Lovely Atreya

Lovely Atreya
mencari tau


__ADS_3

...


Disaat yang bersamaan Satria dan Casey datang. Mereka menyaksikan bagaimana tubuh Atreya direngkuh oleh laki-laki lain yang tak lain adalah Atasan Satria dikantornya, sekaligus owner dari hotel dan resort mewah ini.


"Pak Matt??" Satria memandang heran pada atasannya yang telah dengan lancang merengkuh tubuh calon istrinya, lalu membaringkannya ke atas tempat tidur.


Matthew begitu terkesiap melihat kedatangan Satria dan Casey.


"Kenapa mama ku, Om? Apa Om yang udah bikin Mama sakit?"bCasey langsung merangkak naik keatas tempat tidur mendekati Atreya.


Matthew tak menjawab, ia malah sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ternyata Matthew meminta manager hotel untuk segera memanggilkan dokter.


Sambil menunggu kedatangan sang dokter, Satria mengajak Matthew berbincang di balkon kamar. Sementara Casey masih menunggu disamping ibunya yang masih tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi, kenapa Anda bisa dikamar ini bersama calon istri saya, Pak ?" tanya Satria menatap tajam. Ia sudah tidak peduli lagi tentang status siapa pria dihadapannya tersebut.


"Pintu kamar ini terbuka, aku lihat seseorang pingsan didalamnya. Apa aku salah bila melihat lalu menolong wanita itu?" Matthew terpaksa berbohong. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan yang sebenarnya, apalagi kini Atreya masih dengan kondisi tak sadarkan diri.


Satria memicingkan sebelah alisnya. Dia masih ragu dengan perkataan Matthew. Hatinya mengatakan ada sesuatu diantara mereka, namun entahlah apa itu. Satria hanya percaya dengan perkataan Atreya, dan ia akan menanyakannya langsung saat calon istrinya itu sadar.


Tak lama kemudian dokter yang dipanggil pihak manager hotel pun tiba. Ia langsung memeriksa kondisi Atreya.


"Bagaimana dok, apa Atreya baik-baik saja?" tanya Matthew begitu khawatir.


Sementara Satria begitu terkejut melihat sikap Matthew yang begitu khawatir dengan kondisi Atreya. Satria melirik sinis dengan pikirannya yang penuh tanda tanya.


"Dia baik-baik saja. sebentar lagi akan sadar, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya shok hingga jatuh pingsan" ucap sang dokter.


"Apa? kenapa bisa begitu?" Satria terbelalak dengan ungkapan dokter barusan.


"Ya bisa saja. yang menyebabkan seseorang bisa pingsan itu banyak. Salah satunya karena terkejut atau shok, yang membuat otaknya tidak memiliki persediaan darah yang cukup untuk membuat otak bekerja dengan seharusnya." ungkap dokter itu lagi.


"Oke, pastikan tidak ada penyakit serius pada Atreya. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, aku sendiri yang akan menuntun dan menyeret anda." ucap Matthew diakhiri dengan kalimat mengancam.


Dan sukses membuat Satria yang berdiri disampingnya semakin curiga seraya mengepalkan lengannya menahan emosi.


"Anda tenang saja, Pak Matthew. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku akan memberikan resep vitamin saja untuknya. Anda bisa membelinya di apotek terdekat."

__ADS_1


"Baiklah. berikan saja resep itu pada asisten saya diluar, biar dia yang membelikannya." sahut Matthew.


Dokter itu mengangguk lalu berpamitan karena telah selesai memeriksa pasien dihadapannya.


" Maaf Pak Matthew, sebaiknya anda juga keluar dari sini !! biarkan saya dan Casey yang akan menjaganya."


Perintah Satria setelah kepergian sang dokter yang lebih dulu keluar. Tanpa menatap wajah Matthew sedikit pun, pandangan Satria masih fokus tertuju pada perempuan yang tengah berbaring lemah diatas tempat tidur itu bersama Casey.


Matthew hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar. Sesungguhnya hatinya tak rela meninggalkan wanita yang selama ini dicari dan dirindukannya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. karena saat ini Satrialah yang berhak atas dirinya.


"Oke. nanti asisten saya yang akan mengantar obatnya kemari" ucap Matthew, lalu ia pun akhirnya memilih untuk pergi.


15 menit kemudian.


Atreya mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya lampu diruangan tersebut dengan retina matanya. Tangannya terangkat memegang pelipis karena merasakan sakit luar biasa dikepalanya. Atreya mulai mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum ia tak sadarkan diri. Perlahan ia bangkit dan menyandarkan tubuhnya. Lalu mengalihkan pandangannya kearah samping. Disitu ada Casey yang baru saja tertidur setelah sedari tadi menunggu sang mama yang belum tersadar juga. Tangannya menyugar rambut Casey yang poninya sedikit menutupi mata.


"Anak mama" gumamnya tersenyum pilu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria yang sedang duduk disofa sambil memainkan ponselnya.


"Satria..." panggilnya lirih.


Satria sedikit terkejut, langsung mengalihkan pandangan kearah suara yang memanggilnya. Kemudian menghampiri Atreya tapi tidak berbicara apa pun hanya menatapnya penuh khawatir.


"Pulang? kamu kan masih sakit, Rea." Satria sedikit menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah perempuan yang akan menjadi istrinya.


"Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. pokoknya aku dan Casey mau pulang sekarang. Aku akan minta tolong pak. Salim menjemput kami disini."


Pak Salim adalah Sopir cadangan keluarga Aaron yang biasa mengantar jemput Atreya ataupun Casey bila sedang membutuhkan sopir.


"Kita tidak bisa seenaknya pulang begitu saja, Rea. Gak enak sama karyawan yang lain, kita datang rombongan seharusnya pulang juga rombongan. Besok kan kita pulang, sebaiknya kamu istirahat saja dulu dikamar sampai kondisinya lebih baik."


Atreya terdiam. Ia berfikir ada benarnya juga dengan ucapan Satria, ia tidak mau dibilang egois, meskipun Atreya mampu melakukan apa yang ia mau, tapi tetap saja harus bisa menghormati orang lain. Akhirnya Atreya pun mengurungkan niatnya, tapi ia memilih untuk diam dikamar saja dan tidak mengikuti kegiatan apapun untuk menghindari pertemuannya kembali dengan Matthew.


"Rea, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tadi bisa ada pak. Matthew dikamar ini?"


Mendengar nama itu kembali disebut malah membuat kepala Atreya sakit lagi.


"Kamu mengenalnya ?" tanya Atreya kembali memegangi kepalanya, ia tidak menyangka kalau Satria juga ternyata mengenal laki-laki itu.

__ADS_1


"Dia bos baru dikantor yang pernah aku ceritakan waktu itu, Rea. Apa yang dia lakukan? apa dia sudah mengganggumu?" Satria menatap serius, berharap dugaannya salah.


"Tidak." sahut Atreya seraya menggelengkan kepala. dunia ini ternyata sempit. Dari sekian banyak negara kenapa laki-laki itu bisa datang kemari, dan berhasil menggali ingatan masa lalu yang sudah Atreya kubur dalam-dalam. Tenggorokannya tercekat pilu, Atreya terasa kesulitan menelan salivanya saat kenyataan memaksa untuk menerima bahwa ayah biologis Casey adalah teman lama Aaron, sekaligus big bos dikantor calon suaminya.


Maafkan aku, Sat. Aku tidak mau semua orang tau kalau laki-laki itu ayahnya Casey, termasuk kamu.


*****


Didalam kamarnya, Matthew terlihat sangat kacau. pikirannya terus melayang jauh memikirkan wanitanya yang ternyata sudah dipinang lelaki lain.


Wait!! Satria sudah mengakui kalau Casey bukan anaknya, tapi itu anak Atreya. Apa sebelumnya perempuan itu sudah pernah menikah? apa mungkin anak itu--


Batin Matthew terus bertanya. Entah kenapa ia begitu panasaran dengan sosok Atreya. Ia ingin mengetahui lebih dalam tentang ibu dari bocah bernama Casey itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi kawannya tersebut.


"Hi, Matt." sapa diseberang sana.


"Ar, kapan kita bisa bertemu? ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."


"Bisa, soal apa?"


"Ada laah. Kalau begitu nanti malam bagaimana? sekarang aku masih diluar kota."


"Oke."


Matthew pun memutuskan pembicaraannya dengan Aaron ditelpon. Dia lalu bergegas memanggil asistennya dikamar hotel lain melalui telepon selulernya.


"Bereskan semua barang-barang ku. Kita akan kembali ke Bandung sekarang!!" perintahnya.


"Tapi pak, bukannya acara disini sampai besok?"


"Ada urusan yang lebih penting." balas Matthew tegas. dan si asisten itupun akhirnya tak berani bertanya lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan votenya ya 🙏🙏🙏😁


__ADS_2