
Sepanjang Jalan Kasih dan Ridwan hanya diam mereka juga merasakan apa yang saat ini Arya rasakan kesedihan karena perpisahan walau terbilang singgkat kebersamaan mereka tapi hubungan itu sudah terjadi sejak pertama mereka bertemu, mamah Deswinta memperhatikan putra dan putrinya.
"Mamah tahu perasaan kalian saat ini pasti sedih kan berpisah dengan orang yang, sangat kita kenal walau baru pertama kali bertemu jika seorang itu adalah penyelamat kita tetap saja ada perasaan sayang muncul," kata mamah Deswinta memecah lamunan Ridwan dan Kasih.
"Kalo saja waktu itu tidak ada om Arya yang menolong kita membantu bersembunyi saat kita, berusaha kabur dari markas mungkin nasib aku dan Kasih sudah sama seoerti nasib Ciko," uncap Ridwan.
"Semua sudah di tuliskan jalannya,seperti apa hanya tergantung kitanya saja bisakah untuk memanfaatkan kesempatan dengan baik, kamu sudah di takdirkan untuk bebas dari jeratan penculik dan Arya menjadi penolong bagi kamu, tapi sebenarnya yang membantu kamu untuk lari dari markas itu Allah," kata ayah menasehati.
"Iya ayah kalo masalah itu, Ridwan sedikit mengerti cuma tidak salah kan jika aku dan Kasih sangat menyayangi dan ingin berterimakasih kapada om Arya yang telah merawat kami, bahkan membelikan kami baju baru yg lebih layak pakai?" tanya Ridwan minta pendapat.
"Tentu boleh tak ada larangan untuk kita,mengingat kebaikan seseorang dan membalasnya sebagai uncapan terima kasih kita, ayah dan mamah juga sangat berterima kasih banget sama Arya karena sudah mau menampung kalian dan merawatnya," jawab ayah.
"Sudah sekarang kalian tidak usah terlalu sedih, mamah yakin om Arya juga pasti sangat menyayngin kalian dan akan selalu merindukan kalian, jadi sekarang tersenyum ya jangan ada kesedihan lagi, masa ketemu mamah dan ayah malah bikin Ridwan dan Kasih sedih," ujar mamah Deswinta menasehati
"Gak dong mah, bisa berkumpul lagi dengan mamah, dan ayah adalah satu impian Ridwan selama ini, untuk menembus rasa bersalah Ridwan dulu karena tidak menurut dengan nasehat mamah," kata Ridwan menyesal.
"Yang lalu biarlah berlalu sekarang kita mulai lagi dari awal, kita ambil hikmah dari kejadian ini bahwa tidak semua orang tua ingin menyusahkan anaknya, terkadang larangan dari orang tua adalah bentuk dari rasa kasih sayangnya, jangan suka iri dengan mereka yang di bebaskan dengan orang tuanya belum tentu itu terbaik untuk anaknya," nasehat mamah membuat Kasih teringat Nadia, ia juga tidak nurut saat ibu melarangnya untuk berangkat sekolah di antar.
"Iya mah, sekali lagi aku minta maaf karena tidak mengerti dengan perhatian dari mamah, Ridwan janji kedepannya akan lebih nurut dengan kata-kata dan nasehat mamah," Ridwan menyesali perbuatannya.
Penyesalan memang selalu datang terakhir, harus ada kejadian buruk dulu untuk bisa menyadarkan kita akan suatu kesalahan yang kita buat, baru kita bisa mengerti pentingnya sebuah keluarga dan arti dari pethatian yang sesungguhnya.
Terkadang seorang anak memang sering bernggapan kalo kita orang tua yang suka menasehati adalah orang tua yang kurang sayang dan perhatian, tak jarang jika seorang anak selalu menyalahkan orang tuanya bawel ini dan itu, padahal dari kebawelannya itulah orang tua menunjukkan rasa kasih sayang dan perhatiannya ingin anaknya selalu aman dan nyaman ingin menjadi anaknya seorang yang bisa berguna kelak saat ia dewasa nanti.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah pak Surya dari rumah sakit memakan waktu satu jam itu pun kalo jalanan normal tanpa ada kemacetan, tapi jika macet bisa menempuh jarang sekitar dua atau bahkan sampai tiga jam.
Sekitar pukul 13.30 wib mereka telah sampai di rumah pak Surya, Kasih yang duduk di bangku belakang merasa tak asing dengan bangunan rumah yang pernah ia lihat sebelumnya saat mengantar mba Dewi pulang, ia pun berusaha untuk mengingat dan ingin bertanya tapi takut salah akhirnya ia hanya diam dan beranggapan jika hanya mirip saja.
Tin! tin-tin.
Suara klason mobil pak Surya, terdengar oleh satpam di dalam yang dengan segera membukakan pintu gerbangnya pak Surya pun segera masuk mobilnya ke dalam halaman rumahnya.
"Siang Tuan, dan Nyonya selamat datang," suara pak satpam menyambut kedatangan majikannya.
"Siang pak Rojak terimakasih," balas mamah Deswinta.
Mobil berhenti di depan pintu garasi yang di biarkan terbuka sebagai jalur keluar masuk pembantu rumah karena tak ada yang berani lewat jalur pintu utama padhal pak Surya atau ibu Deswinta tak pernah melarangnya.
Mereka sudah memutuskan untuk menjadikan Kasih bagian dari keluarganya, dan mengangap Kasih seperti anaknya sendiri dan tidak akan membedakan antara Kasih dan Ridwan mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagai seorang anak dalam keluarga Surya wijaya seorang pengusaha mebel ternama.
Kasih dan Ridwan keluar dari mobilnya dan tidak langsung masuk mereka masih mengamati sekeliling rumah yang mewah yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
"Mah, ini rumah kita? bukannya rumah kira agak kecil ya dulu, terus banyak sawahnya di sekelilingnya kok ini sekarang gak ada dimana sawahnya mah?" tanya Ridwan.
Sebenarnya rumah yang Ridwan tanyakan itu adalah rumahnya yang ada di kampung karena Ridwan sebelumnya memang belum pernah mengunjungi ayahnya saat tinggal di jakarta.
"Sayang tentu saja sawahnya tidak ada, karena rumah yang kamu tanyakan itu rumah yang di kampung, sedangkan inu rumah ayah yang di jakarta, tempat tinggal ayah kalo sedang ninggalin kita dulu untuk kerja," jawab mamah Deswinra menjelaskan.
__ADS_1
"Ohhh gitu, Ridwan baru tahu teranyata rumah ayah sanggat besar ya, lebih besar dari yang ada di kampung," Ridwan kagum dengan bangunan rumahnya kini.
Pak Surya dan bu Deswinta hanya tersenyum melihat tingkah lucu Ridwan putranya, rumah ini memang sengaja di bangun oleh pak Surya untuk masa depan Ridwan kelak jika iya sudah menemukan jodoh pendamping hidupnya.
"Yuk, kita masuk sekarang jangan cuma bengong aja disini!" ajak mamah Deswinta.
"Sebentar mah, Kasih mau ambil barang-barang dulu dari dalam mobil," kata Kasih menuju bagasi.
"Gak usah biarin aja, biar nanti si mba yang bawain," kats mamah Deswinta mencegah.
"Mba? mba siapa mah?" tanya Ridwan.
"Mba Dewi, dia yang bertugas beres-beres rumah bantuin mamah kalo mamah sedang tidak mood untuk ngapain-ngapain," jawab mamah Deswinta.
"Namanya sama ya, kaya mba Dewi yang ada di rumah om Arya yang jagain aku, waktu kak Ridwan ikut om Arya untuk ke markas nangkep bang Barong," ujar Kasih masih merasa bingung.
"Oh iya kah, mungkin kebetulan aj, yaudah yuk masuk udah siang juga nih," ayah Surya angkat bicara.
Mereka pun masuk ke dalam rumah lewat pintu utama meninggalkan barang bawaan di dalam mobil, menyutuh nanti para pembantu yang membawanya masuk ke dalam.
Di dalam rumah semua hidangan makan siang sudah tetata rapi di meja, tadi mamah Deswinta sempat memberitahu pembantunya untuk memasak masakan yang enak dan banyak untuk menyambut kedatangan Kasih dan Ridwan, mereka pun semua mencuci tangan lalu segera duduk bersama untuk makan siang karena sudah lewat dari waktunya makan siang.
Kasih duduk di sebelah Ridwan berhadapan dengan kedua orang tua barunya Kasih menikmati kebersamaannya dengan keluarga barunya makan bersama di meja makan momen yang sudah lama sanggat Kasih rindukan, walau bukan keluarga kandungnya tapi setidaknya bisa mengobati sedikit rasa rindu di hatinya.
__ADS_1