Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 62


__ADS_3

Keesokan paginya ibu yang tidak bisa tidur sama sekali terjaga dari semalam karena terus memikirkan Nadia yang sampai saat ini belum juga keluar kamar menjadi tambah khawatir, setelah melakukan sholat subuh ibu mencoba untuk membangunkan Nadia.


Tok!tok!tok!


"Nadia bangun sayang sudah pagi, kamu tidak solat subuh, kirim doa untuk ayah, saat ini ayah sangat membutuhkan kiriman doa dari kita keluarganya, agar segala amal ibadah ayah di terima, nak tolong buka pintunya!" kata ibu membujuk.


Tetap tidak ada jawaban dari dalam, Setelah menunggu sekitar lima belas menit pintu kamar Nadia akhirnya pun terbuka ibu sungguh senang mengetahui bahwa putrinya baik-baik saja, walau matanya sembab dan bengkak mungkin karena semalan Nadia terus menanggis tanpa henti.


Cekrek!!


Suara pintu di buka Nadia keluar kamar langsung menuju kamar mandi, ia tidak menyapa ibu yang sedang berdiri di depan kamarnya yang selalu mengkhawatirkan keadaannya.


"Nadia!! syukur kalo kamu mau keluar kamar, Nak ibu khawatir banget sama kamu, dari kemarin kamu belum makan! pasti kamu sanggat lapar kan?" tanya ibu.


Nadia berlalu tak menjawab pertanyaan ibu ia langsung bergegas menuju kamar mandi dan segera bersiap untuk menjalankan solat, sepertinya uncapan ibu tadi yang membuat Nadia mau membuka pintunya dan keluar kamar.


Ibu yang melihat itu hanya tersenyum bahagia dan ia pun segera membuat sarapan untuk Nadia dan juga menyeduhkan susu untuknyw, ibu tak perduli seberapa pun Nadia mendiamkannya tapi bagi ibu Nadia tetaplah putrinya yang masih butuh perhatiannya.

__ADS_1


"Alhamdulilah akhirnya Nadia mau juga keluar kamar tidak apa jila dia masih marah dan tidak mau bicara sama saya, biarpun begitu Nadia tetaplah putri saya yang harus saya jaga dan rawat, saya yakin suatu saat nanti pasti Nadia mau memaafkan saya dan mengerti dengan keadaannya," gumam ibu dalam hati.


Setelah Nadia selesai solat Nadia kembali lagi kekamar, ibu yang menyadari itu segera mengejarnya untuk menyuruhnya makan dulu, takut nanti ia sakit.


"Nadia sarapan dulu, Nak ini minum susunya ibu sudah buatkan untuk kamu! makan sedikit ya agar kamu tidak sakit kan dari kemarin kamu belum makan!" pinta ibu sambil menarik tangan Nadia.


"Lepasin Nadia, bu! aku gak butuh makan aku butuh ayah bu bisa gak ibu kembaliin ayah ke Nadia? jangan pisahin Nadia sama ayah bu, ibu jahat gak sayang sama Nadia ibu cuma sayangnya sama Kasih,!!" Ketus Nadia menarik tangannya.


"Nadia maafin ibu, jika kemarin ibu udah kasar sama kamu ibu khilaf nak, ibu juga sedih kehilangan ayah, kita sama-sama sedih, ibu tidak hanya sayang Kasih ibu juga sayang Nadia ibu sayang keduanya karena kalian berdua putri ibu," jawab ibu sedih mendengar uncapan Nadia tadi.


"Ibu bohong kalo ibu sayang sama Nadia juga, ngapain kemarin ibu mukul Nadia dan ibu juga tega misahin Nadia sama ayah, ibu sengaja kan tidak ajak ayah berobat agar ayah seperti ini pergi, kalo ibu sudah lelah jagain ayah bilang Nadia bu, biar Nadia yang jaga ayah," hardik Nadia lagi.


"Kalo begitu kenapa ibu malah ninggalin ayah sendirian dan tidak pernah menjaga ayah, ayah meninggal karena ia berusaha untuk ambil minum sendiri ke dapur, tanpa ada orang yang bantu ayah,,, huhuhuh ayahh ini semua gara-gara ibu, Nadia benci sama ibu, ibu jahat!!" teriak Nadia lagi membuat bathin ibu menjerit lagi.


"Sayang ga apa-apa jika kamu ingin membenci ibu, silakan itu hak kamu tapi ibu mohon tolong kamu makan sedikit saja dari kemarin kamu belum makan ibu khawar sama kamu nak, makan ya ibu mohon!!" pinta ibu memohon.


Bagi ibu tak masalah jika memang Nadia membencinya, karena Nadia sedang di butakan oleh rasa kasih sayang yang berlebihan terhadap ayahnya dan ibu selalu akan berusaha meyakinkan Nadia bahwa meninggalnya ayah bukan ibu penyebabnya melainkan sudah takdir dari sang maha pencipta.

__ADS_1


Nadia masuk kekamar tak menghiraukan permintaan ibu meninggalkan ibu yang masih terluka hatinya karena betubahan sikap putrinya yang begitu mengejutkan, ibu tidak lagi memaksa Nadia untuk saat ini, ibu akan mencobanya nanti karena percuma jika di paksa terus di saat hatinya Nadia sedang di bakar emosi tidak baik untuk hubungan mereka yang ada Nadia akan lebih membenci ibu nanti.


Ibu menyibukan dirinya untuk merapikan rumah ia menyapu dan mengepel bangku yang tertumpuk di pojok ruangan ibu biarkan dulu karena masih akan terus tahlilan sampai tujuh malam, hari ini ibu tidak berjualan dulu, rencananya ibu akan kembali jualan nanti setelah tujuh hari ayah tiada.


Cekrek!!


Suara pintu kamar Nadia terbuka lagi, kini Nadia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, ternyata tadi Nadia sedang berganti baju, ibu sempat berpikir kalo Nadia akan memgurung diri lagi di kamar.


"Nak! kamu mau sekolah? kamu yakin sudah baikkan kalo kamu masih lemas badannya lebih baik libur dulu saja,sekolahnya biar nanti ibu yang minta ijin sama wali kelas kamu?" tanya ibu saat melihat Nadia.


"Gak! Nadia gak mau di rumah mulu bareng sama ibu, lebih baik Nadia sekolah aja dari pada harus ketemu ibu mulu di rumah Nadia bosen," jawab Nadia.


Ibu mengusap dadanya mendengar jawaban dari Nadia sungguh pedih rasanya sudah dirinya di jauhin keluarga suaminya kini putrinya pun juga menjauhinnya terasa dunia sudah tidak ada tempat lagi bagi ibu, sepintas lewat dalam benaknya kenapa bukan dirinya saja yang kini ada di posisi ayah.


"Astagfirllohalazim ya Allah amouni hamba karena sempat punya pikiran buruk,!!" ibu tersadar dari pikiran buruknya.


Nadia duduk di bangku meja makan ia memakan makanan yang di buat ibu biarpun ia sedang marah dan benci sama ibu, tapi Nadia selalu teringgat dengan pesan ayah jika makanan tidak lah salah jadi jangan pernah melampiaskan kesalahan irang pada makanannya yang di berikan itu sama saja menolak rejeki.

__ADS_1


Ibu tersenyum melihat Nadia maksn begitu lahapnya ya karena memang sedang lapa Nadia dari kemarin belum ada sedikit pun makanan masuk ke mulutnya karena ia sibuk menanggisi kepergian ayah di kamar, bahkan bajunya pun tidak ganti untung ia punya seragam sekolah dua jadi saat baju satu kotor masih ada baju lainnya lagi.


Setelah makan Nadia bersiap berangkat tidak lupa ia meminta uang pada ibunya untung ongkos kesolahnya karena lumayan cukup jauh dari rumah, ibu memberikan uang dua puluh ribu untuk Nadia.


__ADS_2