Lyandra Is Fake Nerd

Lyandra Is Fake Nerd
S2 ~ Bab 11


__ADS_3

Happy Reading


***


Keesokan paginya Cassandra terbangun dengan tubuh yang lemah. Ia duduk dikasur kecil itu. Ditubuhnya banyak bekas lebam dan sayatan. Ia tersenyum miris. Tiba tiba pintu terbuka laki laki itu datang dengan laptop ditanganya. Ia memalingkan wajahnya enggan menatap laki laki itu. Laki laki itu menarik tangan Cassandra lalu laki laki itu mencengkram dengan kuat rahang Cassandra.


"Jangan memalingkan wajahmu" katanya.


"Ck, apa urusanmu" guman Cassandra.


Ia tak menanggapi omongan Cassandra. Ia membuka laptopnya dan menunjukan seseuatu. Laki laki itu menunjukan sebuah berita tentang kematian Cassandra.


Mata Cassandra membulat. Ia belum mati lalu siapa orang itu. Ia langsung tau kalau laki laki itu membuat seseorang yang mirip dengannya.


"Kau sudah mengerti" kata orang itu.


"Kau membuat seseorang yang sama denganku lalu kau membunuhnya dan mengirim kepada keluargaku supaya mereka mengira aku sudah mati bukan" kata Cassandra disambut tawa keras dari laki laki itu.


"Aku sudah tau kalau kau memang pintar" kata laki laki itu.


"Kau sudah setuju untuk melaksanakan semua perintahku bukan" kata laki laki itu.


"Kapan" tanya balik Cassandra.


Laki laki itu mencengkram rahang Cassandra dengan kuat. Cassandra menatap mata tajam laki laki didepannya.


"Kau mulai hari ini menjadi pelayan pribadiku sampai aku bosan denganmu" kata laki laki itu. Cassandra terkejut mendengar itu.


"Kau tak boleh pergi kemana mana selain aku yang menyuruhmu pergi kita akan tinggal dimansionku. Dan satu lagi jika kau membantah kepadaku kau tau kan keluargamu ada ditanganku" kata laki laki itu. Cassandra mengangguk pelan. Laki laki itu menelpon seseorang. Lalu tak lama seorang laki laki yang sudah cukup tua masuk kedalam sambil membawa sebuah kotak dan meletakannya dimeja lalu keluar. Laki laki mengambil kotak itu lalu membukanya yang ternyata adalah kotak obat. Laki laki itu membalikkan badan Cassandra supaya membelakangi dirinya. Ia membuka kancing baju Cassandra yang dibelakang lalu menaikannya. Cassandra sedikit bergerak merasa tak enak.


"Aku bisa sendiri" kata Cassandra.


"Apa aku minta pendapatmu" kata laki laki itu sedikit berteriak. Cassandra sedikit tersentak kaget. Ia menundukkan kepalanya. Ia mengangkat kakinya kekasur lalu memeluk kakinya.


Laki laki itu mengoleskan obat itu dengan lembut. Tubuh Cassandra menegang dan sedikit bergetar. Ia menangis sambil memeluk lututnya. Sudah lama ia tak mendapat perlakuan seperti itu.


"Maaf" kata Cassandra.


"Kau pikir dengan itu aku memaafkanmu" kata laki laki itu sambil terkekeh pelan.


Tubuh Cassandra bergetar. Tangisnya makin menjadi. Ia menggigit bibirnya supaya suara tangisnya tak terdengar. Tapi laki laki itu menyadari Cassandra bergetar.


"Apa aku terlalu kuat mengolesinya" tanya laki laki itu.


Cassandra menggeleng pelan. Entah berapa lama luka dipunggungnya telah diobati. Tinggal ditangan, kaki, dan wajahnya.


"Kau berbalik" kata Laki laki itu. Cassandra menggeleng pelan.


"Cepat atau aku pakai kekerasan" kata laki laki itu. Cassandra segera menghapus air matanya lalu membalikkan badannya.


Laki laki itu mulai mengolesi obat dilengan dan kakinya. Cassandra diam dan menurut sampai dibagian wajahnya laki laki itu terkejut luka sayatannya lumayan parah.


"Apa itu sakit" kata laki laki itu. Cassandra menggeleng.


"Perempuan sepertimu seharusnya menjaga wajah mereka" kata Laki laki itu.

__ADS_1


"Buat apa" tanya Cassandra.


" Mendapatkan laki laki tampan dan kaya" kata laki laki itu.


"Pfft, aku tak butuh laki laki" kata Cassandra.


Laki laki itu memegang luka sayatan diwajah Cassanda yang terkena air matanya.


"Karena aku takut dikhianati" kata Cassandra laki laki itu langsung menampar Cassandra dengan kuat Cassandra yang tak berdaya membentur tembok.


"Adikmu mengkhianatiku" kata Cassandra. Cassandra tertawa pelan.


"Kalian semua percaya kalau adikmu dulu bunuh diri bukan" kata Cassandra.


"Orang bodoh pun tahu kalau dia dibunuh dan juga kedua orang tuamu tak terlalu peduli pada adikmu itu karena dia perempuan dan juga orang yang tak berguna" kata Cassandra.


Laki laki itu menarik rambut Cassandra dengan kuat.


"Jika kau bicara buruk tentang itu aku akan membunuhmu" kata laki laki itu.


"Kau bukan kakak kandungnya untuk apa kau terlalu peduli padanya. Dia juga sering berkata iri kepadamu. Kedua orang tuanya menyayangimu melebihi dia yang anak kandungnya. Walau aku tak tau kau benar kakaknya atau bukan dia tak pernah menyebut namamu" kata Cassandra panjang lebar.


"Kau tau banyak rupanya" kata laki laki itu. Ia memperkuat jambakannya. Ia membenturkan kepala Cassandra dengan kuat ketembok.


"Tapi dia bilang sayang kepadaku" kata laki laki itu lalu pergi.


Cassandra menatap sebuah kaca yang ada dikamarnya. Kepalanya mengeluarkan darah yang banyak.


Cassandra tertawa keras dengan bangga ia berkata.


"Kedua orang tua dan kakak kakak ku semuanya tak peduli padaku" kata Cassnadra ia memegang kepalanya.


"Mereka bilang sayang tapi malah menjauhiku" kata Cassandra.


"Mommy tak pernah peduli padaku setelah kematian Tante Sherly sama keluarganya, Bang Derick sibuk menenangkan Rachelia, mama sibuk mengurusi mafianya dan perusahaannya, Daddy juga sama, kak Devano dia sibuk dengan pacarnya. Sedangkan aku hanya berada dipojokan. Memandangi semuanya. Hahahaha, menarik sekali hidupku.Mommy tak pernah peduli pada tubuhku yang penuh luka sayatan, tembak maupun pukulan. Dia selalu menganggapku seperti anak laki laki. Mama tak pernah mengajak Kak Derick atau kak Devano. Dan memaksaku mengikutinya. Anak perempuan sepertiku harusnya berada disalon bersama mommynya bukan diruang bawah tanah berlatih pedang. Dan juga kenapa harus aku" Cassandra hilang kendali. Ia menghancurkan benda didekatnya. Ia menatap dirinya dikaca. Wajahnya berubah tapi tetap saja ia tau itu adalah dirinya.


"Singkirkan wanita itu" teriak Cassandra sambil melempar sebuah vas kekaca itu yang seketika pecah. Pecahan kaca berada dimana mana. Ia mencari obat obatnya ia tak busa membacanya lagi karena akan mengambil waktu banyak apa lagi tulisannya ia samarkan. Cassandra menelan beberapa pil di botol satu tak terjadi apa apa lalu ia menelan beberapa pil di botol kedua masih tak terjadi apa apa ia kembali menelan semua pil dibotol ke tiga tetap tak terjadi apa apa lalu Cassandra mengambil salah satunya lalu mulai menyayat tangan kirinya. Darah berkeluaran banyak. Cassandra tersenyum puas.


"Selamat tinggal dunia" lirihnya.


***


Dilain tempat banyak orang menangis menatap sebuah peti didepan mereka. Mereka sudah menangis beberapa lama. Sudah waktunya dimakamkan. Setalah pemakaman selesai mereka berkumpul diruang keluarga.


"Mom, apa Cassandra benar mati" Derick menangis ia menatap foto adiknya. Ia merasa belum menjadi kakak yang baik.


"Aku salah karena tak menjaganya" Lyandra menangis dipelukan Darren. Ia sedih kehilangan anak perempuan satu satunya. Mereka belum pernah melakukan hubungan anak dan ibu dengan layak. Seperti berbelanja, jalan jalam ke salon atau pun yang lain.


"Padahal aku merasa baru kemarin mendengar tawa dan teriakannya sekarang semua itu sudah pergi" kata Derick.


"Gadis bodoh dia selalu menasehatiku agar aku mati lebih dulu darinya. Kenapa dia yang lebih dulu mati" kata Devano. Ia tertawa kencang.


"Aku tak berguna sebagai kakak yang baik" kata Devano.


"Ini bukan salah kalian ini memang takdir" kata Darren ia berusaha menenangkan Lyandra yang menangis.

__ADS_1


"Aku tak percaya dia mati" guman Rachelia.


"Tapi sudah jelas itu Cassandra" kata Derick ia menatap tajam Rachelia.


"Sudah kubilang Cassandra tak mungkin mati dengan mudah. Dia pernah berjanji kepadaku kalau nanti dia yang akan meriasku saat nanti aku menikah" guman Rachelia ia menghapus air matanya.


"Dia berbohong, dia bilang akan ada disisiku tapi kemana janjinya. Sekarang yang hanya bisa kita lakukan mendoakan dia selalu bahagia" kata Rachelia ia memeluk Derick dengan erat.


Semua tak terima tentang kematian Cassandra yang sangat dirahasiakan kepada semua kecuali teman dan kerabat mereka.


***


Setelah beberapa saat Cassandra menyayat tangannya. Laki laki itu masuk kedalam kamar Cassandra untuk mengobati kepala Cassandra namun ia langsung terkejut melihat keadaan Cassandra.Kamar yang sangat berantakan, banyak pecahan kaca, dan ditangan Cassandra yang pingsan ada sebuah kaca, botol botol obat dan beberapa pil berceceran dan pergelangannya juga mengeluarkan darah. Tanpa basa basi Laki laki itu mengambil semua botol dan pil yang berceceran dan mengangkat tubuh Cassandra membawanya menuju mobilnya dan dibawa ke mansionnya. Banyak pelayannya yang menatapnya bingung karena baru kali ini dia membawa seorang perempuan apa lagi dengan keadaan seperti itu.


Dia meletakkan Cassandra dikasur miliknya. Ia menyobek kemejanya lalu membalut lukanya supaya tak banyak yang keluar. Ia menelpon dokter pribadinya. Tak lama dokter tampan datang.


"Kenapa kau menelponku aku sedang bersama istriku" katanya dengan kesal. Ia menatap seorang gadis dengan penampilan yang kacau dan pergelangan tangan yang sudah mengeluarkan banyak darah. Jiwa dokternya yang baik ia langsung mengobati Cassandra setelah ia periksa ia langsung membalut luka Cassandra dengan baik dan memberi beberapa resep obat. Ia mengeleng gelengkan kepalanya.


"Dia terlalu banyak mengkonsumsi obat" kata dokter tampan itu.


"Aku tadi melihat dia tergeletak pingsa dan ada beberapa pil obat" katanya ia menelpon orangnya untuk mengambil barang itu. Dokter itu juga sama ia menelpon temannya yang ahli dalam hal itu. Mereka berdua datang bersamaan. Teman dari dokter itu terkejut melihat Cassandra ia berlari mendekati Cassandra. Ia menepuk pipi Casaandra lalu memeriksanya. Ia berdecak kesal. Ia menyuntikkan seseuatu tak lama Cassandra terbangun. Dokter itu senang melihat Cassandra dan lalu memeluknya.


"Maafkan aku" katanya.


"Kau siapa" tanya Cassandra pura pura lupa.


"Aku Leo dokter lo" kata orang itu


Cassandra memegang kepalanya. Seketika ia berteriak.


"Kenapa kau menyelamatkanku" teriak Cassandra.


"Sia sia aku memakan semua pilnya" teriaknya.


"Kalian semua bisa pulang" kata laki laki yang dibenci Casaandra. Semua yang mendengar itu langsung pergi. Cassandra mencoba duduk. Ia menatap pergelangan tangannya.


"Tubuh yang ajaib" guman Cassandra.


"Bodoh" guman laki laki didepannya.


Cassandara tak peduli ia membuka secara kasar perban dikepalanya. Namun sudah dicegat oleh laki laki itu.


"Diam dan menurutlah" kata Laki laki itu. Ia memesang kembali perbannya.


"Kenapa kau peduli" tanya Cassandra air mata lolos dari matanya. Ia tak peduli lagi. Ia memeluk lututnya.


"Siapa namamu" tanya Cassandra lagi. Ia masih memeluk lututnya sambil menangis itu yang selalu ia lakukan saat ia sedih dan berujung obat itu.


"Panggil aku Nathan" kata laki laki itu.


Author:


Jangan lupa komen dan like ya !!!!


TBC

__ADS_1


__ADS_2