
Dua hari pun berlalu.
"Mama... liat aku lagi main PS nih, Ma." teriak Casey saat melihat Atreya yang baru saja pulang dari kantor. Bocah itu sekilas mendapatkan ciuman yang mendarat di keningnya dari wanita yang dipanggil sebutan mama tersebut.
"PS nya pinjam dari kak Aldrich?" Atreya melirik stick ps yang dipegang Casey.
Bocah itu tak menyahut, ia malah asik menggulir jari-jari tangannya sambil menatap layar televisi. Bermain game grand theft auto (GTA) dilayar datar 42 inch yang menempel didinding tembok ruang tengah rumahnya.
"Bukan, ini punya ku kok" sahut Casey masih fokus ke layar besar dihadapannya. Hingga terlihat wajahnya bercahaya, karena pantulan dari sinar yang berasal dari layar lebar akibat jaraknya terlalu dekat.
Atreya mengernyit, ia merasa tidak pernah merasa membelikan PlayStation untuk anaknya yang baru menginjak 5,5 tahun itu. Bukannya tidak mampu membeli, tapi memang belum waktunya anak seusia Casey bermain dengan benda seperti itu.
"Ya Bu, itu punya dek Casey. Tadi sore Pak Matthew kesini dan memberikannya sebagai hadiah, katanya." Bi Ratna bantu menjawab.
"Apa? jam berapa dia kemari, Bi?" Atreya geram karena Matthew sekarang sudah berani datang kerumahnya setiap hari.
Untungnya Satria akhir-akhir ini jarang kerumah lagi karena kesibukannya di kantor. Dan yang bikin kini Atreya lebih marah, lelaki itu memberikan Casey sebuah PlayStation. Tanpa memikirkan dampak untuk anak seusia Casey. Apalagi mengajarkan anaknya bermain GTA sendirian tanpa pengawasan orangtuanya. Tau sendiri kan, game itu terkenal tentang aksi petualangan yang memungkinkan pemain untuk mengambil peran seorang penjahat, yang dapat berkeliaran dengan bebas di sekitar kota besar.
"Apa sudah gila, mencekoki permainan seperti itu pada anaknya sendiri yang masih kecil?" gumam Atreya jengah. Secara tidak langsung Atreya mengakuinya sendiri kalau Casey anak Matthew juga.
"Tadi sore, Bu. Pak Matthew tadinya mau nungguin ibu pulang, tapi katanya ada keperluan penting."
Jawab Bi Ratna seraya membereskan mainan mobil-mobilan Casey yang berantakan dilantai. sejak ada mainan baru itu, Casey tidak mau bermain mobil-mobilan lagi, dan dibiarkan tergeletak begitu saja dilantai rumahnya.
"Casey, matikan PS nya!!" pinta Atreya dengan nada menyentak hingga membuat Casey terperanjat, lalu reflek mendekap stick ps dalam dekapannya.
"Ayo kemari kan!!" Atreya melotot seraya menjulurkan telapak tangannya kehadapan sang bocah.
"Tapi Ma, Om Matthew bilang ini untukku. Bukan untuk Mama." sahut Casey menunduk ketakutan seraya mengerucutkan bibir mungilnya.
Atreya selalu gak tega bila melihat wajah Casey seperti itu. hatinya selalu luluh begitu saja, lalu ia pun langsung memeluknya.
"Sayang, Mama tau itu milik mu. Tapi boleh kan mama pinjam sebentar saja? permainan yang kamu mainkan ini untuk orang dewasa. Anak seusia Casey belum boleh, sayang. Bagaimana kalau mama ganti dengan permainan lain yang lebih seru dan banyak. boleh ?" bujuk Atreya lalu melepaskan pelukan Casey, dan menatap wajahnya dengan penuh kasih. Casey pun akhirnya setuju, lalu memberikan stick ps itu pada sang Mama.
"Ini mama matikan dulu ya. besok mama akan minta Om Satria untuk menginstal permainan yang cocok dan bagus untukmu."
"Lebih bagus dari kak Aldrich kan, Ma?" tanya Casey antusias.
"Iya sayang. Sekarang kamu cuci kaki, cuci tangan, dan gosok gigi diantar bi Ratna ya !! ini sudah jam 8 waktunya Casey---"
"Bobo..." sahut Casey memotong kata-kata sang mama. Atreya pun tertawa lalu mendaratkan kecupan lembut dipucuk kepalanya.
"Ayo dek!! Bibi antar ke kamar ya..." Bi Ratna menggandeng Casey menuju ke kamarnya.
"good night, prince."
"good night, Mama."
__ADS_1
*****
Atreya mengerjap saat mentari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar yang semalam kelupaan tidak menutup gordennya. Ia meregangkan otot-ototnya sebelum benar-benar terbangun dan turun dari tempat tidur.
Ini hari Sabtu, Atreya memang sengaja bangun siang karena menyadari kalau ini hari libur. Jadi ia bisa lebih santai dan ingin menghabiskan waktu dirumah sana.
Tunggu !! bukannya hari ini dia sudah ada janji dengan Satria untuk berkencan.
"Shit !! kenapa aku bisa melupakannya?" Atreya bergumam.
Mendadak ada sesuatu yang menyusup dihati atreya. Sesuatu yang mengganjal. Kenapa sih? Atreya menggigit bibirnya ragu.
Tidak akan ada apa-apa. Kami saling mencintai dan kami sudah dewasa.
Atreya menghalau sebersit perasaan ragu yang mengintip dibenaknya. Dia hanya perlu bersiap-siap hari ini. Mempercantik diri, mungkin dia perlu melakukan waxing dibeberapa bagian ditubuhnya. Dan mungkin luluran? agar kulitnya bisa terlihat lebih mulus. Ke salon juga agar rambutnya harum saat Satria nanti menciuminya. Benarkah ia akan melakukannya dengan Satria? dikamar mewah hotel bintang lima yang telah dipesan Satria dua hari yang lalu. Dia bersama sang kekasih akan mengukir sebuah kenangan yang tak lekang oleh apa pun.
Atreya beranjak dari tempat tidurnya, mematikan AC lalu berjalan kearah jendela kamar. Bermaksud ingin membuka jendela itu lebar-lebar, agar udara pagi bisa masuk dan bertukar dengan udara didalamnya. Namun kedua matanya terbelalak lebar saat menyaksikan pemandangan kurang mengenakan yang dia liat dari balik jendelanya.
Dia menyaksikan Casey yang tertawa riang bermain bola dengan---??
"Lelaki itu lagi. Ngapain sih pagi-pagi sudah bertamu kerumah orang? bikin bad mood saja" gerutu Atreya mendengus kesal.
Ia tidak jadi membuka jendela kamarnya. Atreya malah memilih beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
^^^^
"Pagi Bu, dek Casey sedang bermain di halaman rumah sama pak Matthew" sapa bi Ratna saat melihat Atreya datang menemuinya di dapur.
"Maaf Bu, tadinya bibi mau bikin nasi goreng, tapi tadi pak Matthew bawa empat kotak bubur ayam. Katanya buat sarapan pagi ini,bjadinya bibi gak jadi bikin deh, soalnya sayang nanti buburnya siapa yang makan."
Mendengar penjelasan dari bi Ratna, Atreya tak bisa berucap apa-apa. Ia pun melirik empat kotak Styrofoam yang masih utuh diatas meja makan.
"Casey sudah sarapan?" tanya atreya.
"Belum. Katanya nunggu ibu aja."
"Oh, ya sudah tolong bibi panggilkan Casey ya! kita sarapan sama-sama" ucap Atreya yang mulai bisa berdamai dengan keadaan.
Sekarang Matthew sudah tau kalau Casey adalah putranya. Atreya terpaksa mengakui setelah desakan dari Matthew dan juga Aaron. Awalnya dia sangat marah dengan Aaron yang membocorkan semua ini. tapi mau bagaimana lagi, semua memang bukan sepenuhnya kesalahan sang kakak. Dan mungkin scenario nya harus seperti itu.
"Mama, aku laper, Ma..."
Tak lama kemudian Casey datang digandeng bi Ratna. lalu duduk dikursi meja makan.
"Sudah cuci tangan?" tanya Atreya seraya membuka kotak Styrofoam lalu mengaduk bubur menggunakan sendok.
Setelah semuanya tercampur, lalu disodorkannya pada Casey. Dia sudah bisa makan sendiri menggunakan sendok dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Casey sudah cuci tangan tadi diluar" sahut Matthew yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Atreya. Tanpa canggung lelaki itu menarik kursi makan, lalu menjatuhkan dirinya duduk disamping Casey dan berhadapan langsung dengan Atreya. Mengambil jatah bubur ayamnya yang sengaja dia beli sebanyak empat porsi.
"Owh" sahut Atreya tak begitu menanggapi. "ayo duduk bi, kita sarapan bareng. Satu kotak lagi punya bibi kan ?" pinta Atreya pada bi Ratna yang masih berdiri.
"Ah nggak Bu, saya makan didapur saja" tolak bi Ratna sungkan dan canggung.
"Ayolah bi, jangan sungkan begitu dong. Aku sudah menganggap bibi itu keluarga ku sendiri." tutur Atreya.
"Tapi Bu, Sa...saya gak enak ada pak Matthew." sahut bi Ratna ragu.
"Memangnya ada apa denganku, Bi. Apa tampangku menyeramkan?"
Bukan menyeramkan lagi, tapi pembawa sial.
"Bu...bukan begitu, Pak. Saya hanya---"
"Bibi harus mulai terbiasa dengan keberadaan ku sekarang. Aku ayahnya Casey, dan sebentar lagi kami akan menikah" ujar Matthew seraya menatap Atreya yang tengah asik mengaduk-aduk bubur dalam wadahnya lalu memasukkan ke dalam mulutnya sendiri menggunakan sendok.
"Hah? benar itu, Bu?" bi Ratna terbelalak tak percaya.
uhuk..uhukk !!!
Atreya tersedak buburnya sendiri. Reflek Atreya mengambil minumnya yang sudah disediakan bi Ratna sebelumnya.
"Maksudmu apa bicara begitu? kamu memang ayahnya Casey, tapi bukan berarti kamu bisa mengatur hidupku. Apa tidak cukup, kamu sudah ku ijinkan menemui Casey kapan saja?" ucap Atreya jengah. Dia jadi tidak berselera makan gara-gara bualan Matthew barusan.
"Pilihanmu hanya dua, Atreya. Memangnya kau lupa?" ujar Matthew kembali mengingat kan.
"Cukup !! kau tidak liat disini ada Casey?"
Atreya sekilas memandang Casey yang nampak santuy melahap buburnya, tanpa mempedulikan ocehan kedua orangtuanya tersebut. Lalu pandangannya beralih ke bi Ratna, dia nampak kebingungan, mungkin karena syok setelah mendengar pengakuan Matthew bahwa dirinya adalah ayah kandung Casey.
"Bi, tolong bibi sarapan disini sambil temani Casey ya!!" perintah Atreya sebelum dirinya beranjak dari kursi makan menuju ke ruang tamu, diikuti oleh Matthew yang akhirnya tidak jadi memakan bubur ayamnya.
^^^^
"Apa maksudmu tadi bicara begitu didepan Casey dan bi Ratna? butuh pengakuan kalau kamu benar-benar ayah kandungnya? Casey masih kecil, dia belum paham masalah kaya gini. lagipula siapa yang akan menikah denganmu. Aku belum memberi keputusan apapun lho ya." cerca Atreya dihadapan Matthew. Tapi lelaki itu malah terkekeh, seolah semua kata-kata Atreya barusan tidak ia anggap.
"Satu lagi. Apa maksud kamu mengirim Satria ke Berlin? mau memisahkan aku dengannya? ck! jangan harap" Atreya merasa jijik dengan lelaki yang kini dihadapannya. Lelaki yang sudah mengambil kesucian Atreya yang seharusnya diberikan untuk Satria malam ini.
"Atreya, kau lupa dengan dua pilihan itu? menyerahkan hak asuh Casey, atau menikah dengan ku? itu saja mau ku. Aku tau kamu tidak akan bisa hidup tanpa Casey. Jadi lebih baik ku singkirkan saja kekasihmu itu." Matthew menyeringai dan sukses membuat Atreya semakin illfeel melihatnya.
" Brengsek!!"
.
.
__ADS_1
.
.