Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 64


__ADS_3

Sekitar pukul 13.00 wib Nadia sudah pulang kerumah ia segera masuk tanpa mengetuk pintu hanya memberi salam dan langsung menuju kamarnya tanpa menyalimi tangan ibunya atau mencari ibunya dulu.


"Assalamualaikum, aku pulang!" salam Nadia masuk rumah.


"Waalaikumsalam, Nadia udah pulang, Nak ganti...," suara ibu menjawab salam tapi tak meneruskan kata-katanya karena Nadia hanya melewati ibu.


"Ya Allah, Nadia bahkan untuk salim sama ibu pun kamu tidak mau, segitu marahnya kah kamu sama ibu, Nak? apa salah ibu pun ibu tidak tahu," gumam ibu sedih dengan sifat Nadia.


Ibu kembali ke dapur kali ini untuk ambil air wudhu ingin menjalankan solat duhur sebelum waktunya habis, ibu sengaja tadi begitu selesai merapikan dapur tidak langsung solat karena ingin menunggu kepulangan Nadia dan ingun mengajaknya solat bareng, tapi betapa sedihnya hati ibu saat menyambut Nadia pulang malah tanggapannya ibu hanya di lewati saja.


Saat ibu di dapur selesai ambil air wudhu rupanya Nadia juga sudah berada di dapur entah untuk apa tujuannya tapi ibu mencoba untuk mengajaknya solat bersama.


"Nadia! Kamu mau solat juga nak? gimana kalo kita solat bersama yuk, kamu yang jadi imamnya!" ajak ibu pada Nadia.

__ADS_1


"Ibu aja duluan aku nanti setelah ibu, aku males solat sama seorang yang menyebabkan ayah meninggal," uncapan kasar itu lagi yang keluar dari mulut Nadia.


"Masya Allah, Nak sampai kapan kamu mau menyalahkan ibu atas kepergian ayah, ibu juga kan sudah memberitahu kamu kalo selama ini yang menolsk untuk di ajak priksa itu ayah bukan sengaja ibu tidak ingin mengajaknya priksa," jelas ibu dengan Nada sedih karena sakit hati.


"Ya tetap aja itu salah ibu, harusnya ibu bisa maksa ayah dong jangan malah di biarkan saja," Nadia tetap menyalahkan ibu.


"Yasudah jika memang kamu sebenci itu sama ibu dam akan selalu menyalahkan ibu, ibu terima cuma ibu pesan kamu jangan tinggalkan solat doakan ayah selalu sehabis solat sekarang ayah sangat butuh itu!" pesan ibu.


Nadia tak menjawan ibu ia malah pergi meninggalkan ibu yang masih berdiri mematung melihat tingkah putrinya yang begitu cepatnya berubah hanya dalam sehari, setelah ibu mendidiknya selama tiga belas tahun.


Selesai solat ibu sempatkan diri untuk duduk sebentar memohon doa kepada sang maha pemberi kehidupan untuk bisa mengubah kembali sifat Nadia yang baik hati dulu, dan membuang sifat buruknya ini yang sudah tega berkata kasar pada ibu membuat ibu sedih.


"Ya Allah hamba mohon ampunilah dosa hamba, dosa suami hamba terima ia disisimu ya Allah, dan tolong sadarkanlah Nadia putri hamba, kembalikan ia seperti dulu lagi seirang gadis yang penurut selalu berkata sopan dan santun kepada orang tuanya bukan yang seperti ini, hilangkanlah rasa bencinya terhadap hamba dari dalam hatinya kembalikan rasa sayangnya yang dulu ada untuk hamba, ya Allah hamba percaya hanya engkau yang mampu memutarbalikan hati sesorang, maka hamba serahkan semuan hanya padamu aminn!!" doa ibu setelah solat.

__ADS_1


Setelah itu ibu kembali mengantung mukenanya agar kering karena tadi terkena air wudhu dan ketinggat ibu, agar nanti saat di gunakan lagi sudah kering, setelah itu ibu langsung menuju meja makan untuk makan bersama Nadia, ibu berharap kalo Nadia akan menunggunya untuk makan bersama.


Sampainya ibu di meja makan rupanya harapan ibu cuma mimpi yang hanya ada dalam hatinya, Nadia madih benci sama ibu jadi mana mungkin ia mau makan semeja lagi dengan ibu, Nadia hanya mengambil nasi dan lauknya saja setelah itu ia bawa nasi miliknya ia makan di tempat lain sungguh pedih hati ibu saat ini, melebihin rasa saat kehilangan Kasih.


"Hmm bahkan untuk sekedar makan bersama pun Nadua tidak mau ya, begitu bencinya dirimu nak sama ibu, maafin ibu karena tidak bisa menjadi ibu yang baik seperti yang kamu dambakan," gumam ibu sedih.


Ibu pun segera duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri ibu menyantap makanannya sambil menitikan air mata sedih, kalo untuk kehilangan harta dan benda mungkin ibu masih sanggup untuk menahan semua itu dan terima dengan iklas, tapi ini ibu telah kehilangan keluarganya.


"Pertama Kasih, hilang entah bagaimana kabar dan keadaan anak itu, lalu ayah yang pergi tak akan pernah kembali lagi untuk selama-lamanya, kini Nadia walau tinggal serumah dan saling bertemu tapi terasa jauh dan sulit untuk di jangkau, ya Allah cobaan apa lagi yang akan engkau berikan pada hamba," lirih ibu pelan di tenggah lamunannya.


Selesai makan ibu langsung merapikan meja makannya sendiri sementara Nadia sedang menjalankan solat selesai makan siang, biarpun ia begitu membencii ibu tapi ia tetap mendoakan ayahnya yang telah tiada kemarin siang.


Ibu mencuci piringnya setelah itu ibu istirahat sebentar sebelum akhirnya nanti siap-siap untuk menyambut para tamu pengajian yang tahlil untuk ayah, amplop yang tadi di berikan ibu rt untuk ibu ia simpan baik-baik dalan lemari, baru akan di paksi jika terpaksa dalam keadaan mepet karena untuk saat ini masih ada sedikit simpenan uang peninggalan dari ayah.

__ADS_1


"Niatnya mau bicara sama Nadia, masalah baju ayah tapi kelihatannya ia sedang tidak ingin di ganggu, aku takut nanti akan membuat Nadia marah dan tambah membencinya," gumam ibu sendirian di dalam kamar.


Ibu merebahkan dirinya di atas kasur sambil memikirksn bagaimana caranya untuk membuat Nadia memaafkan ibu dan tidak lagi membencinya.


__ADS_2