Lovely Atreya

Lovely Atreya
tentang satria bella 1


__ADS_3

Apartemen Satria.


Lelaki itu baru saja membersihkan dirinya setelah seharian ini lelah dengan kegiatan dikantornya. apalagi kalau dengan acara penyambutan dan serah terima jabatan CEO NEOTECH yang baru.


Langkah Satria membawanya ke balkon apartemennya sambil membawa gitar akustik untuk sekedar bernyanyi-nyanyi menghilangkan kepenatan.


Satria membuka korek api zipponya, lalu menyulut batang rokok yang baru saja dia tarik dari kotak miliknya sebelum memainkan gitar tersebut


"Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya.


Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya.


Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya.


Ku tak bahagia, melihat kau bahagia."


"Harusnya aku yang di sana, dampingi mu dan bukan dia. Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia..."


Lagu 'seharusnya aku' dari Armada mewakili perasaan terdalamnya saat ini. Laki-laki itu terdiam, ada beban berat yang menikam dadanya. Selama delapan tahun pernah bersama, untuk kali pertama tadi Satria tidak bisa tersenyum bahagia kala menatap wajah cantik mantan kekasih nya itu. Bibirnya terasa kaku untuk sekadar memberikan sebuah senyuman palsu, bahkan sorot matanya tidak dapat berbohong bahwa ada puluhan kekhawatiran dalam kepalanya.


Laki-laki itu lalu berdiri, menyandarkan gitar akustik itu diatas kursi yang barusan ia duduki. Lalu membuang puntung rokoknya yang baru setengahnya dihisap ke dalam tempat sampah berbahan stainless yang tergeletak dipojok balkon.


Matanya menerawang jauh ke menatap kejauhan, ke arah kehidupan yang sedang bergerak sibuk dibawah sana.


Lamunannya dihentikan sebuah ketukan. Lelaki itu bergegas membukanya. seseorang yang dikenalinya tengah berdiri didepan pintu seraya menenteng dua tas di tangannya.


“Bella?” Satria mengernyit saat menjumpai sosok gadis yang tengah berdiri didepan pintu apartemennya.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum, tanpa dipersilahkan oleh sang tuan rumah, Bella langsung masuk begitu saja. Menyimpan salah satu tas kerja yang dijinjingnya ke atas meja, lalu merebahkan tubuhnya dengan duduk bersandar disofa berwarna putih itu.


“apartemen ini lumayan nyaman juga ya. Berapa sewa perbulannya?” Tanya Bella lalu menyipitkan kedua matanya ke arah satria yang baru saja ikut duduk disofa yang sama.


“maaf, ada keperluan apa Nona Bella datang ke apartemen saya?” Satria malah balik bertanya tanpa terlebih dulu menjawab pertanyaan gadis itu sebelumnya.


“Owh. Ternyata kamu gak bisa diajak basa-basi ya.” Ujar Bella kembali duduk tegak seraya merapihkan rok sepannya yang sedikit tersingkap. “aku kemari membawa beberapa berkas segala keperluan Tuan Matthew. Semuanya bisa kamu pelajari, mulai besok kamu asistennya dia kan? Jadi kita akan sering komunikasi karena aku sekertasinya.”


“bukannya kamu sekertaris Tuan William?” Satria mengernyit.


“awalnya begitu. Namun paman William memintaku jadi sekertarisnya CEO yang baru. Mungkin karena aku sudah pengalaman atau--- entahlah.” Sahut Bella merasa bingung sendiri untuk menjelaskannya.


Tapi Satria sudah paham maksud Bella. Tanpa dijelaskan pundia sudah tau alasannya. Perusahaan besar itu tidak mau buang-buang waktu merekrut atau mengajarkan pegawai yang baru. Apalagi posisinya sebagai sekertaris CEO. Mereka akan mengambil yang sudah berpengalaman, apalagi jika orang tersebut merupakan salah satu keluarganya sendiri.


“Oke, ada yang perlu disampaikan lagi?” Tanya Satria.


“Ya, mulai besok kamu harus datang lebih pagi. Jadi asisten pribadi CEO Neotech itu harus cekatan lho. Multitasking and well organized.” Ujar Bella.


“what? Siapa yang gila?” gadis itu melotot. “aku maksudmu?” bella menunjuk dirinya sendiri.


“Ya. Kamu yang gila. ”Sahut Satria dan membuat gadis itu mendengus kesal.“  untuk apa asisten pribadi kalau sudah ada sekertaris sepertimu?” Tanya Satria mulai jengah.


Bella malah tertawa menanggapi pertanyaan Satria. “itu dua profesi yang berbeda meski ada kemiripan. Sekertaris itu profesi yang mengerjakan kegiatan administrasi suatu perusahaan. Sedangkan personal assistant lingkup pekerjaannya lebih focus pada satu orang saja. Kesamaan dari kita hanya sama-sama orang kepercayaan pimpinan.”  Jelas Bella panjang lebar.


“itu bukan style ku, Bella.” Ujar Satria lalu mengusap wajahnya dengan kasar seakan tengah frustasi.


Bella membulatkan matanya sempurna saat mendengar Satria memanggilnya langung nama bukan Nona. Seolah mereka sudah berteman dekat.


“kenapa? Anda gak paham dengan maksudku, nona Bella?” Tanya satria memicingkan sebelah alisnya menatap dingin gadis yang tengah salah tingkah dihadapannya itu.


Raut wajah Bella kembali merengut saat satria memanggilnya nona. Melihat ekspresi wajah yang tidak bersahabat itu membuat Bella menjadi kesal. “kalau itu bukan style mu dibidang pekerjaan kenapa protesnya ke aku? Aku

__ADS_1


hanya menyampaikan berkas-berkas itu untuk kau pelajari. Dan untuk masalah ketidak nyamanan posisi pekerjaan kau bisa bicara langsung dengan bos anda, Tuan Satria.” Ujar Bella langsung beranjak dari duduknya. “ah, lebih baik aku segera pergi. Untuk apa berlama-lama disini. Buang-buang waktu.” Rutuk Bella dalam hati.


Gadis itu melengos begitu saja meninggalkan satria yang masih duduk di sofa. Dengan menghentakan kakinya Bella keluar dari pintu apartemen lelaki itu. Bila diibaratkan film kartun, mungkin sudah ada api diatas kepala Bella saat ini.


“kamu mau pulang, nona Bella? Ini sudah malam, biar aku mengantarmu.” Satria langsung beranjak dari duduknya.


“kamu mau mengantarku? Perhatian juga ternyata.” Gumam bella tanpa sadar Satria kini sudah berada dibelakangnya.


“jangan salah paham dulu. Aku hanya basa-basi.” Satria berujar dengan santai tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Bella menggeram dalam hati kemudian berbalik menatap satria, “aku bisa pulang sendiri.” Ujarnya melotot.


Gadis itu pun akhirnya pergi dari apartemen Satria dengan mencegat sebuah taksi. Namun entah kenapa ada rasa kekhawatiran didalam diri satria. Untuk pertama kalinya ia mengikuti gadis didalam taksi itu menggunakan mobilnya.


Satria mengernyit saat taksi didepannya itu berhenti disalah satu taman tepatnya didepan sebuah rumah sakit. Lalu melihat Bella turun dan berjalan ke area taman tersebut dimalam hari.


“apa yang dia lakukan malam-malam gini ditaman? Apa janjian dengan seseorang? Kenapa tidak minta ketemuan di kafe atau bar mungkin? Ini sudah jam delapan malam. Taman ini sudah kelihatan sepi.” Gumam Satria bertanya-tanya


sendiri.


Lelaki itu terlihat gamang. Dia bingung apakah dirinya perlu turun dari mobil dan memastikan keadaan gadis itu, atau membiarkannya karena ini emang bukan urusannya. Lagipula siapa Bella? Satria baru beberapa hari


mengenalnya itupun tidak sengaja.


Namun sebagai Manusia yang memiliki hati nurani, jiwanya terpanggil untuk mencari tau. Lelaki itu hanya ingin memastikan Bella baik-baik saja.  Dia pun akhirnya mengikuti gadis itu dengan mengendap-endap dari belakang. Mengintai gadis itu dari kejauhan.


.


.


.

__ADS_1


 jangan lupa like, komen dan vote nya ya....


__ADS_2