
Tepat saat terdengar suara azdan duhur Nadia pulang dari sekolah, sebenarnya ia ada tugas kelompok lagi cuma karena hari ini perasaannya sedang tidak karuan ia ijin tidak ikutan dulu dalam tugas.
"Huh! untung saja teman-teman bisa ngertiin aku, dan injinin aku untuk pulang tidak ikut belajar kelompok, entah kenapa pikiran aku kok ke inget ayah mulu ya, takut terjadi apa-apa sama ayah, udah lah aku lebih baik cepat-cepat pulang," Nadia berbicara sendiri lalu ia pun segera mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di rumah.
Setibanya Nadia ia pun langsung memberi salam dan segera masul menuju kamar ayah, dalam hatinya selalu berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada ayah semoga aja dalam keadaan sehat selalu.
"Assalamualaikum, ayah Nadia pulang!" salam Nadia masuk tapi rumahnya sepi.
"Hmm ibu rupanya belum pulang jualan kali ya, sepedanya tidak ada di rumah," pikir Nadia segera masuk ke kamar ayah.
"Ayahh,,, ayah! Nadia pulang!!" suara Nadia memanggil ayah.
Tapi betapa tambah khawatirnya Nadia saat tak ada yang menyahut saat di panggil, biasanya ayah kalo mendengar suara Nadia selalu memanggilnya balik tapi ini tidak membuat Nadia jadi takut hak buruk terjadi pada ayah ia pun segera berlari.
"Astagfirlloh, Ayahh!!! masyaAllah apa yang terjadi, ayahh!! ayahh bangun! ayah bangun ayah, kenapa ayah tidur di bawah? ayah huhuhu bangun ayahh!!" seru Nadia terus teriak-teriak memangil ayahnya.
Di saat yang bersamaan ibu yang baru pulang berjualan sekalian ambil obat juga pulang dan saat ibu mendengar suara teriakan Nadia, ibu segera berlari ke arah sumber suara, sungguh ibu pun sangat terkejut melihat Nadia menanggis sambil memeluk ayah yang tergeletak di lantai.
"Ayahh!! masya Allah, apa yang terjadi? Nadia ayah kenapa kok bisa di bawah?" tanya ibu panik melembar plastik obatnya.
"Huhu,,, ibu Nadia juga tidak tahu huhu,, saat Nadia pulang ayah sudah begini,,, ibuuu, ayah kenapa bu?? dari tadi Nadia panggilan gak bangun-bangun,, huhuhu ayahhh,,," isak tanggis Nadia memenuhi ruangan kamar ayah.
Ibu memeluk ayah mencoba merasakan detak jantungnya tapi tak ada, ibu semakin panik dan ia pengang juga pergelangan tangan ayah mencoba mencari denyut nadinya berharap bisa merasakan detakan kehidupan di sana, tapi tidak ada juga, lalu ibu pindah lagi ke hidung sudah tidak terasa nafas ayah.
__ADS_1
"Engak,,, engak ini enggak mungkin ayahh!! ayah bangun ayah, udah cukup bercanda ini gak lucu ayah, banguunn ayahhh huhuhu,,, kenapa ayah bercanda mulu," ibu mulai menanggis saat tak menemukan tanda-tanda kehidupan dari tubuh ayah.
Tapi ibu tak mau menyerah ia mengajak Nadia untuk mengotong ayah memindahkannya ke atas kasur saat itu ibu melihat banyak darah berceceran di lantai dan juga luka pada sekujur tubuh ayah, dari kaki dan tanggan terbayang di mata ibu jika ini ada usaha ayah yang mencoba untuk bangun namun tak bisa karena banyak beling yang berserakan.
"Ya Allah kenapa kau ambil suami ku, belum cukup kah engkau mengambil Kasih putri hamba? kini engkau mengambil suami hamba untuk selama-lamanya, lalu pada siapa lagi diri ini bersandar saat sedang rapuh huhuhu," suara isak tanggis ibu makin pecah saat melihat kondisi yah.
Nadia yang mendengar uncapan kata-kata ibu, ikut menanggis ia tahu arti dari uncapan ibu kalo ayah sudah tiada ayah telah pergi untuk selama-lamanya Nadia pun teriak histeris menanggis, saat itu ada kebetulan ada orang yang lewat depan rumah ibu yang terkejut saat mendengar Nadia, lalu mereka pun menghampiri rumah ibu yang terbuka pintunya.
"Ehh, ada apa yah? kok Nadia nanggis begitu histeris, apa ada yang terjadi sama keluarganya?" tanya ibu puji pada orang di sebelahnya.
"Iya ya? ada apa ya, kok saya jadi takut, coba yuk kita lihat apa yang terjadi!" ajak ibu itu.
Mereka berdua pun menghampiri dan masuk rumah ibu yang memang pintunya tidak di tutup, mereka terkejut saat melihat rumah betantakan.
"Assalamualaikum," salam keduanya.
"Huhu,,, bu Puji silakan masuk tolong saya bu," sahut ibu memangil dari kamar.
Ibu puji dan temanya ibu Dilla pun masuk ke kamar asal suara ibu yang memanggil, dan saat sampai di kamar mereka berdua pun terkejut.
"Astagfirrllohalazim, bu Ningsih apa yang terjadi kok berantakan begini?" tanya bu puji.
"Bu puji,, suami saya buu,, huhu suami saya udah gak ada huhuhu,,," ibu kembali kemanggis.
__ADS_1
"Innalilahiwainalilahi rojiun, kapan meninggalnya? bu Ningsih yang sabar ya?" tanya bu puji menghibur.
"Bu puji kalo gitu saya kabari pak Rt sama warga yang lainnya dulu ya biar di urusin jenasahnya!" pamit bu Dilla.
"Ohh iya bu, terimakasih bantuannya," uncap bu puji yang masih di tempat.
"Bu Ningsih sama Nadia yang sabar ya, terus kejadiannya kapan meninggalnya?" tanya bu puji sekali lagi.
"Saya kurang tahu kapan waktunya,hikss tapi waktu saya pulang Nadia sudah menanggis sambil meluk ayahnya yang tergeletak di lantai penuh darah," kata ibu betcerita.
Tak berapa lama kemudian pak rt dengan warga yang lainya datang berramai-ramai membawa perlengkapan dari masjid untuk mengurusi jenasah ada yang membuat makam untuk ayah ada yang sedang membuat papan nama untuk tanda di makam, jenasah ayah pun sudah di pindahkan ke ruang tamu agar ada terlihat oleh orang yang datang untuk bertakjiah.
Banyak warga yang datang untuk menguncapkan belasungkawa kepada ibu, dan mendoakan ayah agar di terima amal ibadahnya dan di ampuni segala dosanya, seketika itu juga rumah ibu ramai oleh para pelayat yang silih bergantian datang.
"Sabar ya bu Ning, semua udah takdir dari yang maha kuasa, apa yang bernyawa pasti akan mengalami mati, tergantung kitanya bagaimana menangapinya," Nasihat bu rt menghibur ibu.
"Iya, bu rt terimakasih karena sudah mau bantuin saya dan juga sudah betsedia mengurusi segalanya, saya mewakilkan nama almarhum minta maaf kalo suami saya punya banyak salah," ujar ibu sedih.
Ibu sungguh sangat berduka hari ini siapa sangka pertemuannya dengan suaminya tadi adalah pertemuannya yang terakhir, satu yang jadi penyesalan ibu kenapa saat ayah sedang saat teakhirnya ibu tidak ada di sampingnya pasti sangat menderita ayah saat itu.
Sekitar satu jam jenasah ayah mulai di mandikan para warga laki-laki bergotong royong menggontong tubuh ayah yang penuh luka di tangan dan kakinya ada beberapa beling gelas yang menempel di tangannya ayah.
"Ya Allah sampai segininya isinya beling semua, apa almahum jatuh sebelum meninggal ya?" warga saling bertanya-tanya.
__ADS_1
"Iya ya, seperti almarhum sedang membawa gelas dan mungkin jatuh menimpa beling tubuhnyq, lalu pas mencoba untuk bangun tidak bisa," warga lain ikut berkomentar.
Sementara tubuh ayah sedang di mandikan Nadia melihat dari balik tirai penutup pemandian, sungguh hatinya sanggat terpukul seorang yang sangat ia bangakan kini telah pergi dan tak akan kembali lagi untuk selama-lamanya, kini tak akan ada lagi tawan dan senda gurau dari ayah yang menghibur Nadia saat ia sedang sedih.