
Setelah jenasah selesai dimandikan dan di kapani kini saatnya di bawa uke masjid untuk di sholatkan sebelum di antar ke tempat terakhir ayah, ya begitu lsh hukum alam yang akan terjadi pada setiap insannya yang bernyawa suatu saat kita pasti akan mengalaminya menyusul ke tempat dimana kita akan di tinggalkan seorang diri tanpa keluarga dan kerabat.
"Laillahaillah,,, laillahahillah,,,," suara orang-orang yang membawa kereta keranda untuk ayah.
"Huuuaaaaa,,,, ayahhhhh,,, huhuhuhu jangan tinggalkan Nadia,,," histeris Nadia saat rombongan akan membawa ke pergi.
"Nadia, gak boleh gitu kasihan ayah, dengan Nadia bersikap demikian akan menyulitkan ayah nanti dialam sana, ayahnya Nadia udah bahagia disana bertemu dengan kakek dan nenek mereka udah kumpul bersama, sekarang tugas Nadia sebagai putri yang sholeh harus mendoakan ayah, bukan malah menanggisinya," bu rt memberikan nasihatkan unyuk menghibur Nadia.
Nadia tak merespon nasihat bu rt tapi ia mengerti apa yang di maksud oleh bu rt, ia pun mulai meredakan tangisannya dan perlahan belajar iklas, Nadia dan ibu mengikuti rombongan pembawa keranda menuju makan, perasaan sedih di tinggal keluarga yang paling penting perannya dalam rumahtangga sungguh membuat perasaan ibu jadi campur aduk.
"Bu Ningsih ya sabar ya, semua sudah ada waktunya tinggal kita aja gimana bisa nerimanya," hibur bu puji memberikan semanggat pada ibu.
"Iya bu Puji, terimakasih atas semanggatkan, saya hanya tidak menyangka aja kalo tadi pagi adalah pertemuan tetakhir saya dengan suami saya, padahal saat itu saat udah ada perasaan tidak enak, yang bikin saya sedih saya ga ada pas di saat-saat terakhirnya pasti sakit sekali," cerita ibu penuh dengan penyesalan.
Ya penyesalan memang selalu datang tetlambat di saat setiap manusia sedang terlena di buai dengan susuatu yang keindahannya hanya sementara, dan semua waktu yang berlalu tak akan pernah bisa kembali, andai kita bisa melihat masa depan apa yang akan terjadi pasti penyesalan itu tidak akan pernah ada.
Sampainya di Tempat Pemakaman Umum( TPU) semua rombongan yang membawa tubuh ayah segera menuju ke tempat liang lahatnya yang mana disana masih ada tukang gali kuburnya yang menunggu kedatangan sang pemilik.
"Laillahaillah,,, laillahaillah,,,!!" kalimat tasbih ini selalu teruncap dari rumah hingga sampai kuburan dan sesat akan di kebumikan jenasah ayah.
Ada tiga orang yang menunggu di bawah untuk menerima tubuhnya dan ada tiga orang yang di atas untuk memberikan jenasahnya, dan beberapa orang yang menutupi atas kepala mereka dengan penutup kerandanya, saat tubuh sudah di terima oleh orang yg di bawah, lalu di masukan ke liang lahat, di azdani dan di buka tali penutup kain kafannya, tanah merah pun mulai mengurukki menutup rapa lagi seperti semula.
__ADS_1
Setelah semua proses semua ini selesai, mereka berdoa untuk si mayat yang sudah tenang betiatirahat disana agar di amopuni segala dosanya, di terangkan jalannya.
Sekitar satu jam proses pun selesai semua bubar meninggalkan makan kecuali ibu dan Nadia yang masih duduk bersipuh di atas pusara ayah, yang kita sudah tak bisa lagi bersama bercanda dan tertawa lagi, semua kini tinggallah kenangan yang akan hilang berjalan sejajar dengan waktu.
"Ayah selamat jalan semoga ayah tenang di alam sana, dan maafin semua kesalahan ibu karena selama ayah hidup dan mendampingi ayah, ibu belum menjadi istri yang baik untuk ayah, bahkan di saat terakhir ayah pun ibu tidak ada di samoing ayah untuk menuntup ayah pulang, maafin ibu ayah," suara ibu serak karena habis menanggis.
"Ayah maafin Nadia, Nadia akan sanggat merindukan ayah," Nadia berhenti tak meneruskan uncapankan karena tak kuat menahan sedihnya.
"Nadia yuk, kita pulang kita harus siapin tempat untung penggajian ayah nanti malam!" ajak ibu mengandeng tangan Nadia.
"Gak mau, ibu aja sana pulang sendirian Nadia masih mau disini menemani ayah, lagian semua ini juga gara-gara ibu seandainya ibu mau mengajak ayah kerumah sakit, pasti ayah sudah sembuh dari dulu dan tak akan menderita terlalu lama!!" hardik Nadia di tutupi rasa kesedihan yang mendalam.
Deg~
"Nadia! kok ngomongnya begitu sih sama ibu? berani bentak ibu, mana sopan santun Nadia yang selama ini ibu dan ayah ajarkan? terus kenapa Nadia nyalahin ibu untuk semua ini,m?" tanya ibu terkejut dengan perubahan Nadia yang tiba-tiba itu.
"Emangnya kenapa bu! dengan Nada bicaranya Nadia? ada yang salah, dan ibu juga gak terima Nadia bilang gitu ke ibu, kan semuanya emang bener salah ibu, karena ibu, ayah meninggal karena ibu gak mau ajak ayah berobat membuat ayah terus menahan sakit selama bertahun-tahun, karena ibu....," Nadia berhenti.
plakkk!!!
Suara keras terdengar sebuah tamparan menghentikan ocehan Nadia, ibu yang pikirannya sedang kalut khilaf mendaratkat sebuah tamparan di pipi munggil putrinya hingga meninggalkan bekas merah berbentuk tangan karena kulit Nadia putri tanda itu sanggat jelas.
__ADS_1
"Ibu jahat!!! aku benci ibu!!! aku gak mau lagi dengerin apa kata ibu!!!" teriak Nadia sambil memeganggi pipinya menahan rasa sakit.
"Nadia, maafin ibu nak ibu gak sengaja Nadia maafin,,," sesal ibu meminta maaf karena telah menyakiti putrinya.
Tangan ibu refleks melakukan itu karena emosinya yang sedang memucak, masih dalam keadaan sedih habis di tinggal ayah, di tambah samg putri kini berani berbicara kasar pada ibu membuat ibu tidak bisa menahan amara lagi.
Nadia pergi berlari meninggalkan ibu, yang masih duduk di pusara ayah, tapi saat melihat Nadia berlari ibu mengejar ingin membujuknya ibu takut dan khawatir jika Nadia akan nekat pergi dari rumah.
"Nadia,,, Nadia tunggu, Nak! maafin ibu sayang," suara ibu terus memanggil putrinya yang jauh di depannya.
Sementara Nadia tak menghiraukan panggilan dari ibunya, perasaannya kini hancur, ia tidak menyangka tangan yang dulu sering me gandengnya saat ia berjalan menjaganya agar selalu aman kini telah menamparnya dan itu di hadapan pusara ayah.
"*Ibu jahat, tega, kenapa ibu nampar aku, emangnya salah aku apa? bukanya semua yang aku bilang itu benar? kenyataannya ibu emang gak pernah mau ajak ayah periksa ke dokter menjalani perawatan yang lebih baik lagi, dan ayah juga meninggalkan karena ibu," hardik Nadia terus dalan hatinya merasa kecewa dengan ibu.
Mencitai sesuatu dengan sanggat berlebihin akan sanggat menyiksa diri kita, apa bila sesuatu itu, entah itu seorang, benda kesayangan, hewan pekiaraan atau bahkan pekerjaan sekalipun, jika kita menyayanginya* dengan sangat berlebihan akan membuat kita menderita saat di tinggalkan atau kehilangan dan menjadikan siapa saja yang ada di sekitar menjadi musuh atau penyebabnya sehingga membuat kita salah paham akhirnya timbullah kebencian itu.
pesannya adalah: mencintiai boleh saja tapi lakukan sesuai takarannya, jangan mencintai seakan kita akan selamanya bersama itu akan membuat sakit saat berpisah, mencintailah dengan iklas dan pikirkan jika suatu saat kita akan berpisah jadi saat kita kehilangan sedihnya hanya sementara saja.
setiap pertemuan pasti ada perpisahan
setiap awal pasti ada akhir.
__ADS_1
semua ada pasangannya masing-masing.