
Setelah menikah Matthew meminta Atreya dan Casey untuk tinggal bersama dirumahnya. Dengan berat hati Atreya pun menuruti, karena ia menghargai Matthew sebagai suaminya. Toh rumah Matthew hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Jadi kapan pun Atreya bisa bolak balik ke rumahnya tersebut. Bi Ratna pun ikut diboyongnya, mengingat Casey sangat dekat dengan wanita yang sudah mengurus anaknya itu sejak bayi, dan Casey sangat ketergantungan dengan bi Ratna.
Rumah mewah dengan enam kamar dan tiga kamar pembantu beserta sopir dipavilun belakang. Sepasang suami istri yang baru menikah itu menempati kamar utama yang dulunya memang menjadi kamar Matthew saat statusnya masih lajang.
Sementara kamar Casey berada disebelah kamar mereka. Karena selama ini Casey kadang-kadang suka terbangun dimalam hari dan berpindah ke kamar ibunya, jadi Matthew sengaja menaruh kamar anaknya itu tepat disebelah kamar dirinya dan sang istri.
Atreya membereskan baju-baju serta barang-barang miliknya sendirian hingga malam. Karena sebelumnya ia harus merapihkan pakaian Casey terlebih dulu dikamarnya. Atreya menatanya dengan rapi di walk in closet.
Perempuan itu keluar dari walk in closet setelah membereskan seluruh pakaiannya. Lampu kamar sudah padam, tinggal lampu tidur diatas nakas yang masih menyala.
Ternyata Matthew sudah terlelap. Pria yang kini menjadi suaminya itu tadi bilang akan tidur terlebih dulu, karena besok pagi akan ada pertemuan penting dengan salah satu kliennya.
Atreya tersenyum dalam hati saat Matthew memberitahunya akan tidur lebih awal.
Pasalnya sejak terbentuknya tanda kissmark dileher waktu dihotel itu, Matthew dan Atreya masih tidak banyak bicara. Mereka saling menjaga jarak meski Matthew sudah melayangkan kata maaf pada Atreya. Sebetulnya itu masalah kecil, dan Atreya sudah memaafkan bahkan melupakannya. namun sepertinya Matthew masih tidak enak hati.
Atreya mematung disamping tempat tidur, ia kembali bingung akan tidur dimana saat melihat posisi tidur Matthew yang tidak beraturan dan melintang, serta membuat ranjang berukuran king size itu tidak enak dipandang.
Akhirnya Atreya beranjak keluar kamar untuk mengecek keadaan Casey dikamarnya. Bocah itu sudah terlelap dalam tidurnya yang nampak pulas. Atreya membaringkan tubuhnya tepat disamping Casey.
Sambil menunggu rasa kantuk yang belum muncul juga, perempuan itu menatap langit-langit kamar anaknya. Pikirannya menerawang memikirkan pernikahannya yang baru beberapa hari lalu berlangsung. Juga janjinya pada Tuhan yang akan menjadi istri seutuhnya untuk suaminya tersebut. Tapi sekarang pun jujur saja Atreya belum merasa nyaman dan terbiasa.
Dan mungkin butuh waktu sebentar lagi.
*****
Cahaya pagi menyusup melalui celah jendela kamar, dan membuat Atreya mengerjap bangun. Dia tersadar dirinya semalam tidur dikamar Casey, pandangannya menoleh kearah samping, bocah itu nampak masih terlelap dengan posisi merikuk memeluk guling. Atreya pun beranjak dari kamar Casey untuk kembali ke kamarnya, tepatnya kamar dirinya dan Matthew.
"Lho, semalam ibu tidur dikamar Casey?" tanya bi Ratna saat berpapasan didepan pintu kamar.
"Ah iya, Bi. Aku ketiduran." sahut Atreya, lalu kedua matanya melirik pada segelas susu yang dipegang bi Ratna. dia tau susu itu pastilah untuk Casey. "anak itu belum bangun." ucapnya tersenyum kemudian berlalu hendak menuju ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Atreya mendapati sang suami masih tertidur pulas. terdengar suara nafasnya yang teratur dan begitu tenang. Sejenak ia memperhatikan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu, tubuhnya meringkuk memeluk guling dengan selimut yang sudah tersingkap dari tubuhnya.
"Gaya tidurnya mirip sekali dengan Casey, terlalu aktif." gumam Atreya reflek tersenyum kecil. Dia lalu teringat kalau Matthew ada janji dengan klien pagi ini.
"Matthew bangun!! " Atreya membangunkan suaminya yang masih terlelap. Namun Matthew sepertinya masih enggan untuk membuka matanya.
Perempuan itu merapihkan bantal yang sudah tidak menopang kepala suaminya lagi. Benar saja, Matthew masih nyaman dengan tidurnya meski sudah tiga kali Atreya memanggil nama lelaki itu. Dan akhirnya Atreya pun beranjak untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu dikamar mandi.
"Matt... Bukannya pagi ini ada pertemuan penting dengan klien?" Atreya kembali membangunkan Matthew karena setelah ia selesai mandi dan berpakaian, Matthew masih setia dengan mimpinya.
Atreya menarik selimutnya lalu sedikit mengguncang Matthew hingga membuat pria itu terhenyak. "Katanya ada janji" Atreya kembali mengingat kan.
Matthew tidak menjawab. Pria itu menurunkan kedua kakinya, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Setelah beberapa detik mengumpulkan kesadaran, ia menatap sang istri yang sudah rapi dan wangi.
"Semalam tidur dimana?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"A...Aku ketiduran dikamar Casey" jawab Atreya.
"Aku akan menyiapkan sarapan dimeja. Nanti kamu nyusul aja." kata Atreya hendak keluar.
"Bisa tolong siapkan pakaian kerjaku! urusan dapur biar jadi urusan maid. Kamu gak perlu ikut-ikutan, tugasmu hanya melayani kebutuhan ku dikamar ini dan Casey sesekali. Karena sudah ada bi Ratna kan?" tegas Matthew sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
Sejenak Atreya tertegun mendengar ucapan Matthew barusan. Dia merasa ada yang berubah dari lelaki itu. Apa Matthew masih marah dengan penolakan Atreya waktu itu?
Tak mau berfikir panjang-panjang akhirnya Atreya segera ke walk in closet untuk menyiapkan segala keperluan yang akan dipakai Matthew kekantornya hari ini. Mulai menyiapkan pakaian dalam, kemeja, jas, dasi sampai sepatunya pun Atreya siapkan. Tugas pertama seorang istri sudah dimulai pagi ini.
Sejak pernikahannya sah secara agama membuat perempuan ini sudah berjanji dihadapan Tuhan akan melayani suaminya dengan baik. Tapi menolaknya disentuh oleh sang suami itu bukannya berarti tidak melayaninya dengan baik? Dan merupakan dosa besar?
Atreya mendesis. Bukannya dia tidak mau, tapi apa bisa pelan-pelan dulu? Atreya sedang berusaha menerima dan belajar mencintai Matthew. Jangan langsung adegan ranjang yang hanya diselimuti nafsu saja.
*****
__ADS_1
Setelah Atreya selesai melayani segala keperluan Matthew, mereka pun segera keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi.
Tampak Casey sudah lebih dulu duduk dimeja makan ditemani bi Ratna. Setelah kedua orangtua dari bocah itu datang, bi Ratna pun undur diri menuju ke dapur.
Ketiganya kini duduk dimeja makan. Atreya memilih untuk duduk disamping Casey dan berhadapan dengan Matthew. dan Mereka pun memulai acara ritual makan paginya.
Sesekali pelayan dirumah itu masuk keruang makan untuk menyajikan makanan dan mengambilkan minuman.
"Hari ini mama kerja gak?" tanya Casey disela-sela menyantap roti dan telor ceplok ya.
"Iya, sayang. Tapi mama janji tidak akan pulang malam." Atreya tersenyum pada Casey.
"Kalau gitu aku mau main ke rumah kak Al, boleh? disana kan rame ada Kak Aleena dan Tante Kinar juga."
"Kan disini juga ada bi Ratna" kata Atreya.
"Gak mau ah, gak seru..." sahut Casey cemberut.
"Oke, setelah ini mama antar ke rumah kakak Al ya. tapi nanti sore mama jemput lagi."
"Siap, Ma" sahut Casey terlihat bersemangat. Atreya tertawa kecil seraya mengacak rambut lurus sang bocah.
Matthew hanya menyaksikan percakapan antara anak dan istri dihadapannya. Ada yang berbeda dengan hari ini. Untuk pertama kalinya Matthew sarapan bersama mereka dimeja makan dengan menyandang status sebagai kepala keluarga. Matthew berharap akan selamanya seperti ini. semoga Tuhan memberinya umur panjang, dan memberikan kesembuhan untuk penyakit yang dideritanya. Agar dia bisa terus menikmati kebahagiaan ini lebih lama.
.
.
.
.
__ADS_1