
Atreya mulai membuka matanya saat sedikit sinar mentari pagi lolos dari celah gorden yang tidak tertutup rapat menerpa wajahnya. Dia mengucek matanya agar bisa melihat sedikit lebih jelas. Tangan kekar milik Matthew tengah melingkar diatas perutnya. Ah, Atreya tersadar bahwa dirinya semalam ketiduran saat menemani Casey. Atreya tidak ingat kapan Matthew kembali ke kamar ini dan tidur disamping kirinya, sementara Casey sudah lebih dulu tertidur disamping kanannya. Sesaat pandangan perempuan itu menatap Casey dan Matthew secara bergantian. “kedua lelakiku.” Lirihnya dengan bangga. Kedua sudut bibir Atreya melengkung dengan sempurna.
Perlahan-lahan Atreya beranjak turun dari ranjang untuk segera membersihkan diri dikamar mandi. Namun gaya pegas yang berasal dari per pegas kasur itu membuat Matthew ikut terbangun. Dia langsung menarik kembali tangan sang istri hingga tubuhnya kembali ke posisi semula.
“mau kemana? Ini masih pagi, sayang.” Matthew mengubah posisi tubuhnya menyamping dan setengah menindiih tubuh Atreya.
“ini sudah siang, Matt. Aku tidak enak dengan orang-orang dirumah ini bila bangun terlambat.” Ucap Atreya kembali berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi matthew menahannya.
“kenapa semalam kamu meninggalkanku? Dan malah ketiduran dikamar ini bersama casey?”, cerca Matthew seraya mengeratkan tangannya memeluk tubuh Atreya.
“Casey merasa tidak nyaman dengan ketegangan semalam, Matt. Aku pun demikian. Dan aku rasa kakakmu itu tidak menyukaiku.” Atreya mendongak ke atas, menatap wajah suaminya begitu dekat dan tak berjarak. Ada desiran berbeda yang tiba-tiba muncul dihatinya. Matthew terlihat begitu sangat mempesona dan tampan saat bangun tidur. Meski wajahnya yang terlihat sedikit pucat, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Matthew memang lebih menggemaskan dari Satria. Dan kini Atreya baru menyadarinya.
“Kyle memang seperti itu. Tapi sudahlah, biarkan omongan dia itu hanya angin lalu. Kamu gak perlu memikirkan omongannya ya…” kata Matthew
seraya memencet ujung hidung Atreya gemas tanpa melepaskan pelukannya dari tadi. Sebenarnya dia ingin sekali memberitahu bahwa ulah Kyle pula dulu yang menjebak dirinya bersama Atreya enam tahun lalu. Namun Matthew berfikir ulang dan memutuskan untuk tidak membahas masa lalu itu lagi.
“apa kamu percaya dengan omongannya semalam yang mengatakan bahwa aku hanyalah anak dari wanita pelakor ?”, Tanya Atreya.
Matthew menggeleng. “aku sudah lama tau kebenarannya dari Aaron. Jadi untuk apa aku percaya dengan bualan Kyle.”
“Oya?” bola mata Atreya terbelalak. “kapan kakak cerita padamu?”
“saat aku meminta ijin ingin menikahimu.” Jawab Matthew lalu mengecup kening Atreya. “yang aku tau, kamu dan Aaron itu anak dari ibu Freya. Istri
sahnya dokter Kevan O’Neill.” Ucapnya lagi dan sukses membuat sang istri tersenyum lega.
Matthew mengusap puncak kepala Atreya, lalu turun ke arah kepala belakangnya, sedikit mendorongnya ke depan menjadi lebih dekat. Lelaki itu merangkum bibir ranum milik sang istri, lalu melum*tnya dengan lembut.
“Ma..Mama…” lenguh Casey mengerjap bangun.
Keduanya terpaksa melepaskan pagutannya. Perhatian Atreya teralihkan pada sang bocah
yang baru aja bangun. “kita lanjutkan nanti.” Bisik Atreya pada Matthew lalu membalikkan posisinya menjadi membelakangi dan menghadap ke posisi Casey yang masih terbaring disebelahnya.
*****
Setelah Atreya dan Casey membersihkan diri lebih awal, mereka pun keluar dari kamarnya lebih dulu karena Casey sudah merasa bosan dikamar dan ingin berkeliling dirumah yang pantas disebut mansion itu.
Dimeja makan Nampak sudah ada William dan Lily sedang menyantap lapisan sandwich dipiringnya menngunakan pisau dan garpu. Lily yang
__ADS_1
saat itu melihat Casey langsung menyapanya.
“Casey, ayo sarapan dulu sayang!” Ajak Lily melambaikan tangannya meminta Casey untuk ikut bergabung dengannya. Casey sesaat mendongak
ke atas melihat wajah Atreya. Perempuan itu pun mengangguk pelan padanya memberi isyarat menyetujui.
Casey pun duduk disebelah Lily. Atreya segera menyiapkan Sandwich yang sudah tersedia dimeja makan untuk Casey.
“Mana Matthew? Apa dia belum bangun?” Tanya William dan membuat Atreya sejenak menghentikan aktifitasnya lalu menatap ayah mertuanya
tersebut.
“Matthew masih dikamar. Mungkin sebentar lagi ia akan segera turun, Dad.” Jawab Atreya masih sedikit canggung.
William hanya menanggapinya dengan anggukan. “hari ini kalian ada rencana kemana?” tanyanya lagi.
“belum tau.” Sahut Atreya seraya menjatuhkan tubuhnya duduk dikursi makan berhadapan dengan Casey yang sudah lahapnya menyantap sandwich bersama Lily.
Tak lama kemudian pun Matthew datang, menarik kursi makan lalu menjatuhkan dirinya dan duduk disebelah Atreya. Dengan sigap sang Istri menyiapkan piring beserta sarapan untuknya. Sedangkan minumannya dengan cepat disediakan para maid, yang sudah berdiri dan berbaris tak jauh dari meja makan agar lebih mudah dan cepat melayani para majikannya dikala sedang makan tersebut.
“Matt, ajak istrimu berbulan madu! Pakailah jet ku untuk kalian berkeliling eropa. Biarkan Casey disini Aku ingin lebih dekat lagi dengannya.” Ucap William.
Sontak Atreya pun menaikkan kepalanya menatap Matthew sekilas, lalu menatap ayah mertuanya. “Terima kasih atas tawarannya, dad. Tapi ku rasa kami tidak perlu keliling eropa lagi. Cukup dinegeri ini aja sudah cukup.” Tutur Atreya dan membuat William takjub dengan menantunya yang satu ini. Cukup sederhana,
tidak seperti Jeany. Menantunya yang satu itu selalu saja bepergian keliling dunia hampir setiap bulan hanya untuk berbelanja barang-barang mewah yang super
branded.
“baiklah jika itu mau kalian, aku tidak akan memaksa. Tapi saranku sebaiknya kalian berdua berlibur untuk beberapa hari. Kurasa kalian butuh waktu berduaan untuk saling mengenal satu sama lain.” Saran William. Lelaki paruh baya itu memang terlihat sangat tegas dan disiplin. Namun memiliki hati yang sensitive. Dia tau segalanya tentang hubungan Matthew dan Atreya yang sebelumnya terdengar rumit. Matthew pernah mencurahkan kegalauan hatinya kepada sang Ayah tentang
perasaannya terhadap Atreya. Dan William masih beranggapan hingga kini Atreya belum sepenuhnya mencintai putranya itu.
Atreya dan Matthew Nampak saling beradu pandang. Mereka kelihatan sangat bingung hingga tak tau harus berucap apa.
“kalian jangan khawatirkan Casey. Kami akan menjaga bocah menggemaskan ini dengan senang hati.” Ucap Lily seolah bisa membaca isi pikiran
Atreya dan Matthew. “Casey mau ikut grand ma jalan-jalan?”, Tanya Lily pada Casey yang sudah selesai menghabiskan sarapannya lebih dulu.
“Mau. Apa disini ada kedai es krim?”, Tanya Casey balik bertanya.
__ADS_1
“Ada banyak disini. Es krimnya juga enak-enak, Casey mau kan jalan-jalan sama grand ma dan grand pa ?” bujuk Lily.
“mau dong.” Sahut Casey begitu antusias.
“kalau gitu gak apa-apa kan kalau mama sama daddy mu pergi beberapa hari? Casey tunggu disini bersama kami sampai mama sama daddy kembali.
Oke, boy?” kata Lily seraya mengacungkan ibu jarinya.
Casey terdiam sejenak. Bocah itu menatap kedua orangtuanya secara bergantian. “gak lama-lama kan perginya?”, Tanya sang bocah.
“satu minggu?”, ucap Matthew menggoda.
“No, Dad!!”, Tolak Casey cepat.
“lima hari?”, tawar matthew lagi.
“masih kelamaan.” Protes Casey.
“So?” Matthew mulai nyerah dan pasrah melihat sikap Casey yang tak mau jauh dari mamanya.
“ehmm… empat hari.” Jawab Casey akhirnya. Jawaban bocah itu sukses membuat William dan Lily tertawa. Sementara Matthew dan Atreya hanya beradu pandang
dengan ekspresi datar. Apa yang akan mereka lakukan selama empat hari untuk berbulan
madu? Tidak mungkin kalau hanya sekedar tidur dihotel saja kan.
Akhirnya Matthew dan Atreya sepakat untuk berbulan madu menikmati keindahan laut, serta menginap disebuah hotel dekat pantai yang lokasinya masih berada di kota Berlin.
.
.
.
.
jangan lupa terus dukung author ya dengan LIKE, KOMEN, dan VOTE untuk minggu ini.
terima kasih
__ADS_1