Lovely Atreya

Lovely Atreya
sekedar mengenang


__ADS_3

DRRTT! DRRTT!


Atreya terkejut mendapati ponselnya bergetar diatas meja kerjanya. Perempuan itu masih sibuk didepan laptopnya padahal hari mulai petang dan jam kantor pun sudah selesai. Segera Atreya meraih benda pipih itu, dia melirik ponselnya dan merasa terkejut begitu membaca nama yang tertera dilayar ponsel lebarnya tersebut.


"Satria?"


Atreya langsung menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Pikirannya jadi gamang, ponsel itu masih bergetar didalam genggaman tangannya. Namun dia tidak mungkin menjawab panggilan telponnya.


"Apa yang akan dia bicarakan lagi?"


Atreya sudah jelas merusak hubungan mereka, dan kini Atreya sudah menikah dengan orang lain. Apa perlunya menjalin pembicaraan lagi dengan Satria? untuk membuka luka? untuk menguak kekecewaan?


Tak terasa setitik air mata muncul diujung mata Atreya, bibirnya bergetar kecil.


Ingatannya berkelana pada kejadian tujuh tahun lalu. Ketika Satria baru saja lulus kuliah sedangkan Atreya masih sibuk dengan skripsinya. Mereka sering mengobrol ditaman kampus yang memiliki hamparan rumput sintetis untuk sekedar duduk-duduk dan mengobrol disana. Dan sore itu, Atreya duduk diatasnya, sambil menatap langit dengan kekasih disampingnya. Satria tiba-tiba menggenggam tangannya saat itu, lalu menatap Atreya hangat.


"Rea, kamu mau menikah dengan ku?" ucapnya.


"Apa?" Atreya berbisik kaget.


"Gak sekarang sih." Satria terkekeh melihat ekspresi wajah Atreya yang lucu. "mungkin tiga tahun lagi" sambungnya. "tapi kamu mau gak?"


Atreya tertawa kecil. Pipinya menghangat, wajahnya menjadi semu merah muda. "Ya, aku mau, Sat" jawab Atreya.


"Nah gitu dong." Satria menyentuh sekilas ujung hidung Atreya dengan telunjuknya gemas.


Kemudian lelaki itu pun berkata mengenai rencananya bila sudah bekerja, Ia ingin membeli sebuah rumah untuk mereka tinggali setelah menikah. Keduanya pun bertatapan, menukar senyuman masing-masing dengan tatapan teduh, dan mengamini segala yang baru saja tersusun dikepala mereka.


Segalanya terasa begitu manis dulu, segalanya terasa begitu mudah diterima nalar. Begitu sederhana dan masuk akal.


Tetes air mata pun menitik kepangkuan Atreya. Meninggalkan tetesan basah kecil di rok sepannya. Perempuan itu bahkan tidak menyadari, getaran ponselnya telah berakhir. Satria disana sudah mengakhiri niatnya untuk menghubungi Atreya. Mungkin Lelaki itu tengah terduduk hampa ditempat tinggalnya di Berlin. Larut dalam kecewa berbalut rindu. Sementara Atreya larut dalam memorinya sendiri. Memorinya mengenai masa depan yang pernah hendak dirajutnya berdua dengan mantan kekasih. Masa depan yang tidak ada lagi sekarang. Kenyataan sudah menghempaskan begitu saja hingga tak berbekas.


DRRTT! DRRTT!


Ponselnya kembali bergetar. Sedikit membuat Atreya kaget hingga badannya terlonjak kecil. Apakah Satria segigih itu untuk mendengar suaranya?


Atreya terdiam. Dia tidak melanjutkan pikirannya sendiri, karena nama yang muncul diponselnya bukan Satria. bukan. tetapi justru Matthew. Lelaki yang kini menjadi suaminya.


"Hallo" Atreya langsung menerima telponnya.


"Masih sibuk? Aku sudah menunggumu dibawah bersama Aaron." ujar Matthew diseberang sana.


"Hah?" Reflek Atreya melihat jam dinding yang menempel didinding ruangan kerjanya. "Oke, aku turun sekarang."


Ketika Matthew mengakhiri panggilan telponnya, Atreya menarik nafasnya. Yah, inilah hidupnya. Bersama dengan Matthew lah dia sekarang.

__ADS_1


Atreya pun langsung mematikan laptopnya. dan bersiap-siap untuk pulang.


*****


Seperti biasa mobil sedan hitam mewah milik Aaron sudah terparkir didepan pintu kaca kantor, menunggu sang pemiliknya datang dan mengantarnya pulang. Namun kali ini ada dua mobil disana, dan Atreya sangat mengenali mobil sedan silver yang berada tepat dibelakang mobil sang kakak. Tentu saja itu mobil milik suaminya.


"Lho, kak Aaron baru mau pulang?" sapa Atreya saat Aaron tengah berbincang dengan Matthew.


"Iya tadi ada yang harus dibicarakan dengan Sean", sahutnya.


"Oya? kak Seannya mana? dia sudah kembali dari Makassar?" tampak Atreya berantusias. Pasalnya Sean kemarin tidak bisa hadir diacara pernikahannya, karena sahabat dari kakaknya itu tengah di Makassar mengurus sebuah proyek besar yang dimenangkan perusahaan O'Neill Company.


"Dia sudah pulang" jawab Aaron. "Ah iya, tadi kinara telpon Casey gak usah dijemput. Besok dia mau ikut kinara ke acara pentas seni disekolah Aleena." kata sang kakak lagi.


"Lho, gimana sih Casey. Mamanya ditinggal sendiri lagi deh" gumam Atreya lemah.


"Ada matthew sekarang" sanggah Aaron datar. "Ya sudah, aku pulang" Aaron menepuk bahu Matthew sebelum akhirnya dia masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh salah satu security kantor.


"Terima kasih, pak Agung" ucap Aaron tersenyum tipis.


Security itu mengangguk. "Hati-hati pak Aaron."


Mobil milik Aaron pun akhirnya meluncur membelah jalanan. Tak lama kemudian pasangan Atreya dan Matthew menyusul pergi dari gedung perkantoran milik Aaron tersebut.


*****


"Satria menelpon mu?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir Matthew.


Tadi saat Atreya tengah dikamar mandi, tiba-tiba ponselnya bergetar terus diatas nakas. Matthew melirik ponsel sang istri, kedua matanya terbelalak saat mengetahui Satria yang menghubunginya. Wajah Matthew berubah geram, lalu dia pun merijek panggilannya. Namun tiba-tiba saja timbul dipikirannya untuk mengecek riwayat panggilan lainnya. Ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari nama yang sama dan jam yang berbeda.


Atreya yang sedang mencuci tangannya sehabis makan diwastafel langsung mendongak. Kening perempuan itu mengernyit. "Iya, tapi tidak ku angkat" jawabnya santai.


"Beneran kamu gak mengangkatnya?"


"Ya enggaklah lah, Matt" sahut Atreya dan membuat Matthew lega mendengarnya.


"Dia masih sering menghubungi mu?" kini wajah Matthew terlihat serius seperti seorang suami yang sedang cemburu kepada istrinya.


"Baru tadi sore, itu pun gak aku tanggapi. Kenapa kamu cemburu?" gumam Atreya sambil berjalan menjauh tapi matthew masih mendengarnya.


"Apa? Cemburu?" cecar Matthew mengejar Atreya yang sudah duduk disofa. Tangannya sudah meraih remote tv.


"Iya, kamu cemburu kan?" jawab Atreya acuh seraya jempolnya mulai mencari chanel crime scene yang menjadi tontonan favoritnya.


Matthew duduk disamping Atreya. "Jelas aku cemburu. Aku suamimu sekarang. Aku mencintai mu, Rea" ucapnya.

__ADS_1


Atreya menoleh menatap Matthew.


Tapi aku masih ragu dengan perasaanku, Matt. Batin Atreya dengan tatapan nanar.


Lalu keduanya saling diam beberapa saat, terlihat seperti menonton tv tapi sebenarnya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Rea"


"Matt"


Pangggil keduanya bersamaan


"Kamu dulu deh"


"Kamu aja Rea. "


"Kamu aja" Atreya bersikeras.


Matthew menghela nafas, "tadi siang ayahku menelpon. Dia ingin bertemu kamu dan Casey. Keluarga besarku meminta kita ke Berlin minggu ini." tutur matthew hati-hati, dia sangat pesimis Atreya pasti menolaknya.


Atreya memiringkan duduknya, melipat satu kakinya disofa agar bisa berhadapan dengan Matthew.


"Lalu?" tanya Atreya entah apa maksudnya.


"Ya minggu ini kita akan berangkat" jawab Matthew.


Atreya terdiam beberapa detik. Namun kini dia sadar. Matthew adalah suaminya, dan seharusnya dia mengikuti apa katanya. "Baiklah, kita akan berangkat" sahut Atreya akhirnya, dan membuat Matthew menohok.


"Kamu setuju?" tanya Matthew dengan ekspresi yang senang luar biasa, dan Atreya hanya membalasnya dengan anggukan.


Matthew menangkup kedua pipi sang istri, dihujaninya kecupan dikening dan pipinya. "Terima kasih, sayang" lirihnya diakhiri dengan kecupan sekilas dibibir Atreya. Wajah perempuan itu pun terlihat datar namun terlihat merona. Atreya segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar tv. Sedangkan Matthew masih betah memandangi wajah sang istri dari samping.


"Rea" panggilnya lagi.


"Iya" sahut Atreya terdengar lembut.


Kali ini keduanya terlihat seperti pasangan kekasih.


"Tadi mau ngomong apa?" tanya Matthew menatap hangat sang istri yang masih fokus menatap layar besar dihadapannya.


"Lupa. Udahlah gak penting kok. Kita nonton aja, seru tuh" ujar Atreya reflek melingkarkan tangannya dilengan Matthew dan bersandar dibahu kekarnya.


Kening Matthew mengernyit seraya bibirnya tersenyum tipis. Entah kenapa Matthew senang sekali dengan sikap Atreya saat ini. "Suatu saat kamu akan mencintaiku" batin lelaki itu penuh harap. Matthew mengecup puncak kepala sang istri dan membiarkan rahang pipinya bersandar di atas kepala Atreya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2