
Keluarga William Polan memiliki beberapa villa salah satunya villa yang terdapat didaerah perkebunan dan pertanian di wilayah Jerman bagian timur tersebut. Mereka juga memiliki lahan pertanian yang mempekerjakan banyak warga di daerah sana. Hasil produksi pertanian utamanya yaitu susu, ****, sapi, unggas, kubis dan bit gula. Juga memproduksi wine, buah, sayur dan produk horticultural lainnya memainkan penanan penting.
Atreya sangat tertarik untuk pergi ke tempat itu. Mungkin dirinya akan merasa terobati dengan rasa rindunya terhadap Indonesia. Ia bisa kembali melihat perkebunan yang hijau-hijau serta suasana yang menyegarkan mata.
Mereka mengantar Matthew ke bandara meskipun sudah dilarang. Atreya beragumen istri mana pun sudah sewajarnya mengantar suaminya pergi. Matthew tidak bisa membantah lagi karena khawatir Atreya malah jadi curiga, apalagi dengan adanya Bella dan Satria diantara mereka, akhirnya Matthew membiarkan istri dan anaknya itu mengantarnya.
“Sat, aku titip mereka padamu” ujar Matthew seraya menepuk bahu satria sebelum naik ke pesawat jet pribadinya.
“kau yakin aku tidak perlu menemanimu?” Tanya Satria
“Tidak perlu, Kamu disini saja bersama mereka.” sahut Matthew, lalu memajukan kepalanya mendekati telinga Satria untuk berbisik “tapi ingat, Sat. kau hanya perlu mengawasinya saja, jangan terlalu dekat dengan istriku” ujarnya terkesan mengingatkan.
“Ck!! Kalau begitu kau sewa saja bodyguard untuk mengawasi mereka. Jangan suruh aku. Lagipula pekerjaan dikantor pasti menumpuk selama kau pergi nanti.” sahut Satria berdecak kesal.
Memang ada benarnya juga apa yang diutarakan Satria barusan. Selama Matthew pergi, urusan semua dikantor menjadi tanggung jawab Satria selaku asistennya. Terlebih lagi Bella diminta Matthew untuk menemani Atreya
selama di villa. Jadi sudah pasti pekerjaan Bella juga akan di handle oleh Satria.
“Baiklah. Kau hanya perlu mengantar mereka ke Villa saja. Setelah itu kamu boleh kembali dan bekerja seperti biasanya. Aku akan minta Jhon untuk menyusulnya ke Villa.” ujar Matthew, dan Satria akhirnya menyetujuinya.
Setelah jet pribadi milik Matthew pergi, dari sana, bersama Satria dan Bella, mereka langsung pergi ke lokasi villa.
*****
Begitu memasuki area villa, Atreya disuguhi taman bunga cantik seperti dirumahnya. Namun taman ini lebih luas dua kali lipatnya. Ada bunga tulip, Rosa osiria, ester, freesia, begonia, cornflower dan entah apa lagi tersusun cantik di sana dengan warna-warni yang menyegarkan mata.
Villanya sendiri sangat mewah, rumah dua lantai itu tetap bergaya modern minimalis dengan sentuhan kayu disana sini. Dindingnya semua terbuat dari kaca, mulai dari lantai hingga langit-langit yang hanya ditutupi tirai. Membuat sentuhan hangat sinar matahari bisa langsung dirasakan dari dalam rumah, sekaligus menikmati pemandangan disekitar.
__ADS_1
Tidak hanya itu, villa itu dilengkapi dengan kolam renang, lapangan basket, hingga jogging track menuju sebuah air terjun buatan dibelakang villa. Sepertinya Atreya dan Casey bisa betah berlama-lama tinggal disini. Mereka juga sudah disuguhi beraneka rupa panganan khas oleh Luke dan Dorothy, Ibu dan anak itu sudah lama bekerja disana, mereka bertugas menjadi pengurus di villa tersebut.
Salah satu panganan yang dihidangkannya adalah Gulaschsuppe. Menu lezat ini terbuat dari bahan baku daging, kentang, tomat dan juga rempah-rempah khas dari negara tersebut. Namun bukan merupakan sajian steak atau juga sosis, tapi disajikan berupa sup. Sup dengan kuah yang kental serta berwarna merah.
“Ini enak sekali, Ma” ucap Casey setelah menyantap sup itu dengan begitu lahapnya.
“Iya, sayang. Cepat habiskan! Setelah itu kamu mandi ya!” seru Atreya seraya menatap hangat putranya yang tengah asik menyantap makanan itu.
“Kenapa harus mandi sekarang? Ini belum terlalu sore. Aku mau bermain diluar dulu, Ma.” Protes Casey seraya mencebik.
Atreya mengerjap, “bermain apa sih? Apa kamu gak cape, Cas?”
Bocah itu menggeleng. “tadi didepan gerbang aku lihat ada banyak kambing. Aku mau lihat lebih dekat lagi, Ma”
“Kambing?” Atreya mengernyit. “Mama gak lihat tuh" perempuan itu nampak bingung.
“Mama gimana sih, masa gak lihat? aku saja melihatnya kok” Casey mencebik kesal karena sang Mama meragukannya.
"Oya? masa?" Atreya sengaja menggodanya karena merasa gemas dengan bocah itu.
"I'm not a liar, Ma!!" seru Casey seraya menatap dalam sang mama.
“Casey benar, dia gak bohong. Memang 500 meter didepan villa ini ada ternak domba milik paman Wiliam juga” ujar Bella yang baru datang dari arah dapur seraya membawakan teh hijau hangat untuk Atreya dan juga dirinya.
"Mama lihat kan, kalau aku gak bohong? bibi Bella mengetahuinya kok."
“Iya, sayang. Mama percaya kok. lagipula mama kan cuma bercanda” Atreya terkekeh karena berhasil membuat anaknya itu kesal. Setelah mendengar penjelasan dari Bella, barulah ia percaya dengan pernyataan Casey yang tadi melihat kambing.
__ADS_1
“Casey, kamu ingin melihat domba-domba gemuk itu?” Tanya Bella melirik sang bocah sambil salah satu tangannya memberikan salah satu cangkir teh yang dibawanya pada Atreya.
“Aku mau, Bibi. Aku mau sekali” seru Casey sangat kegirangan.
“Kalau begitu ikutlah denganku, Ayo!!” Bella menyeruput tehnya sekali lalu segera menyimpannya di atas meja. Gadis itu segera menggandeng Casey dan membawanya keluar.
“Hey, kenapa kalian malah meninggalkan ku? Tunggu aku ikut!!” teriak Atreya baru menyadari dirinya sudah ditinggal Casey dan Bella. Ia pun segera menyusul mereka keluar dari villa tersebut. Atreya sekilas melirik jam tangan yang melingkar ditangan kanannya. Jam masih menunjukan pukul empat sore, masih ada waktu dua jam lagi untuk Casey bermain diluar, karena lepas jam enam sore, Casey sudah terbiasa bermain dirumah saja sampai saatnya makan malam dan waktunya tidur.
“Kalian mau kemana?” Tanya Satria saat berpapasan didepan villa. Dia baru saja mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil.
“Casey penasaran ingin ke peternakan domba milik kakeknya” ujar Atreya. “kamu mau ikut bersama kami?” Tanyanya kemudian.
“Ehmm, tidak. Aku lelah sekali setelah beberapa jam menyetir. Lagipula nanti malam aku harus kembali karena besok harus bekerja” sahut Satria.
“Apa tidak bisa menginap semalam saja disini? Besok pagi baru kembali. Jalanan menuju ke kota sangat sepi, Sat. apalagi dimalam hari” ucap Bella member saran. Gadis itu Nampak mengkhawatirkan Satria.
“kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja” jawab Satria seraya menatap Bella. Sejenak mereka saling pandang satu sama lainnya. Sampai akhirnya kedua pandangan mereka teralihkan saat mendengar teriakan Casey yang sudah berjalan lebih dulu.
“Ayo!! Kalian orang dewasa sedang membicarakan apa sih?”
Satria dan Bella pun tertawa mendengar ucapan sang bocah, sementara Atreya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, Dia bangga melihat Casey yang kini sudah semakin pintar dan lebih kritis dalam berfikir
dan bertanya sesuatu yang tidak diketahuinya. Casey juga selalu penasaran dengan hal apa pun yang membuatnya tertarik.
.
.
__ADS_1
.