Lovely Atreya

Lovely Atreya
menikmati suasana pantai


__ADS_3

Atreya menikmati pasir di bawah telapak kaki telanjangnya.Telapak kakinya sedikit geli seperti digelitik, sekaligus nyaman seolah sedang dipijat lembut. Dia berjalan sendirian di sepanjang tepian pantai menikmati matahari pagi, menunggu Matthew yang tengah snorkeling. Dia bukannya tidak ingin mencoba snorkeling, tapi dia masih meragukan kekuatan otot-otot kakinya. Padahal Matthew sudah memberi saran untuk memakai baju pelampung untuk menjamin keamanannya, namun Atreya lebih memilih jalur aman. Dia takut terjadi apa-apa yang akhirnya membuatnya kembali tidak bisa berjalan. Dan akhirnya Atreya hanya bisa menikmati island ini dengan berjalan santai disepanjang tepian pantai.


Untungnya Matthew mengerti dan masih mau snorkeling sendirian, kegiatan itu memberi Atreya waktu sendiri yang cukup untuk menenangkan diri seraya menikmati keindahan pantai.


Kenangan Atreya kembali pada beberapa bulan lalu saat  acara family gathering NeoTech. dirinya, Casey dan Satria berada dipantai untuk berjemur dan bermain pasir bersama. Dia tidak menyangka disitulah akhirnya Atreya dipertemukan kembali dengan lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak semata wayangnya itu.


Satria pernah menggambarkan masa depan mereka berdua saat keduanya tengah menghabiskan waktu bersama dibalkon hotel saat Casey tengah tertidur lelap.


“setelah nikah nanti aku gak mau tinggal dirumahmu, Rea.” Ucap Satria.


“memangnya kenapa? Itu rumah peninggalan nenek Shofi. beliau berpesan aku harus menjaga dan tidak boleh menjualnya. Jadi definisi pulang buatku ya kerumah itu, Sat. rumah peninggalan nenek.”


 “tapi aku sudah membeli kavling rumah untuk tempat tinggal kita nanti.” Sahut Satria.


“Oya?” bola mata Atreya terbelalak lebar. “kapan kamu membelinya?”


“sudah beberapa bulan yang lalu. Aku sengaja ingin memberikan kejutan ini untukmu. Tapi kalau memang kamu ingin tetap tinggal dirumah nenek ya gak masalah sih. Kita bisa jadikan kavling itu lahan investasi saja.”  Ucap Satria memeluk Atreya erat. “karena definisi pulang buatku ya ke kamu, Rea. Terserah kita tinggal dimana saja, yang penting aku sama kamu, kamu itu rumahku.”


Nostalgia gila itu membuat mata Atreya sedikit mengembun. Kalimat Satria itu pernah membuat hatinya begitu hangat, betapa romantisnya kekasih hatinya itu, menganggap Atreya sebagai rumah tempatnya pulang. Tapi mengingatnya lagi sekarang, itu malah membuat Atreya tercekat. Dia ingin sekali melupakan semua kenangan indah bersamanya, namun entah kenapa rasanya sangat sulit. Kenangan demi kenangan terkadang selalu melintas tanpa permisi dalam pikirannya.


“Nona Atreya mari sarapan dulu,” seorang lelaki berkulit cokelat sudah ada disampingnya. Dia Jhon, Jhon adalah salah satu ajudan William yang sengaja dimintai ayah mertuanya itu untuk mengawal anak dan menantunya


yang sedang berbulan madu. Awalnya Matthew menolak dengan usulan William, namun ayahnya tersebut hanya ingin memastikan keselamatan sepasang suami istri itu terjamin.  Mengingat diluaran sana banyak


orang-orang jahat yang ingin menghancurkan kesuksesan William sebagai owner neotech company yang tersohor itu. Terlebih dengan Matthew yang digadang-gadang akan segera menggantikan posisi ayahnya tersebut.


Jhon ikut berjalan dipasir tanpa alas kaki seperti Atreya. perempuan itu pun segera mengerjap-ngerjapkan matanya, jangan sampai Jhon melihat dirinya menangis, gara-gara mengingat Satria pula.


Atreya harus terbiasa dengan keberadaan Jhon yang tiba-tiba saja ada didekatnya, atau bagaimana lelaki tegap bertampang ramah ini seolah tau segalanya.


“apa nona Atreya menangis? Saya sangat paham jika kita sendirian ditepi pantai seperti ini.  Kenangan masa lalu terkadang melintas begitu saja.” Ucap Jhon datar. Dan membuat Atreya menghentikan langkahnya sejenak lalu mendongak ke atas menatap lelaki itu.

__ADS_1


“Jhon, kamu pantas jadi konseling psikolog.” Ujar Atreya lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


Jhon malah tertawa terbahak-bahak. “Ah, Nona Atreya bisa saja.”


Atreya hanya tersenyum mendengar tawa Jhon yang begitu membahana. Jhon memang sudah bertahun-tahun bekerja dengan keluarga William, bahkan sejak usia Matthew masih remaja. Dan rupanya Matthew sudah menunggu ditempat makan, dia melambaikan tangan dari kejauhan. Atreya membalas lambaian tangan itu seraya bertanya pada Jhon. “jadwal hari ini apa, Jhon?”


“Mengikuti keinginan Tuan dan Nona saja.” Jawab Jhon sopan. Dan Atreya hanya membalasnya dengan anggukan saja.


“gimana, seru snorkelingnya?” Tanya Atreya saat dia sudah duduk disamping Matthew yang tengah menghirup kopinya.


“kapan-kapan kamu harus mencobanya, Rea.” Ujar Matthew. “Indah sekali.”


“Ya, tentu saja, kapan-kapan.” Kata Atreya lalu mengamati wajah Matthew yang selalu terlihat pucat. “apa kulit wajahmu memang sepucat itu jika dipagi hari?” Tanya Atreya seraya menyentuh seluruh pemukaan wajah suaminya tersebut.


Matthew meraih tangan Atreya dari wajahnya lalu menangkupnya ke atas meja. “kamu lupa aku abis snorkeling? Aku kedinginan didalam sana, sayang.”


“oya?” Atreya memicingkan sebelah matanya curiga.


Atreya pun lantas memindai hidangan diatas meja. Waffle, sandwich yang sepertinya berisi tuna, semacam sup ayam, omelet berukuran besar yang sepertinya sangat menggoda, dan bertabur buah potong segar yang menggiurkan.


Akhirnya mereka berdua pun menyantap sarapan pagi itu dengan lahapnya. Sesaat tidak ada pembicaraan lagi dikeduanya. Hening, hanya suara deburan ombak pinggir pantai dan alat makan berbahan stainless yang terdengar saling berbenturan dengan piring berbahan keramik.


“kamu suka tempat ini?” Tanya Matthew disela-sela mengunyah omeletnya.


“Ya, aku sangat suka.” Sahut Atreya. “kita akan kembali tiga hari lagi kan?” Tanyanya lagi.


“terserah kamu saja.”


“kok terserah aku?”, Atreya hampir tersedak, Matthew buru-buru membantunya mengambilkan minum.


“Iya, seminggu disini pun boleh saja.” Ujar Matthew.

__ADS_1


“Hah?” Mata Atreya terbelalak. “seminggu? Siapa yang tidak mau berada ditempat seindah ini untuk waktu yang lama? Tapi kita tidak mungkin berada disini lebih lama tanpa casey, Matt.”


“iya, mungkin lain waktu kita akan kembali kesini bersama Casey.” Ucap Matthew tersenyum, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Atreya yang menutupi sebagian wajah sang istri ke belakang telinganya. Atreya sudah


mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil Matthew seperti ini. Lelaki ini tak kalah romantis dengan Satria.


Atreya diam saja, mengaduk-aduk jus melon dengan sedotan sambil berpikir. “jadi hari ini kita ngapain?”  Tanya Atreya akhirnya.


“Dikamar saja bagaimana?”, sahut Matthew terkekeh.


“hhmm…ini terlalu siang. Nanti kita bosan.”


“Ya udah, terserah kamu. Aku ikut saja. Asal nanti malam kita gak perlu kemana-mana lagi.” Jawab Matthew tersenyum penuh arti. Dan Atreya sudah mengerti apa maksud suaminya itu.


“aku mau spa. Biar nanti malam tubuhku wangi dan rilex.” Ucap Atreya melirik Matthew.


“Hah?” Matthew mengernyit, namun tak lama kemudian bibirnya melengkung sempurna dan terlihat bahagia.


“iya, aku mau mencoba thai massage yang terkenal itu, Matt.” Ujar Atreya bersemangat. “itu pasti rilex banget deh.” Kata Atreya lagi seraya memejamkan mata seolah dia sudah dalam posisi berbaring dan punggungnya tengah dipijat.


“menggemaskan sekali istriku ini.” Gumam Matthew seraya menelan salivanya sendiri. Namun dia harus sabar menunggu malam nanti. Matthew meminum kopinya lagi hingga tandas. “oke, jika memang itu maumu, Nyonya


Matthew, aku akan menemanimu seharian ini kemana pun.”


Akhirnya Atreya tersenyum gembira dan membiarkan Matthew mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2