
Happy Reading
***
Hari berganti Cassandra membuka matanya. Kepalanya sangat sakit dan badannya kedinginan. Ia memegang dahinya. Panas itu yang ia rasakan. Ia mengambil segelas air yang ada didekatnya. Ia mencari vitamin di bawah kasurnya ia menelan vitamin itu. Apa itu akan membuatnya sembuh ia tidak peduli setidaknya ia saudah berusaha. Ia berjalan menuju kamar mandi sambil memegangi tembok. Ia menyalakan air dan segera mandi. Tak ada perubahan ia segera memakai pakaiannya. Lalu berjalan menuju dapur dengan hati hati lalu ia segera memasak dengan cepat. Setelah itu ia segera membersihkan yang lainnya dalam setegah jam semua sudah bersih. Ia berjalan menuju ruang ganti Nathan ia menyiapkan semua pakaian dan perlengkapan Nathan setelah selesia ia kembali kekamarnya. Ia tak sengaja melihat dirinya dikaca. Wajahnya sangat pucat. Bibirnya berwarna sangat pucat. Ia harus istirahat dan ia lupa untuk makan. Ia mengambil beberapa selimut lagi ia tidur dengan berlapis lapis selimut karena kedinginan.
Saat ia tidur ia bermimpi tentang masa lalunya yang selalu ia ingin lupakan.
"Cassandra" panggil seorang gadis.
"Caca" panggil seseorang lagi.
"Bangun kau" teriak laki laki tau menendang Cassandra.
"A..mo..ra ki..ta a..da di..ma..na" kata Cassandra dengan gugup. Ia bisa saja melawan para penjahat pejahat itu namun tubuh kecilnya tak bisa melawan langsung 10 orang dewasa dengan tangan kosong.
"Diam atau kau akan kubunuh sekarang" Bentak orang itu sambil menampar Cassandra. Cassandra terdorong kebelakang. Saat itu hujan turun dengan lebat dan petir yang menggelegar. Tiba tiba mereka brdua ditarik menuju halaman belakang disana ada 6 orang anak kecil lain. Semuanya menangis Cassandra dan Amora didorong masuk kedalam ruangan yang mirip dengan penjara. Disana anak yang suka menangis dicambuk. Cassandra selalu menangis ia dicambuk dan dipukuli. Ia juga dihukum berdiri dihalaman tak mengunakan alas kaki dan tangan diatas tak ada yang memberinya makan. Sampai ada seorang gadis kecil yang dengan sembunyi sembunyi memberikan ia makanan namun gadis kecil itu sangat malang gadis itu mati ditangan penjahat karena gadis itu memberikan Cassandra makanan kepalanya ditembak beberapa kali didepan Cassandra. Para penjahat itu tertawa sedangkan Cassandra ia berjongkok memegang gadis didepannya. Pistol penjahat itu terjatuh dengan sigap Cassandra mengambil pistol itu lalu membunuh satu persatu Namun saat itu juga ia kehilanagan orang yang membelanya ia malah kembali diculik dan dibawa kesebuah hutan yang gelap.
Cassandra berkeringat dingin bermimpi tentang itu. Saat tidurpun ia menangis. Air matanya mengalis dari sudut matanya yang tertutup. Ia terbangun saat ia bermimpi akan dibunuh oleh seorang laki laki tua.
Wajahnya basah terkena keringat. Ia menatap dirinya dikaca dengan segera ia beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wjahnya. Setalah selesia ia langsung keluar ia menatap jam yang tergabtung di dinding sebentar lagi Nathan akan pulang. Ia harus menyiapkan makan malam. Cassandra menyiapkan makan malam dengan cepat. Ia juga menyisihkan untuk dirinya. Setelah selesia ia langsung kekamarnya. Ia duduk didekat jendela ia menatap keluar mobil Nathan terparkir di depan rumah. Salah satu bodyguardnya langsung memasukan mobil Nathan menuju garasi setelah Nathan memberikan kunci kepada bodyguardnya.
Cassandra melihat Nathan sudah datang dia bersama seorang wanita penampilanya seperti seorang artis tapi Cassandra tidak peduli dengan itu. Ia sudah bisa tidur kalau begitu. Dua minggu yang lalu Nathan berteriak kepada Cassandra supaya ia tida usah menghampiri Nathan saat ia pulang kerja. Cassandra mengambil sebuah buku yang ada disana. Ia menulis apa yang ia pikirkan mulai harapan, keluhan, dan juga impiannya.
__ADS_1
Harapannya adalah semoga ia segera keluar dari semua masalah yang ia punya, keluhannya adalah kenapa ia selalu menderita, dan impiannya semoha ia bisa hidup bebas dan jauh dari orang orang yang pernah ia kenal ia ingin membuat lembaran hidup baru. Ia ingin jauh dari orang yang pernah hadir kedalam hidupnya.
Ia segera memakan makanannya dan setelah selesai ia membereskan piring piringnya. Ia berjalan menuju kasurnya. Ia langsung tengkurap ia memeluk bantalnya. Sambil menatap kearah jendala yang berada disamping kasurnya.
"Kapan aku bisa keluar" guman Cassandra tak terasa air matanya mulai menetes lalu matanya terpejam. Namun belum 1 jam Cassandra tidur pintunya sudah digedor disambut teriakan oleh orang lain.
"Cassandra" teriak orang itu.
Cassandra terbangun dengan gontai ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Dihadapannya ada Nathan dengan wajah marahnya. Ia menarik Cassandra menuju sebuah kamar yang merupakan kamar tamu.
"Cepat siapkan kamar untuk kekasihku" kata Nathan dengan wajah dingin nya. Cassandra mengangguk pelan. Ia tak mau dihukum. Setengah jam kamar itu sudah bisa dipakai. Cassandra langsung keluar dari kamar itu.
"Sudah" tanya Nathan
Cassandra mengangguk pelan. Lalu hendak pergi tapi dicegat oleh Nathan lagi.
Cassandra mengangguk lagi. Ia tidak mau bicara karena setiap kata yang ia keluarkan salah dimata Nathan. Ia juga tak menatap Nathan dan memilih menunduk.
"Panaskan masakanmu aku tak mau makan makanan yang sudah dingin" kata Nathan.
Cassandra mengangguk pelan dan berjalan pergi kedapur dengan hati hati. Ia mengambil makanan dimeja makan untuk dipanaskan setelah selesai ia membawa makanan itu menuju kemeja makan disana ada Nathan dan wanita itu yang menunggu.
Setelah selesai menaruh dimeja semua makanan itu Cassandra menunduk sedikit lalu pergi.
__ADS_1
"Kau tunggu disini kami tak akan lama" kata Nathan.
Cassandra lagi lagi hanya mengangguk pelan. Ia berjalan kedapur. Saat didapur teriakan membuatnya kaget. Teriakan itu dari meja makan. Cassandra berlari kecil kemeja makan.
Disana siwanita itu ketakutan sambil memeluk Nathan. Nathan menatap tajam dirinya lalu berjalan mendekat kearah dirinya.
'Plakk'
Nathan menampar Cassandra debgan kuat. Entah apa alasannya Cassandra tidak tau. Cassandra meringis memegang pipinya.
"Apa salahku" Cassandra bertanya kepada Nathan dengan suara yang sedikit kencang.
"Kau menaruh kecoa dimangkuk milik Siren" teriak Nathan ia menarik tangan Cassandra menuju riang bawah tanah. Cassandra tak tau ruangan apa itu. Cassandra dilempar ke sebuah ruangan dingin itu yang ia rasakan. Ia melihat kesekelilinnya penampakan yang sangat menjijikan. Banyak anggota anggota tubuh yang di taruh sebuah tempat dan bau darah tercium ada banyak bola mata, gigi gigi, lidah, jari jari bahkan kepala manusia.
Nathan menutup pintu itu dengan kuat membuat Cassandra terkejut ia berjalan menuju pintu didepannya. Ia mebgedor gedor pelan pintu besi didepannya. Tak ada yang mendengarnya.
Ruangan yang cukup luas. Lantai yang licin banyak bongkahan es. Cassandra memeluk dirinya sendiri ia membuat kehangatan untuk tubuhnya. Namun tetap saja tidak bisa. Bibirnya membiru dan juga wajahnya makin pucat. Rasa dingin seperti sampai ketulang tulangnya. Ia bersender disudut ruangan yang jauh dari potongan potongan tubuh manusia.
"To..long a..ku, hiks, hiks" Cassandra menangis mulutnya sudah tak sanggup berkata apa apa lagi.
"A..pa a..ku a..kan ma..ti se..ka..rang" guman Cassandra.
Matanya tak sangup terbuka dan dia pingsan lagi. Entah sudah berapa kali ia pingsan dalam 1 minggu. Cassandra hanya bisa berharap ada yang kasihan pada dirinya.
__ADS_1
Jangan lupa komen, like dan votenya ya ✋✋
TBC