
Atreya mengerjap-ngerjapkan matanya. Tirai kamarnya masih tertutup sempurna, tapi tetap saja cahaya matahari diluar sana yang menyelinap masuk membuatnya tau ini sudah siang. Perempuan itu sedikit terpekik saat melihat jam, sudah pukul sembilan pagi.
Dia pun bergegas bangun. Tapi kemudian duduk ditepi kasur. "Kemana Matthew?" Atreya menyadari Matthew tidak membangunkannya tadi pagi, padahal biasanya Atreya lah yang selalu bangun lebih awal. "apa aku tidur terlalu nyenyak ya?" dia berfikir sendiri.
Atreya lalu beranjak dari tempat tidurnya, dia sudah merasa cukup beristirahat setelah semalam mereka benar-benar tertidur hingga pukul dua belas. Perempuan itu membuka tirai yang menutupi salah satu dinding kamarnya yang terbuat dari kaca itu dari lantai dua, menyodorkan pemandangan kolam renang pribadi dibawah sana.
Dia berdiri santai menatap dari kejauhan. Ah, ternyata mereka disana rupanya. Atreya melihat Matthew yang sedang mengajarkan Casey berenang. bocah itu memang ingin sekali bisa berenang, dan memang usia segitu harus mulai belajar berenang. lalu perhatiannya tertuju pada tubuh kekar sang suami yang bertelanjang dada, badannya yang tampak gagah terlihat mengkilat karena basah. Matthew memang memiliki wajah yang tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna. perempuan mana pun pasti akan terhipnotis oleh pesonanya.
Ah, Atreya jadi ingat tentang semalam. dia masih ragu tentang pernyataan dokter Steve dan Matthew mengenai pasien nya yang merupakan temannya Matthew itu. Atreya merasa ada yang ganjal disini. ia takut mereka memang menyembunyikan sesuatu darinya. "semoga suamiku selalu diberi kesehatan dan umur panjang. aku hanya inginkan dia seumur hidupku. gak ada yang lain, Tuhan." Atreya berkata lirih.
Lamunan Atreya dihentikan oleh suara ketukan pintu kamarnya. dia pun segera membukanya.
"Nona Atreya sudah bangun! Sarapan dulu bu! " salah satu maid membawakan nampan berisi sandwich dan segelas susu.
" kenapa sarapannya dibawa kesini?" Atreya mengernyit. karena biasanya kan keluarga ini selalu sarapan bersama dimeja makan.
"yang lainnya sudah sarapan, Nona. tadi tuan Matt berpesan untuk mengantarkan sarapan Nona ke kamarnya saja."
Oh, sungguh Atreya merasa tidak enak hati karena telah melewatkan sarapan bersama pagi ini. dia menyesali dirinya sendiri yang terlambat bangun. dan Matthew juga sungguh tega tidak membangunkannya.
"Casey dan suamiku sudah sarapan?", tanya Atreya kemudian.
"Sudah Nona. mereka sudah sarapan semua kecuali Nona." jawab Maid seraya menyimpan sarapan untuk majikannya itu dimeja.
"Oh, ya Sudah. terima kasih." sahut Atreya. Setelah Maid itu kembali pamit undur diri, Dia pun segera membersihkan diri dikamar mandi sebelum menyentuh sarapannya tersebut.
*****
Hari-hari pun berlalu. Malam itu Matthew terlibat perbincangan serius dengan William dan Kyle diruang kerja pribadinya yang masih berada didalam rumah besar itu.
William merasa sudah saatnya melepas jabatannya sebagai CEO NEOTECH company kepada salah satu dari kedua putranya, Kyle dan Matthew. dan semuanya tau kepada siapa posisinya akan diberikan. Matthew. Ya putra kedua William itu memang masuk kualifikasi untuk menjadi pemimpin.
"Matt, aku harap kau mau menerimanya. aku sudah tidak muda lagi. NEOTECH butuh pemimpin muda yang berkualitas seperti dirimu." ujar sang Daddy seraya menepuk bahu Matthew.
__ADS_1
William tau anaknya itu tidak terlalu menginginkan jabatan tersebut. tapi hanya Matthew lah yang layak mendapat posisi sebagai CEO yang baru. mengingat Kyle yang kurang cerdas, ambisius, emosional dan kurang bijak dalam memimpin perusahaan sebesar NeoTech tersebut dari pada adiknya. bukan maksud William berniat tidak adil atau membeda-bedakan, tapi dia juga tidak ingin NeoTech jatuh ke tangan yang salah dan malah akan menjadikannya hancur.
"tapi Dad, siapa yang memimpin cabang NEOTECH di Indonesia. bukannya paman Noel sudah tidak mau lagi bergabung dengan kita sejak bercerai dengan bibi Lily?" ungkap Matthew masih ragu.
"kamu tidak perlu khawatirkan itu, Matt. aku sudah memutuskan Kyle lah yang akan menggantikannya." ujar William seraya menatap Kyle yang berada disebelahnya.
"Aku?" Kyle terkejut lalu menunjuk dirinya sendiri. "aku tidak mau." tolak Kyle mentah-mentah. Dari dulu Kyle memang mengincar posisi CEO NEOTECH Company yang berada di kantor pusat Berlin.
"kenapa?" William menautkan kedua alisnya. "jual saja perusahaan mu yang berada di Sidney itu!! perusahaan itu sama sekali tidak menguntungkan, Kyle." ujar William tegas.
"tapi, Dad--"
"keputusan ku mutlak." William beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan kedua anaknya itu.
"shit!! Daddy selalu saja begitu." umpat Kyle mengumpat setelah sosok William tidak terlihat lagi oleh kedua matanya. "selamat, Matt. kau akan menjadi bos besar di NEOTECH." ujar Kyle menatap sinis pada Matthew sebelum akhirnya dia pun pergi dari ruangan itu meninggalkan Matthew yang kini sendirian diruang kerja pribadi milik William.
Matthew terdiam. nampaknya dia sendiri tengah bimbang. jika dirinya jadi menggantikan posisi William berarti mau tidak mau harus kembali menetap di Berlin. bagaimana dengan Atreya? apa istrinya itu mau pindah kemari? ya tentu saja. Atreya harus mengikuti kemanapun suaminya berada. tapi tetap saja Matthew harus membicarakan masalah ini baik-baik dengannya.
"aku harus segera bertemu Steve." Matthew bergegas keluar. namun saat didepan pintu ia berpapasan dengan Atreya dan keduanya hampir bertubrukan.
"Rea, ada apa?" Matthew memegang pundak sang istri.
"tidak apa-apa. tadi aku melihat Dady dan kak Kyle sudah keluar duluan. maka dari itu aku kemari untuk memastikan mengapa kamu masih berada diruangan kerja Daddy." ujar Atreya.
"ini aku sudah mau keluar." sahut Matthew tersenyum seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Atreya dan berniat menggodanya.
"ih genit." tukas Atreya. "apa yang kalian bicarakan? sepertinya sangat serius." tanyanya kemudian.
"kita bicara dikamar saja." jawab Matthew lalu merangkul pinggang Atreya dan menggiringnya ke kamar.
sesampainya dikamar, keduanya duduk santai disofa kamarnya. mereka duduk berdampingan, Matthew menyandarkan punggungnya disofa yang empuk sementara Atreya duduk tegap menghadap suaminya itu dan siap mendengarkan Jawaban yang sempat ia tanyakan tadi.
" mulai besok aku akan menggantikan posisi Daddy di NEOTECH. jadi sepertinya kita tidak akan kembali lagi ke Indonesia dalam waktu dekat ini, Rea." ujar Matthew dan sukses membuat Atreya membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"aku akan menghubungi Aaron untuk meminta ijin membawa adik dan keponakan kesayangannya untuk menetap disini bersamaku. kamu tidak keberatan kan menetap disini?" ungkap Matthew seraya menangkup kedua pipi sang istri.
Atreya mengangguk pelan."asal itu bersama mu aku rasa gak masalah." sahut Atreya.
Matthew melebarkan senyumnya, ia tidak menyangka kalau Atreya menyetujuinya. lelaki itu pun langsung merengkuh tubuh Atreya kedalam pelukannya. "terimakasih, sayang." Lirih lalu mengurai pelukannya dan mengecup hangat puncak kepala Atreya.
"lalu siapa yang memimpin anak perusahaan di Indonesia?" tanya Atreya.
"Daddy meminta Kyle yang pegang. memang dia tidak mau sih, tapi siapa yang berani melawan keputusan seorang William?" ujar Matthew.
"Ya, aku percaya itu. Daddy mu persis seperti Daddy ku. dia sangat keras dan tegas. tidak ada yang berani membantah keputusannya. aku sangat mengaguminya." kenang Atreya jadi merasa kangen dengan sosok Kevan.
Matthew mengusap-usap bahu Atreya untuk menenangkan. "iya, aku tau sosok dokter Kevan tidak akan tergantikan oleh siapapun dihatimu. karena dia Daddy mu. dia cinta pertama bagi putrinya ini." ujar Matthew seraya memencet hidung Atreya sekilas. dan membuat Atreya tersipu.
"aku juga ingin menjadi cinta pertama untuk putriku." ucap Matthew kemudian sambil tersenyum menatap Atreya.
"hah?" Atreya langsung kaget.
"aku ingin punya anak perempuan dari mu." bisik Matthew mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. "bagaimana kalau kita membuatnya lagi?" tanya Matthew dengan nada menggoda dan membuat wajah Atreya menjadi bersemu merah muda.
Tanpa aba-aba atau minta persetujuan dari Atreya, Matthew langsung mengambil alih tubuh sang istri kedalam rengkuhan. membawanya ke tempat tidur dan merebahkannya diatas sana.
" Maaatt..." Pekik Atreya saat Matthew tiba-tiba menaiki tubuhnya. lalu mencium bibir Atreya, awalnya perempuan itu terlihat masih pasif. namun Matthew berhasil membuat Atreya terlena dengan buaian lembut serta kecupan memabukkan dari suaminya yang kini jadi candu.
Hingga tubuh keduanya kini tak berbalut satu helai benang pun. Matthew tanpa canggung lagi memainkan milik Atreya yang indah itu. hingga ia pun tak sabar ingin menuntaskannya dengan segera.
.
.
.
.
__ADS_1