
Happy Reading
***
Pertarungan besar terjadi didalam namun Cassandra hanya bisa bersantai diluar sambil bermain game online. Ia sesekali melirik kedalam. Tak ada yang menarik baginya. Semua penjagaan yang berada diluar telah dilumpuhkan olehnya. Ia mengambil beberapa barang berharga mereka dan memasukannya kedalam mobilnya. Ia menunggu kakak kakaknya keluar agar ia bisa cepat pulang. Ia melihat ada anak kecil yang berjalan kearahnya. Ia mengucek ucek matanya siapa tau ia salah lihat. Namun nyatanya anak kecil itu makin mendekat. Ia membawa sebuah bunga.
"Malam, Kak" kata anak itu.
"Malam, kamu kok ada disini" tanya Cassandra
"Kak, ini ada bunga" kata Anak itu bukannya menjawab pertanyaan Cassandra anak itu malah memberikan bunga lalu kabur dan menghilang karena tertutup beberapa pohon.
Cassandra hanya menatap bingung anak yang menghampirinya. Ia pikir anak itu hantu. Ia sedikit takut kepada hantu. Cassandra memperhatikan bunganya. Bunga mawar putih bunga yang ia sukai. Ternyata didalamnya ada sebuah kertas dilengkapi hiasan berwarna merah seperti darah. Cassandra sedikit bergidik ngeri.
"Siapa sih yang ngasih ni bunga gak jelas banget" guman Cassandra. Seketika dirinya merinding membaca surat itu.
" Hai gadis kecil ✋✋✋
Kau tak lupa padaku kan? Ah, aku yakin kau tak akan bisa tidur mengingat diriku. Bagaimana kabarmu? Ku dengar kau pingsan kemarin. Jangan terlalu dipikirkan. Karena..... Sebentar lagi kita BERTEMU. Kau pasti pemasaran siapa diriku. Dan aku juga rindu dirimu... Kau tau kau itu sangat penting dihidupku jadi kau pasti merasa terhormat bukan. Aku selalu mengawasi gadis kecilku jadi aku yakin kau tidak akan terluka.
Sampai jumpa gadis kecil ✋✋✋"
Cassandra sontak merasa tegang ia melirik kanan dan kiri. Siapa yang mengawasinya. Ia bahkan merasa tak pernah punya musuh.
Ia langsung berlari dengan cepat masuk kedalam. Cassandra adalah manusia ia punya rasa takut. Ia langsung menuju dimana kakak kakaknya berada. Ia malihat Rachelia mendekati beberapa orang tua dan seorang wanita yang Cassandra kenal.
"Hai Sinta" teriak Cassandra
"Kenapa kau kemari" kata Derick.
"Aku takut tadi ada hantu yang mengganguku" kata Cassandra.
"Bolehkah aku yang bermain dengannya" tanya Cassandra kepada Rachelia dengan wajah cerianya.
"Tenang saja aku berpengalaman kok kalau gak percaya aku punya surat izin menyiksa orang bahkan udah S3" kata Cassandar.
"Pfftt, ok baiklah wanita itu akan kuserahkan kepadamu tapi sisanya untukku" kata Rachelia.
"Ok" kata Cassadra ia menarik kaki Sinta dan membawanya keluar untuk mencari tempat yang sesuai.
__ADS_1
Rachelia memandangi orang tua didepannya.
"Kau kenapa kau masih hidup" teriak orang itu.
"Apa aku harus menjawabnya hah" kata Rachelia.
"Kau sudah menghabisi seluruh keluargaku" kata Rachelia.
"Karna orang tuamulah yang membuat perusahaanku bangkrut" teriak orang itu ia mengambil pistol disampingnya. Lalu menyodongkannya kearah Rachelia.
Namun Derick lebih dulu menembak tangan laki laki itu.
"Udah bau tanah masih aja buat dosa" kata Rachelia.
"Diamlah cepat serang dia" teriak Laki laki itu beberapa petarung orang itu berlari menyerang Rachelia dan Derick. Rachelia dan Derick menghindar dengan mudah disetiap serangan. Tiba tiba ada yang menyerang Rachelia dari belakang dengan menusuk perut Rachelia.
Derick yang melihat itu marang ia langsnug menembak orang itu membuat orang itu lanhsnung mati ditempat. Rachelia yang tubuhnya tak bisa bertahan lama langsung berjalan kearah laki laki tua. Ia mengeluarkan pedangnya. Mereka berdua beradu pedang selama beberapa saat. Rachelia yang sudah tak kuat lagi ia langsung menendang tangan laki laki tua didepannya. Pedang orang itu langsung terlempar.
"Kau sudah tak punya senjata lagi dan aku tak bisa bermain lama. Selamat tinggal Kakek tua" kata Rachelia.
Ia menebas laki laki tua itu. Derick menghampiri Rachelia. Ia memeluk Rachelia.
"Cassandra bagaimana" tanya Rachelia.
"Aku yakin dia baik baik saja" kata Derick
Derick langsung menggendong Rachelia dan membawanya kerumah sakit meninggalkan Cassandra dan anggota anggotanya.
***
Ditempat lain Cassandra duduk didepan Sinta. Mereka duduk di taman disana ada meja dan 2 kursi didepan Cassandra ada teko yang berisi teh dan ada sepiring cemilan.
Cassandra selayaknya bangsawan ia menyesap minuman didepannya. Cassandta tersenyum jahat menatap Sinta.
"Minum" kata Cassandra penuh penekanan.
Sinta ia minum minuma. itu dengan ragu ragu.
"Kau berpikir aku mau meracunimu" tanya Cassandra saat Sinta sudah meminum minuman itu.
__ADS_1
"Jika kau berpikir seperti itu maka kau" kata Cassandra ia berhenti sejenak ia mengeluarkan pisau kecil yang merupakam pisau bedah.
"Benar" lanjut Cassandra. Wajah Sinta langsnug memucat mendengar itu.
Ia mengetuk ngetuk meja didepannya. Ia menunggu sampai racunnya berkerja. Tak lama Sinta memegangi lehernya ia menggaruti lehernya terus.
"Mau ku bantu" tanya Cassandra.
Sinta hanya menggeleng. Ia melihat didekatnya ada sebuah kran. Ia meminum air dari kran tersebut. Tapi tenggorokanya makin sakit. Rasa gatal, panas, seperti ditusuki banyak jarum.
"To,, tolong aku Cassandra" kata Sinta ia memegangi kaki Cassandra.
"Aku tidak mendengarnya coba kau katakan lagi" kata Cassandra.
"To,, to,, long a,, ku Cassandra" kata Sinta.
"Kau minta tolong kepada orang yang salah Sinta" kata Cassandra.
Ia mulai menyayat nyayat Sinta. Cassandra mengikat kaki Sinta dan menggantungnya terbalik. Cassandra mengambil pemotong rambut listrik. Ia memotong asal kepala Sinta bahkan kulit kepala Sinta ikut terkelupas. Erangan kesakitan Sinta tak dihiraukan oleh Cassandra. Ia tentu menikmati setiap detiknya. Darah menetes netes kelantai. Ia bisa melihat kalau kepala Sinta sudah tak berbentuk lagi. Ia mengambil pisau bedah yang ia simpan dimeja. Ia mulai mencongkeli mata kanan dan kiri Sinta.
"Dengan ini kau tak akan pernah melihat kakak kakakku dengan mata kotormu itu." kata Cassandra. Ia melihat jari jari Sinta. Kuku Sinta berwarna warni. Cassandra mengambil gunting dari sakunya. Ia menggunting semua jari jari Sinta dengan kuat. Sinta menangis kesakitan. Didepannya adalah dewi kematian menurutnya. Ia menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun denga tangannya.
"Pffttt, ha,,ha,,ha. Kau mau menutupi apa Sinta" tanya Cassandra dengan tawa kerasnya. Ia sudah melihat semuanya. Ia sering ke club malam dan melihat Sinta menggoda banyak pria.
"Kau sudah tidak suci buat apa kau pura pura. Dasar munafik" teriak Cassandra. Ia berjongkok dan langsung menampar pipi Sinta.
"Kau sudah beberapa kali menghina diriku" kata Cassandra. ia menyobek mulut Sinta.
Tiba tiba seorang laki laki datanv kearahnya dia salah satu orang Cassandra. Dengan ragu oramg itu mendekati Cassandra ia sedikit mual melihat pemandangan didepannya. Ia merasa takut akan majikannya.
"Maafkan saya Lady. Tuan Derick dan Nona Lia sudah ada dirumah sakit. Nona Lia terkena tusukan." kata orang itu
"Lau beruntung Sinta" kata Cassandra ia langsung menembakan semua peluru di pistolnya ke jantung Sinta. Cassandra menatap orangnya yang menutup mata.
"Kau urus mayatnya" kata Cassandra.
"Baik Lady" kata Orang itu sambil membungkuk.
Cassandra mengambil ponselnya dan langsung menuju rumah sakit dimana Rachelia dirawat.
__ADS_1
TBC