Lovely Atreya

Lovely Atreya
ternyata ulahnya


__ADS_3

BRUKK.


Tiba-tiba Atreya terjatuh ke lantai dan pingsan disebuah kafe hotel berbintang.


"Atreya."


Seseorang datang langsung menopang tubuh Atreya. diikuti dengan Adrian yang berdiri dibelakangnya.


"Mbak Atreya pingsan, Pak ?" tanya Adrian


"Kau berikan apa sampai dia jadi pingsan begini?"


lelaki itu melotot kearah Adrian yang kini berada dihadapannya.


"Sesuai dengan yang bapak minta, kan? hhmmm-- hanya saja, tadi obat itu tumpah semua ke minumannya." ucap Adrian terbata-bata.


"Dasar bodoh! bagaimana kalau dia mati? ku habisi kau!" lelaki itu tampak murka. "cepat panggilkan dokter! aku tunggu dikamarku segera."


"Na...baik, Pak." Adrian bergegas untuk menghubungi dokter.


"Atreya. Bangun Atreya!!" lelaki itu menepuk-nepuk pipi Atreya beberapa kali.


"Uuhhgg..." Atreya bereaksi, dia menggerakkan tubuhnya memberi respon namun kedua matanya masih terpejam.


"Aku akan membawamu ke kamar, berpegang lah !!"


Lelaki itu pun segera merengkuh tubuh Atreya yang lemas.


"A...antar aku pulang." lirih Atreya teramat pelan dengan kedua mata seolah terasa berat untuk membukanya.


"Aku tidak bisa mengantarmu pulang dengan kondisi seperti ini. Ayo berpegang lah!!" ucap lelaki itu hendak menekan tombol lift ke lantai atas.


Atreya Reflek melingkarkan kedua tangannya dileher lelaki yang tengah merengkuhnya itu.


Setelah Dokter memeriksa keadaannya dan menyatakan Atreya baik-baik saja, barulah lelaki itu nampak bernafas lega. Apa yang akan terjadi jika Aaron mengetahuinya. Sudah dipastikan dirinya akan habis dihajar Aaron dan Marshall seperti dulu. Ya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Matthew.


Tak sengaja Matthew mendengar pembicaraan Satria dan Alan dikantin kantor saat jam makan siang.


*Flashback.


"Jadi akhirnya Atreya mau lo ajak berkencan?"


bola mata Alan terbelalak.


"Ssstt! Pelankan suara lo, bodoh!" mau gak mau Satria harus membekam mulut temannya yang kurang mahir dalam mengontrol volume suara itu.


"Hahahaha..." rangkaian tawa puas merepet dari mulut Alan. Seiring dengan usahanya melepaskan diri dari bekapan tangan Satria.

__ADS_1


"Akhirnya temen gue yang satu ini akan melepaskan pelurunya juga." ledek Alan menyeringai.


"Sialan!" umpat Satria.


"Dimana kalian akan melakukannya?" tanya Alan sambil membuka korek api zipponya, lalu menyulut batang rokok yang baru saja dia tarik dari kotak milik Satria diatas meja kantin kantor.


"Gue sudah pesan kamar presidential suite di star hotel untuk besok lusa."


"Wiihh, Mantap bro."


"Mau gimana coba, tiga hari lagi gue berangkat. Pernikahan gue juga diundur. Jadi kita sepakat untuk melakukannya sebelum kita berpisah untuk sementara."


Alan menggelengkan kepala, sementara jari tangannya mengetukkan rokok ke bibir asbak.


"Jadi maksudnya Lo ngasih dia DP dulu nih" lagi-lagi Alan terkekeh.


"Gila! Lo pikir gue mau kredit motor" Satria mendengus dengan jalan pikiran Alan.


Sementara dimeja lain tempat para karyawan NEOTECH itu makan siang, seseorang tak sengaja mendengar perbincangan kedua staff pegawainya itu. Rahangnya mengeras kuat seakan ia tak terima atas apa yang sudah didengarnya barusan.


*flashback end.


*****


Presidential suite, Star Hotel.


Sorot matahari pagi menyeruak ringan, menembus tirai tipis yang melindungi jendela kamar termewah digedung pencakar langit berlantai 50 itu.


"Ehem." Atreya berdehem menjernihkan tenggorokannya, seiring dengan matanya yang terbuka secara perlahan. Tangannya meraih wajahnya dan mengusapnya ringan, lalu dia mengucek matanya sepintas.


Atreya kini terduduk diatas tempat tidur itu dengan pandangan menyapu setiap sudut diruangan tersebut. "Ini kan di hotel?" Gumamnya berusaha menggali ingatan yang seolah samar.


Menyeruak aroma bunga lavender bercampur lemon yang segar membuat ruangan ini sangat harum. Sungguh menenangkan.


Ingatan akan peristiwa semalam membuat Atreya jadi panik.


"Demi Tuhan! siapa yang membawaku ke kamar ini? Apa Satria? Dimana dia sekarang?" Pandangan Atreya menyebar ke seluruh ruangan itu. Dia mulai mengingat sedikit demi sedikit rangkaian kegiatan yang ia lakukan semalam. Atreya juga ingat saat dirinya direngkuh seseorang menuju lift. Dan sampai disitu ingatannya kembali buntu. Rasa kantuknya semalam benar-benar membuat dirinya tak mampu membuka mata, meski secelah pun untuk sekedar mengintip.


CKLEKK!!


Kerongkongan Atreya terasa tercekat. Nafasnya seakan disumbat oleh sesuatu yang tak kasat mata, saat seorang lelaki baru saja membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Dengan tubuhnya yang atletis hanya dibaluti handuk putih melilit di pinggang bawahnya. Terlihat sangat jelas otot-otot ditubuh lelaki itu, serta perutnya yang membentuk kotak-kotak bisa membuat perempuan siapa saja yang melihatnya akan terpesona.


"Kau?" Atreya tak bisa bergerak. Dia terpaku seakan disihir mantra ajaib.


Seperti dikutuk habis-habisan, sementara tubuhnya gemetar ketakutan. Rasa panik dan sesal menjalar di pori kulitnya. Air matanya pun tanpa diperintah langsung meluncur begitu saja dari kedua matanya. Bagaimana dirinya bisa terjatuh dilubang yang sama?


"Kenapa kamu disini? Jawab!"

__ADS_1


Di otak Atreya pertanyaan demi pertanyaan muncul terus menerus menghujamnya tanpa ampun.


"Aku hanya menemanimu tidur saja." ucap lelaki itu dengan santainya tanpa beban.


Dalam pikiran Atreya berterbangan segala impiannya yang kian musnah. Malam indah yang seharusnya bersama Satria, tetapi justru malah dengannya lagi.


"jangan berfikir macam-macam dulu. aku tidak melakukan apa-apa denganmu. kau bisa lihat kan, pakaian mu masih utuh. dan aku sama sekali tidak menyentuh mu semalam."


ucap Matthew lalu berjalan mendekati Atreya. menyentuh dagu Atreya seraya menatapnya dengan begitu tajam.


"Jangan lakukan itu lagi pada ku! kamu ini hanya milikku. tidak ada lelaki mana pun yang boleh menyentuh tubuh mu selain diriku, termasuk Satria."


Ucap Matthew dengan nada mengancam.


Atreya langsung menepis tangan Matthew dari wajahnya, lalu membuang muka. Perasaannya campur aduk, antara ingin murka tapi sekaligus juga pilu.


Ibu dari Casey itu hendak beranjak turun dari tempat tidurnya namun dengan cepat ditahan Matthew.


"Apa lagi? apa ke kamar mandi pun aku harus ijin dulu?" Atreya mendorong tubuh Matthew agar tidak menghalangi jalannya. Lelaki itu pun mengerat kan giginya namun tak mengucapkan apa-apa lagi. Dia membiarkan Atreya berjalan dan masuk ke kamar mandi.


Atreya berdiri didepan cermin besar yang ada dikamar mandi hotel mewah itu. Memandangi dirinya sendiri yang nampak berantakan. Rasanya dia sudah lelah untuk menangis dan meratapi angan-angannya yang tak sesuai dengan harapan. Kini dia pasrah dengan kehidupannya ke depan. Biarlah semesta ini yang mengambil peran. Atreya hanya ingin mengikuti alurnya saja.


Setelah Atreya selesai membersihkan diri, dia pun segera keluar dari kamar mandi hotel. Ia melihat lelaki itu tengah duduk disofa dengan pakaian yang sudah lengkap.


"Kamu mau sarapan dibawah, atau sarapan disini?" tanya lelaki itu begitu santai seolah mereka menginap disini sedang berbulan madu saja.


"Aku tidak lapar" sahutnya datar.


"Ayolah... kau belum makan dari semalam kan? nanti kamu bisa sakit."


"Cukup !! kamu gak usah perhatian seperti itu. jijik tau gak?!" bantah Atreya seraya mengambil clutch bag miliknya diatas nakas samping tempat tidur. "aku mau pulang" dia hendak memutar kenop pintu namun dengan cepat Matthew menarik tangan Atreya hingga kepalanya kini menempel didada bidang lelaki itu. Reflek Atreya mendorong tubuh itu agar menjauh.


"Minggu depan kita menikah. Kalau kau berani menolaknya, pengacara ku akan membawa Casey darimu." ancam Matthew.


PLAKK!!


"Brengsek ya kamu !!" Atreya menampar rahang tegas lelaki pemaksa itu saking kesalnya. Lalu kembali memutar badannya untuk segera keluar dari kamar itu.


Matthew hanya menyeringai seraya memegang tulang pipinya bekas tamparan dari perempuan yang selalu membuatnya penasaran. Kemudian dia sama-sama keluar dari kamar itu untuk menyusul Atreya.


"Atreya, tunggu!! aku akan mengantarmu pulang." teriaknya diantara koridor hotel.


Atreya masih bisa mendengar suara bariton itu meneriakinya. Namun ia tak menghiraukan dan tetap berjalan cepat menuju pintu lift. Dan tidak sampai satu menit, tubuh Matthew pun sudah berdiri berdampingan dengan Atreya menunggu lift terbuka. perempuan itu hanya bisa mendengus kesal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2