
Sampainya Pak Surya di rumah sakit ia segera menuju ruangan tempat dimana istrinya menunggu sambil istirahat, dengan wajah yang sangat lelah karena belum istirahat sesampainya dari kampung halamannya.
Cekrek.
Pintu kamar di buka tapi betapa terkejutnya pak Surya saat membuka pintu dan mengetahui kalo istrinya tidak ada di ruangan ia segera memanggil perawat yang kebetulan lewat di depan kamar pasien.
"Permisi suster saya mau tanya, pasien yang ada di kamar ini kemana ya? kok tidak ada di kamarnya?" tanya pak Surya.
"Oh nyonya Deswinta ya tuan, maaf tadi saya melihat nyonya ada di kamar pasien yang kemarin terima donor darah dari nyonya," jawab suster yang juga kebetulan habis dari kamarnya Ridwan.
"Ohh begitu emang kamarnya pasieb itu sebelah mana ya sus, kalo boleh tahu?" tanya pak Surya lagi.
"Dari sini lurus terus belok kiri di lorong rose kamar nomer 34 itu kamarnya tuan," jawab suster sambil menunjukkan jalan.
"Oh ya terimakasih ya sus, kalo gitu saya mau kasans dulu nyusul istri saya," kata pak Surya berlalu mengikuti arah yang telaj di tunjukan suster tadi.
Dalam hatinya pak Surya selalu bertanya-tanya kenapa istrinya sanggat tertarik dengan seorang anak yang bahkan belum ia temui sama sekali bahkan kenal mukanya saja belum, tapi ia begitu perduli banget sampai mau mendonorkan darahnya.
Sepanjang jalan pak Surya selalu memikirkan soal pertanyaa itu, tapi siapa yang lebih paham dengan insting hati seorang ibu, biasanya ibu akan lebih peka perasaannya ketika merasakan buah hatinya sedang dalam masalah, dan akan dengan sanggat cepat bisa merasakannya walau dalan keadaan jarak yang sangat jauh.
Sampainya pak Surya di depan ruangan kamar yang tadi di maksud oleh suster tersebut, ia berhenti berdiri di luar untuk mengetuk pintunya yang sedang tertutup tapi ia sempat bethenti mrndengarkan suara seorang yang sangat ia kenal yang sudah lama ia rindukan gelak tawanya.
"*Aku tidak salah dengar kan? ini suara istriku sudah lama tidak mendengar suara tawanya yang lepas, terakhir kali ia tertawa saat Ridwan ada di dekatnya, siapa sebenarnya anak yang ia temui sehingga bisa membuat ia sebahagia ini," gumam pak Surya.
Tok!tok!tok.
__ADS_1
Pak Surya segera mengetuk pintunya karena rasa penasarannya dengan sosok anak yang sedang di temui istrinya yang bisa membuat istrinya tertawa lepas seperti dulu lagi.
"Hmm sepertinya ada yang datang biar aku buka dulu pintunya!" kata Arya yang juga ikut merasakan kebahagian itu.
Ceklek.
Pintu dibuka Arya yang keluar membuka pintu segera bertanya pada pak Surya ada perlu apa? karena memang Arya belum mengenal siapa tamu yang ada di hadapannya.
"Siang pak? ada yang bisa saya bantu?" tanya Arya.
"Hmm maaf saya datang kesini ingin mencari istri saya,benarkah ini kamar pasien yang menerima donor darah kemarin?" jawab pak Surya balik tanya.
"Oh iya benar, tuan ini adalah suaminya nyonya Deswinta kan? mari tuan silakan masuk nyonya Deswinta ada di dalam," Arya kembali pembicara sopan karena takut menyingung pak Surya.
"Oh iya terimakasih kalo gitu saya masuk ya," pak Surya pun masuk mendahuli Arya yang hendak menutup pintu.
"Ridwan!! Mamah!!" panggil pak Surya terkejut saat masuk ke dalam.
Pak Surya yang melihat putranya duduk bersandar di tempat tidur pasien langsung lari memeluk Ridwan sebelum menghampuri istrinya, sungguh tiada ia menyangka ternyata anak yang menerima donor istrinya adalah putra kandungnya yang ia rindukan dan cari keberadaannya selama dua tahun terakhir ini.
"Ayah! aku Rindu ayah bagaimana kabar ayah?" tanya Ridwan masih dalam pelukan ayahnya.
"Kabar ayah baik, Nak! kamu gimana bisa berada disini! ayah dan mamah selalu mencari-cari, kemana aja kamu?" suara pak Surya serak karena menahan tanggis yang sudah lama ia tahan, tanggis kebahagian.
"Mah, kenapa mamah tidak beritahu ayah kalo mamah udah ketemu Ridwan malah asyik tertawa disini," kata ayah Surya yang masih memeluk Ridwan.
__ADS_1
"Hehe maaf ayah, mamah lupa karena sangking bahagianya bertemu Ridwan jadi mamah lupa deh maaf ya ayah!" bu Deswinta mengabungkan kedua tangannya meminta maaf.
"Yaudah ga Apa-apa yang penting ayah bahagia karena ayah bisa lihat lagi senyum mamah juga mendengar tawa mama yang dulu sempat hilang, bersama hilangnya Ridwan," uncap ayah Surya memeluk keluarganya.
"Ini ayahnya kakak Ridwan ya?" tanya Kasih yang masih bingung.
"Iya Kasih ini ayah ku, dan ayah kenalin ini Kasih ia juga korban penculikan sama kaya Ridwan, cuma Kasih tidak tahu dimana Rumahnya!" kata Ridwan memperkenalkan.
"Hai Kasih salam kenal, kamu beneran tidak tahu dimana rumah kamu, nak? kalo kamu bisa tahun om akan antar kamu kerumah dan kamu bisa bertemu kedua orang tua kamu om yakin mereka akan sangat senangnya seperti kami nanti jika bertemu kamu?" tanya ayah Surya.
Kasih hanya mengeleng kepala ia sunguh tidak tahu di mana kampung halamannya, biarpun ibunya berasal dari kota tapi sedari kecil ia belum pernah di ajak ketempat kelahiran ibu, hanya Nadia yang sudah pernah kesana itu pun ketika Nadia masih sangat kecil dan belum tahu apa-apa.
"Tapi Mamah berencana untuk mengajak Kasih pulang kerumah kita, Yah supaya kita bisa merawatnya sampai ia ketemu dengan orang tuanya juga untuk menenani Ridwan," uncap mamahnya Ridwan.
"Oh boleh kalo emang udah jadi keputusan mamah dan Ridwan, ayah setuju kok yang penting Kasihnya mau dan tidak keberatan?" tanya Ayah Ridwan mengelus Rambut Kasih.
"Iya om Kasih mau ikut sama kak Ridwan," uncap Kasih seneng.
"Kok panggilnya om! panggil ayah dan mamah ya seperti Ridwan juga mulai sekarang Kasih jadi bagian dari keluarga kami," kata ayah Surya meminta.
"Baik om... eh ayah maksudnya terimakasih udah mau terima Kasih jadi bagian dari kalian," ujar Kasih senang.
Pak Surya bertanya tentang siapa Arya dan apa yang tetjadi pada Ridwan, Ridwan pun kembali menceritakan apa yang tadi ia ceritakan pada mamah, cerita tentang ia yang di culik, tentang nasib Ciko sahabatnya, pertemuan ia dengan Kasih sampai ia bertemu dengan Arya yang anggota kepolisian juga sampai akhirnya ia terbaring di rumah sakit dan buda bertemu orang tuanya.
Pak Surya yang mendengar ceritanya merasa iba ia sungguh tak menyangka kalo putranya kuat dalam menghadapib semua kerasnya kehidupan di luar di bertahan dalam kekerasan bahkan bisa melindungi seorang anak gadis kecil hingga ia selamat dari kurungan orang jahat.
__ADS_1
Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa kita petik untuk di pelajari bahwa tak selamanya hidup itu akan senang dan selalu berada di atas, akan ada tiba saatnya dimana kita harus siap menjalani kerasnya hidup ini. dan tetap bertahan hidup dalam ketidakpastian ini.