak keluar dari ruangan Matthew menuju pantry untuk membuatkan kopi untuk dirinya dan juga the big bos.
*****
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Setelah asik mengutak-atik aplikasi pemrograman yang sedang mereka rancang, akhirnya Matthew dan Satria memutuskan untuk pulang.
Seperti biasa Satria mengantar Matthew sampai dirumahnya. Setelah itu Satria kembali ke apartemennya dengan membawa mobil Matthew.
Dirumah nampak sepi. Matthew baru sadar ini weekend, jadi kedua maid dirumahnya sedang libur. Matthew memang sengaja meliburkan maid jika malam Minggu karena dia hanya ingin bersama anak dan istrinya saja dirumah. Tidak ada orang lain yang mengganggunya.
"Rea!! Casey!!" teriak Matthew memanggil kedua orang yang ia sayangi.
Namun sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan dirumah ini. "kemana mereka?" gumamnya. lalu segera merogoh ponsel disaku jasnya hendak menghubungi sang istri.
Matthew mengernyit saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Atreya, dan pesan masuk darinya setengah jam yang lalu.
__ADS_1
"Oh Shit!! aku lupa me-nonaktifkan kembali mode senyap usai rapat tadi pagi." Matthew mengumpat sendiri, lalu segera membuka isi pesan dari Atreya.
W I F E 😍 :
Matt, apa kau sudah diperjalanan pulang? Daddy William minta malam ini Casey menginap di rumah. jadi aku akan mengantar Casey ke rumah Daddy. mungkin satu jam lagi aku baru kembali.
Setelah membaca pesan dari Atreya, Matthew pun kemudian menggerakkan jemarinya untuk membalas pesan tersebut.
Oke. cepat pulang ya!! aku sudah dirumah dan kelaparan. love you, Rea.
Matthew lalu menyunggingkan senyumnya sendiri setelah mengirim pesan singkat untuk istrinya tersebut. Setelah itu dia pun beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri. hari ini ia merasa sangat lelah, sepertinya berendam di air hangat untuk beberapa saat akan membuat dirinya lebih rileks.
*****
2 jam kemudian. Di depan pekarangan sebuah rumah mewah dengan design modern. Atreya turun dari mobil dengan disupiri oleh Jhon. "terimakasih Jhon sudah mau mengantarku." ucap Atreya ramah.
"Sama-sama Nona. itu sudah kewajiban saya. kalau begitu saya permisi. Happy weekend, nona Atreya." jawab Jhon sebelum akhirnya mobil sedan hitam milik ayah mertuanya itu kembali melesat pergi.
Rumah baru Atreya dan Matthew memang tidak sebesar rumah William. Namun sangat nyaman untuk dihuni. Rumah ini didesain khusus oleh Matthew sendiri. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca, terlihat berkilauan dengan lampu-lampu yang memantul dari sisi luar. Rumah itu lengkap dengan sebuah taman mini dan jalan setapak yang melewati bagian tengah taman. Terdapat beraneka bunga dan bonsai yang digunting berbentuk bulat dan persegi. Sebagian tumbuh di pot bunga. Dan sebagian lagi ditanam langsung ke tanah. Bunga anggrek dan beberapa bunga lain seakan saling pamer keindahan ditempat itu.
Atreya melangkahkan kakinya menyusuri taman kecil itu. Ia berhenti tepat didepan pintu teras rumah. Atreya tersenyum mengerjap, lalu memutar kenop pintu.
"Kok dikunci? bukannya tadi bilang sudah dirumah?" gumam Atreya setelah menyadari pintunya tidak bisa terbuka setelah ia putar kenopnya. Dia pun segera merogoh kunci rumahnya dari dalam tas. Berusaha untuk membuka pintu namun masih tetap tidak bisa. Sepertinya Matthew menggunakan double lock dari dalam.
Ting tong!!
Ting tong!!
Atreya termenung menunggu pintu rumah dibukakan. Dalam benaknya bermunculan berbagai opini dan juga pertanyaan yang lain. Apa Matthew ketiduran? atau marah karena dirinya tidak ada dirumah saat Matthew pulang?
Perempuan itu tidak dapat menyimpulkan. Ia memilih untuk tetap tinggal diam didepan pintu. Menunggu untuk dibukakan.
Merasa belum ada respon. Atreya kembali menekan bell.
Ting tong!!
Ting tong!!
Ceklek!!
__ADS_1
Pintu mulai terbuka pelan. Akhirnya Atreya mendapatkan respond terhadap bell yang dipencetnya. Jantung Atreya semakin terpukul kencang. Ia mulai merasa cemas. Atreya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus. Ia takut Matthew akan marah karena baru pulang.
Pintu terbuka sempurna. Matthew keluar dengan menggunakan kaos polos berwarna abu. Ia mengenakan celana pendek putih dengan bahan high twist berkualitas. Nampak santai dan terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah. Ia berdiri tegak diantara pintu. Tangannya terbungkus nyaman di dalam kantong celana.
"Kok baru pulang?" tanya Matthew menatap intens netra sang istri dihadapannya.
"Maaf, tadi Daddy dan bibi Lily meminta ku untuk makan malam bersama mereka sebelum aku diperbolehkan pulang." ujar Atreya merasa tidak enak hati karena terlambat satu jam dari janjinya tadi.
"Oya? pantas saja lama." Ujar Matthew seraya menarik pinggang Atreya dan menatapnya dalam.
Atreya selalu terhipnotis jika menatap mata lelaki yang kini menjadi suaminya tersebut. Tubuhnya terasa hangat saat saling bersentuhan.
Atreya mengedip-ngedipkan matanya perlahan. Matthew tersenyum melihat wajah Atreya yang terlihat menggemaskan. Lelaki itu memajukan wajahnya perlahan hingga sampai ke telinga sang istri.
Ia berbisik pelan. "Buatkan aku apa saja. Aku sangat lapar sekarang."
Bisikkan itu membuat Atreya terkesiap. Matthew menarik wajahnya melihat ke arah Atreya lalu sekilas mengecup bibir ranumnya.
"Masak yang enak untukku ya!" senyumnya kembali mekar diwajah tampan itu.
"Baiklah" sahut Atreya tersenyum manis.
Matthew melepas rangkulannya dari pinggang Atreya.
"Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya. Kamu mau dibuatkan apa dulu? kopi atau teh hijau?" tanya Atreya bersemangat, karena kecemasannya tadi begitu berlebihan. Nyatanya Matthew tidak pernah bisa marah terhadapnya.
"Aku sedang tidak ingin menunggu sendiri. Aku akan ikut kedapur." sahut Matthew.
"Hah?"
Matthew hanya tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Atreya. Dia melangkah ke dapur melewati Atreya yang kembali termangu. Senyumnya terlihat menyeringai dan bersemangat.
Atreya mengedipkan matanya dengan cepat, "tumben sekali mau ke dapur" gumamnya dalam hati. Ia pun segera membalikkan tubuhnya lagi. Berjalan cepat menyusul Matthew ke arah dapur.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen and votenya say 😘😘