
Hari sudah berganti sore saat ibu sedang menyiapkan sayuran untuk jualan pecel besok dan Nadia juga belum keluar kamarnya, ayah masih terjaga di kamar sambil menatap langit-langit rumahnya.
Saat magrib tiba ibu telah melaksanakan sholat berjamash di kamar bersama ayah, setelah solat mereka makan malam, ada yang beda kali ini biasanya mereka makan malam bersama tapi sekarang makan berpisah ayah makan di kamar sambil si suapin ibu, sedangkan ibu hanya makan sendirian di meja makan tanpa ada Nadia putrinya
"Hmm, sepertinya Nadia masih marah deh sama aku, ya mungkin emang aku pantas untuk di benci dan di salahkan ya Allah ampuni Nadia dia khilaf dan tidak bersalah hingga tadi tanpa sadar membentak hamba," doa ibu mohon pengampunan.
Malam pun telah tiba semua tertidur menghentika tugasnya masing-masing untuk istirahat sejenak sebelum besok kembali beraktifitas seperti biasanya, ibu tidur setelah membantu ayah minum obat malamnya kini.
Sementara di kamar Nadia, ia masih terjaga belum bisa memejamkan matanya perasaan bersalah karena membuat Kasih hilang saja belum teratasi kini ia kembali membuat suatu kesalahan karena membuat ibu sedih dengan bicara kasar padanya, sejak saat membentak ibu sampai malam ini Nadia memang tida menemui ibunya.
"Ya Allah apa yang udah aku perbuat sungguh sanggat konyol membentak ibu menbuat ibu menanggis maafkan hamba Ya Allah, besok aku mau minta maaf deh sama ibu karena emang bukan salah ibu, ayah sakit," Nadia bicara sendiri di kamar karena sedang galau.
Nadia pun kini sudah terlelap terbuai dalam mimpi indahnya, untuk menyambut hari esok dengan semanggat karena mau meminta maaf pada ibu karena sudah bicara kasar tadi siang, selamat mimpi indah Nadia, ayah, dan ibu semoga esok adalah hari yang cerah untuk kalian.
*****
Keesokan harinya seperti biasa ibu bangun lebih ayah bersiap untuk sholat subuh, bersama ayah biasa kalo subuh selalu berdua saja tanpa ada Nadia, setelah solat ibu membuat sarapan untuk keluarganya.
Saat sedang sibuk masak di dapur ibu di kagetkan dengan kehadiran Nadia yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang membuat ibu hampir loncat karena terkejut.
__ADS_1
"Ibuuu!!!" Seru Nadia.
"Astagfirllohalazim, Nadia kamu kenapa sayang kok nangis pagi-pagi gini, ada apa bilang sama ibu? jangan bikin ibu khawatir?" tanya ibu masih membelakangi Nadia karena pelukannya sangat erat.
"Ibu huhuhuuu,,, maafin aku ibu! karena sudah bicara kasar kemari sama ibu, dan menyalahkan ibu untuk kesalahan yang bahkan ibu saja tidak melakukannya huhuhu,,, maafkan aku ibu!" tanggis Nadia penuh dengan penyesalan yang dalam.
"Sayang sini lihat ibu, ibu mau bicara sama Nadia!" hibur ibu menarik tangan Nadia lembut, "Tanpa Nadia minta maafpun ibu sudah memaafkan Nadia saat itu juga, karena ibu tahu Nadia ngelakuin itu juga tidak sengaja jadi gak usah nanggis ya," kata ibu membujuk Nadia.
Ibu mengusap air mata Nadia yang terus menanggis karena merasa bersalah bahkan ia tidak berani menatap mata ibu, dengan kedua tangan ibu mengusap air mata Nadia, terasa kasar tangan ibu tidak lagi halus seperti dulu itu menandakan jika ibu sangatkah berusaha keras mencari nafkah mengantikan ayah yang sedang sakit.
"Maafin Aku bu! sungguh aku menyesal karena udah bikin ibu nangis padahal ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk aku dan ayah, mencari uang mengurus rumah dan juga ayah sampai-sampai tangan ibu seperti ini, taoi apa yang aku lakuin cuma menyalahkan ibu, huhuhu maaf ibu!" Suara Nadia lagi-lagi terisak nanggis.
Nadia pun berhenti menanggis dan kini sedang memeluk tubuh ibunya yang kini merangkap sebagai ibu sekaligus ayah baginya yang selalu berjuang walau letih, tapi tak sedikit pun Nadia melihat wajah lelah ibu, yang ia lihat hanyalah wajah ibu yang tersenyum bahagia walau seribu juga ia tak perduli.
Nadia pun melepaskan pelukannya dan membiarkan iby melanjutkan aktifitasnya sedangkan dirinya masuk ke kamar mandi untuk bersiap betangkat sekolah pagi ini, dan akan berusaha agar pulang cepat nanti, supayq bisa membantu ibu menjaga ayah, saat ini mungkin Nadia belum bisa membalas budinya ibu tapi hanya dengan membantunta merawat ayah itu susah sedikit meringankan bebannya Ibu.
Setelah selesai sarapan sendiri di meja makan karena kali ini ayah meminta untuk sarapan di kamar saja tidak ingin keluar, ibu juga sarapan di Kamar menemani ayah, Nadia pamit pada kedua orang tuanya untuk berangkat sekolah.
"Ayah, ibu! Nadia pamit dulu ya berangkat sekolah nanti Nadia usahain untuk pulang cepat tidak telat lagi seperti kemarin agar aku bisa bantu ibu jagain ayah, assalamualaikum!" pamit Nadia mencium punggung tangan ayah dan ibu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, hati-hati!" ayah dan ibu membalas salam.
Nadia telah berangkat sekolah seperti biasa ibu selalu merapikan rumah dulu sebelum berangkat jualan cuma hari ini sedikit berbeda dari hari-hari kemarin yang biasanya ibu selalu bersemanggat untuk jualan tapi kali inu ibu ingin sekali menemani ayah dan libur jualannya, tapi karena harus menebus obat jadi ibu paksa untuk jualan.
"Kenapa hari ini saya kok males banget ya perasaannya untuk berangkat jualan, inginnya tuh di rumah nunggui ayah terus dan seperti ada perasaan tidak enak mudah--mudahsn cuma perasaan saja jangan sampe ada hal buruk terjadi," gumam ibu dalam hati.
Setelah selesai merapikan rumah ibu berpamitan dulu ke ayah untuk berangkat jualan dan kembali mengingatkan mungkin akan pulang telat karena harus nebus obat dulu di rumah sakit, tempat ayah di rawat dulu karena cuma disana yang sediain obat merah besarnya itu(obat flek khusus paru-paru)
"Ayah ibu berangkat dulu ya mau jualan, oh iya nanti ibu pulangnya telat mau ambil obat dulu nanti kalo ayah mau minum ini minumnya ya, ibu siapin di atas meja, ibu pamit ya, Yah! assalamualaikum!" salam ibu pamit kepada ayah mencium tangan ayah.
"Wa-walaikumsalam bu, hati-hati,,, uhukk,,, uhukk maafin ayah ya bu ngerepotin ibu mulu," kata ayah menjawab salam ibu.
Mendengar suara ayah membuat ibu semakin tidak menentu perasaannya, ibu yang sudah melangkah keluar balik lagi ia pun mencium kening ayah sambil meminta maaf juga karena belum bisa bahagia ayah dan tidak bisa menjaga ayah dengan baik.
Cupp!!
"Maafin ibu juga ayah, karena gak bisa jagain ayah dan ngurusin ayah dengan benar ibu selalu ninggalin ayah sendirian di rumah buat jualan cari uang, ibu janji akan berusaha untuk kesembuhan ayah, sekarang ayah istirahat ya ibu mau berangkat dulu udah siang, maafin ibu sekali lagi," uncap ibu mencium kening ayah.
Ibu melangkahkan kakinya terasa begitu berat seakan ada sesuatu hal besar yang akan terjadi hari ini entah itu apa, tapi ibu berharap semoga saja bukan hal yang buruk, berkali-kali ibu menoleh kebelakang memandangi rumahnya seakan ingin ia kembali lagi, tapi perasaan itu ibu lawan hingga akhirnya ibu berhasil melangkah jauh walau sedikit berat.
__ADS_1
Rumahnya sudah tak lagi terlihat oleh mata kini ibu pokus menjajakan jualannya agar segera habis dan ibu bisa cepat-cepat pulang kerumah merawat ayah, karena ada perasaan yang tidak enak terus menganjal di hati ibu.