Lovely Atreya

Lovely Atreya
Kekhawatiran Matthew


__ADS_3

"Itu saja, Dad"


"Apa maksudmu mu, Kyle? menukarnya dengan jabatan Matthew? keterlaluan..." William mengibaskan tangannya, lalu beranjak meninggalkan Kyle dengan rasa kecewanya. Dia tidak menyangka kalau putra sulungnya itu tidak mau mendonorkan sumsum tulangnya kepada sang adik dengan cuma-cuma.


"Wait, Dad!!" Kyle mencegah William. Lelaki itu berusaha meyakinkan sang ayah bahwa dirinya mampu seperti Matthew. "Beri aku kesempatan, aku juga putra mu, Dad. Bahkan aku lebih berhak karena aku putra tertua mu."


William menghentikan langkahnya, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah Kyle seraya menatap gamang pada putra sulungnya tersebut. "baiklah, jika itu memang mau mu" ujar William akhirnya menyerah, "Aku hanya ingin Matthew sembuh, itu saja." ucap William sambil meletakkan telunjuk tangannya didada Kyle dengan tegas.


"Oke, Dad. Ayo, kalau begitu kita ke hospital sekarang! lebih cepat lebih baik kan?" ucap Kyle seraya menyunggingkan senyumnya penuh kemenangan.


William hanya tersenyum gamang. Dia hanya sedikit kecewa dengan sikap Kyle yang masih saja mengambil kesempatan didalam kesempitan. Kedua putranya memang memiliki sifat dan tabiat yang bertolak belakang. Dan Kyle? dia masih berambisi untuk menjadi orang nomor satu di NEOTECH sebagai pengganti William dengan alasan karena dia anak tertua, meski dari kemampuan dan pola pikir dalam berbisnis masih jauh dibawah sang adik.


*


Setibanya William dan Kyle di rumah sakit, mereka langsung menemui Dokter Steve untuk melakukan prosedur mengenai transplantasi sel induk atau sumsum tulang tersebut untuk kesembuhan Matthew.


Steve menjelaskan tahapan demi tahapan mengenai transplantasi sel induk tersebut kepada William dan Kyle. Ternyata proses nya tidak semudah yang dipikirkan. Ini akan menjadi tahap penyembuhan yang sangat alot bagi Matthew.


Steve meminta Kyle untuk menjalani beberapa prosedur sebagai pendonor.


"Jadi kapan saya bisa mendonorkan sumsum tulang itu, Dok?" tanya Kyle tak sabar.


Steve tersenyum, lalu menatap Kyle dan William secara bergantian. "Prosesnya tidak semudah itu Tuan Kyle. Ada beberapa tahapan yang harus dicek terlebih dulu khususnya untuk kondisi si pasien" ujar Steve lalu merentetkan penjelasannya secara panjang lebar kepada Kyle dan William menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh keduanya.


"Setelah itu, pasien akan menjalani serangkaian tes dan prosedur pra-transplantasi untuk diperiksa status dan kondisi kesehatannya secara keseluruhan, serta dipastikan bahwa fisiknya siap untuk menjalani transplantasi. Proses evaluasi ini berlangsung selama beberapa hari atau lebih" ungkap Steve, dan sukses membuat bapak dan anak itu mengangguk paham.


*****


Tak terasa satu bulan pun berlalu, Matthew sudah sebulan lebih menjadi pasien kanker di rumah sakit milik Steve tersebut. Dia sudah menjalani beberapa pengobatan yang membuat tubuhnya semakin kurus dan lemas. Efek kemoterapi memang membuat Matthew tersiksa dan menderita. Namun hanya itulah cara terbaik untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dalam tubuhnya sebelum transplantasi sel induk dilakukan. Kondisi Matthew kini naik-turun, kadang dia terlihat baik-baik saja, kadang dia juga merasa kesakitan. Namun Atreya tetap setia menemani suaminya itu dirumah sakit. Ditengah kondisinya yang tengah hamil empat bulan, Atreya tidak bisa mengabaikan Matthew begitu saja.

__ADS_1


Dia berusaha melawan rasa mual dan menghempaskan perasaan ngidam bawaan dari sang janin demi Matthew, Atreya selalu memperlihatkan kondisinya yang selalu terlihat happy dan baik-baik saja di hadapan sang suami. Dia tidak ingin menambah beban Matthew yang bisa menurunkan Semangat sang suami untuk melawan penyakitnya tersebut.


Hari ini, tiba-tiba saja Atreya menginginkan kue pancong. Berkali-kali ia membayangkan jajanan khas Indonesia itu seraya menelan salivanya sendiri.


"Dimana aku bisa membelinya? apa aku telpon Satria untuk membuatkannya? ah, nanti malah merepotkan dia." Atreya hanya bisa bergumam sendiri didalam hati.


Perempuan itu berusaha mengalihkan angan-angannya itu dengan melakukan aktivitas lain agar tak lagi mengingatnya. Namun gagal, kali ini sepertinya kue pancong telah membuat lidah Atreya bergetar karena ingin sekali memakannya.


"Kamu menginginkan sesuatu, Rea?" Matthew seolah bisa mendengar kata hati istrinya sendiri.


"Hah?" Atreya terperanjat kaget.


Matthew tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. "kalau kamu menginginkan sesuatu bicaralah! jangan dipendam sendiri" ujar Matthew benar-benar diluar dugaan.


"Eng...enggak ada apa-apa. Aku hanya---" Atreya tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja ada seseorang yang datang diantar seorang suster rumah sakit.


"Andrew?" Matthew begitu terkesiap diatas pembaringannya saat melihat Andrew datang menjenguknya. Begitu juga Atreya yang sesaat bisa melupakan kue pancong gara-gara melihat kembali lelaki yang menyebalkan itu.


"It's Oke. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja" ujar Matthew selalu mengaku dirinya baik-baik saja dihadapan orang lain. Dia pun menyambut jabat tangan Andrew yang terulur.


"Hallo, Nyonya Matthew" sapa Andrew memindahkan uluran tangannya kehadapan Atreya.


"Hallo juga, Tuan O'Brien" balas Atreya tersenyum sinis seraya menyambut tangan lelaki yang selalu terlihat nyentrik itu. Memakai setelan jas abu-abu gelap dengan sepatu kulit asli merk Louis Vuitton, membuatnya terlihat semakin menawan. Rambutnya sengaja dibuat sedikit berantakan, sehingga memberi kesan seperti seorang badboy yang cool diusianya yang kisaran tiga puluh tiga tahun itu.


Tapi kini Atreya sudah tidak respect lagi dengan lelaki yang menurutnya tidak punya tata krama dalam berbicara seperti pertemuan terakhirnya di pesta pernikahan waktu itu.


Akhirnya Matthew dan Andrew asik berbincang membicarakan tentang masa kecil mereka dulu saat sering bermain bersama. Atreya lebih banyak diam seraya fokus ke keadaan suaminya.


"Maaf jika saya menyela sebentar pembicaraan ini, tapi sepertinya suami saya sudah lelah. Dia sudah waktunya untuk beristirahat" ucap Atreya setelah sudah hampir satu jam Andrew terus berbincang dengan Matthew tanpa mengerti kalau kondisi Matthew perlu waktu banyak untuk beristirahat dan tidak banyak aktivitas dulu.

__ADS_1


"Oh, maaf kalau begitu. Saya sudah paham dengan maksud anda. Kalau begitu saya permisi" ujar Andrew lalu berpamitan terlebih dulu kepada Matthew sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Sayang, Kenapa denganmu? aku perhatikan kamu tidak menyukainya" ucap Matthew menatap manik mata biru istrinya.


"Heh? eng...enggak, kok. Aku hanya khawatir saja, kalian sudah lama berbincang. Kamu perlu istirahat, Matt" sahut Atreya lalu menaikkan selimut ke atas dada suaminya tersebut.


Matthew tersenyum getir, "maafkan aku, Rea. Aku gak bisa bahagiakan kamu. Disaat kamu hamil, lagi-lagi aku gak ada disamping mu untuk menjadi suami siaga, malah kamu yang terjaga disini" Matthew menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku minta maaf, jika tidak bisa menemani mu sampai anak kita lahir nanti."


"Apa maksudmu?" kedua mata Atreya mulai berkaca-kaca. "kalau perlu aku akan melahirkan diruangan ini, asalkan bisa bersama mu."


"Bagaimana mana jika transplantasi sel induk itu tidak berhasil? atau---"


"Cukup!! kita harus optimis. Kamu jangan berkata begitu, please..." tak terasa air mata Atreya sudah berjatuhan membasahi kedua pipinya. "bersumpahlah untukku, Matt!!" Atreya meraih telapak tangan Matthew lalu diletakkan ke atas kepalanya sendiri. "kamu tidak akan kemana-mana, kita akan selalu bersama-sama sampai tua nanti, Oke?" ucap Atreya penuh penekanan, suaranya yang tercekat karena menahan isak tangisnya sampai ke tenggorokan hingga ke dadanya yang terasa sesak.


"Oke, I am sorry..." ucap Matthew seraya mengangguk pelan, lalu mengulurkan jemarinya ke wajah Atreya. Mengusap air mata yang masih tampak mengalir dengan kedua ibu jari tangannya. "Makan dulu, sana!! kamu belum makan dari tadi siang kan? jangan sampai anakku kelaparan didalam sana" ujar Matthew mencoba mengalihkan pembicaraan, dia hanya tidak ingin melihat air mata Atreya terus berderai.


"Tap----"


"Tidak ada tapi-tapian!!" Matthew segera memotong kalimat Atreya. "Sebentar lagi Dady dan Kyle akan kemari, aku tidak akan sendirian, sayang." ujar Matthew mengerti apa yang membuat Atreya menunda-nunda waktu makan siangnya. Dia tidak mau meninggalkan Matthew sendirian diruangan.


Akhirnya Atreya mengiyakannya, dengan wajahnya yang terlihat sembab akhirnya dia memutuskan untuk membeli makanan di restoran yang masih berada dilingkungan rumah sakit.


Jika harus memilih, antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhir untuk mengatakan, "Aku sangat mencintaimu." Semoga Tuhan selalu mendekatkan ku dengan mu.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen and VOTE nya... juga beri rate untuk novel ini Bintang LIMA 😁 biar akunya lebih semangat lagi nih. Maaf akunya lagi sakit jadi mohon dimaklumi jika UP nya telat, soalnya fokus untuk sehat dulu biar bisa UP tiap hari lagi 💪😉


__ADS_2