
Pintu ruangan IGD terbuka. Para petugas medis keluar dari sana. Atreya segera melepaskan rangkulannya dari Bella dan berlari mendapati mereka.
Bella dan Satria ikut berdiri dan menyusul Atreya dibelakangnya.
“Bagaimana keadaannya? Suami saya sakit apa, dok?” cerca Atreya dengan mata penuh harap sambil mengunci tangannya didepan dada.
“Suami anda sekarang sudah sadar, Nyonya” ucap seorang dokter yang menanganinya.
“Ah, syukurlah” ucap Atreya lega sambil mengusap dadanya. Ia berpaling melihat Bella. Bella segera mendekat dan kembali memberi dukungan dengan mengusap-usap bahu Atreya.
“Tapi---“ dokter itu tidak melanjutkan kalimatnya, dan sukses membuat rasa lega Atreya tiba-tiba menjadi sirna, dan berubah kembali menjadi kecemasan.
“Tapi apa, Dok?” tanya Atreya tidak sabar.
“Sebaiknya anda segera menemui Dokter Steve diruangannya” ucap Dokter itu kemudian.
DEKKK!!
Atreya kaget saat Dokter itu mengatakan kalau dirinya harus segera menemui Dokter Steve.
Ada apa ini? Bukankah Dokter Steve itu dokter spesialis onkolog? Apa hubungannya dengan penyakit Matthew? Ya Tuhan, aku tidak mau menduga-duga. Tapi tolong yakinkan aku bahwa suamiku itu baik-baik saja.
“Dimana ruangan Dokter Steve?” tanya Atreya ingin segera mengetahuinya.
“Mari, Nyonya. Saya akan menunjukannya pada anda”
Atreya dan Bella segera mengikuti langkah Dokter muda itu untuk menuju ruangan Dokter Steve. Sementara Satria diminta Atreya untuk menjaga Matthew, karena sebentar lagi Matthew akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap.
*
“Steve, apa yang terjadi dengan Matthew? kenapa aku diminta menemuimu? ini tidak ada hubungannya dengan penyakitnya?” lagi-lagi Atreya memberondong pertanyaan setiba dirinya diruangan dokter ahli kanker itu.
Namun tatapan terkejut Steve bukan pada Atreya yang tiba-tiba saja mencerca pertanyaan tersebut, melainkan terkejut dengan sosok gadis yang berada persis dibelakang Atreya.
Bella? kenapa dia bisa bersama Atreya? Apa mereka berteman?
Begitu pula dengan Bella yang cukup terkejut saat melihat kembali mantan kekasihnya itu. Gadis itu memang sudah curiga dari awal sejak Dokter tadi menyebut-nyebut nama Dokter Steve. Namun Bella tidak mau ambil pusing, yang sekarang menjadi prioritas gadis itu adalah kakak sepupunya, Matthew.
“Dokter Steve!!!” sentak Atreya karena pertanyaannya merasa di abaikan.
“Ah, iya, Bella. duduklah!!” Steve sampai salah memanggil nama. “eh, maksudku Atreya, duduklah!!” Steve segera meralatnya.
Atreya sejenak mengernyit, namun segera kembali fokus ke tujuan awalnya. “ada apa ini sebenarnya Steve?” tanya Atreya setelah dirinya menjatuhkan tubuhnya diatas kursi, dan duduk berhadapan dengan Steve. Begitu juga dengan Bella yang selalu setia menemani Atreya, dia pun duduk disebelahnya dengan menghindari tatapan dari Steve yang terus memandangnya sejak dari awal tadi. Kini tatapan Steve beralih ke wajah Atreya yang menyiratkan wajah cemas dan kekhawatiran begitu dalam.
“Sudah setaun ini Matthew mengidap leukemia” ucap Steve, dan sukses membuat Atreya begitu terkejut dan tak percaya dengan pendengarannya barusan.
“Tidak mungkin. Matthew baik-baik saja, dia tidak pernah mengeluh sakit apa pun selama ini. Kau jangan mengada-ngada, Steve.” Atreya berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja. Namun kata hatinya tetap tidak bisa tenang. Steve tidak mungkin main-main dalam hal ini, apalagi dia seorang Dokter yang disumpah untuk tidak main-main dengan perkerjaan mulianya tersebut.
__ADS_1
“Aku tau kamu akan syok mendengarnya, Atreya. Namun kali ini aku tidak bisa menyembunyikannya lagi seperti yang Matthew minta selama ini” ujar Steve.
Bola mata Atreya terbelalak, namun dirinya tak mampu lagi berucap. Terlalu shok jika itu memang benar. Baru saja tadi pagi mereka mendapat kado istimewa dari dokter Marissa, yang menegaskan bahwa mereka akan segera kembali memiliki buah hati, tapi sore ini malah mendapat pernyataan yang membuat kebahagiaan Atreya seakan sirna begitu saja.
“Kamu jangan main-main, Steve!! Kakak sepupuku itu sehat, dia tidak punya riwayat sakit apapun selama ini” kali ini Bella yang angkat bicara.
Ooh, ternyata Bella sepupunya Matthew? Kenapa aku baru mengetahuinya, pikir Steve dalam hatinya.
“Aku maunya seperti itu, Bell. Tapi itu lah hasil diagnosis yang sebenarnya. Penyakit leukemia sudah menyerangnya setahun yang lalu, dan kini berada di stadium tiga awal” ujar Steve lagi dengan berat hati. “aku sudah menyarankannya untuk melakukan kemoterapi sejak dulu. Tapi Matthew tidak mau, dia malah lari ke Iuar negeri saat itu, dan mengabaikan penyakitnya. Baru kemarin Matthew akhirnya mengikuti saranku untuk serius melakukan kemo, dan beberapa pengobatan lainnya di rumah sakit Munchen.”
“What?” Atreya menatap tajam pada Steve. “Jadi alasan kemarin keluar kota itu untuk pengobatan? Bukan untuk urusan bisnis? Dan itu artinya kau dan Cathy sekongkol menyembunyikan semua ini dari ku?” cerca Atreya geram. Kedua matanya tampak sudah penuh dan mengembun, antara marah dan sedih kini menjadi satu didalam dadanya yang sudah terasa sesak.
“Maafkan aku, Atreya. Semuanya karena permintaan Matthew sendiri. Dia tidak mau membuatmu khawatir dan berse---“
PLAKK!!!
Satu tamparan tepat mengenai pipi kiri Steve lumayan kerasnya.
“Dokter macam apa anda ini, menyembunyikan hasil diagnosa si pasien dari keluarganya? Anda bisa saya tuntut, Dokter Steve!!” ujar Atreya murka, namun tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang sangat dalam diraut wajahnya.
Bella terkejut dengan sikap Atreya, ia tidak menyangka Atreya akan berani menampar Steve. “Sudah, Kak!! Tenang dulu” Bella berusaha menenangkan Atreya sambil mengelus-ngelus punggungnya. “yang terbaik saat ini bukan saling menyalahkan. Tapi tindakan cepat apa yang kita lakukan agar kak Matthew bisa sembuh” ujar gadis itu bijak, dan membuat Steve merasa kagum dengan sikap mantan kekasihnya itu.
“Aku takut, Bell. Aku tidak sanggup bila terjadi apa-apa dengannya. Tidak, aku tidak mau itu terjadi” Atreya menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. Tubuhnya kini terasa begitu lemas. Air mata Atreya mengucur deras, tangannya mencengkram lengan Bella yang duduk berdampingan dengannya, sementara wajahnya menatap Steve begitu tajam. “katakan padaku, apa yang harus kita lakukan agar suamiku bisa sembuh dari penyakit itu?” tanya Atreya disela-sela isak tangisnya.
“Tenanglah, Atreya, aku akan berusaha menyembuhkan Matthew. Dan yang bisa kami lakukan sekarang ini selain dengan kemoterapi atau terapi radiasi, mungkin bisa melakukan transplantasi sel induk.” Ujar Steve.
“Maksudmu mengganti sumsum tulang?” terka Bella.
“Dari mana kita bisa mendapatkan donor sumsum tulang yang sehat itu?” tanya Atreya serius sambil menyeka sisa air mata dipipinya.
“Kira-kira 30 persen pasien, bisa mendapatkan donor dari anggota keluarga yang benar-benar memiliki sel yang cocok. Jadi, transplantasi haploiddentikal memang cenderung lebih mudah ditemukan di antara anggota keluarga besarnya” ujar Steve.
Mendengar hal itu Atreya merasa ada sedikit titik terang. Dia bertekad akan mencari pendonor yang tepat untuk suaminya itu.
“Lantas, berapa persen kemungkinan keberhasilan transplantasi itu untuk kesembuhan Kak Matthew, Steve?” tanya Bella bergantian.
“Statistik keberhasilan tranplantasi untuk penderita leukemia menunjukkan bahwa sekitar 65 hingga 70 persen dinyatakan sukses. Tapi semua tergantung kondisi tubuh si pasien, apakah bisa menerimanya atau tidak. Apabila penyakit itu tidak kambuh pada dua tahun setelah proses transplantasi, pasien memiliki sekitar 80 persen kemungkinan untuk mendapatkan umur yang lebih panjang. Namun itu hanya prediksi dari ilmu kedokteran saja, karena kita pasti tau bahwa umur itu rahasia Tuhan kan?”
Bagi Atreya, rasanya ini seperti mimpi, dan ia berharap segera bangun dari mimpi buruknya ini. Namun ternyata ini nyata, Atreya sadar betul dirinya tidak sedang tidur. Kini tubuhnya pun terasa lemas hingga tak berdaya untuk bangun. Kedua kakinya gemetar, tak sanggup menopang dirinya lagi. Kepalanya seolah sudah berteriak kesakitan. Seluruh sel dalam tubuh Atreya pun sama-sama berteriak kesakitan. Segala yang ada di depannya berputar-putar. Makin kencang. Makin lama, semakin kencang. Dan semakin kencang….
Dan BRUKK!!
Atreya pun ambruk tak sadarkan diri ditempatnya.
*****
__ADS_1
Atreya…. Atreya!!
Alunan denting piano yang dimainkan Matthew terakhir kalinya terdengar mengalun samar. Mengusik alam sadar Atreya yang sedang menikmati kesunyian nan jauh disebuah tempat tak terjangkau. Menuntunnya untuk kembali ke realita hidupnya yang sangat menyesakkan dada.
“Atreya, sayang…”
“Mommy, itu suara Mommy Freya” Atreya memberi tahu dirinya sendiri. Suara mendiang Freya terdengar begitu lembut. Membuat Atreya ingin segera sadar sehingga bisa menatap wajah teduh ibunya itu.
“Kamu yang kuat, sayang. Anggap ini ujian untuk kehidupan kamu yang lebih baik. Mommy dan Daddy sangat menyayangimu.”
Atreya mendengar kalimat itu dari suara Mommy Freya dibawah alam sadarnya. Dia begitu sangat merindukannya.
“Atreya…” seseorang menyentuh kening Atreya. Membelainya pelan, Atreya mulai bisa merasakan sentuhannya. “sadarlah, nak!!”
Mata Atreya perlahan berkedut-kedut, kelopak matanya kemudian perlahan terbuka, “Bibi Lily…” gumam Atreya lemah.
“Iya, sayang. Ini bibi mu” Lily menyahut ambil menyentuh pipi atreya.
Atreya membuka matanya sempurna. Dia mengamati sekitar, kini dirinya berada diruang rawat inap rumahsakit. Atreya beringsut, berusaha bangkit dari tidurnya.
"Kau mau kemana, Rea?"
“Dimana suamiku? Aku ingin bertemu Matthew!!” Atreya tersadar dan langsung teringat sang suami yang tengah tergolek lemah dirumah sakit yang sama.
“Tenang, sayang. Matthew sedang beristirahat diruangannya. Lebih baik kau juga istirahat dulu, ingat kandunganmu.” Ujar Lily berusaha menahannya.
“Aku tidak apa-apa, Bi” Atreya menatap wajah Lily. Mata wanita itu sembab. Seperti matanya sendiri. Mungkin Lily juga shok mendengar kabar bahwa keponakan kesayangannya itu tengah mengidap penyakit berbahaya.
"Matthew sedang tidak bisa dikunjungi siapapun, sayang. Dia masih dalam penanganan dan pengawasan tim dokter. Bersabarlah, nanti kau juga akan bertemu dengannya" ujar Lily meyakinkan Atreya, berharap perempuan itu mengerti dan mau mengikuti anjurannya.
"Tapi dia baik-baik saja kan, Bibi?"
"Ya, tentu saja. Matthew itu kuat. Bibi yakin dia akan sembuh dan kembali bersama kita" jawab Lily, lalu memeluk tubuh Atreya yang masih terlihat lemah. Air matanya pun perlahan menetes dibalik bahu Atreya yang nampak ringkih itu.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan Votenya yang kenceng ya 🤗 Yuk... absen dulu siapa aja yang baca di chapter ini komen ya!! komen 'hai' doang juga gak pa-pa kok 😁
__ADS_1