Lovely Atreya

Lovely Atreya
ingin masakan Atreya


__ADS_3

Atreya mengedipkan matanya dengan cepat. "Tumben sekali mau ke dapur." gumamnya dalam hati. Ia pun segera membalikkan tubuhnya lagi. Berjalan cepat menyusul matthew ke arah dapur.


*


Kitchen set yang nampak mewah dengan design marmer hitam yang elegan memenuhi area itu. Peralatan masak tersedia lengkap didalam lemari. Dan sebagian menggantung diatas meja.


Matthew sudah duduk sambil menopang dagunya diatas meja kithen set. Ia menatap Atreya dan mengangkat alisnya. Mengulurkan tangannya kedepan untuk mempersilahkan sang istri memulai aksinya.


Atreya tersenyum dan mengangguk, lalu membuka laci tempat ditaruhnya apron bersih berwarna hitam polos. Atreya memakai apron tersebut, menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya.


"Butuh bantuan?" tawar Matthew.


Atreya menggeleng dan melanjutkan aktifitasnya. "Aku bisa kok."


"Hhmm. oke" Matthew membengkokan bibirnya sambil mengangguk. Tatapannya tak lepas dari pergerakan Atreya.


Dengan begitu lincah. perempuan itu meraih beberapa peralatan gelas, dan membuatkan suaminya itu teh hijau. setelah siap, Ia mengulurkan cangkir yang sudah berisi teh hijau hangat itu ke meja yang ditempati Matthew.


"Silahkan suamiku, ini teh nya." ucap Atreya dengan senyuman manisnya sambil menggeser cangkir ke hadapan sang suami.


Matthew masih menopang dagu dan menatap ke arah Atreya. Saat perempuan itu hendak menarik tangannya, dengan sigap Matthew menahan tangan sang istri. Reflek Atreya menatap wajah suaminya tersebut.


"Ingin dibuatkan sesuatu lagi?" tanya Atreya santai.


Matthew mengangkat wajahnya dan melihat lurus ke manik netra biru milik sang istri.


"Aku hanya ingin selalu bersamamu. i love you, Atreya." Lirih tersenyum menggoda.


Atreya mengernyit. "jangan menggodaku didapur, Matt."


Matthew terkekeh, Tak lama kemudian dia pun melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan sang istri.


Atreya menggelengkan kepalanya, perempuan itu masih menatap bingung dengan sikap suaminya yang dirasa aneh malam ini.


Matthew memundurkan punggungnya dan bersandar nyaman dikursi. "Ayo, Lanjutkan lagi memasaknya! aku sudah sangat lapar." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh!! Oke" Atreya sedikit terkejut lalu mengangguk. Dia pun melanjutkan aksi memasaknya. Membuka kulkas, mencuci sayuran dan buah. Dengan lincah memotong-motong bahan makanan diatas talenan. Wajahnya nampak serius dengan aktivitasnya. Sementara Matthew terus menatap Atreya dari tempat duduknya. Aktifitas Atreya sekarang seperti sebuah film yang menarik bagi Matthew. Mondar mandir ke kiri dan ke kanan. Sesekali berjinjit mengambil sesuatu, sesekali juga membungkuk mengerjakan sesuatu. Meski fokus dengan apa yang dikerjakannya, namun Atreya terus tergoda untuk melirik ke arah Matthew. Ia selalu terusik dengan tatapan sang suami yang hangat dan lembut itu hingga membuat dirinya ingin segera menyelesaikan aksi memasaknya tersebut.


"Hhmm... wangi sekali" ucap Matthew memuji saat Atreya memasukan bahan tumisannya kedalam wajan panas lalu mengaduknya.


Atreya tersenyum dan menatap Matthew. "Aku buatkan tumisan ini dengan minyak zaitun, makanya lebih harum dan lebih menyehatkan tentunya." Ucap Atreya sambil memamerkan apa yang tengah dikerjakannya.


Matthew mencondongkan tubuh dan manaikkan sikunya ke atas meja. Tangannya mengunci, dagunya diletakkan diatas punggung tangannya. Ia melihat kearah Atreya lalu kembali tersenyum.


Satu porsi tumisan sayur khas indonesia berupa campuran brikoli, wortel, kol, kentang, bawang bombay, paprika merah, kuning dan hijau, juga irisan daging tanpa lemak dipotong tipis -tipis dengan slice yang panjang dan melebar. Warna yang kontras dari berbagai bahan itu kini tersaji bak pelangi diatas piring. Tak lupa Atreya juga menyajikannya dengan satu mangkuk kecil nasi merah. Serat, karbohidrat, protein, dan zat gizi yang lainnya tersaji hangat diatas meja.


Atreya membawa hasil karyanya tersebut ke meja Matthew. Mereka duduk sejajar dimeja yang panjang itu.


Matthew tersenyum melihat makanannya yang baru saja matang. Lalu segera mengambil garpu dan menyeduk tumisan sayur dan daging yang di masak sang istri. Ia mengarahkan ke mulut.


"Tunggu Matt!! " cegah Atreya dengan reflek menahan tangan suaminya itu.


"Ada apa? " Matthew menatap kaget.


"hidungmu kenapa?" Atreya langsung meraih kotak tissue yang tergeletak diatas meja. menarik beberapa lembar tissue dan menempelkannya pada lubang hidung sang suami.


"kamu mimisan?" Atreya tak lepas menatap suaminya seraya mengangkat dagu Matthew dan menarik lembar tissue lagi untuk membersihkan noda merah yang masih nampak disana.


Atreya sejenak mendiamkannya, memperhatikan lubang hidung Matthew dan berharap cairan berwarna merah itu tidak turun lagi.


"kayanya sudah tidak keluar." ujar Atreya lalu meraih tissue basah dan kembali membersihkan bagian atas bibir Matthew sampai bersih.


"oh ya sudah."


"kok ya sudah?" Atreya menatap serius. "kamu sakit?" tanyanya seraya menempelkan punggung tangannya ke kening Matthew. "kamu demam, Matt. aku bawakan termometer dulu."


Atreya mulai panik dan hendak mengambil termometer digital yang ada didalam first aid kit.


"nanti saja, sayang. aku sudah lapar." cegah Matthew menghentikan langkah Atreya dengan memegang pergelangan tangannya.


"tapi--" Atreya tidak melanjutkan sanggahannya. dia hanya membuang nafasnya pelan. "ya sudah kamu makan dulu. abis itu langsung istirahat ya." ucapnya lemah, lalu kembali menyiapkan makanan untuk Matthew.

__ADS_1


Lelaki itu pun mulai menikmati makan malamnya dengan lahap.


Matthew bergumam nikmat sambil mengangkat alisnya. Memuji kelezatan masakan sang istri dengan ekspresi wajah. Atreya tersenyum puas melihat sang suami yang menyukai hasil masakannya.


Matthew kembali menusukkan garpunya ke tumisan itu. Atreya tertegun melihat aktivitas suaminya tersebut. Melihat Matthew makan dengan lahap, merupakan kebanggaan dan hiburan tersendiri bagi Atreya. Entahlah, ia merasa senang juga bangga sebagai seorang istri.


Matthew melirik ke arah atreya, lalu mengulurkan garpu berisi makanan yang saja ditusukannya.


"Makanlah, kita akan makan sepiring berdua ya" ujar Matthew.


"Tidak. Aku memasaknya untukmu. lagi pula tadi kan aku sudah makan di rumah Daddy." tolak Atreya .


" memang kenapa kalau makan lagi? Kamu takut gemuk? Justru aku lebih suka kamu yang gemuk dan montok." ujar Matthew terkekeh.


"Uh, enak saja." Atreya mengerucut kan bibirnya. "bukan begitu, tapi aku masih kenyang, Matt."


"Ayolah sedikit saja!! Tanganku mulai keram nih." tatap Matthew serius sambil menggerakkan ujung garpunya.


Atreya membuang nafasnya kasar. "Oke. Sekali saja." sahut Atreya lalu memajukan wajahnya dan perlahan membuka mulut.


Matthew yang merasa menang, mengangkat kecil sudut bibirnya.


Setelah ritual makan malam, Atreya pun langsung menyarankan suaminya itu untuk langsung beristirahat. sebelumnya dia memberikan obat penurun panas untuknya.


"perlu dipanggilkan dokter?" tawar Atreya seraya menaikkan selimut keatas dada Matthew yang sudah berbaring diatas tempat tidur.


"gak perlu sayang. ini sudah larut malam, lagi pula gak ada yang perlu dikhawatirkan. aku hanya kelelahan saja."


"memangnya kalau kelelahan kamu sering mimisan ya?" tanya Atreya seraya mengerutkan keningnya.


"iya." sangkal Matthew. lalu ia meminta istrinya itu untuk ikut tidur bersamanya.


Atreya pun akhirnya merangkak naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuh lelahnya disamping Matthew. melingkarkan tangannya diatas perut dan menyandarkan kepalanya didada lebar sang suami yang membuatnya merasa sangat nyaman, hingga keduanya terpejam dan tertidur begitu damai.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2