
"Kau?" Atreya begitu terkesiap saat melihat lelaki bermata hazel yang sudah tidak asing itu. "jadi kau yang telah menculikku?" tuduh Atreya langsung. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, lalu kembali memalingkan wajahnya kepada gadis kecil dihadapannya.
"Geny, didepan ada Grandma baru datang, sebaiknya kamu temani grandma sebentar ya! Daddy mau bicara dengan Mommy mu ini" ujarnya seraya menyunggingkan senyuman miringnya pada Atreya. Sontak Atreya terkejut, apa maksudnya mengatakan seperti itu? dipikirnya Atreya ibu dari anak kecil itu?
"Mommy ku, Dad?" bocah itu pun tak kalah terkejutnya.
"Ya, dia itu Mommy mu, sayang. Dan dia akan bersama kita lagi disini" ujar lelaki itu.
"Benarkah itu? jadi bibi ini, Mommy?" Bocah bernama Dhyanda Genovefa itu pun kembali menatap Atreya yang masih diam mematung. Pikirannya benar-benar masih shock dan ngeblank. Apa maksud semua ini?
"Benar, sayang. tapi sekarang kau temani Grandma dulu ya, Daddy mau bicara sebentar dengan Mommy Laura." ujar Lelaki gila yang ternyata Andrew Achkerly O'Brien.
Lalu anak kecil itu tersenyum ke arah Atreya sebelum benar-benar pergi sesuai dengan permintaan laki-laki itu barusan.
"Maaf, apa maksud perkataan anda barusan, Tuan O'Brien?" tanya Atreya dengan tatapan tajam setelah memastikan bocah bernama Dhyanda itu pergi.
Andrew terkekeh, "perkataan yang mana ya?" tanyanya terdengar santai.
Atreya mendengus kesal, baru kali ini ia berhadapan dengan lelaki halu seperti dia. "Oke, aku akan mengulang pertanyaanku. Yang pertama, apa anda yang menyuruh dua pria asing itu menculikku? apa tujuannya? dan kenapa barusan anda mengatakan kepada anak itu kalau aku mama nya?" ucap Atreya dengan penuh penekanan.
"Hhmm... ya karena kamu memang Mommynya Geny!" ujar lelaki itu masih terdengar santai dan malah membuat Atreya menjadi kesal.
"CK! siapa itu Geny?" Atreya mendengus, "Anakku itu Casey dan Quinne" sahutnya lugas.
Mendengar hal itu wajah Andrew kini memerah, tanpa aba-aba dia langsung menarik rambutnya Atreya hingga perempuan itu meringis kesakitan.
"Aku tidak segan-segan melenyapkan mereka jika kamu tidak mengakui Dhyanda Genovefa anakmu. Kau mengerti?"
"A...apa maksudmu?" tanya Atreya seraya berusaha melepaskan rambutnya dari tarikan tangan Andrew.
"Aku bisa saja meminta pengasuh itu untuk melenyapkan bayimu, atau bahkan keduanya" Ancam lelaki itu sepertinya serius.
Atreya mengernyitkan, "Apa? kau benar-benar gila, coba saja kalau berani!!"
__ADS_1
"Hey, jadi kau menantang ku?" terlihat sekali wajah Andrew yang naik pitam, ia segera mengambil ponsel dari saku celananya, langsung menghubungi seseorang.
"Milly, apa kau sedang bersama bayi itu?" tanya Andrew setelah mendapat respon dari seseorang diseberang sana. dia lalu menekan loadspeaker agar suaranya juga bisa terdengar oleh Atreya.
"Iya, Tuan. Saya sedang memberikannya susu formula."
Atreya terbelalak mendengar suara Milly, pengasuh baby Quinne dari ponsel milik lelaki itu.
"Ada siapa saja disana?" tanya Andrew seraya menyunggingkan senyuman licik kepada Atreya yang beringsut tak percaya.
"Tuan Matthew dan Tuan Satria sudah pergi dari pagi tadi dan belum kembali. Casey sepertinya sedang dikamar karena hari ini dia tidak diperbolehkan sekolah dulu oleh Daddy-nya"
"Oke, terimakasih Milly, untuk informasi yang sangat berharga ini"
KLIK!! Andrew pun memutus sambungan ponselnya.
"Bagaimana? sekarang kau percaya, aku bisa saja melenyapkan mereka dengan sekali petikan jari saja?" Andrew tertawa lepas, seolah ia menang lotre.
"Brengsek, kamu!!" umpat Atreya. Dia masih tak percaya bahwa Milly, pengasuh yang baru tiga bulan ia ambil dari penyalur jasa baby sitter itu ternyata orang jahat, mungkin lebih tepatnya orang suruhan dari pria gila yang kini berdiri dihadapan Atreya.
Shit! banyak sekali penjaga didekat pintu gerbang itu. Bagaimana aku bisa kabur kalau seperti ini? gumamnya dalam hati.
Atreya kini merasa putus asa, ia tak tau lagi bagaimana cara untuk pergi dari rumah ini secepatnya.
"Ayo masuk!!" Andrew menyeret lengan Atreya, membawa kembali masuk keruangan tempat semula dia mengurung Atreya sejak kemarin.
"Apa mau mu sebenarnya, Tuan O'Brien?" tanya Atreya dengan kedua matanya yang mulai mengembun. Namun segera ia tepis karena itu akan membuat Andrew merasa menang melawan yang lemah.
Andrew mendorong tubuh Atreya ke atas tempat tidur, perempuan itu terperanjat dan kembali berdiri. Dia tak lagi takut dengan ancaman setiap orang, siapa pun itu. Pengalamannya yang sudah menjadikan dia sosok perempuan yang tegar dan tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya terutama kepada lelaki stres seperti Andrew. Namun ia tetap harus waspada, bagaimanapun dirinya seorang perempuan yang memiliki kekuatan fisik dibawah kaum lelaki pada umumnya.
Tangan Andrew kembali mencengkeram kuat lengan Atreya, “Mau ku, kau kembali menjadi istriku dan Mama untuk anak kita, Laura”
“Kau gila, Tuan O’Brien!! Aku bukan Laura!” Atreya segera menepis tangan Andrew dari lengannya. Namun tangan Andrew malah berpindah ke pipi Atreya, mencengkeram kedua tulang pipinya dengan sorot mata mengancam.
__ADS_1
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!! Aku tidak menyukainya, panggil aku Andrew seperti biasanya, mengerti?”
“Dasar tidak waras, aku tidak mungkin menjadi mama dari anak itu karena aku memang bukan mamanya” ujar Atreya seraya menggelengkan kepalanya karena merasa konyol.
“Laura, dengarkan aku!! Kalau perlu kita akan menikah lagi supaya ikatan cinta kita lebih kuat, bagaimana, kau setuju kan, sayang?”
Perkataan Andrew Sakin ngelantur dan membuat Atreya semakin jengah, “STOP, Andrew O’Brien!! Kau benar-benar sudah gila. AKU BUKAN LAURA!!” dia kembali menegaskan kepada lelaki stres dihadapannya itu.
“Hahahah....” Andrew malah tertawa.
GEPP!!
Andrew kembali menjambak kembali rambut belakang Atreya hingga perempuan itu berteriak kesakitan. “Aww, lepaskan baj*ngan!!”
Dengan tangan masih menjambak rambut Atreya, lelaki itu menunduk lalu mendekatkan wajahnya ke arah Atreya, menempel kan dahinya, hingga kini jarak hidung mancung mereka saling bersentuhan. Atreya berusaha mundur namun Andrew malah menarik maju pinggang Atreya dan menahannya.
“Kau mau apa?” lirih Atreya merasa dirinya terancam dengan situasi seperti ini. Namun Andrew malah tersenyum miring, tanpa aba-aba lelaki itu mencium bibir Atreya dengan paksa.
PLAKK!!
Atreya mendorong tubuh Andrew sekuat tenaga, serta mendaratkan satu tamparan di pipi Andrew dan membuat lelaki itu sedikit meringis seraya mengusap kilas pipinya tersebut, lalu mendorong tubuh Atreya hingga tersungkur ke atas tempat tidur.
"Itu yang aku suka dari mu, Laura" ucapnya menyeringai, dia segera beranjak keluar dari ruangan itu dan tak lupa mengunci pintunya dari luar.
Dasar stres! umpat Atreya mengerang.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya biar akunya semangat 😂 maaf nih slow up soalnya aku rada-rada badmood akhir-akhir ini. Jadi mungkin beberapa episode lagi akan tamat.