Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 50


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian.


Di tempat Ayah dan Ibu pagi hari saat tahun ajaran baru, Nadia Sudah duduk dikelas 1 SMP, usianya pun sudah menginjak 13 tahun, sudah 4 tahun Nadia terpisah dengan Kasih yang kini sudah hidup bahagia bersama kedua orangtua angkatnya bahagia dalam segi lahirnya bukan dalam segi bathin.


"Nadia bangun sayang, udah pagi kamu harus berangkat sekolah kan, sini sarapan dulu!" panggil ibu.


"Iya bu sebentar lagi, Nadia ganti baju dulu," sahut Nadia dari kamarnya.


"Uhuk... uhuk... uhukk...," suara batuk ayah dari dalam kamar terdengar ibu segera menghampiri ayah.


"Ayah!! ayah tidak apa-apa kan? ini ayah minum dulu airnya biar lega tenggorokannya," kata ibu khawatir.


Kondisi kesehatan ayah menurut sejak dua tahun terakhirnya ini, di karenakan ayah terlalu lelah setiap hari mencari uang tanpa henti untuk masa depan keluarganya di tambah ayah selalu mencari Kasih yang membuat ayah kurang tidur hingga sering kali ayah jatuh pingsan.


Tetakhir ayah periksa ke rumah sakit pihak rumah sakit hanya mengatakan bahwa ayah hanya kecapean tidak ada penyakit yang sanggat serius, tapi ibu selalu merasa ada yang di sembunyikan ayah kenapa kalo emang cuma kecapean kok penyakitnya bukannya sembuh malah makin parah.


4 tahun sudah berpisah dengan Kasih membuat ibu sudah bisa menerima dengan iklas dan bersabar ibu tidak lagi suka melamun diri seperti tiga tahun sebelumnya, kini ibu sudah bisa bangkit dari ketidakberdayaanya, lebih-lebih saat ayah mulai berkurang kesehatannya ibu merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Hmm ini bu terimakasih, ayah baik-baik saja kok ibu gak usah khawatir," suara ayah memecah lamunan ibu memberikan gelasnya.


"Ayah kita sarapan dulu yuk habis itu ayah minum obatnya biar sembuh!" ajak ibu.

__ADS_1


"Iya bu, maafin ayah ya karena ngerepotin ibu mulu padahal seharusnya,,, uhukk,,,." uncapa ayah terhenti dengan batuknya yang semakin parah.


"Sudah ayah jangan dulu banyak bicara ayah, makan dulu mau ibu bawa kesini makanannya atau ayah mau makan di luar bareng Nadia juga?" tanya ibu.


"Ayah makan di luar aja, biar bareng-bareng ayah juga ingin melihat Nadia! kangen!" kata ayah.


Ibu seperti terkejut bathinnya terasa sakit ketika ayah berkata kangen dengan Nadia, padahal Nadia lah orang yang paling rajin jagain ayah saat ibu sedang sibuk menjajakan jualannya keliling.


Semenjak ayah sakit tak ada lagi yang berjualan baksonya, selama satu tahun terakhir ini ayah sakitnya parah selain ayah batuk, ia juga sempat mengalami Struk ringan akibat jatuh dari motor yang membuat ia sulit untuk bergerak, akibat ibu harus menemani ayah mengurus segala sesuatu kebutuhan ayah.


Karena ayah saat itu tak bisa kemana-mana hanya diam diri di kasur berjalanpun butuh bantuan dari ibu, karena tidak ada yang mencari uang sedangkan pengeluaran terus berjalan membuat ibu terpaksa menjual ruko yang dulu sempat ia miliki, karena mereka juga butuh makan dan terapi untuk ayah setiap harinya selama setengah tahun.


Ayah sempat sembuh saat habis terapi itu, dan ayah juga sempat betjualan tidak lama hanya seminggu kemudian kondisi ayah drop lagi ia kembali jatuh sakit ayah sempat di rawat di rumah sakit selama tiga bulan karena sakit batuknya yang tidak kunjung reda, tapi anehnya dokter bilang kalo ayah tidak memiliki penyakit yang serius.


"Bu ayo kita sarapan! tadi ngajakin aku kok sekarang malah ibunya yang ilang," suara Nadia membuyarkan lamunan ibu.


"Ehh i-iya nak sebentar ibu lagi bantu ayah, katanya ayah mau sarapan bareng kita di meja makan," sahut ibu.


Mendengar kata ayahnya Nadia pun segera menyusul ke kamar ayah untuk membantu ibu mengandeng ayah betjalan menuju meja makan.


"Seharusnya ayah sarapannya di kamar saja gak perlu ke meja makan kan ayah lagi sakit, harus banyak istirahat!" kata Nadia.

__ADS_1


"Maafin ayah ya, Nak udah nyusahin kamu dan ibu seharusnya ayah makan di kamar saja ya gak usah kemana-mana," uncap ayah sedih.


"Gak kok, ayah gak repotin Nadia ini udah jadi tugas Nadia untuk jagain ayah, sudah waktunya Nadia membalas kebaikan ayah yang dari lahir udah menjaga dan memberikan kehidupan untuk Nadia dan Kas,,,." Nadia tak meneruskan uncapannya.


Matanya Nadia berkaca-kaca sepintas ia teringgat akan adiknya yang tidak mereka ketahui dimana dan bagaimana keadaannya? masih hidupkah atau telah tiada kalopun telah tiada setidaknya mereka ingin sekali melihat jasadnya untuk yang terakhir kalinya, rasa putus asa itu selalu menghantui mereka karena pernah mendapat kabar dari Kasih.


Dengan susah payah mengandeng ayah Nadia dan ibu berhasil sampai ke meja makan ayah duduk di bangku bersama Nadia, sedangkan ibu menyiapkan makanan untuk ayah dan putrinya tak ada yang membahas tentang uncapan Nadia yang tadi sempat terpotong karena mereka sudah lelah menanggis Kasih selama 4 tahun ini entah masih ada berapa tahun lagi untuk bisa bertemu dengan putri sulung ibu.


"Ayo silakan ayah di makan nasinya dan ini teh hanggatnya, Nadia juga di makan sarapannya dan ini susunya biar hanggat," kata ibu menyuguhkan.


"Nadia sudah kelas satu SMP ya, sudah besar ya putri ayah semakin cantik saja," puji ayah saat melihat seragam Nadia yang sudah berganti warna.


Seminggu yang lalu Nadia sudah melewati masa orientasj Siswa atau biasa yang di sebut dengan mos dan Nadia kini sudah Resmi menjadi murid sekolah Harapan Bangsa sekolah SMP yang paling populer di kalangan kampung ayah karena siswa siswinya terbilang dari kalangan yang pintar dan berduit untuk masuk situ pun butuh nilai nem yang tinggi, beruntung Nadia seorang anak yang pandai sehingga masuk situ pun kepala sekolah SDnya yang merekomdasikannya melalui program beasiswa tahunan.


"Iya ayah, Nadia putri ayah sudah semakin dewasa kan, doain Nadia ya, ayah agar Nadia bisa sekolah dan lulus dengan nilai yang bagus dan bisa membanggakan ayah dan ibu!" pinta Nadia.


"Aminn, sayang Doa kami selalu menyertaimu nak, orang tua akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya," sahut ibu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Aminn,,," sambung ayah juga ikut mengaminkan.


Seketika suasana pun menjadi hening karena acara sarapan pun sedang berlangsung karena hari semakin siang dan yang tendengar hanyalah suara dentingan dari sendok yang beradu dengan piring.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2