Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 57


__ADS_3

Ibu mengayuh sepedanya sepanjang jalan, entah spa yang terjadi mungkinkah ini karena perasaan ibu yang sedari tadi tidak enak atau emang ibu sedang tidak ada rejekinya hari ini, sudah cukup lama ibu mengayuh sepedanya dari rumah hingga berkeliling kampung tapi ibu belum juga dapat pembeli yang memanggilnya.


"Ya Allah sudah sejauh ini aku berkeliling tapi belum juga dapet penglaris, ada apa ini ya Allah hamba harus dapat uang untuk menebus obat ayah, tapi kalo begini caranya takutnya uangya kurang," gumam ibu dalam hati.


Ibu terus berjalan sambil mengayuh sepedanya menerikan jualannya supaya ada yang dengar lalu minat untuk membeli hari sudah mulai siang ibu belum juga melayani pecelnya.


"Pecel... pecel... yuk pecelnya di beli murah!" suara ibu menyerukan dagangannya.


Saat ibu sedang istrirahat di suatu tempat tak begitu jauh dari rumah sakit ada seorang anak muda datang untuk membeli ini pelangan pertama ibu hari ini sungguh perasaan ibu sangat senang, setidaknya masih ada sedikit rejeku untuknya.


"Bu, saya beli pecelnya tiga di bungkus lima ribuan!" kata pelangan pertama.


"Ohh iya mas, tunggu sebenta saya buatkan dulu, camour semua kan ya?" tanya ibu sangking senangnya.


"Iya pakai semua sayurannya," jawab pembeli menunggu sambil berdiri.


Saat ibu sedang asyik melayani pembeli pertama satu persatu orang berdatangan membeli jualan ibu seperti sedang sedang di gantikan rejeki ibu, betapa ramai hari ini jualannya sampai ibu sendiri kesulitan untuk melayaninya untung saja pembelinya sabar semua.


Sementara kita tenggok Nadia di sekolahnya, Nadia yang sedang mengerjain tugas dari gurunya juga memiliki perasaan yang tidak enak tentang ayahnya, ia selalu saja ingin cepat-cepat pulang bertemu ayahnya sungguh hal yang tidak pernah Nadia alami.


"Kenapa aku kepikiran ayah mulu ya? perasaan ingin cepat-cepat ketemu ayah, mudah-mudahan ayah baik-baik saja gak terjadi hal yang buruk ya Allah lindungin ayah," doa Nadia dalam hati merasa khawatir.


Biasanya Nadia selalu tenang walaupun tahu ayah sendirian jika jam segini karena ibu yang harus menjajakan jualannya menukar dengan rupiah untuk menyambung hidup, tapi kali ini Nadia merasa tidak enak.


Mengerjakan tugas juga tidak pokus membuat ia dapet teguran dari teman sekelompoknya karena salah menulis soal atau catatan yang harus Nadia berikan untuk tugas kompoknya.

__ADS_1


"Nadia, kamu tidak apa-apa kan? semua catatan kamu kok isinya begini?" tanya Dea teman kelompok Nadia.


"Emangnya apa yang salah dengan catatannya? perasaan tadi udah bener deh nulisnya mana coba sini lihat?" jawab Nadia balik tanya karena tidak tahu apa kesalahannya.


Sungguh Nadia sanggat terkejut saat melihat isi tulisan dalam buku tugasnya, Nadia sungguh menyesal karena tidak memeriksanya lagi karena ia melamun Nadia jadi salah catat seharusnya mencatat tugas ia malah menulis apa yang tadi ia uncapan dalam hatinya.


"Ya ampun kok jadi gini, maaf-maaf kalo gitu akan saya perbaiki dulu semuannya tunggu sebentar ya," Nadia minta waktu untuk memperbaikin tugasnya.


Teman-temannya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka kalo Nadia akan seceroboh itu untung saja saat itu belum ada gurus yang masuk kelas, kalo ada mungkin sudah di kurangi nilainya karens kurang pokus.


Sementara Nadia sedang sibuk menganti tugas sekolahnya, dan ibu juga sedang sibuk melayani pembelinya namanya juga keluarga yang memiliki ikatan bathin yang kuat jika sati di antara keluarganya mengalam kesusahan pasti yang lain akan merasakannya, saat Nadia dan ibu sedang memiliki perasaan yang tidak enak, begitu pula dengan Kasih disana ia pun merasakan itu.


****


Kita Tenggok Kasih dulu sebentar.


Prankkk!!!


Suara gelas jatuh dan pecah menimbulkan suara yang mengema di kantin membuat semua mata tertuju pada Kasih dan Ridwan.


"Akhh!!" jeri Kasih kaget saat ada sebuah beling mengenai kakinya.


"Kasih kamu gak apa-apa kan? apa sih yang sebenarnya terjadi sama kamu, kenapa pagi ini kamu tuh selalu saja ceroboh kalo kamu emang sedang tidak enak badan harusnya bilang biar gak usah sekolah?" tanya Ridwan.


"M-maaf kak! aku juga gak tahu kenapa pas bangun tidur tadi tiba-tiba aku teringgat ayah, bayangan ayah selalu menghantui, ada apa ya kak? aku jadi rindu ayah?" jawab Kasih hampir menanggis.

__ADS_1


Tapi Ridwan dengan Sigap langsung menghiburnya membuat Kasih berhenti menanggis, Ridwan pun membawa Kasih kembali ke kamarnya setelah ia membersihkan pecahan gelas tadi.


Sekarang kita kembali ke tempat ayah yah!


Sejak saat ayah di tinggal sendirian oleh ibu, ayah lebih leluasa lagi merasakan sakitnya yang ia rasakan yang kadang ia sembunyikan di depan ibu karena tidak mau membuat ibu khawatir.


Dada ayah semakin sesak tubuhnya juga sudah susah sekali untuk di gerakkan, ibu yang biasanya menaru air atau termos di samping ayah agar memudahkannya untuk minum saat jauh tapi kali ini tidak mungkin ibu lupa.


"Hauss!! dimana ya air minumnya ini gelasnya udah kosong, wah kayanya ibu lupa buat siapin airnya karena buru-buru kali ya, biar deh aku ambil sendiri," gumam ayah seorang diri.


Ayah berusaha keras untuk bangkit dari posisi tidurnya ia perlahan bangun tapi selalu jatuh dan jatuh lagi membuat nafasnya yang terengah-engah menjadi sesak jantungnya pun berdegub kencang ketika ayah merasa khawatir, sekitar dua jam ayah berusaha bangun dan akhirnya ayah bisa berdiri juga.


"huft, huh,, huh,, alhamdulilah akhirnya bisa berdiri juga setelah berusaha keras buat bangun, sekarang tinggal menuju dapur untuk ambil minum," kata ayah pada dirinya sendiri.


Ayah berjalan melangkahkan kakinya yang sudah kaku sebelah semenjak lama ia berjalan dengan cara menlangkahkan kami kanan dulu karena masih bisa gerak lalu mengangkat kaki kirinya dengan tangan karena yang kaku dan tidak bisa gerak adalah kaki kanan.


"Uhukk,,, uhukk,,, uhukk,,, ayo semanggat harus bisa!" suara batuk ayah memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Selangkah demi selangkah ayah bisa berjalan menuju meja makan untuk ambil minum, setelah berusaha selama satu setengah jam akhirnya ayah sampai meja makan dan mengambil air minum seperlunya ia minum saja.


"Alhandulillah akhirnya bisa minum juga setelah tadi haus, sekarang balik lagi ke kamar," gumam ayah lagi.


Ayah kembali ke kamar dengan cara yang sama saat ayah keluar tadi, cuma ada sedikit perbedaan dengan tadi, saat keluar ayah tanpa membawa gelas berisikan air kini gelasnya terisi penuh dengan air, yang mana airnya sedikit demi sedikit tumpah saat menerima guncangan dari kaki ayah, dan memenuhin seluruh lantai dan tanpa sengaja ayah menginjak keramik yang terkena tumpahan airnya karena kondisinya licin dan ayah tak bisa menyeimbangkan berat badanya akhir ayah terjatuh.


Brukkk!!! Prankk!!!

__ADS_1


Suara tubuh ayah yah terbentur lantai di kamar juga suara gelas pecah yang di bawah ayah, ayah berusaha untuk bangun tapi tak bisa lantainya menjadi sangat licin bagi ayah yang hanya mengandalkan satu anggota tubuhnya, ayah meminta tolong tapi tak ada satu pun yang datang menolongnya.


"Tolong,,, uhukkk,,, uhukkk,,, uhukkk t-tolong,,,." Suara ayah yang kelelahan.


__ADS_2