
Anak perempuan itu tengah asik bermain dengan sang nenek dikamarnya. Dia terlihat gembira karena selama ini anak itu selalu kesepian, sehari-harinya hanya ditemani pengasuh dan guru home schoolingnya saja dirumah. Terkadang bocah itu sering melamun dan berimajinasi sendiri, ia memang butuh teman yang seusia dengannya. Namun Andrew, sang Daddy selalu tidak memperbolehkan putrinya, Dhyanda Genovefa bermain dengan siapapun kecuali dengan pengasuh dan orang-orang yang bekerja dirumah besarnya itu.
"Apa nenek akan tinggal lebih lama disini?" tanya gadis kecil itu polos.
"Iya, sayang. Mungkin nenek akan disini selama satu minggu" sahut perempuan berambut potongan bob yang hampir seluruhnya berwarna putih, namun tetap terlihat cantik itu.
"Satu Minggu itu sebentar, Nek. Aku kira nenek akan tinggal disini selamanya bersamaku" ujar Dhyanda menekuk wajahnya. Jelas sekali anak itu terlihat kecewa, karena ia mengira sang nenek akan tinggal bersamanya lebih lama.
"Tidak, sayang. Nenek kemari karena ada keperluan sama Daddy mu. Kapan-kapan kamu kan bisa liburan ke New York ke tempat nenek, oke?" ucap sang nenek seraya menyentuh lembut dagu Dhyanda.
"Kalau begitu aku ikut nenek saja tinggal disana, aku tidak mau disini lagi"
"Lho kenapa, sayang? kalau kau ikut nenek, bagaimana dengan Daddy, ia pasti kesepian tanpamu."
"Habisnya Daddy jarang ada dirumah, Nek. aku kan jadi bosan" , bocah itu menghela nafasnya sejenak sebelum kembali bicara, "Oiya, aku baru ingat. Tadi di Paviliun ada Bibi cantik, dan Daddy bilang itu Mama ku" ujar Dhyanda begitu antusias.
"Oya? masa sih?"
"Betul, Nek. Aku tidak bohong"
Tak lama kemudian pintu kamar Dyanda terbuka, keduanya nampak begitu terkejut dengan kedatangan Andrew yang sudah berdiri diambang pintu.
"Kalian sedang apa di kamar? sepertinya asik sekali" Andrew mendekat, lalu duduk disamping putrinya seraya mengecup puncak kepalanya.
"Sedang bermain boneka, Dad" ucap sang bocah seraya mengelus lembut boneka Barbie yang memiliki rambut panjang nan pirang itu.
"Mr. Fred sudah menunggumu diruang musik. Ayo bergegaslah, sayang!! sekarang kamu sudahi dulu bermain bersama nenek ya" ujar Andrew.
"Oke, Dad" Dhyanda pun menurut saja, ia langsung turun dari tempat tidurnya dan segera menemui Mr. Fred diruang musik.
"Siapa Mr. Fred?" kening sang nenek mengernyit menatap Andrew.
"Oh, Mr.Fred itu guru les musik Geny. sepertinya anak itu menyukai gitar, makanya aku menyewa guru privat untuk mengajarkannya bermain gitar dengan baik" ujar Andrew kepada wanita tua yang merupakan adik dari mendiang ayahnya, dan sudah dianggap sebagai ibunya sendiri itu.
"Dhyanda itu kan perempuan, kenapa tidak di leskan piano, violin, mungkin? ini kok malah gitar sih?"
__ADS_1
"Bibi, Geny itu berbeda. Anak itu menyukai alat musik gitar daripada alat musik yang bibi sebutkan tadi. Sudahlah, intinya aku tidak akan memaksa. Apapun yang ia sukai, aku akan dukung" ujar Andrew.
"Ya, ya... baiklah aku juga pasti akan mendukung. Dhyanda itu sudah ku anggap cucu kandungku sendiri. Kau tau kan, kedua anakku malah membenciku bahkan malah menjauhkan Aldrich dan Aleena dari neneknya sendiri"
Mendengar hal itu Andrew langsung memeluk wanita itu, mengusap lembut punggungnya seraya mengulas senyum.
"Bersabarlah, bibi. Sebentar lagi balas dendam mu akan terbayarkan. dan aku yakin, Aaron dan Marshall akan bersimpuh dikakimu untuk memohon" ujar Andrew menyeringai puas.
Wanita itu pun mengurai pelukan Andrew, sudut bibirnya membentuk lengkung senyuman penuh arti, "Kau memang keponakanku yang paling pintar, Drew. Ayahmu, Peter akan bangga di surga melihat kau sudah membalaskan dendamnya kepada Kevan dan Freya melalui Atreya, anaknya"
"Tentu saja, Bibi Claire. Aku sudah mempersiapkan rencana ini matang-matang. Mulai membeli salah satu perusahaannya di Dublin pun itu bagian dari rencana ku. Tapi sayangnya, O'Neill Hospital tidak dijual, padahal aku sudah menawarkan harga tertinggi pada Aaron waktu itu. Aaron anak bibi itu emang keras kepala."
Wanita tua yang ternyata Claire itu pun tertawa, "Aaron memang seperti itu, keras kepalanya menurun dari Kevan" ujarnya seraya mengingat kembali sosok ayah biologis dari anaknya tersebut.
Andrew ikut tertawa mendengar pernyataan Claire barusan. keduanya tertawa seolah menyambut kemenangannya. Tujuan Andrew yang utama ingin balas dendam atas kematian ayahnya yang bernama Peter (ada dinovel sebelumnya IN A BROKEN HEART TO FIND YOU) dengan menghancurkan seluruh kekayaan Kevan O'Neill yang diwariskan kepada Aaron dan Atreya. Namun gagal karena Aaron susah untuk dilawan dibidang bisnis.
Akhirnya beralihlah ke Atreya, mungkin dengan menghancurkan perempuan itu maka balas dendam Andrew akan sedikit terbalaskan. Terlebih lagi Andrew memang terobsesi dengan wajah Atreya yang sekilas mirip dengan Laura, ibu kandung Dhyanda yang meninggal setelah melahirkan putri pertamanya itu.
"Untung saja waktu itu aku menunjukkan foto Atreya kepada bibi. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan tau kalau wanita itu ternyata adiknya Aaron, juga anak dari orang yang telah membunuh ayahku" ujar Andrew seraya mengepalkan kedua lengannya.
*Flashback
"Iya, aku minta maaf, Bibi. Sekarang aku lagi sibuk membangun bisnis baruku di Berlin"
"Berlin? jauh sekali" Claire membulatkan matanya, dia tak menyangka memiliki keponakan yang ternyata kaya raya dan memiliki banyak perusahaan dimana-mana. Itu semua peninggalan dari kakeknya, ayah dari Marry, mantan istrinya Peter.
"Aku sedang bekerja sama dengan teman kecilku, dan menurutku akan sangat menguntungkan untuk GA GROUP" ujar Matthew.
"Syukurlah kalau begitu. Bibi ikut senang mendengar kamu bisa lebih maju"
Mereka pun berbincang cukup lama via telepon. Setelah kepergian Marry beberapa tahun silam, dia sudah menganggap Claire sebagai ibu pengganti, apalagi Claire adalah adik dari Peter, mendiang ayahnya Andrew yang tewas ditangan Kevan, ayahnya Atreya.
"Oiya, Bibi. Disini aku bertemu dengan wanita yang mirip sekali dengan Laura, istriku. Tapi sayangnya dia itu ternyata istri dari kawan kecil ku yang ku ajak kerjasama itu", curhat Andrew.
"Apa semirip itu, Drew? karena setau Bibi, Laura tidak punya saudari kembar"
__ADS_1
"Iya bibi, ini mirip sekali."
"Oya? bibi jadi penasaran, Kau ada fotonya? coba kirimkan fotonya pada bibi!!" pinta Claire sebagai bentuk perhatiannya pada sang keponakan.
"Baiklah aku akan langsung mengirimkannya pada bibi. Aku diam-diam memotret wajahnya saat kami tengah makan di cafe"
Ditempat yang berbeda, perempuan diseberang sana tengah terkejut saat melihat foto yang barusan dikirimi oleh keponakannya itu. "Atreya?"
"Hallo, Andrew apa kau masih disana?" Claire ingin segera memastikan.
"Iya bibi, kau sudah melihatnya? dia mirip Laura kan?"
"Iya, dia sedikit mirip dengan Laura. Siapa nama perempuan itu?"
"Atreya" jawab Andrew cepat.
Mendengar nama itu dia tak lagi terkejut, karena dia sudah bisa menduganya dari foto yang dilihatnya barusan.
"Well, aku tak menyangka akan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu kalian dan menghancurkan mu, Atreya" batin Claire seraya menyunggingkan senyuman miring.
Selanjutnya Claire menceritakan semuanya kepada Andrew tentang siapa Atreya, sampai akhirnya mereka sepakat merencanakan sesuatu.
*Flashback end
.
.
.
Bila ada yang bingung, novel LOVELY ATREYA ini kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul,
IN A BROKEN HEART TO FIND YOU (session 1)
A WOUND IN YOUR LOVE (session 2)
__ADS_1
LOVELY ATREYA (session 3)
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, Readers 😘🤗