
William dan Lily memenuhi janjinya untuk mengajak Casey ke kedai es krim yang ada di Schonhauser Allee Arcaden, salah satu pusat pembelanjaan di Berlin yang cukup besar dan terkenal.
"enak tidak es krimnya?", tanya Lily memperhatikan Casey yang asik menikmati es krim dengan cone spesial yang terbuat dari waffle dan ditaburi dengan aneka toping yang dipilihnya sendiri.
"ini enak sekali." sahut Casey terlihat senang sekali.
William hanya tersenyum melihat tingkah cucunya yang menggemaskan itu. tiba-tiba asisten yang merangkap bodyguardnya yang bernama David mendekati William.
"ada telpon dari kantor, tuan. katanya penting." ucap David seraya menyerahkan ponselnya pada William.
"Bella?" William mengernyit. lalu David pun hanya mengangguk memberikan jawabannya. William segera menyaut ponsel tersebut.
"ada apa, Bella?"
Bella adalah sekertaris pribadi William dikantor. Dia juga merupakan keponakan dari CEO NEOTECH company itu karena Bella adalah putri semata wayangnya Lilly.
"maaf mengganggu kegiatan paman hari ini. tapi dikantor sedang ada tuan Kenzo. kebetulan dia sedang di Berlin dan ingin bertemu dengan paman." ujar Bella diseberang sana.
"tuan Kenzo yang dari Jepang?", Terka William seraya mengernyitkan dahinya.
"iya paman. nanti sore tuan Kenzo akan kembali ke Tokyo. jadi beliau berharap bisa bertemu paman sekarang juga. ada hal yang ingin disampaikannya terkait kerjasama antar perusahaan."
"baiklah aku akan segera ke kantor. pastikan tuan Kenzo dilayani dengan baik disana."
"baik paman." jawab Bella lalu sambungan teleponnya berakhir. William mengembalikan ponsel tersebut kepada David.
"kita ke kantor sekarang. tuan Kenzo tengah menunggu ku." ucap William lalu beranjak dari tempat duduknya.
Lily pun hanya mengangguk tanpa memberi jawaban apapun. dia sudah bisa menyimpulkan sendiri dari obrolan sang kakak dengan anaknya barusan di telpon. ia pun langsung menuntun Casey yang baru saja menyelesaikan suapan es krim terakhir didalam mulutnya.
"ayo sayang, kita ke kantor grandpa dulu sekarang!" ujar Lily seraya menuntun Casey mengikuti langkah William dan David yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.
*****
NEOTECH Company, Berlin.
"dimana tuan Kenzo?" tanya William setibanya dikantor dan mendapati Bella yang sudah menunggunya di lobby.
"masih ada di ruang tunggu VVIP, paman." jawab Bella.
"Ya sudah, aku akan menemui nya. kau disini saja temani ibu mu dan cucuku." Pinta William sebelum akhirnya dia pergi untuk menemui klien pentingnya tersebut.
__ADS_1
"cucu paman?", Bella mengernyit. lalu mengalihkan pandangannya pada yang bocah yang berada dibelakang tubuh Lily.
"siapa dia, Mom?" tanya Bella.
"ini Casey. dia anaknya Matthew."
"what?" gadis berambut panjang berwarna cokelat itu membulatkan kedua matanya. "kak Matthew punya anak?" Bella menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.
"momy belum sempat cerita padamu. Matthew sudah menikah dengan kekasihnya yang terdahulu. dan ternyata mereka sudah memiliki anak sebelumnya." ujar Lily terpaksa sedikit berbohong agar Bella tak banyak bertanya lagi.
"Oya? bagaimana dengan Alice?"
"mereka sudah lama putus." sahut Lily. "sudahlah, jangan bahas itu lagi!! sekarang tolong jaga Casey sebentar, mommy mau ke toilet." ujar Lily.
"oke" sahut Bella.
"grandma mau kemana? kenapa semuanya jadi tinggalin aku?" Casey terlihat panik saat Lily melangkah meninggalkannya untuk sekedar ke toilet.
Lily terpaksa kembali menghampiri bocah tersebut. sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengannya.
"Casey sama bibi Bella dulu ya. grandma mau ke toilet sebentar." ujar Lily seraya menyentuh pundak Casey.
"tapi aku gak kenal bibi ini. mama bilang jangan dekat-dekat dengan orang asing."
"sayang, bibi Bella bukan orang asing. dia anak grandma, berarti adik sepupunya Daddy Matthew. kamu jangan takut ya." ujar Lily berusaha menjelaskan.
Casey mendongak, lalu memindai Bella dari ujung rambut hingga ujung sepatunya dengan seksama. sekedar memastikan apakah perempuan itu benar-benar orang baik atau salah satu dari komplotan penculik anak kecil.
"kamu kenapa menatapku seperti itu? apa aku terlihat seperti orang jahat?" ucap Bella terkekeh. Gadis yang memiliki bulu mata panjang nan lentik itu menjadi gemas lalu mencubit kedua pipi Casey. "iiihh... kamu menggemaskan sekali, Casey." ucapnya lagi. "Ayo aku ajak ke ruangan kerjaku. disana ada banyak camilan lho. kamu mau?" tawaran Bella membuat Casey langsung mengangguk semangat.
"oke, nanti grandma susul Casey ya. sekarang ikut bibi Bella dulu." ucap Lily sebelum akhirnya dia melangkah lebih cepat menuju ke toilet yang berada di ujung ruangan ini.
*
Bella membawa Casey menuju ke ruangan kerjanya yang berada dilantai sembilan. Bella memijit tombol lift. tak lama pintu lift terbuka, Bella dan bocah itu pun masuk. di lift itu nampak ada dua lelaki yang sedang asik membicarakan sesuatu. Bella tau mereka juga sama-sama pegawai NEOTECH. terlihat dari name tag yang menggantung dilehernya masing-masing. lalu Bella memencet tombol sembilan, lantai tempat ruangannya berada.
Ketika dilantai lima, pintu lift kembali terbuka. ada tiga lelaki lagi yang masuk. Bella sudah terbiasa dengan hal seperti ini. NEOTECH company memang didominasi oleh kaum Adam yang memiliki otak jenius di bidangnya tertentu.
"Om Satria!!" teriak Casey kepada salah satu dari ketiga lelaki yang baru saja memasuki lift tersebut.
Sontak seluruh penghuni lift itu mengalihkan pandangannya pada sosok bocah kecil yang berdiri dipojok belakang bersama Bella.
__ADS_1
"Casey?", salah satu dari lelaki itu terbelalak kaget melihat sosok sang bocah yang selalu ada dalam memori otaknya, bahkan memiliki tempat tersendiri dihatinya. Ya, tentu saja. ternyata diantara mereka itu ada Satria. dan Casey sangat mengenalinya dengan baik saat Satria masuk kedalam lift ini bersama kedua kawannya. meski pemuda itu awalnya tidak menyadari keberadaan Casey didalam lift tersebut.
"hey, apa kau mengenalnya?" Bisik Bella sedikit membungkuk mendekati telinga sang bocah. namun Casey tak menghiraukan pertanyaan Bella. bocah itu malah langsung memeluk lelaki yang kini berada dihadapannya.
Satria langsung menggendongnya, menghujani beberapa ciuman dikedua pipi Casey yang begitu sangat ia rindukan.
"kenapa Om Sat tidak pernah main ke rumah lagi?" tanya polos Casey seraya melingkarkan tangan mungilnya dileher Satria.
"Om kan sedang kerja disini. mana bisa bolak balik ke Indonesia." sahut Satria seraya memencet hidung Casey.
pintu lift pun terbuka dilantai sembilan.
"Casey, ayo turun! kita sudah sampai." ujar Bella meminta Casey turun dari pangkuan Satria. namun Casey malah menggelengkan kepalanya tanda menolaknya.
"ayo, Cas!!" seru Bella lagi.
Namun bocah itu masih bergeming dan malah mengerat kan pelukannya dileher Satria. Satria jadi serba salah. begitu juga dengan Bella merasa asing dengan pemuda yang saat ini tengah menggendong keponakannya itu.
"kalian duluan saja." ujar Satria pada kedua temannya yang masih berada didalam lift tersebut.
Akhirnya lelaki yang menggendong Casey itu mengalah. Dia membawa Casey keluar dari lift bersama Bella.
"aku mau sama Om Sat." ucap Casey saat Satria hendak menurunkan tubuh kecil Casey ke lantai.
"Casey, nanti paman dan ibuku mencarimu. ayolah..." Bella menarik tangan Casey.
"tidak mau!!" Casey berontak, lalu segera bersembunyi dibalik tubuh Satria.
"Casey!" Bella mulai greget melihat tingkah sang bocah.
"maaf nona Bella. beri saya waktu untuk berbicara dengan Casey. anak ini harus dibujuk secara baik-baik, bukan memaksanya seperti yang anda lakukan barusan." ujar Satria.
"hey, aku bibi nya. anda siapanya Casey? dari mana anda mengenal keponakan ku ini? jangan-jangan Anda sudah mengincar nya, iya kan?" curiga Bella seraya melotot seolah menantang Satria yang hanya pegawai biasa diperusahaan milik pamannya itu.
"maaf Nona, anda terlalu berlebihan. Casey anak dari temanku. aku sudah mengenal Casey sejak lama." ucap Satria. Hatinya begitu sakit saat mengucapkan kalimat 'casey anak dari temanku'. dadanya begitu terasa sesak, tenggorokannya tercekat saat hati dan ucapannya merasa tidak sinkron.
.
.
.
__ADS_1
.