
"Casey! pakai ini dulu, sayang!" Seru Atreya mencekal lengan casey yang tidak sabaran hendak berlari ke bibir pantai.
"Apa itu, Ma?" Casey mengernyit.
"Ini sunblock" Jawab Atreya memuntahkan krim berwarna putih itu ketelapak tangannya. Menyuruh Casey untuk duduk, lalu dioleskannya krim itu ke seluruh permukaan kulit Casey yang terbuka.
"Aku boleh minta gak?" Satria duduk disebelah Casey.
"Nih!" Atreya memberikan sunblock kemasan tube ke tangan Satria.
"Tidak dioleskan seperti Casey?" goda Satria tersenyum miring.
"Kamu sudah bisa sendiri, Sat" sahut Atreya.
"Gak mau ah, pengenlah diolesin kaya Casey" Satria memberikan krim itu kembali pada atreya.
"Ya udah deh."
Atreya lalu meraih krim itu lagi dan membuka tutupnya.
Casey memandang sang Mana dengan tersenyum penuh. Atreya pun diam-diam menghela nafas dan menyuruh satria mendekat. Dengan hati-hati dan nafas yang tercekat perempuan itu mengoleskan krim ke permukaan kulit satria yang sudah bertelanjang dada itu tanpa berani menatap matanya.
"Udah tuh" seru Atreya beranjak. Dan Satria pun terkekeh melihatnya.
"Ayo, Om. Kita main air!"
Casey tiba-tiba berlari-lari mendekati bibir pantai. dan Satria pun akhirnya menyusul Casey karena takut kejauhan.
"Jangan terlalu ke tengah ya!!"
Teriak Atreya yang memilih berjemur sendiri dikursi santai panjang yang telah disediakan dipinggir pantai. Tubuhnya dibiarkan terkena sinar matahari begitu saja tanpa rasa takut kulitnya menjadi gelap. berbeda dengan perempuan lainnya yang satu rombongan atau rekan kerjanya Satria. Mereka hampir semua memakai topi lebar, kacamata hitam dan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, karena takut sinar matahari merusak dan membuat kulit mulus mereka menjadi gelap.
Sudah satu jam Atreya berjemur dan menyaksikan Casey dan calon suaminya itu masih asik bermain pasir. Sepertinya mereka masih enggan beranjak untuk membersihkan diri. Akhirnya Atreya memilih meninggalkan mereka, dan duluan kembali ke hotel untuk membersihkan diri karena kulitnya sudah mulai terasa lengket.
"Setengah jam lagi udahan ya!! Aku tunggu kalian di hotel" ucap Atreya sebelum dirinya beranjak pergi.
"Oke" balas Satria mengacungkan ibu jarinya.
Sementara Casey masih sibuk membuat sesuatu dengan pasir pantainya tanpa menghiraukan himbauan sang mama.
*****
Atreya terlebih dulu mengambil cardlock yang tadi dititipkan ke bagian resepsionis. Namun saat akan berbalik, seseorang menumbruknya dan membuat cardlock kamarnya terjatuh.
"Eh, maaf-maaf" pria itu langsung membungkuk mengambil cardlock milik Atreya.
"Iya gak apa-apa" Atreya tersenyum tipis seraya mengambil kembali cardlock dari tangan laki-laki itu.
"Oh kamu Atreya kan, tunangannya Satria kan?" tanya laki-laki itu.
Atreya hanya membalasnya dengan anggukan saja. Ia tidak terbiasa berbincang dengan orang yang belum ia kenal.
"Saya Alan. Teman satu ruangan dengan Satria. Ternyata benar apa yang Satria bilang selama ini. kamu cantik."
Atreya membulatkan matanya tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Satria nya dimana sekarang?"
"Masih dipantai" jawab Atreya datar.
"Oke, aku akan menyusulnya disana."
Alan pun beranjak pergi keluar hotel. Atreya pun hendak menuju lift untuk kembali ke kamarnya, namun Alan kembali meneriakinya dengan kencang hingga seluruh manusia yang berada disekitar lobby itu merasa terganggu. Termasuk seseorang yang sedari tadi tengah serius membaca tabloid bisnis disofa lobby hotel miliknya.
"ATREYA !! senang bisa berkenalan dengan mu!!"
Teriak Alan dan hanya mendapat senyuman singkat saja dari Atreya, Ia segera bergegas masuk pintu lift yang telah terbuka setelah sebelumnya ia menekan tombol naik.
^^^^
"Atreya?"
Seseorang yang tengah duduk di sofa lobby hotel itu ternyata Matthew. Sedari tadi ia tak fokus mengamati orang disekitarnya karena sedang serius membaca tabloid. Hingga teriakan memanggil 'ATREYA' membuatnya terperanjat kaget.
Ia langsung melempar tabloid nya ke atas meja. pandangan matanya beredar seolah mencari seseorang yang memiliki nama tersebut. Matthew tak menemukan sosok yang dicarinya disekitar lobi hotel. Lalu ia segera menuju meja resepsionis.
"Aku minta data semua pengunjung di hotel ini !!" perintah Matthew pada dua pegawai resepsionis itu.
"Pengunjung di hotel ini semua Karyawan NEOTECH, Pak" ucap salah satu pegawainya.
"Iya aku tau. Tapi mereka membawa turut serta keluarganya kan. Aku minta kau Carikan orang bernama Atreya disitu!"
Dua pegawai resepsionis itu malah saling berpandangan heran.
"Hey, kalian mau aku pecat! ayo cepat Carikan!" bentak Matthew melotot dan membuat keduanya menjadi gelagapan karena takut.
"Kau tuli? ATREYA. Apa perlu aku mengejanya?"
"Ba...baik, Pak. Ditunggu sebentar, saya coba cari dulu."
Salah satu pegawai resepsionis itu pun langsung membuka komputernya. Untuk mencari nama Atreya didaftar pengunjung.
"Ma- maaf tidak ada, Pak. Disini hanya tercantum nama pegawai NEOTECH saja. Kalau nama keluarganya tidak ada" tutur pegawai resepsionis itu ketakutan.
"Dasar bodoh !!" Matthew menggebrak meja dan membuat dua pegawai hotel itu shock, dan tak berani menatap sang pemilik hotel tersebut.
Matthew lalu mengambil ponsel disaku celananya. Sepertinya ia hendak menghubungi seseorang.
"Andi, kamu dimana?"
Ternyata Matthew menghubungi Andi. staff HRD yang menjadi panitia acara.
"Lagi menemani anak berenang di kolam hotel, Pak" jawab Andi diseberang sana.
"aku tunggu kamu di lobi hotel Sekarang. sekalian bawa data karyawan dan keluarganya yang ikut gathering."
Ia pun memutuskan panggilan telponnya. Matthew terlihat resah seraya mondar-mandir dilobi menunggu kedatangan Andi. Tak lama kemudian Andi datang sambil menenteng iPad ditangannya. mereka pun duduk disofa lobi hotel.
"Ada yang bisa bantu, Pak ?" tanya Andi.
"Kamu punya data nama-nama keluarga pegawai kita yang ikut gathering?"
__ADS_1
"ada pak" sahut Andi mengerutkan keningnya.
"Coba cari disitu apa ada yang namanya Atreya?"
"Siapa, Pak?" tanya Andi kurang jelas.
"Astaga. Apa aku kurang jelas, Ndi. A...T...R...E...Y...A " Matthew mengeja nya dengan nada kesal.
"Atreya? maaf pak, abis namanya unik."
"Gak usah banyak bicara. Ayo cepat cari !!" perintah Matthew tegas. Staff bagian HRD itu pun segera mencari nama yang dimaksud si bos nya tersebut.
"Ada, Pak. Atreya Gildea. Dia masuk anggota keluarga dari Satria, dari staff IT."
"Apa?" bola mata Matthew terbelalak lebar.
"Ibunya Casey bernama Atreya? apa Atreya orang yang sama, atau--- aku harus memastikannya sendiri" gumam Matthew dalam hatinya berkecamuk.
"Satria dikamar nomer berapa?" tanya Matthew kemudian.
"306" jawab Andi setelah melihat kembali data di iPad nya.
"Oke. Kau boleh pergi sekarang ! nikmatilah liburannya bersama keluargamu" ucap Matthew mempersilahkan Andi untuk kembali bersama anak istrinya.
*****
Dia baru saja selesai berendam air hangat di bathtub. Aroma ekstrak bunga Gardenia menyeruak dari wangi tubuh wanita bermata biru milik Atreya. mengenakan mini dress bermotif floral, memberi kesan ibu satu anak ini lebih muda delapan tahun dari usianya yang kini menginjak dua puluh delapan tahun itu.
Tok tok tok!!
Terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Rengan semangat Atreya membuka pintu kamar hotel itu karena dipikirnya pasti Satria dan Casey.
Laki-laki berperawakan tinggi kekar, berahang tegas, dan memiliki mata cokelat kini berdiri dihadapannya. Atreya terbelalak lebar, ia tercekat pilu melihat sosok dihadapannya. Dengan cepat Atreya segera ingin menutup pintu kamarnya kembali, namun lengan kuat milik Matthew segera menahannya.
"Kau ingin menghindar lagi?" dengan sekali dorongan saja pintu itu langsung terbuka. Atreya tak mampu melawan kekuatan laki-laki itu.
"Anda jangan kurang ajar ya, saya bisa panggilkan security karena anda masuk ke kamar hotel orang lain tanpa permisi, apalagi secara paksa begini." ancam Atreya panik. Namun Matthew malah terkekeh geli mendengar ancaman tersebut.
"Terus apa yang kamu lakukan 6 tahun lalu dikamar hotelku? bukannya kamu juga melakukan hal yang sama? bahkan merampas hati dan pikiran ku yang hampir gila karena terus memikirkan dan mencarimu kemana-mana."
Atreya membulatkan matanya sempurna. Bibirnya tercekat tak bisa berkata-kata lagi. Memorinya kembali saat dirinya dijebak Jessie yang entah alasan apa dia menjebak Atreya, hingga mabuk dan bercinta dengan laki-laki dihadapannya.
Tiba-tiba kepalanya menjadi pening, penglihatannya perlahan menjadi buram. Tubuhnya mendadak oleng, dan,
BRUKK!
Atreya pun jatuh pingsan dihadapan Matthew. Pria itu panik dan langsung merengkuh tubuh Atreya, lalu membaringkannya ke atas tempat tidur.
Disaat yang bersamaan Satria dan Casey datang. Mereka menyaksikan bagaimana tubuh Atreya direngkuh oleh laki-laki lain yang tak lain adalah Atasan Satria dikantornya, sekaligus owner dari hotel dan resort mewah ini.
.
.
.
__ADS_1
.