Lovely Atreya

Lovely Atreya
kedua kalinya dijebak


__ADS_3

Sebuah mobil sport besar datang dan masuk ke pelataran rumah saat Atreya dan Matthew tengah bersitegang. Aldrich dan Aleena tiba-tiba turun dari mobil itu dan langsung masuk kerumah Atreya begitu saja tanpa permisi. Mereka sudah menganggap rumah ini sebagai rumah kedua bagi anak-anak Aaron dan Kinara.


"Hallo, Tan. Mana Casey?" sapa Aldrich. Sementara adiknya, Aleena malah lebih dulu sudah menyelonong masuk ke dalam rumah seraya berteriak memanggil nama Casey berkali-kali.


"Ada tuh lagi sarapan, masuk aja, Al !!" sahut Atreya, dan bocah ganteng berambut coklat itu pun langsung menyusul Aleena ke ruang tengah.


Tak lama kemudian Aaron dan Kinara pun datang. Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Matthew disana. Aaron tersenyum tipis, mengira Atreya sudah menerima Matthew. Karena mereka terlihat sudah akrab dan tidak terlihat tengah beradu mulut seperti pada kenyataannya.


"Baguslah, memang seharusnya begitu" gumam Aaron dalam hatinya.


"Ar, apa kabar?" sapa Matthew.


"Baik" jawab Aaron menyunggingkan senyuman sekilasnya.


"Oke, kalau gitu aku balik dulu." Matthew beranjak hendak pulang. Ia merasa tidak enak kalau harus berlama-lama dirumah Atreya. Apalagi melihat sikap si pemilik rumah yang masih dingin seperti itu.


"Hey, mau kemana? rumah kau dekat kan? santai saja lah, kita berbincang dulu." cegah Aaron menepuk bahunya.


"Tidak Aar, aku ada keperluan lain. Lagipula dari pagi sudah bermain bola dengan Casey, badanku terasa lengket sekali ini." ucapnya seraya mengendus kaos yang melekat ditubuhnya sendiri.


"Well, sepertinya Casey mulai dekat denganmu. Good Daddy" seru Aaron terkekeh.


"Ya tentu saja, tinggal mamanya yang belum jinak."


sahut Matthew seraya melirik Atreya yang terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah-olah tidak mendengar pembicaraannya dengan sang kakak.


sialan, dia kira aku hewan peliharaan dikatain jinak. Atreya mengumpat.


"Itu PR tersulit. Aku gak bisa membantumu lebih banyak." sahut Aaron seraya mendekatkan bibirnya ke arah kuping Matthew dengan suara berbisik pelan. Matthew pun hanya membalasnya dengan tertawa ringan, sambil menonjok pelan bahu Aaron, lalu pamit dan beranjak pergi keluar dari rumah Atreya.


"Rea, kalian sudah siap kan? ayo kita harus berangkat sebelum terlalu siang !!" ucap Kinara dan sukses membuat Atreya mengernyit bingung.


"Siap? emang mau kemana?"


"Lho, Bi Ratna gak bilang?"


Atreya menggeleng polos.


"Astaga... kemarin aku titip pesan padanya kalau hari ini akan mengajak Casey ke Dufan. Aldrich dan Aleena merengek minta bermain kesana. Kebetulan weekend ini Aaron tidak sibuk" tutur Kinara.


"Nggak tuh. Bi Ratna tidak ngomong apa-apa." sahut Atreya polos.


Karena memang dia gak tau apa-apa tentang rencana mereka yang akan mengajak Casey. Lalu Atreya pun segera memanggil bi Ratna untuk memastikan. Tak lama kemudian wanita paruh baya itu pun datang dan Atreya langsung menanyakan padanya.


"Ya Tuhan... maaf Bu, saya lupa memberitahu ibu."


ucap bi Ratna merasa sangat bersalah. Ia sampai berkali-kali meminta maaf sama Atreya, Kinara dan juga Aaron.

__ADS_1


"Ya sudah gak apa-apa, Bi. Tolong siapkan saja perlengkapan Casey!" pinta Atreya, dan bi Ratna pun hanya mengangguk lalu pergi kedalam untuk melakukan apa yang barusan diperintahkan padanya.


"Kamu juga ikut kan?" tanya Kinara.


"Emh... aku gak ikut. Sudah janji dengan seseorang" sahut Atreya.


"Satria?" terka Aaron menautkan kedua alisnya seraya menatap tajam penuh selidik.


Atreya terdiam. Menurut Aaron, diamnya Atreya berarti artinya iya.


"Rea, Satria belum diberitahu kalau Matthew ayah biologis Casey ?" tanya Aaron dan Atreya hanya menggeleng pelan.


"Kenapa kau belum memberitahukannya? kamu takut Satria meninggalkan mu? begitu? itu malah lebih baik, Rea." Aaron terlihat sangat kesal dengan sikap sang adik yang tidak tegas dalam mengambil keputusan.


"Apanya yang lebih baik, kak? aku mencintai dia sejak lama. Harusnya kakak mengerti perasaanku dong." sahut Atreya merasa terpancing untuk meluapkan emosi nya.


"Oke, kalo kau lebih memilih Satria. Berarti sudah tau kan konsekuensinya apa? Matthew bukan orang sembarangan, Rea. Ayahnya punya kekuasaan, apalagi Mr. Polan sudah tau bahwa dirinya memiliki cucu dari Matthew. Cucu laki-laki yang diharapkannya selama ini, dan dia pasti akan mengambil Casey darimu."


Mendengar itu membuat Atreya beringsut, tubuhnya langsung lemah saat membayangkan jika mereka benar-benar membawa Casey darinya. Mungkin dia akan hancur bahkan akan mati perlahan-lahan bila harus kehilangan Casey. Tak terasa air matanya turun dari kedua sudut matanya. Kinara langsung mengusap-usap punggung Atreya untuk sekedar menenangkan. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa tentang masalah yang tengah dihadapi adik ipar sekaligus sahabat baginya.


"Percayalah Rea, aku tau siapa Matthew. Dia sudah menyukai mu sejak saat itu. Aku yakin dia akan membuat mu bahagia" tutur Aaron mulai menurunkan suaranya.


"Kebahagiaan ku hanya bila bersama Satria." lirih Atreya pelan. Namun Aaron seolah tak mendengarnya dan mengomentarinya.


"Sebaiknya kau bicarakan dengan Satria secepatnya. Aku tau dia, Satria itu tipe lelaki yang berjiwa besar seperti namanya. Dia pasti akan menerima kondisi ini." ucap Aaron.


*****


Atreya memasuki kafe dilantai dasar salah satu hotel berbintang. Ini kali kedua atreya menapakkan kakinya disini. Atreya pernah sekali ketempat ini bersama Aaron untuk pertemuannya bersama salah satu klien. Tapi itu sudah lama sekali, beberapa tahun yang lalu.


Malam ini sesuai dengan arahan Satria ditelpon tadi, Atreya ke kafe dulu untuk memesan makanan sambil menunggu kehadirannya. Satria bilang dia akan sedikit terlambat sekitar satu jam karena tiba-tiba temannya meminta tolong untuk memperbaiki komputernya yang error. Tidak masalah, pikir Atreya. Dia malah senang punya tambahan waktu untuk mengatur nafasnya yang kini memburu tak beraturan.


Ya, merencanakan untuk berkencan bukanlah hal yang mudah. Paling tidak buat perempuan seperti Atreya. ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Satria. Apakah ini akan menjadi kencan pertama dan terakhirnya? karena setelah ini bisa jadi mereka akan berpisah untuk selamanya.


"Selamat malam, dengan mbak Atreya?" seseorang mengeluarkan suaranya dan sukses membuat lamunan Atreya menjadi buyar.


"Rmh, iya?"


"Perkenalkan nama saya Adrian. Senior bartender dikafe ini. Kalau Mbak atreya berkenan, saya akan membuatkan minuman khusus untuk menyambut anda malam ini. " Pemuda ini bicara tanpa melenyapkan senyuman manisnya.


"Minuman apa maksudnya?" Atreya mengerutkan keningnya. ia merasa belum memesan apapun pada waiters disana.


"Minuman gratis sebagai ucapan selamat datang dari kami. Karena saya mendapat informasi dari bagian reseptionis, katanya Mbak Atreya ini akan menginap dikamar presidential suite kami? " ucap pemuda itu begitu sopan.


"Iya benar" Atreya berdehem menjernihkan suaranya. "saya masih menunggu calon suami saya dulu."


Adrian menyodorkan buku menu padanya.

__ADS_1


"Silahkan, mbak Atreya !!" katanya ramah.


Atreya menerima buku menu bersampul kulit itu, dan memilih minuman yang terpampang digambar paling depan. "ini saja" jawab atreya pelan, seraya jemarinya menunjuk gambar.


"Oke" Lelaki kelimis itu mengangguk mantap, sambil tersenyum lebar. "Lemonade Mocktail." ucap Adrian menyebut nama minumannya. "Saya siapkan sebentar ya, mbak Atreya."


"Terima kasih" ucap Atreya datar.


Lelaki berseragam rapi itu pun melangkah pergi dari meja Atreya.


Sungguh, Atreya tidak pernah tampil secantik malam ini. Pakaiannya juga indah luar biasa. Gaun mini biru muda membalut pas ditubuh mungil Atreya. Sederhana namun sangat cantik. Segalanya telah ia lakukan untuk menyenangkan Satria. Setimpal, dengan apa yang telah diberikan lelaki itu pada Atreya sepanjang hubungan mereka. Kasih sayang, cinta, perhatian dan sejuta kebaikan lainnya yang diberikan Satria tanpa pernah meminta imbalan.


"Silahkan, Mbak Atreya... " Adrian datang lagi menyuguhkan segelas minuman pesanannya.


Atreya mengangguk. "terima kasih."


Adrian tersenyum santun. "panggil saya lagi jika butuh sesuatu. dengan senang hati saya melayani mbak Atreya"


Atreya hanya tersenyum dan lelaki itu pun mengangguk sejenak lalu pergi.


Atreya menyesap minumannya. "hmm... Lumayan manis. Enak juga" Atreya berfikir seraya menyeruput kembali minumannya. Minuman itu sangat enak, beberapa kali Atreya terus menyeruputnya hingga tinggal setengah gelas.


Hmm... Setau atreya minuman ini bebas alkohol. Tapi tunggu !! Atreya menyentuh lehernya. Lalu bahu dan lengannya. Dia merasa tubuhnya memanas. Atreya merasa tidak nyaman. Aneh, Atreya kembali menyentuh lehernya yang mulai berat dan kaku.


"Shit !! Ini terulang lagi. Siapa yang sudah menjebakku? Aku harus segera pergi dari sini."


Atreya pun segera beranjak dari mejanya. Atreya menyipitkan mata. Pandangannya tiba-tiba agak gelap dan buram. Atreya menarik nafas panjang. Namun celakanya, seolah oksigen yang dia tarik masuk ke tubuhnya malah menyulut rasa panas yang sudah semakin menguasai Atreya.


Satria. Ya, Atreya harus segera menghubungi kekasihnya itu. Satria harus cepat-cepat datang kemari.


Atreya berusaha mengambil ponsel didalam clutch bagnya, lalu segera mencari nomer Satria. Oh sial, pandangannya semakin kabur. Dia menghentakkan kepalanya dan menyipitkan mata. Berusaha untuk fokus mencari nomer telpon kekasihnya. Atreya berusaha bertahan dalam kondisi tubuhnya yang mulai melemah.


BRUKK!!


Tiba-tiba Atreya terjatuh ke lantai dan pingsan.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, coment, and vote nya 😉

__ADS_1


__ADS_2