Lovely Atreya

Lovely Atreya
Menghadiri pesta pernikahan


__ADS_3

Atreya menatap bayangannya di cermin sekali lagi. Gaun malamnya benar-benar indah. Berwarna abu-abu tua dengan taburan payet seperti kristal dimana-mana, seperti membuat dirinya bersinar jika kristal itu tertimpa cahaya. Potongannya seperti gaun cinderella yang mengembang dibawah, dengan model kemben yang ditutupi dengan selendang panjang sutera berwarna hitam, menyembunyikan perutnya dengan aman tapi tetap menonjolkan bentuk tubuhnya yang langsing. Serasi dengan tas tangan jimmy choo-nya yang menawan. "Wow, kamu cantik sekali" puji Bella saat melihat penampilan Atreya yang akan menghadiri pesta resepsi pernikahan Steve dan Cathy.


Steve dan Cathy sebetulnya sudah melakukan prosesi pernikahan sakralnya itu kemarin. Namun hanya dihadiri oleh kerabat dekatnya saja, dan malam ini mereka menyelenggarakan resepsi pernikahannya disebuah hotel milik kedua orangtua Cathy.


"Itu karena gaun ini pilihanmu, Bella. Aku tidak pandai memilih gaun pesta" sahut Atreya, lalu berjalan ke arah jendela apartemen Bella. Berdiri memandangi lalu lalang kendaraan yang nampak sangat kecil dari atas sana.


Bella tersenyum, gadis itu pun tak kalah mempesona sebetulnya. Gaun model mermaid warna peachnya bertali spagethy yang manis, melekat ketat ditubuh langsingnya dengan belahan ditengah paha, sungguh seksi dan anggun sekaligus. Sepatu louboutin berhak lancip berwarna senada menghiasi kakinya yang jenjang. Dengan tiara tiruan kecil dikepalanya, Bella serupa princess yang tengah menunggu pangeran berkuda putih dipesta dansa.


"Kau tau, Bella? Aku merasa tidak seperti diriku sendiri" ujar Atreya ragu tanpa mengindahkan pandangannya dari jendela lebar itu. "Apalagi Matthew tidak bisa ikut, rasanya aku malas sekali untuk datang. Tapi tidak enak juga bila kita tidak menghadiri pesta pernikahan mereka."


Dokter Steve memang tidak memperbolehkan Matthew untuk datang ke pestanya, mengingat kesehatan Matthew yang naik-turun, juga harus memperhatikan kondisinya yang harus tetap steril.


Bella lalu mendekati Atreya yang masih gamang didepan jendela, menepuk pundaknya hingga sesaat Atreya pun tersentak lalu menatapnya.


"Apalagi aku, wanita mana yang sudi mau datang ke pesta pernikahan mantan kekasihnya?" ujar Bella dan sukses membuat Atreya membulatkan kedua matanya melotot tak percaya.


"What? mantan kekasih, maksudmu apa?" tanya Atreya mengerutkan keningnya.


"Steve itu dulu kekasihku, kami berhubungan sudah lama bahkan sejak aku masih kuliah. Tapi kedua orangtuanya menjodohkan dia dengan seseorang. bahkan aku tidak menyangka kalau ternyata Cathy lah wanita yang dijo---"


"Jadi laki-laki yang meninggalkan mu demi wanita pilihan orangtuanya itu ternyata Steve? pantas sewaktu dirumah sakit itu sepertinya Steve mengenalmu." Atreya langsung memotong kalimat Bella dan menerkanya. Bella pun hanya mengangguk pasrah. "apa Matthew tau tentang ini?" tanya Atreya lagi.


Bella menggeleng. "Selama aku dan Steve berhubungan, Kak Matthew tidak pernah bertemu dengannya. Yang tau hanya Mommy dan paman William" ujar Bella terkekeh lalu mengibaskan tangannya, "sudahlah, Aku sudah bisa move on sekarang. Jadi gak masalah Dia mau berhubungan dengan siapa, nikah sama siapa. I don't care!" ungkap Bella mengingkari dirinya sendiri.


"Yakin kamu mau datang, Bell?" Atreya mengernyit, ia merasa sanksi dengan ucapan Bella barusan.


"Hey, kau pikir aku akan nangis kejer-kejer begitu? NO!! a heartbreak is a blessing from God. It’s just his way of letting you realize he saved you from the wrong one." ujar Bella tertawa.


(Patah hati adalah berkah Tuhan. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkanmu dari orang yang salah)


Kalimat Bella membuat Atreya sedikit tercenung. Ia salut dengan adik sepupu iparnya ini yang selalu tampak ceria seperti tidak pernah menemukan masalah. Padahal sesungguhnya hatinya tengah patah hati berkepanjangan.


TING TONG!!


Suara bel apartemen Bella berbunyi, dengan cepat Bella beranjak untuk membukanya.

__ADS_1


"Nah, ini dia orangnya datang!!" seru Bella saat Satria sudah menampakkan diri didepan pintu untuk menjemput keduanya.


"Kalian sudah siap, Ladies?" sapa Satria, lelaki itu terlihat sangat berbeda malam ini. Memakai setelan jas hitam gelap dengan sepatu kulit asli membuatnya terlihat semakin keren. Rambutnya yang biasa berantakan kali ini sengaja dibuat rapi dan klimis. Matanya tak lepas memandang Atreya dan Bella secara bergantian.


"Sudah dong, ayo berangkat!! nanti kita terlambat" ucap Bella cepat.


"Yuk" ujar Atreya pendek.


Mereka pun akhirnya berangkat menuju hotel tempat digelarnya pesta resepsi pernikahan Steve dan Cathy.


*****


Tak terasa mereka sudah memasuki hotel tempat pesta resepsi itu berlangsung, mobil sudah dalam antrian drop-off. Saat Satria sudah benar-benar berhenti, dan seorang pelayan membukakan pintu mobil mereka, sebelumnya Satria berbicara pada keduanya. "Kita disini sebentar saja ya, tidak harus menunggu acaranya sampai dengan selesai."


Atreya dan Bella mengangguk paham. Maksud Satria yang sebenarnya dia tidak ingin Atreya menjadi kelelahan ditengah kehamilannya. Ditambah Satria juga tidak ingin melihat Bella kembali bersedih setelah kemarin gadis itu menceritakan semuanya pada Satria kalau calon suami Cathy itu adalah Steve, yang tak lain lelaki yang memutuskan hubungannya dengan Bella ditaman waktu itu.


Saat keduanya tiba di ballroom hotel yang sudah cukup ramai dengan para tamu undangan, Sesaat Atreya teringat saat resepsi pernikahannya dengan Matthew waktu itu. Ruangan luas yang dihias sedemikian rupa, dengan ornamen merah dan emas disana sini. Tapi yang paling menarik perhatian Atreya adalah tiga buah lampu kristal yang menggelantung megah dilangit-langit ruangan. Chandelier itu terdiri dari tiga susun dengan kristal-kristal putih mengkilap. Berkelap kelip serupa bintang dilangit malam.


Kenapa mirip sekali dengan ornamen saat resepsi pernikahan ku dulu? tidak mungkin kan kalau event organizer nya sama?


Atreya mengernyit heran. Namun segera ia akhiri karena semuanya hanya absurd. Kini ia malah seperti berada di film cinderella. Menghadiri pesta dansa, namun tanpa seorang pangeran yang teramat dicintainya. Atreya segera menepis imajinasinya sendiri.


"Perlu ku antar?" Bella menawarkan diri.


"Tidak perlu, kalian duluan saja. Aku tidak akan lama, kok" ucap Atreya lalu beranjak menuju papan alumunium bertuliskan 'water closet' diujung ruangan ballroom ini.


"Tuan Satria" sapa seorang pria jangkung dengan sorot mata tajam. Dari pakaiannya yang necis seperti tamu-tamu lain, bisa dipastikan dia seorang pemimpin perusahaan besar seperti Matthew. Tangan kanan Satria yang bebas langsung menyalami pria itu.


"Hallo, Tuan Thomas" ujar Satria tersenyum formal.


"Saya dengar Tuan Matthew sedang sakit ya? Lantas sekarang siapa yang menggantikan posisinya untuk sementara ini?" tanyanya lagi.


"Sementara ini masih bisa dihandel olehnya dari rumah sakit, Tuan Thomas" sahut Satria ramah.


"Oya? Tuan Matthew memang hebat. Ditengah sakitnya itu ia masih memikirkan pekerjaan. Tapi bukankah Tuan William memiliki dua putra? kenapa tidak dialihkan dahulu kepada putra pertamanya itu?"

__ADS_1


Satria hanya tersenyum, rasanya bukan ranah dia untuk menjawab pertanyaan itu. "Maaf Tuan, kami akan menemui kedua mempelai dulu."


Tangan Satria menarik lengan Bella untuk segera beranjak dari sana. Keduanya mendekati pasangan pengantin yang tengah berbincang dengan beberapa tamu undangan lainnya.


"Selamat, Nona Cathy" sapa Satria.


Cathy menoleh ke arah sumber suara, nampak disana ada Satria dan Bella.


"Oh, Hai... Satria, Bella?" Cathy begitu terkesiap saat melihat Asisten dan Sekertarisnya Matthew sudah berdiri dihadapannya. "Lho, Atreya mana? Matthew bilang dia akan datang" tanya Bella langsung mengedarkan pandangannya.


"Atreya sedang ke toilet, sebentar lagi menyusul kemari" sahut Satria.


"Oh, aku kira Atreya tidak datang" ucap Cathy merasa lega. Lalu perempuan itu memanggil Steve yang masih asik mengobrol dengan rekan-rekan sejawatnya. "Sayang, kemarilah!"


Degg!!


Bella tercekat saat kembali melihat wajah tampan Steve berbalut setelan tuxedo putih yang menawan. Begitu juga dengan Steve yang nampak terpesona dengan penampilan Bella bak putri cantik yang imut dengan mahkota tiara kecil dirambut atasnya.


"Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua, Nona Cathy, Tuan Steve" ucap Satria memberikan ucapan selamat.


"Wishing you a lifetime of happiness together and a love that grows stronger with each passing day" tambah Bella kepada kedua pengantin baru itu seraya tersenyum tipis.


"Owh, so sweet... thank you so much, Bella" Cathy memeluk Bella seperti pelukan seorang kakak kepada adiknya. Mereka memang sudah lama saling kenal, selain Cathy sebagai teman sekolah Matthew dulu, Perempuan itu juga tetangganya. Tempat tinggal kedua orangtua Cathy dulu berdekatan dengan kediaman William.


"Haii!!" seru Atreya yang tiba-tiba datang tak lama kemudian. Seruan tersebut membuat semuanya mengalihkan pandangannya. "Happy wedding buat kalian berdua... semoga langgeng sampai kakek nenek"


"Thank you, Atreya. Aku senang sekali kamu datang." Sesaat Atreya dan Cathy berpelukan bahagia.


"Terimakasih, Atreya" ucap Steve.


Atreya hanya mampu membalasnya dengan senyuman. Karena menurutnya, terkadang kesedihan dan luka hati tak semestinya selalu dibagi. Kadang, kita hanya perlu kuat-kuat menyimpannya dalam hati dan senantiasa selalu bersabar.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.... karena komentar dari pembaca itulah yang bikin akunya jadi semangat menulis 😉


__ADS_2