Lovely Atreya

Lovely Atreya
berakhir sampai disini


__ADS_3

Dengan terpaksa Atreya mengijinkan Matthew untuk mengantarnya pulang.


"Pulang lah! aku mau istirahat" usir Atreya sesampainya mereka didepan pintu rumah.


"Kalau kau mau istirahat silahkan saja. Aku mau disini menunggu anakku pulang." sahut Matthew.


"Tolong ya, disini aku pemilik rumah. Jadi aku berhak memutuskan kamu boleh tinggal atau pergi." ucap Atreya jengah.


Akhirnya Matthew tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak ada alasan baginya untuk membantah. Toh saat ini dia bukan siapa-siapanya. Lelaki itu pun pamit pulang.


"Aku akan kembali bila Casey sudah kembali." sahut Matthew sebelum dirinya benar-benar pergi dari kediaman Atreya.


"Terserah!!" imbuhnya.


Atreya pun segera beranjak menuju ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu. Tak terasa tubuhnya beringsut turun, hingga kini posisinya memeluk kedua lututnya diatas lantai. Ia tak bisa lagi membendung air matanya, padahal dirinya berjanji untuk tidak mau menangis lagi. Namun air mata ini seolah keluar dengan sendirinya.


Satria. Dia kembali mengingat kekasihnya itu. Dengan tangan bergetar Atreya mengambil ponsel dalam tasnya. Dia mencoba menghubungi Satria. Jemarinya bergetar tak karuan. Akhirnya nada sambungnya pun berbunyi.


Apa yang harus dikatakannya pada Satria? Mengapa dia tidak mencarinya semalam? Mengapa dia juga tidak menghubungi Atreya sama sekali untuk mengantarnya ke bandara? Apa Satria sudah terbang ke Berlin?


"Ya" suara singkat Satria diseberang menjawab. Suara lelaki itu sungguh berbeda dari biasanya. Suara sang kekasih terdengar begitu dingin dan datar.


" Sat..." Atreya memanggilnya dengan suara tersendat. "kamu dima--"


"Ada apa?" Satria menyela omongan Atreya dengan datar.


Atreya begitu terkesiap. Satria tidak pernah berbicara dengannya seperti ini. Dia tidak pernah sedatar itu. Dan dia juga tidak pernah menyela atau memotong pembicaraan Atreya sebelumnya.


"Ka... kamu dimana? Kenapa kamu tidak datang? Kenapa kamu tidak menghubungi ku semalam?" Dengan nada tercekat Atreya berusaha mencerca pertanyaan kepadanya.


"Kenapa?" Satria mendengus. "bukannya seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?"


"Maksud mu?" Atreya mengerutkan keningnya bingung.


"Atreya" Satria terdengar menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "kamu janjian dengan ku dihotel. Tapi begitu aku disana, aku malah melihat mu direngkuh Pak. Matthew menuju lift. Kamu begitu nyaman sekali hingga melingkarkan tanganmu dilehernya. Sungguh kalian pasangan yang sangat serasi."


Apa?? Bahkan Atreya tidak bisa bersuara. Sekelilingnya kini terasa berputar-putar seolah ia menderita vertigo hebat.


"Apa sekarang kamu merasa masih layak untuk aku hubungi?" Satria malah balik bertanya. Suaranya parau, terdengar jelas bahwa dia sangat tersakiti.


"Aku gak tau kenapa kamu membohongiku sedemikian rupa, Rea." Satria berkata dengan nada rendah. "Aku masih mencintai kamu. Perasaanku gak berubah sedikit pun. Tapi yang jelas aku gak bisa menerima apa yang telah kamu perbuat kepadaku. Kamu sudah membohongiku. Aku kecewa sama kamu, Atreya. Kurasa kita gak bisa bersama lagi."

__ADS_1


"Apa maksudmu, Sat?" Atreya terdengar shok mendengar kata terakhir yang Satria ucapkan barusan.


"Casey lebih membutuhkan Matthew daripada Aku. Menikahlah dengan dia, dan aku janji akan berusaha melupakan mu disana."


"Kamu ngomong apa sih, Sat? ap---"


" Cukup, Atreya !! aku sudah tau semuanya. Semalam Matthew menemui ku dilobi hotel. Tak ada yang perlu kamu tutup-tutupi lagi. Matthew lelaki brengsek yang telah merebutmu dariku enam tahun yang lalu kan?"


Deekk !! jantung Atreya seolah berhenti berdetak. Nafasnya begitu sesak dan tubuhnya menjadi kian melemah.


"Satria aku mohon dengarkan du---"


"Bye, Rea."


Tidak. Atreya memohon dalam hati. Tidak! Dia tidak bisa kehilangan Satria dalam kondisi luar biasa terpuruk seperti ini.


"Sat... "


"Heh, Atreya..." suara diseberang berganti menjadi suara seorang wanita. "Ini tante Dewi, Ibu Satria."


Nafas Atreya sejenak berhenti.


Terdengar ibu satria berdehem menjernihkan suaranya, agar dia bisa mengucapkan sejelas-jelasnya kalimat selanjutnya.


"Dan Tante harap, hubungan kalian berakhir sampai disini. Titik. "


Tuutt...tuutt...tuutt


Sebelum Atreya bisa mengucapkan kalimat selanjutnya hubungan telpon sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Seperti halnya kehidupan Atreya. Benar-benar sudah berakhir.


Atreya mengangkat jemari tangan kanannya. Disana sudah tersemat cincin emas yang melingkar dijari manis pemberian dari Satria. Sesaat Atreya memandanginya, lalu menciumi cincin itu dengan derai air mata yang mulai mengalir deras. Dengan kasar Atreya menarik cincin yang disematkan Satria agar terlepas dari jemarinya, lalu melemparkan benda itu ke sembarang arah hingga bergelinding entah kemana.


Semua sudah berakhir. Mungkin semesta tidak mengijinkan kita untuk bersatu, Sat.


*****


Hari-hari pun terus berlalu. Pernikahannya dengan Matthew akan berlangsung dua hari lagi. Namun Atreya nampak masih patah hati. Dia berusaha menutupinya dari semua orang. Terlebih lagi pada Casey, bocah yang selalu menjadi penyemangat hidup dirinya.


"Ma, Om Satria kok gak pernah kesini lagi sih?"


celoteh Casey yang membuat hati Atreya kembali terenyuh.

__ADS_1


"Dia lagi ke luar negeri, sayang" jawab Atreya berharap anaknya itu tidak menyebut nama itu lagi.


"Om Satria lama gak di luar negeri nya? aku kan pengen ke kedai es krim lagi, Ma."


Atreya mendekati sang bocah, memegang kedua pundak kecil milik Casey, seraya menutup matanya sejenak sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Mama gak tau kapan dia kembali. Casey jangan bertanya tentang dia lagi ya ! Mama capek jawabnya."


mendengar itu kedua mata Casey tampak berkaca-kaca. "Mama sedang berantem dengan Om Satria?"


Tiba-tiba saja bocah kecil malah menangis. Atreya terkejut dan langsung menenangkan Casey. Dia berusaha menjelaskan pada Casey bahwa Om nya tersebut sedang bekerja di Berlin. Atreya juga menjelaskan bahwa dirinya tidak tau kapan dia akan kembali dan mengajak Casey lagi pergi ke kedai es krim.


"Bagaimana kalau ke kedai es krimnya sama Daddy aja?" tiba-tiba suara Matthew muncul dari belakang Atreya. Bocah itu pun langsung menghampirinya dengan memanggil,


"Daddy..."


Ya, Matthew mencekoki Casey untuk tidak lagi memanggilnya Om, melainkan Daddy. Dan memang panggilan seperti itu yang seharusnya diucapkan seorang anak kepada ayah kandungnya.


"Beneran, Daddy mau ngajak aku makan es krim disana?", ucap Casey dengan polosnya.


"Iya dong, masa Daddy bohong" Matthew mengecup kepala Casey dengan gemasnya. "Casey sudah mandi?"


Bocah itu menggeleng. "Belum"


"Kalau gitu Casey mandi dulu, habis itu kita jalan-jalan ke mall terus makan es krim. Oke?"


"Oke, Dad." bocah itu terlihat bersemangat, lalu berlari ke arah dapur untuk mencari Bi Ratna.


"Sebaiknya kamu juga bersiap-siap. Kita sekalian mengambil gaun pengantin yang dipesan Kinara waktu itu."


"Gaun?" Atreya mengernyit. "bukannya kita menikah tanpa pesta?" Atreya mengingatkannya kembali.


Beberapa hari yang lalu, Atreya akhirnya menyetujui menikah dengan Matthew dengan syarat pernikahannya tidak digelar besar-besaran. Dia hanya ingin pernikahan yang tidak dikehendakinya ini hanya dihadiri dari golongan keluarga terdekat saja. Tidak banyak mengundang banyak orang.


"Iya, Rea. Tapi tetap saja kamu harus memakai gaun. Mungkin iya nanti kamu pake baju tidur sih?" Matthew menahan senyumnya. "lagipula keluarga besar Aaron semua datang kan?"


Atreya terdiam, mungkin memang benar, dirinya tetap harus mengenakan gaun dihari pernikahannya besok lusa. Akhirnya Atreya mengiyakan tawaran Matthew. Ia pun beranjak ke kamarnya untuk bersiap-siap.



__ADS_1


__ADS_2