Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 17.


__ADS_3

Sudah sekitar 10 menit Nadia pergi meninggalkan Kasih senditian dan belum juga kembali, Kasih yang menunggu makin makin gelisah mana hati sudah semakin siang jalanan juga semakin sepi.


"Kakak!! " uncap Kasih ingin menangis.


Kasih tidak tahu kalo tingkahnya yang sedang gelisah menunggu kehadiran sang kakak sedang di perhatikan oleh dua orang pria dewasa dari kejauhan, dua orang yang asing berpakaian serba hitam, satu sedang melihat-lihat keadaan yang satu sedang memperhatikan Kasih.


Saat jalan terlihat agak sepi kedua pria tadi menghampiri Kasih dengan sepeda motornya.


"Adik manis, lagi apa kok sendirian disini,? " tanya orang yang di bonceng motor.


"Aku lagi nunggu kakak," jawab Kasih.


"Loh emang kakaknya kemana? kok nunggunya di sini? " tanya orang di depannya.


"Tadi kan ban sepedanya kakak kempes dan kakak nyuruh aku untuk ikut nyari tempat tambal ban sambil jalan kaki tapi aku gak mau karena kaki aku lagi sakit, akhirnya nunggu deh di sini! tapi kakak lama banget gak pulang-pulang, " jawab Kasih bercerita.


"Ohh gitu, yaudah yuk ikut sama om kita cari kakak kamu, atau om anterin deh pulang ke rumah kamu, dari pada nunggu sendirian disini! " ajak orang di depan lagi.


Kasih diem ia teringat akan pesan kakaknya untuk tidak mau jika ada orang yang tak di kenal datang dan mengajaknya pergi.


"Gak mau ah om, aku mau nunggu disini aja kasihan kakak nanti kalo dateng akunya gak ada, " tolak Kasih lembut.


Tapi sang pria terus membujuknya mengajak Kasih supaya mau ikut dengannya seribu rayuan manis mereka keluarkan untuk membujuk Kasih dan akhirnya Kasih pun menurut saat sang pria bertanya tentang nama ayah dan ibunya Kasih kali berpura-pura kenal dengannya.

__ADS_1


"Oh iya nama, orang tua adek siapa? mungkin aja om kenal biar nanti om anterin pulsng, bahaya loh sendirian disini banyak orang jahatnya! " bujuk orang di depan.


"Emang om kenal sama ibunya Kasih? nama ibunya Kasih Ningsih dan ayahnya Herman, " jawab Kasih tak curiga, sedikitpun.


Kedua pria tadi berpura-pura kenal dan berhasil membuat Kasih bangun dari duduknya dan mengajaknya pergi dengan alasan akan mengatarnya pulang kerumah, Kasih pun ikut bersama kedua orang tersebut tanpa ragu lagi karena pikir Kasih mereka kenal orangtuanya.


*****


Sementara itu Nadia yang sudah berjalan cukup jauh akhirnya menemukan teman pompa bannya ia segera menghampiri dan masuk kedalam.


"Permisi, assalamualaikum pak, bapak! " panggil Nadia dari depan.


"Waalaikumsalam, ia sebentar, " sahut seseorang dari dalam."Kenapa dek, " sambung bapak begitu di luar.


Tanpa bertanya lagi bapak tersebut langsung memompa ban sepedanya Nadia hingga terisi angin keduanya supaya tidak kempes lagi di jalan, setelah selesai di pompa dan ban telah terisi penuh angin Nadia bertanya harganya.


"Berapa pak? " tanya Nadia.


"Seribu aja, " jawab bapak tersebut.


Nadia memberikan uang seribuan dan berterima kasih kepada, pemilik warung dan segera melaju sepedanya sedang cepat menuju tempat dimana, Kasih menunggunya tadi berharap kalo Kasih benar-benar masih menunggu dan mengerti pesannya tadi.


Sebenarnya pesan Nadia sudah benar dan Kasih mengerti itu tapi ada satu nasehat yang Nadia lupa sampaikan ke Kasih kalo tidak boleh memberitahukan nama orang tua kita, ke orang lain yang tidak di kenal, karena di khawatirkan jika orang tersebut punya niat jahat pasti akan memanfaatkannya dengan berpura-pura kenal. Karena kita, tidak tahu akan ada kejahatan apa di luar yang sedang menanti kita setiap saat.

__ADS_1


Sampainya Nadia di tempat awal ia meninggalkan Kasih seorang diri, betapa terkejut dan paniknya Nadia saat ia tidak melihat Kasih di tempat dengan menambah kecepatan ia menghampirinya.


"Kasih! Kasih kamu dimana dek!! " panggil Nadia tapi Kasih tak juga menyahut.


"Kasihh!! dek gak lucu ya jangan bercanda gini ahh! dek yuk kita pulang sepedanya udah bener ni, ayo pulang takutnya ibu menunggu! " kata Nadia terus memanggil-manggil adiknya.


Tapi sudah lima menit Nadia mencari sosok yang di carinta tidak juga ia temukan, perasaan panik, takut, dan khawatir mulai muncul satu persatu di pikiran Nadia, di tambah juga, perasaan menyesal juga, timbul jadi satu Nadia terus mencari kesana kemari dan saat itu dia, bertanya kepada seorang pemulung yang kebetulan ia, ada saat Nadia tadi meninggalkan Kasih.


"Permisi pak, maaf saya, mau tanya apa bapak lihat tadi ada anak kecil pakai seragam sekolah yang duduk disitu sambil gendong tas sekolah? " tanya Nadia sopan.


"Ohh gadis kecil yang tadi bersama kamu ya! yang kamu suruh ia untuk menunggu? " jawab bapak tadi balik tanya.


"Iya-iya bener itu adik saya, tadi saya tinggal karena saya mau mimpi ban dia kakinya lagi sakit jadi menunggu disitu, bapak tahu kemana perginya?" Tanya Nadia lagi.


"Iya kebetulan tadi saya lihat ada dua orang pria berpakaian serba hitam naik motor membawa ia pergi, saya perhatiin kalo anak tersebut diam saja dan ikut dengan nurut jadi saya kira itu saudaranya, " jawab bapak itu menjelaskan.


"Ya Allah kemana Kasih ya, pak orang itu bukan keluarga kami, kalo pun ada yang jemput seharusnya seorang perempuan bukan laki-laki, yang biasa jemput kami sekolah itu ibu kami, " jelas Nadia panik.


"Oh iya tadi saya denger juga kalo adik kamu itu nyebutin Nama, kedua, orang tua kamu ke orang tersebut dan orang itu menjawab katanya kenal, dan habis itu saya lihat adik kamu ikut bersama mereka dan saya gak tahu lagi, " jelas bapak pemulung.


Lemas tubuh Nadia dalam seketika itu juga, ia buang pikiran jauh yang singgah di pikirannya yang mengatakan bahwa adiknya di culik tapi Nadia tak berhenti di situ Nadia terus mencari adiknya dengan Cara bertanya ke setiap orang yang lewat tapi tak satupun yang memberikan jawaban yang memuaskan untuk Nadia.


"Ya Allah dimana Kasih? saya udah mencari dan bertanya, pada, setiap orang tapi gak ada yang tahu, Ya Allah dek kenapa kamu tidak dengar pesan kakak, kan udah kakaj bilang jangan pernah mau ikut orang asing yang tidak di kenal tapi kamu malah dengan senang ikut mereka! salahku sendiri sih mengapa meninggalkan Kasih sendirian, " gumam Nadia mulai menangis cemas.

__ADS_1


Apa yang akan dia sampaikan ke ibu! jika ibu tahu kalo Kasih hilang di culik pasti Ia, akan sholat sekali dan entah omelan apa yang akan di Terima oleh Nadia nanti? apa pun itu Nadia harus siap menanggungnya karena emang ini adalah kesalahannya, karena tidak mau mendengar uncapan ibu dan menolak untuk di anter kesekolah malah memilih berangkat sendiri.


__ADS_2