
Transplantasi sel induk mirip dengan transfusi darah. Selama prosedur, Matthew akan mendapatkan sel induk melalui central line. Ketika sudah masuk ke dalam tubuhnya, sel-sel induk akan mengalir menuju sumsum tulang dan mulai membuat sel-sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang baru.
Persiapan sebelum transplantasi sel induk bisa memakan waktu hingga sepuluh hari. Lamanya waktu yang dibutuhkan bergantung pada situasi medis, kesehatan umum, serta kebutuhan pasien untuk menjalani kemoterapi atau kemoterapi dan radiasi sekaligus.
Seminggu yang lalu, Matthew telah menjalani transplantasi sel induk tersebut. Kini ia berada ditahap pemulihan di rumah sakit.
Matthew tetap akan dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah menjalani transplantasi sel induk. Dalam beberapa hari pertama setelah transplantasi, tingkat sel darah akan terus turun. Kondisi ini disebabkan oleh kemoterapi atau terapi radiasi yang dia jalani sebelum transplantasi.
Setiap harinya, Dokter Steve selalu memantau kondisi darah Matthew selama 7-10 hari setelah transplantasi untuk melihat apakah sel-sel darah baru sudah mulai tumbuh.
Matthew akan dirawat di rumah sakit hingga sistem kekebalan tubuhnya pulih, dan Steve yakin bahwa transplantasi Matthew dikatakan berhasil. Selama perawatan di rumah sakit, Steve juga harus memantau dengan seksama efek samping dari kemoterapi, radiasi, dan beberapa infeksi yang harus Matthew hadapi.
***
Empat bulan kemudian,
Atreya seperti biasa melakukan aktifitasnya dirumah bersama Casey. Kehamilannya yang kian membesar membuat Atreya selalu menghabiskan waktu dirumah saja. Dokter Marissa selalu mengingatkan Atreya untuk tidak sering bolak balik ke rumah sakit untuk mengunjungi Matthew, dikarenakan kondisi Atreya yang diprediksi hari perkiraan lahirnya kurang lebih dua Minggu lagi, dan demi menjaga bayi dalam kandungannya agar terhindar dari virus-virus yang bisa saja menyerang. Perempuan itu mau tidak mau menurut saja karena William dan Lily pun memang melarang Atreya untuk tidak menemui Matthew sementara ini demi kebaikannya.
Sudah hampir tiga bulan sejak transplantasi sel induk itu Atreya belum bertemu lagi dengan suaminya tersebut. Mereka hanya menjalin komunikasi melalui telpon dan panggilan videocall saja, dan itu pun sudah cukup. Atreya merasa lega karena kondisi Matthew semakin membaik meski Steve belum memperbolehkan suaminya itu untuk pulang.
"Ma, kapan Daddy akan pulang? rasanya sudah setahun aku gak bertemu Daddy" ujar Casey sambil menyantap roti lapisnya sebelum dia hendak berangkat sekolah.
Casey sudah mulai masuk kelas elementary school dua Minggu yang lalu, bocah itu sedang semangat-semangatnya giat belajar dan pergi ke sekolah dengan diantar jemput oleh Jhon.
"Oya? Kamu berdoa saja, semoga Daddy cepat pulih dan bisa berkumpul lagi disini bersama kita" sahut Atreya tanpa menanggalkan senyum pada penyemangat hidupnya itu.
"Terus kapan dong adikku lahir? aku sudah gak sabar ingin lihat wajahnya, apa dia mirip denganku atau mirip Om Satria?" ujar Casey begitu polos.
"Husshh!! kok mirip Om Satria sih? siapa yang bilang begitu?" Atreya mengernyitkan dahinya.
"Om Satria yang bilang. Katanya, kalau adikku mirip dengan Om Sat, dia akan membawanya untuk tinggal bersamanya, katanya biar Om Sat tidak kesepian lagi."
Dasar kamu, Sat!! ada-ada saja ulahmu itu, bagaimana kalau orang lain mendengarnya? bisa-bisa salah paham nantinya, batin Atreya mengumpat, merutuki Satria yang selalu saja menjahili Casey dengan omong kosongnya.
"Terus kamu percaya?" tanya Atreya menatap intens pada putranya itu.
"Enggak" bocah itu menggeleng, "mana mungkin adikku mirip Om Sat, lahirnya saja dari perut Mama, kan? bukan dari perut Om Sat, berarti pasti mirip Mama." sahut Casey dan langsung mendapatkan kecupan manis dari sang Mama.
"Anak pinter..." sahut Atreya seraya mengusap lembut kepala Casey. "Ayo cepat habiskan sarapannya! kasihan, paman Jhon sudah menunggumu di luar"
__ADS_1
Casey pun mengangguk, lalu memasukkan semua suapan terakhir Sandwich itu kedalam mulutnya. Setelah itu dia bergegas mengambil ransel sekolahnya yang sudah disiapkan Atreya.
"Kenapa aku tidak boleh naik bis sekolah sih? Oliver dan Kelly saja tiap hari antar jemput pakai bis sekolah" protes Casey seraya mengerucutkan bibir mungilnya.
Bocah itu merasa iri dengan kedua teman sekaligus tetangganya yang pulang-pergi sekolah menggunakan bis sekolah berwarna kuning tersebut. Namun Casey sayangnya tidak diperbolehkan menggunakan sarana dari sekolah itu dengan alasan yang Casey sendiri belum bisa pahami. Alasannya karena dia seorang cucu dari William, juga Putra dari Matthew, mantan CEO NEOTECH. Kenapa disebut mantan? karena sejak transplantasi sumsum tulang itu berhasil, Kyle lah yang sudah mengambil alih NEOTECH sesuai dengan kesepakatannya dengan sang Daddy.
"Kok bahas itu lagi? Mama dan Daddy kan sudah menjelaskan padamu apa alasannya" sahut Atreya lalu menggandengkan Casey menuju ke depan rumah dimana Jhon sudah menunggunya.
Casey hanya mendengus kecil, dia tak lagi membantah ataupun merengek seperti biasanya. Sepertinya Casey hanya bisa manut saja, karena ia merasa percuma jika terus berdebat dengan orang dewasa yang selalu menganggap semuanya lebih benar dari seorang anak kecil sepertinya.
"Jhon, setelah mengantar Casey tolong mampir ke toko kue ya, titip belikan dominosteine" ujar Atreya. Entah kenapa ia ingin sekali memakan kue kesukaan Matthew itu.
Dominosteine adalah kue bercita-rasa manis berbentuk kubus yang terdiri dari beberapa lapis kue yang ditutup dengan icing yang biasanya menggunakan dark chocolate. Lapisan paling bawah terdiri dari Lebkuchen, bagian tengah terbuat dari jelly, dan lapisan paling atas adalah marzipan.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi akan mengantar Casey sekolah dulu" pamit Jhon setelah Casey sudah duduk manis di kursi penumpang belakang mobilnya.
Atreya hanya mengangguk, tersenyum pada Casey seraya melambaikan tangannya. Bocah itu pun sekilas membalas tangan sang Mama.
***
Untuk mengisi waktu luangnya, seperti biasa Atreya selalu menghabiskan waktu untuk membaca novel sambil duduk ditepian kolam renang seraya menjemur badannya.
Sejenak Atreya mendongak, "terimakasih, Mia. Kamu simpan dulu saja dimeja, nanti saya minum" ujar Atreya lalu kembali fokus ke buku tebal yang tengah dibacanya.
Mia mengangguk, segera menyimpan minuman itu ke atas meja kecil disamping kursi kayu yang tengah diduduki Atreya. "ada yang nyonya butuhkan lagi? barangkali mau saya ambilkan biskuit atau buah?" tawarnya lagi.
"Tidak, Mia. Terimakasih. Aku sudah meminta Jhon untuk membelikan kue dominosteine ditoko kue langganan ku."
"Oh, kenapa nyonya tidak bilang kalau menginginkan kue itu? aku bisa membuatkannya untuk nyonya" ujar Mia.
"Oya, kamu bisa membuatnya, Mia?" Atreya terbelalak. dan Mia hanya mengangguk malu sambil tersenyum.
"Kalau begitu next jika aku menginginkannya lagi, kau harus membuatkannya untukku, Oke?"
"Oke, nyonya" sahut Mia tertawa kecil, lalu berpamitan ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tak terasa sudah satu jam lebih Atreya membaca novel sambil berjemur didekat kolam. Atreya mulai bosan dengan kegiatan sehari-harinya yang monoton. Ia pun beranjak ke dalam rumahnya, hendak menuju ke kamar namun terhenti saat ia melihat piano hitam pemberian Matthew yang bertengger dipojok ruang tengah. Sudah lama ia tak pernah memainkannya lagi sejak hari itu, hari dimana Matthew jatuh pingsan setelah mereka bermain piano bersama.
Perempuan itu pun melangkahkan kakinya, lalu duduk di depan piano. Lantas mencoba mambaca partitur didepannya. Halaman lagu CANON IN D, Lagu yang ditulis oleh Johann Pachelbel, seorang komposer dan organis asal Jerman, yang sedang terbuka.
__ADS_1
Matthew pernah mengatakan itu adalah salah satu lagu mudah yang biasanya dipelajari bagi pemula seperti Atreya. Mudah apanya? Sudah beberapa kali latihan Atreya mencoba memainkannya, tapi tetap saja, jarinya seringkali tersesat, salah mengenai tuts yang seharusnya dia tekan. Membuat lagu itu tidak terdengar seperti seharusnya ditelinga Atreya.
You changed my face, I think I like it better now.
It doesn't matter anyhow, coz that's the way it is.
You said hello,
Well where the hell you been?
I said I feel like I've been off to war, and I may never be the same again.
I Made my bed,
Atreya berdendang mengiringi jari jemarinya yang canggung mencari tuts, dan dia menyerah saat gumamannya sangat tidak sesuai dengan nada piano yang dimainkannya. Sudahlah. Atreya beranjak dari piano, awalnya ia hendak berupaya mencari inspirasi untuk kegiatan hari ini agar tidak merasa bosan, tapi rupanya berlatih main piano tidak berhasil menstimulasi otaknya yang sedang buntu.
"Kenapa berhenti?"
Atreya tergeragap, ia reflek menoleh ke arah sumber suara, menatap kaget pada sosok lelaki yang sangat dirindukannya. "Matt?"
Atreya mengucek kedua matanya, memastikan apa yang dilihatnya itu benar-benar nyata. Ia melihat Matthew ditemani Satria serta Bella yang baru saja melangkah masuk dan berjalan mendekatinya.
"Bermain piano itu harus penuh penghayatan, kamu perlu mempelajari latar belakang lagu tersebut dibuat. Seperti apa perasaan Johann Pachelbel menciptakan komposisi CANON IN D. Dari sana kita dapat dengan tepat memainkan emosi yang ada di dalamnya" ujar Matthew melangkah lebih dekat ke arah Atreya yang masih menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Tak perlu menanggapi ucapan Matthew, pelukan Atreya pun segera menyambut kedatangan suaminya tersebut. Air mata pun berhamburan didada lebar Matthew yang terlihat lebih kurus dari pelukan terakhirnya dulu.
"I Miss you, Atreya..."
"Miss you so much, Matthew..."
Ada sebuah harapan didalam kerinduan, yakni sebuah pertemuan dalam kenyataan.
.
.
.
.
__ADS_1
Sudah Senin lagi nih, jangan lupa like, komen, and VOTE nya ya!! 🤗😁