
Happy Reading
***
Setelah beberapa jam semua pulang ketempat masing masing kecuali Rachelia ia menginap dirumah Derick. Kini ia ada dibalkon rumah Derick. Ia bisa melihat taman dimana ia dulu biasa bermain bersama Derick, Devano dan Cassandra dari atas. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo" kata Rachelia.
" "
"Cepat siapkan semua keperluan kita" kata Rachelia.
" "
"Aku akan menunggunya" kata Rachelia.
" "
"Hmmm"
Panggilan pun dimatikan secara sepihak oleh Rachelia. Ia memasukan kembali ponselnya ke saku celananya. Ia menatap langit malam. Ribuan bintang ada diatasnya.
"Hahaha" tawa Rachelia.
"Kakak apa kau bahagia disana" tanya Rachelia.
"Dulu kau pernah berjanji kalau kau yang akan membawaku kesana" kata Rachelia.
"Kemana janjimu dulu" guman Rachelia.
Seseorang memeluknya dari belakang.
"Aku yang akan menepati janji kakakmu" kata Derick
"Jangan berjanji lagi" kata Rachelia.
"Aku tak pernah senang melihat orang berjanji kepadaku padahal mereka tidak bisa menepatinya" kata Rachelia.
"Hmmm, baiklah. Sekarang sudah malam ayo tidur" ajak Derick.
"Kau bilang tadi mau membicarakan sesuatu kenapa sekarag kau malah mengajak tidur" kata Rachelia.
"Ya, ya, ya, aku tadi mau bilang kalau sebentar lagi kita akan liburan nah kita bakal jalan jalan bareng teman teman" kata Derick.
"Bareng Samuel dkk" tanya Rachelia.
"Hmmm" balas Derick.
"Kemana" tanya Rachelia.
"Jogja, jalan jalan ke candi" kata Derick.
"Ya aku memang belum pernah ke candi sih" kata Rachelia.
"Nah, maka dari itu kita pergi kesana kamu ikut kan" kata Derick.
"Entah lah masalahku belum selesai dan aku tak akan tenang" kata Rachelia. Ia merebahkan badannya diatas kasur. Ia menatap langit langit kamar.
__ADS_1
"Kita bisa mengundur acaranya sampai kau bisa pergi setelah masalahmu selesai" kata Rachelia.
"Hmmm, semoga semua selesai dengan cepat" kata Derick. Ia tidur disamping Rachelia. Ia memeluk Rachelia sampai mereka tertidur.
***
Dilain tempat seorang gadis merasakan cemas dan ketakutan beberapa hari ini dia mendapat beberapa teror tapi ia sembunyikan dari keluarganya. Ia berendam di air hangat. Ia selalu memikirkan ancaman ancaman yang diberikan oleh peneror. Entah masalah apa yang ia perbuat sampai ia harus diteror selalu. Baik disekolah, rumah maupun dimana saja.
"Aku tak mungkin berdiam diri saja"
Ia menggeleng gelengkan kepalanya. Ia selalu berpikir kenapa ia menjadi bodoh.
"Kenapa ini semua terjadi" teriak gadis itu.
Untung kamarnya kedap suara membuat suaranya tak terdengar dari luar kamarnya.
Ia mengambil beberapa obat yang ada didekatnya. Ia menelan beberapa butir obat itu. Dan seketika ia menjadi sedikit tenang.
"Haruskah aku selalu seperti ini" tanya gadis itu.
Ia membenamkan kepalanya kedalam air selama beberapa menit. Lalu menutup matanya. Ia berharap semua yang ia alami adalah mimpi.
***
Hari sudah berganti. Semua sudah siap siapa dengan keperluannya. Semua berangkat ke kantor dan sekolah masing masing.
Cassandra berangkat dengan wajah kusutnya kesekolah.
"Kau kenapa, Ca" tanya Devano.
"Gak apa apa, Dev" kata Cassandra sambil memalingkan wajahnya.
Ia menggandeng tangan Rachelia dan Devano menggandeng tangan Tiara. Cassandra hanya memasang wajah kesal.
"Beginikah rasanya menjomblo. Kyaaa, gak ada yang bisa digandeng" guman Cassandra. Ia berjalan dengan gontai menuju kelasnya.
***
Pelajaran madih berlanjut. Cassandra merasa ngatuk sebab tadi malam ia tak bisa tidur nyenyak. Ia meminta izin kepada gurunya untuk permisi kekamar mandi. Cassandra menatap dirinya dikaca kamar mandi. Ia manatap wajah cantiknya. Bolamata berwarna abu abu seperti Darren, Hidung mancung, kedua lesung pipi, bibir mungil dan merah, rambut hitam kecoklatan sama seperti Lyandra. Ia memang mirip dengan Lyandra. Saat menatap wajahnya ia teringat sesuatu. Kesalahan yang seharusnya tak ia lakukan. Ia menutup matanya. Tiba tiba ia merasakan ada yang lewat dibelakangnya. Dengan cepat ia membalikan badannya. Ia mungkin bisa melawan yang melewat dibelakangnya. Dia sudah belajar semua jenis beladiri. Ia juga tak payah dalam permainan senjata. Ia selalu diingat kan oleh membawa pistol kecil yang ia simpan dibawah roknya. Dan juga ia membawa pisau kecil.
"Siapa disana" tanya Cassandra.
Dalam hati ia merutuki kebodohannya. Kenapa ia bertanya bukan langsung mencari. Tentu saja kalau itu beneran manusia dan jahat mana mungkin langsung muncul.
Cassandra berjalan menuju kamar mandi paling ujung ia membuka pintunya pelan. Tidak ada siapa siapa. Ia berlanjut membuka satu persatu kamar mandi dan tak menemukan apa apa.
Cassandra bersender ditembok. Ia memegang kepalanya. Ia sedikit pusing karena ia beberapa hari ini tak pernah bisa tidur tenang. Tapi ia tak terlalu mudah hilang kendali seperti Lyandra.
"Apa aku salah tadi" tanya Cassandra pada dirinya sendiri.
"Ahk" erang Cassandra kepalanya tiba tiba sakit.
Pandangannya tiba tiba kabur dan menggelap. Ia memegangi kepalanya. Sakit itu yang ia rasakan.
Ia melihat seseorang membuka pintu kamar mandi walau tidak jelas ia tau bahwa orang itu adalah laki laki. Ia sudah tak tahan. Semua menggelap. Ia sudah tak tahan.
***
__ADS_1
Cassandra mulai membuka matanya. Yang ia liat ia sudah berada dikamarnya. Disampingnya ada Derick yang memegang tangannya. Ia bangun dari tidurnya. Dericj terbangun.
"Kau sudah sadar" kata Derick.
"Aku kenapa kak" tanya Cassandra.
"Kata dokter tubuh mu terlalu lemah. Kau beberapa hari ini sulit tidur dan kau jarang makan" kata Derick.
"Hmm, sepertinya karena itu tubuhku jadi lemas" kata Cassandra. Ia menidurkan kembali tubuhnya lalu menatap Derick.
"Kau tak mau menemui Rachelia ini sudah malam" kata Cassandra.
"Sebentar ada yang mau aku tanyakan" kata Derick.
"Apa cepat katakan aku mau tidur beberapa hari ininkau terlalu dekat denganku aku tak mau kalah darimu" kata Cassandra.
"Cih"
"Aku hanya mau tau kau beberapa hari ini kenapa" tanya Derick.
"Aku tidak kenapa napa" jawab Cassandra.
"Jika kau tak mau bicara aku tidak akan memaksamu" kata Derick. Ia keluar dari kamar Cassandra.
"Semoga kau benar tidak kenapa napa" guman Derick.
***
Keesokan harinya.
Rachelia dan Derick pergi kepasar malam. Hari sudah malam tentunya. Mereka hanya pergi berdua saja. Rachelia seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak jalan jalan. Semua pedagang makanan ia hampiri dan semua permainan juga. tak terasa selama 2 jam mereka berada disana sudah semua permainan mereka naiki. Rachelia menatap penjual es krim.
"Kau mau" tanya Derick.
"Aku mau" kata Rachelia.
Derick menghampiri tukang eskrim itu sedangkan Rachelia menunggu di bangku dekat pohon.
Derick kembali dengan membawa satu eskrim rasa coklat.
"Nih" kata Derick.
"Thanks" kata Rachelia.
Ia menjilati eskrim coklat itu. Ia manatap bingung Derick.
"Kenapa cuma beli 1" tanya Rachelia.
"Tidak aku tidak mau" kata Derick.
"Kenapa" tanya Rachelia.
"Kau memaksa ya" kata Derick.
"Tidak" balas Rachelia.
Rachelia yang kesal kembali memakan eskrimnya. Derick menatap sekitar. Ia merasa curiga kepada seseorang yang berada didekat mereka sekarang pasar malam sudah mulai sepi karena mereka datang terlambat. Derick terus memperhatikan orang itu dan terdengar suara tembakan.
__ADS_1
'Dorr'